
Segera Nicho meraih jas yang sempat dia lepas, mungkin diluar memang hujan. Tapi, dia tak terima jika dalam keadaan hujan seperti ini Ganesa bersama dengan lelaki lain dan bermesraan di taman. Cemburu? Entah, yang jelas dia tak terima.
Nicho keluar dari ruangannya, saat keluar dia berpapasan dengan Rangga.
"Kau mau kemana bos?" tanya Rangga pada Nicho yang tampak terburu.
"Kau bertanya?" tanya Nicho.
"Tentu saja," jawabnya.
"Bukankah kau yang mengirimkan Vidio jika Ganesa bersama lelaki lain?" tanya Nicho balik.
"Hem," sahut Rangga.
"Kira-kira apa yang akan kau lakukan saat istrimu bersama dengan lelaki lain? Apa akan membiarkannya saja?" tanya Nicho, dia mendorong tubuh Rangga untuk minggir. Nicho berjalan dengan terburu ke sana.
Rangga tersenyum dan merapikan jasnya.
"Kurasa hatimu sedang tidak baik-baik saja Tuan, selamat berjuang bos," ucap Rangga kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Nicho berlari menuju ke arah mobil, menghindari deraian gerimis yang berjatuhan. Segera lelaki tampan itu melajukan mobilnya menuju ke taman yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada. Dia sangat gelisah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rian tampak mematung, dia baru sadar perkataanya
menyakiti Ganesa. Diraihnya tangan Ganesa, tapi Ganesa menepisnya.
"Pergi!" ucap Ganesa.
"Maafkan aku Nes," lirihnya.
"Jika kamu menganggap aku salah, menganggap aku wanita murahan, menganggap aku bersedia melakukan hal seburuk itu diluar pernikahan, menganggap aku wanita buruk, itu adalah hak mu. Aku tak masalah. Asal kamu tau, semua ini bukan mauku Mas. Andai bisa aku mengulang waktu, aku tidak mau ini terjadi!" sentak Ganesa.
Rian hanya diam, menatap wanita didepannya yang terus saja berbicara. Dia menyesal mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan. Bahkan saat itu Ganesa terpukul, mencoba mengakhiri dirinya dengan percobaan bunuh diri. Lalu, bagaimana bisa dia mengatakan semua ini? Bukankah ini sangat menyakitkan?
"Bukankah sudah sedari awal aku mengundurkan diri bersanding denganmu? Bukankah aku sudah mengatakan jika aku tak layak berada di sampingmu? Aku bukan wanita terbaik yang pantas berdiri di sampingmu, lupakan aku!" ucap Ganesa.
"Maafkan aku, Nes," ucap Rian. Dia maju beberapa langkah. Akan tetapi Ganesa mundur beberapa langkah. Air matanya mengalir diiringi deraian air hujan yang membasahi. Hatinya terasa perih, dia tau Rian emosi, bahkan perkataan yang terlontar dari Rian adalah bukti sakit yang dia rasakan.
__ADS_1
Tapi sayangnya hati Ganesa seolah tak mau mentolelir kesalahan yang hanya sekali dikatakan oleh Rian. Dirinya sudah menyadari dia salah, tapi saat orang memaki dirinya, dia tak bisa terima. Egois? Mungkin, tapi bagi Ganesa mengakui lebih baik dari pada harus di caci.
"Kamu tidak salah Mas, bahkan aku tak tau siapa yang harus aku salahkan. Aku tak bisa menyalahkan siapapun, aku terjebak dengan malam yang saat itu benar-benar tidak aku inginkan," ucap Ganesa.
"Sekarang pergilah Mas, Lupakan aku, carilah kebahagiaanmu," ucap Ganesa.
"Tapi bahagiaku ada padamu Nes," lirih Rian.
Rian bersimpuh di hadapan Ganesa, dia menggenggam kedua tangan Ganesa. Memohon pada Ganesa untuk kembali padanya.
Ganesa memalingkan wajahnya. Dia sakit, harus bagaimana lagi dia? Hati dan pikirannya tak sejalan.
"Bangunlah Mas, jangan begini," ucap Ganesa.
"Beri aku kesempatan Nes," ucapnya penuh permohonan. Ganesa diam, dia menoleh.
Diwaktu yang bersamaan seseorang menghampiri Rian, menarik kerah baju Rian. Seketika orang itu memberikan beberapa pukulan pada Rian. Rian tak diam saja. Dia membalas.
Ganesa terkejut, ditatapnya dua pria yang kini memang dekat dengannya. Suami dan juga mantan tunangannya. Apa yang harus dia lakukan saat ini?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...