
"Ya Tuhan, selamatkan suamiku," ucapnya reflek.
Ganesa membolakan matanya, terkejut juga dengan ucapan reflek yang meluncur begitu saja dari mulutnya.
Seketika Ganesa menggelengkan kepalanya, senyuman indah merekah dari sudut bibirnya.
"Nes, ini bukan saatnya untuk konyol," ucapnya pada dirinya sendiri.
Kini netranya kembali menatap ke arah Nicho yang tampaknya masih berbincang hangat dengan beberapa orang yang sudah bersiap untuk menyerang.
"Ada urusan apa kalian menghalangi jalanku? Tidakkah bisa minggir?" tanya Nicho sambil melipat lengan kemeja yang dia kenakan.
"Urusan apa? Jangan banyak tanya, serahkan barang berhargamu," ucap salah satu dari mereka. Tampak kesal saja dengan tingkah Nicho yang tampak songong.
Nicho melirik dan menatap beberapa orang yang tampak merenggangkan otot dengan menggerak gerakkan anggota tubuhnya. Dia tersenyum sinis.
"Jangan harap, tidak bisakah mencari makan dengan hal yang lebih baik? Langkahi dulu mayatku jika kalian ingin mengambilnya dariku," ucapnya seakan menantang.
Ucapan Nicho membuat darah mereka seolah mendidih, tak banyak ba, bi, bu, mereka menyerang Nicho.
"Jangan banyak bicara, anak muda. Serahkan atau kau akan habis malam ini juga!" ucapnya sambil berlari maju.
Nicho tersenyum sinis, netranya waspada menatap salah satu dari lawan tampak menyerang. Nicho menangkis dan membalas dengan memberikan satu gerakan perlawanan, tampak Nicho lebih dominan, dua orang di depannya mulai bertindak dengan gerakan gesit.
__ADS_1
Tiga lawan satu, yang benar saja, Nicho tampak kualahan menghadapi tiga manusia bertubuh besar itu.
Bug
Satu pukulan seorang dari belakang mampu menumbangkan Nicho sehingga lelaki itu terhuyung maju. Tak mengalah begitu saja, Nicho memberikan
perlawanan dengan menggerakan kakinya sehingga membuat lawan terjegal.
Mengetahui satu kawannya terjatuh, dua orang yang lain kembali beraksi. Sementara tiga yang lainya tampak mendekat.
Ganesa menutup rapat rapat mulutnya, kini Nicho sendiri melawan 6 orang. Ganesa, dia tampak panik saat beberapa kali melihat Nicho mendapatkan serangan.
Wajahnya tampak tegang. Dia ingin keluar, tapi kata Nicho tadi dia tak boleh keluar. Lalu bagaimana ini? Menghubungi Radit? Dani? Atau Vino? Tapi tak ada signal di sini.
Ganesa menatap ke arah sana, Dia terkejut saat salah dua dari mereka memegang lengan Nicho. Dua lainya memberikan pukulan dari depan. Dan dua lainya dibelakang dan menodongkan senjata.
Ganesa tampak syok, tidak bisa menunggu Nicho lagi. Walau bagaimana Nicho hebat, jika dia hanya sendiri melawan enam orang, dia bisa mati konyol. Ganesa melepas sepatu hak tingginya. Menggantinya dengan sendal imut yang ada di mobil. Entah kenapa ada sendal sangat imut disana. Sempat bertanya tanya, tapi dia seakan mengabaikan pertanyaanya sendiri.
Dor
Satu tembakan dilontarkan oleh orang yang berada di belakang Nicho. Nicho melirik ke arah orang yang sengaja memancing emosinya.
Terkejut, saat ini dia tak mampu untuk melepaskan dirinya dan malah beberapa kali mendapat pukulan. Sudut bibirnya berdarah. Dan perutnya terasa nyeri. Dia benar benar tak punya celah melawan enam orang yang mengkroyoknya ini. Enam orang yang licik dan berusaha untuk mengikatnya.
__ADS_1
Yang ada dipikirannya saat ini hanya khawatir pada Ganesa. Bagaimana jika wanita itu keluar? Bukankah itu bahaya dan malah membuat keadaan kacau? Bukankah biasanya wanita sangat merepotkan?
"Tetap ditempatmu Nona menyebalkan," batin Nicho. Dia memejamkan matanya, berharap Rangga segera datang. Karna dia sudah memberikan informasi lokasi pada Rangga tentang keberadaanya tadi. Dan tanpa menjelaskan pun, Rangga pasti tau apa yang diinginkan bos nya.
Ganesa tampak terkejut, netranya menatap Nicho yang terus berusaha lepas dan melawan. Tapi, sulit untuk lepas karna memang dia sendirian. Apa yang mereka mau? Ganesa tak bisa lagi untuk bertahan di dalam. Segera wanita itu mengikat rambutnya ke atas dan keluar dari mobil.
Ganesa berlari dan menendang dari belakang dua orang yang menggunakan senjata sehingga mereka terjatuh.
Senjata terlempar dan Ganesa menangkap satu diantara senjata api itu. Sudut bibirnya terangkat, lama sekali dia tak bermain. Semua penjahat tampak menoleh ke belakang. Mereka terkejut.
Nicho? Dia tak tau jika itu Ganesa, dia tak bisa menoleh ke belakang karna lehernya terasa nyeri. Dia pikir, itu pertolongan dari Rangga.
Ganesa melepaskan tembakan di tanah, tepat di kanan dan kiri dua lelaki yang memegang Nicho. Hingga reflek mereka melepaskan Nicho.
Nicho mulai beraksi melepaskan ikatan di kakinya dan melemparkan tendangan pada empat orang lawannya.
Dengan gerakan cepat, mereka melawan Nicho dan adu kekuatan. Sedang dua orang bersenjata tadi tampak sibuk menyerang orang di sana.
Berhasil menumbangkan empat orang, Nicho yang tadi sempat menangkap bayangan seorang wanita yang menyerang tampak menatap ke arah sana. Sipa yang membantunya? Matanya membola saat melihat dengan jelas siapa yang sedang bertanding di sana.
"Ganesa?" lirihnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...