
Ganesa berlari keluar dari rumah sakit. Kini dia berada di sebuah tempat yang tak diketahui siapapun. Ganesa menenangkan dirinya. Hatinya hancur saat mendengar penuturan Vito tadi. Tak ada yang bisa dia lakukan selain hanya terisak dalam kesedihan. Air mata terus mengalir mendapati kenyataan yang sangat tidak terpikir sebelumnya.
"Micela?" bayangan Micela menari di otaknya.
"Kau juga bisa memberi tauku, aku akan kasih tau jurus untuk meluluhkannya,"
"Kau mengenalnya juga Micel?"
"Ya, Kak Nicho adalah guru bela diri aku dulu, Kak Nes"
Ucapan Micel saat resepsi peenikahan saat itu mengiang di otak Ganesa. Kenapa harus Micela? Kenapa sepupunya? Apa harus dia meninggalkan Nicho dan meminta Micel menemuinya? Lalu bagaimana dengan Kak Vino? Hati Ganesa semakin hancur, apa Micela tau tentang ini? Kenapa tak pernah dia mendengar Micela menceritakan Nicho sebelumnya?
"Davina tolong mengerti untuk kali ini saja, ini soal nyawa. Nicho adiku satu-satunya. Aku tidak bisa mlihat dia seperti ini, aku mau yang terbaik untuk Nicho. Kita minta Micela datang saat ini,"
Ucapan Vito juga mengiang di otaknya, seakan mencekiknya perlahan. Keadaan Nicho yang kritis membuatnya harus melakukan sesuatu. Dia tak bisa membiarkan semua ini berlarut.
"Jika kedatangan Micela adalah hal yang terbaik, maka aku akan memintanya untuk menemuimu, aku tau aku bukan apa-apa. Hingga aku disampingmu pun tak ada artinya sama sekali Nicho," ucap Ganesa lirih.
Ganesa memejamkan matanya, setelah lama berpikir dan bergulat dengan pikiranya, dirinya memutuskan untuk pergi, dulu mungkin dia bertahan, karna tak tau dengan siapa dia harus bersaing. Tapi saat tau Micela adalah wanita yang dicintai Nicho, rasanya dia tak sanggup. Micela adiknya, tak mau dia terluka lebih dalam nantinya saat melihat Nicho menatap Micela dengan tatapan cinta. Bahkan sampai Micel mempunyai anakpun, perhatian Nicho tetap tercurah.
Lalu, sampai kapan semua akan berakhir? Bahkan Nicho tak pernah mencintainya sampai saat ini.
"Kita menikah tanpa cinta Nicho, mungkin berpisah lebih baik. Kamu tidak bisa berdiri diatas keegoisanmu yang mengatakan kita tidak akan pernah berpisah. Aku punya hak untuk bahagia," lirih Ganesa. Entah mengapa perasaanya hancur saat mengatakan ini semua.
Cinta? Benarkah tak ada cinta dihatinya dan Nicho? Tapi kenapa sesedih ini? Kenapa sesakit ini? Ganesa menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan.
"Aku harus kuat, tidak bisa aku hidup dalam keadaan yang seperti ini terus menerus," ucap Ganesa lirih mencoba menyemangati dirinya sendiri. Ganesa berdiri, dia harus segera melakukan sesuatu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rangga yang hawatir pada Ganesa segera melangkah pergi setelah tau bahwa keadaan bosnya telah membaik. Bahkan tanpa kedatangan Micela, Nicho bisa melewati masa kritisnya. Dari sini Rangga yakin, bahwa kedatangan Ganesa membawa kebaikan untuk bosnya. Lalu, kemana Ganesa pergi?
Rangga berlari keluar, dia mencari Ganesa disekitar rumah sakit, tak ada Ganesa disana. Dia tampak gelisah, pasalnya tadi dia melihat kesedihan diwajah Ganesa mana kala Vito dan Davina membicarakan tentang Micela.
"Anda dimana nona?" lirih Rangga sambil mengusap kasar wajahnya.
Pasti hati Ganesa hancur, apalagi dengan jelas Vito mengatakan jika wanita yang dicintai Nicho adalah Micela. Pikir Rangga.
Rangga menghela napas panjang, dia mengetikan satu pesan pada seseorang di sebrang sana. Dia berharap dia bisa membantu menemukan keberadaan Ganesa.
