
Dengan sigap lelaki tampan itu menarik tangan Ganesa, menyusuri semak. Dia sudah mendapatkan info dari Rangga, bahwa tawanan penculik berada di lantai dua.
"Honney, ada apa? Misi apa yang sedang kau jalankan?" Ganesa tampak masih tak paham dengan ucapan Nicho. Dia menarik tangannya dari genggaman Nicho.
Nicho menghela napas panjang dan menatap ke arah wanita yang dari tadi banyak tanya itu. Tak lama kemudian, Nicho mengambil ponsel di sakunya dan menyerahkan ponsel itu pada Ganesa.
Bos, misi kali ini menyelamatkan anak kecil lima tahun.
Menurut info yang saya dapat, dia ada di gudang kawasan X.
Sudah saya telusuri bos. mereka berada di lantai dua.
Beberapa pesan dari kontak Rangga dibaca oleh Ganesa. Wanita cantik itu paham sekarang, dia memejamkan matanya sejenak kemudian menatap dirinya yang menggunakam dres warna hitam. Dengan penampilannya yang seperti ini dia diajak menjalankan misi?
"Honney, kau serius? Ini malam pertama kita," ucap Ganesa dengan wajah imutnya. Sebenarnya bukan ini yang akan dia katakan, tapi terlanjur perkataan itu yang terlontar begitu saja. Malu? Sepertinya dia harus memutuskan urat malunya untuk tetap waras hidup bersama Nicho.
Nicho terkekeh, padahal dia sedikit tegang karna berpikir cara untuk bisa masuk ke lantai dua, lalu bagaimana bisa Ganesa masih bisa-bisanya mengatakan hal yang lucu.
"Jangan banyak bicara Nona," ucapnya lagi.
Nicho menggandeng kembali tangan Ganesa, mereka mencari jalan untuk ke sana. Rangga dan yang lain juga sudah menyusup sedari tadi. Bahkan, mungkin saja gerombolan para penculik telah mengetahui keberadaan mereka. Terbukti dengan mereka yang tadi mengincar Ganesa.
Ganesa hanya pasrah, dia mengikuti langkah Nicho yang kini mengamati pagar mencari cara untuk memanjat pagar. Ganesa tampak membelalakan matanya. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang sama nantinya?
"Nes, naiklah!" ucap Nicho.
__ADS_1
Ganesa terkejut saat melihat Nicho yang kini tampak berjongkok dan menunjuk ke arah pundaknya.
"Naik ke sana, aku manjat dari pundakmu?" tanyanya tak percaya.
"Apa kau tuli Darling?" ucap Nicho dengan kesal, tapi dia memberikan intonasi yang halus pada lawan bicaranya itu.
Mendengar kata tuli membuat Ganesa tampak membelalakan matanya.
"Aku tidak tuli, tapi kau lihat kostumku? Kalau aku berdiri di pundakmu, apa kau bisa melihat...."
"Melihat mahkota yang sudah pernah aku cicipi begitu?" sahut Nicho tampak kesal.
Ganesa membelalakan matanya lagi, bukan itu yang akan dikatakan Ganesa. Dia hanya ingin bertanya, apa bisa melihat atas? Lagi pula Ganesa juga memakai dalaman panjang, tidak mungkin juga Nicho melihatnya.
"Bisa bisanya kau mesum," sewot Ganesa.
Ganesa diam, dia kesal. Tak mau banyak bicara lagi, wanita cantik itu mendekat ke arah Nicho, dengan kedua kakinya Ganesa berdiri di atas pundak Nicho. Nicho berdiri sehingga Ganesa segera menapakkan kaki di tembok dan berdiri diatas sana. Dengan lincahnya Ganesa meloncat ke pinggiran balkon. Dia merayap menuju ke balkon lantai dua.
Melihat Ganesa sudah diatas, kini Giliran Nicho yang naik. Sempat dirinya tersenyum sendiri melihat tingkah Ganesa, memang ribet menjalankan misi mengajak wanita. Tapi ketegangannya berasa berkurang lima puluh persen.
Hap
Nicho berhasil melompat, hingga kini dia berada di samping Ganesa yang berdiri di pinggiran pagar balkon.
"Kau patner yang tidak terlalu buruk," ucap Nicho saat menyadari Ganesa memang bukan wanita yang lemah.
__ADS_1
"I am a beautiful woman," sahut Ganesa dengan mengedipkan ekor matanya. Dia berjalan ke arah pintu.
Dari arah yang tak disangka sebuah busur panah tampak mengintai Ganesa, Nicho yang mengetahui segera menari Ganesa.
Ganesa yang terkejut tampak jatuh di rengkuhan tangan kanan Nicho, sedang tangan kirinya terulur dan berhasil menangkap busur panah diantara sela jarinya.
Ganesa tampak melirik ke arah Nicho, Nicho mendorong pelan tubuh Ganesa sehingga wanita cantik itu berdiri tegak dan lepas dari rengkuhan Nicho.
"Kita diintai?" tanya Ganesa.
Nicho tak menjawab, dia melempar busur panah ke asalnya, beberapa orang keluar dan tiba tiba menyerang.
Dengan cekatan Nicho menyerang, sedang Ganesa berada di belakang Nicho. Nicho seolah mengunci Ganesa dalam pemgawasannya. Akan tetapi Ganesa tak mau diam saja. Wanita cantik itu hampir saja melangkah.
Akan tetapi Nicho seolah menghentikan aksinya, dia mendorong Ganesa untuk minggir. Ganesa tampak kesal hingga pada akhirnya Nicho membisikinya sesuatu.
"Masuklah Darling, kau amankan balita di dalam," ucap Nicho.
Ganesa menganggukan kepalanya, dia segera mencari cara untuk bisa melakukan apa yang diminta Nicho.
Nicho berlari, sebuah balok besar menjegal langkahnya tiba-tiba. Nicho tersungkur di lantai, seseorang mencoba memukulnya, dengan cepat Nicho berguling dan menghindar.
Segera Nicho bangkit dan berdiri. Dua orang di depannya terus menyerang tanpa ampun. Dengan sorot mata tajam Nicho mencoba mencari titik lemah yang sanggup melumpuhkan mereka.
"Amankan anak itu, wanita itu menuju ke sana," teriak orang tinggi besar di hadapan Nicho. Dua orang lain mengejar Ganesa. Sedangkan dua orang di depannya masih saja menyerangnya.
__ADS_1
Nicho mencoba mengalihkan perhatian mereka dan benar saja Nicho bisa mengecoh mereka dan berlari ke arah dimana Ganesa pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...