Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Jangan berpikir untuk pergi


__ADS_3

Ganesa dan Nicho mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu. Tak ada percakapan antara keduanya, mereka tampak diam.


Ganesa memejamkan matanya. Masih teringat jelas perkataan Dokter Arina yang mengatakan bahwa dirinya mengalami gagal Ovulasi.


"Pembuahan gagal terjadi, dan mengakibatkan keguguran diawal kehamilan." Ucapan Dokter Arina masih mengiang dalam benaknya. Entah, dia merasa senang atau harus bersedih. Yang jelas dadanya terasa sesak.


"Kau tidak papa?" tanya Nicho saat menyadari Ganesa tampak lemas.


Ganesa menatap Nicho yang kini memegang pundaknya, keduanya saling memandang. Nicho sedikit murung. Sejujurnya dia mendambakan adanya bayi di perut Ganesa. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain. Kehidupan yang hampir saja dimulai ternyata harus gugur.


"Aku tidak papa," sahutnya. Ganesa berjalan ke arah sebuah taman. Matanya berkaca, entah saat ini dia ingin menangis. Tapi dia tak mau Nicho melihatnya menangis. Kenapa? Entahlah.


Nicho menatap Ganesa yang dirasa menghindarinya, Ganesa membelakanginya. Dia tampak menyedekapkan tangannya menahan hawa dingin.


Air matanya terus luruh membasahi pipinya, Ganesa menyesali keadaan. Bagaimana hidupnya selanjutnya? Apa yang dia harapkan? Bukankah tadinya dia bisa bergantung pada status pernikahan karna bayi itu? Lalu, setelah seperti ini, apa yang akan terjadi dalam pernikahannya? Tak ada alasan untuk mempertahankan.


Nicho mendekat dan memberikan jaket yang dia pakai untuk Ganesa. Nicho mengusap air mata Ganesa dengan tenang. Entah, dia tak tau apa yang dirasakan Ganesa. Tapi dia terluka melihat Ganesa menangis.

__ADS_1


"Jangan menangis, wanita galak sepertimu tak pantas menangis," ucap Nicho membuka percakapan.


"Trimakasih telah memberikan aku kenyamanan beberapa hari ini, Nicho," ucap Ganesa. Dia menatap Nicho dengan tatapan yang teduh.


Ganesa memejamkan matanya. Entah kenapa hatinya merasa sesak. Antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


Nicho menghela napas panjang, mencoba untuk meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Ganesa.


"Jika kau nyaman bersamaku, maka jangan berpikir untuk pergi," ucap Nicho.


Ganesa membuka matanya. Wanita cantik itu memandang wajah Nicho lekat-lekat.


Nicho mengalihkan pandangannya. Menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan tenang. Mendapatkan Micela? Itu tidak mungkin, dia milik orang lain. Bahkan Micela sejak dulu tak mempunyai perasaan padanya.


"Aku memang tidak mengharapkanmu sebelumnya, tapi aku menyadari bahwa ternyata kehadiranmu tak buruk juga untuk kehidupanku. Bahkan kau bisa membuatku tersenyum," ucap Nicho pelan. Nicho menatap Ganesa dengan teduh.


Ganesa terkekeh.

__ADS_1


"Jadi kau menganggapku sebuah pelampiasan begitu? Kau melarangku pergi hanya karna alasan itu? Menyedihkan," ucap Ganesa.


Nicho terkekeh.


"Aku tak mengatakan seperti itu. Mungkin jalan Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang salah. Tapi sampai detik ini tak ada sesal karna bertemu denganmu," ucap Nicho.


"Gombal ya, sejak kapan kau jadi begini? Setauku kau sangat keras kepala dan menjengkelkan," kesal Ganesa.


"Apa yang kau harapkan Nicho? Kita baru saja kenal, bahkan kita tak saling mencintai. Sebenarnya kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu," lanjut Ganesa.


"Sudah selesai bicara anda Nyonya Nicho?" tanya Nicho dengan sorot mata tajamnya. Ganesa terdiam dan melangkah kakinya menjauh dari Nicho.


Nicho berlari dan menyambar tubuh Ganesa dalam gendongannya. Ganesa berteriak sambil tertawa karna terkejut. Tangannya reflek melingkar di leher Nicho.


"Sudah selesai?" tanya Nicho lagi. Ganesa hanya terdiam.


"Kau istri ku, jangan berharap kau bisa pergi dariku," ucap Nicho tegas.

__ADS_1


****


__ADS_2