Rangga hendak melangkah, tapi dia dikejutkan dengan kedatangan Nala yang kini tepat ada di hadapannya.
"Dokter Nala," ucap Rangga yang melihat Nala tampak panik.
"Rangga," sahut Nala sambil menatap ke arah Rangga. Nala juga melihat kegelisahan yang tampak dari wajah Rangga.
Pertanyaan itu adalah ucapan yang keluar bersamaan dari mulut Rangga dan juga Nala. Keduanya saling berpandangan, dipastikan mereka sangat kebingungan saat ini.
Mereka sama-sama mencari keberadaan Ganesa yang tak kunjung kembali. Bahkan Ganesa yang tak tau Nicho telah membaik membuat Rangga dan Nala memikirkan kondisi mental Ganesa. Ya, tadi Nala juga mendengar percakapan antara Vito dan Davina. Sehingga dia tau betul bagaimana perasaan saudara sepupunya. Keduanya menggeleng pasrah. Rangga menatap ke arah Nala dengan intens.
"Kau tau tempat kesukaan Ganesa?" tanya Rangga.
Nala menghela napas panjang, dia mencoba mengingat sesuatu.
"Ayo ikut aku," ucap Nala. Nala melangkah pergi, memang saat ini dia sudah tak ada pasien.
__ADS_1
Rangga mengikuti langkah Nala, mereka menuju ke arah parkiran rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nicho, Honney,"
"Tadi aku minta izin dokter untuk masuk, entah jawabanya boleh atau tidak. Akan tetapi aku tak perduli itu, aku mau tetap masuk, aku mau berada di sampingmu,"
"Tapi kamu jangan senang dulu, aku memaksa masuk bukan karna hawatir. Atau ingin menjengukmu, itu tidak mungkin, kamu jangan terlalu percaya diri,"
"Kamu harus tau Nicho, aku mau masuk karna aku mau marah, aku mau menghukummu. Kamu mengabaikan permintaanku untuk tetap tinggal. Kamu pergi, kamu tak mendengarku. Dan akhirnya kamu menyakiti dirimu sendiri. Tapi nyatanya bukan hanya kamu saja yang sakit, tapi aku juga sakit. Kenapa kamu tidak pernah berpikir itu? Bisakah kamu tidak egois? Kenapa tidak pernah memikirkan perasaanku?"
"Aku tau aku bukan siapa siapa Nicho, tapi jujur keberadaanmu sangat berarti untukku. Mungkin aku bukan wanita yang kamu cintai, tapi aku adalah istrimu. Harusnya aku bahagia kalau kamu sampai meninggal, karna pada saat itu aku bisa dengan bebas untuk pergi. Tapi kau tau Nicho, bahkan saat aku mendengar kamu kecelakaan, hatiku hancur. Aku seperti manusia yang tak punya arti apapun,"
"Nicho, tolong bertahanlah. Tolong tetaplah hidup. kamu mau apa dari aku? Katakan, atau mungkin kamu mau aku mempertemukan kamu dengannya?"
"Tapi semua itu tidak gratis Nicho, kamu harus mengajak aku jalan-jalan. Mengajak aku menjalankan misi, aku tau kamu lemah. Tanpa aku, kamu akan kalah,"
"Jika pada suatu saat nanti kamu bisa meraih cintanya kembali. Mungkin berpisah adalah hal yang tepat, walau kamu tak pernah mau menceraikan aku,"
Suara yang indah yang didengar oleh Nicho seakan memaksanya untuk bicara. Dengan sekuat tenaga Nicho mencoba untuk membuka mata. Ingin dia memeluk Ganesa, menjawab ucapan Ganesa yang menyebalkan. Akan tetapi seakan dirinya melemah, tak sanggup untuk melakukan hal itu. Dia merasakan sakit dan tak tau lagi apa yang terjadi. Akan tetapi saat ini, perlahan Nicho mengerjabkan matanya.
Satu sosok yang saai ini ingin dia lihat di dekatnya.
"Ga... Ne... Sa..," ucapnya.
Vito dan Davina yang berada dalam ruangan itu terkejut, mereka saling berpandangan. Keduanya bersamaan menoleh ke arah asal suara.
__ADS_1
"Nicho," ucap keduanya bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...