Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Panci durjana


__ADS_3

"Lalu apa lagi? Aku lapar, memasaklah," ucap Nicho kemudian melenggang pergi ke arah pintu utama.


Ganesa mengejar langkah Nicho, dia menggandeng tangan Nicho dan berjalan beriringan.


Nicho merasakan desiran yang merayap dalam hatinya. Dia memandang Ganesa, wanita sederhana yang mengusik hatinya. Wanita yang fleksibel, dia juga tidak pendendam.


Semakin kesini Nicho semakin nyaman, walau entah cinta itu ada atau tidak. Yang jelas bersama Ganesa dia sangat tenang.


Mereka sampai di dapur, Nicho membuka lemari pendingin. Dia menemukan mie dan beberapa sayuran di sana.


"Adanya hanya ini," ucap Nicho.


Ganesa menatap dua bungkus mie instan dan beberapa lembar sayuran.


"Ini lebih dari cukup," ucap Ganesa sambil meletakan panci di atas kompor kemudian menyalakan kompor gas itu. Sambil menunggu air mendidih, Ganesa duduk dan menatap Nicho yang berdiri di samping jendela.


"Ada yang kamu pikirkan Hooney?" tanya Ganesa sambil mendekat ke arah Nicho.


Nicho menoleh dan menatap wanita cantik yang menggulung rambutnya ke atas. Menampakan leher jenjang yang putih bersih.


"Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Ganesa lagi terdengar halus dan sangat perhatian.


Nicho menghadapkan tubuhnya ke arah Ganesa, hampir dua minggu dirinya mengenal Ganesa. Dari kejadian naas itu hingga Ganesa mencoba mengakhiri hidupnya. Tapi sampai detik ini tak sedikitpun Ganesa menyalahkannya. Bahkan, wanita cantik ini malah selalu ingin lari dari tanggung jawab yang dia berikan.


Mungkin dulu Nicho menganggap bertemu Ganesa adalah sebuah nasip buruk karna pada saat kakeknya memintanya menikah, dia dihianati tunangannya dan muncul Ganesa di malam itu. Ketika saat itu membenci Ganesa, tapi justru sebenarnya kemunculan Ganesa adalah keberuntungan baginya. Lalu, bagaimana bisa dia malah memusuhi Ganesa?

__ADS_1


"Nes maaf," ucap Nicho.


"Untuk?" tanya Ganesa pada wanita yang tampak sangat ceria itu.


"Untuk kemunculanmu yang ternyata adalah sebuah keberuntungan," ucap Nicho.


Ganesa menautkan alisnya dan menatap Nicho dengan penuh pertanyaan.


"Aku tidak mengerti," sahut Ganesa.


Nicho mengulurkan tangannya dan menyibak anak rambut Ganesa yang menghalangi penglihatan Ganesa. Ganesa juga mengarahkan tangannya ke sana sehingga mereka saling berpegangan.


"Maaf karna aku menghancurkan masa depanmu, bahkan aku merebut hidupmu," ucap Nicho.


"Bukan salahmu, aku yang salah masuk ke dalam kamarmu," sahutnya.


Nicho memejamkan matanya, tutur lembut Ganesa membuatnya malu. Bahkan saat itu wanita cantik ini berusaha untuk menjelaskan kalau dia bukan wanita bayaran itu, tapi tetap saja dia ngotot. Tertarik pada Ganesa pada pandangan pertama, membuatnya enggan mendengar apapun penjelasannya.


Jika saat itu Ganesa marah marah, mungkin karna emosi yang membuncah. Tapi saat ini, wanita cantik itu tak lagi menampakan hal yang demikian.


"Aku juga salah, harusnya aku mendengar penjelasanmu," ucap Nicho.


"Jadi bagaimana bisa kau salah masuk kamar?" tanya Nicho.


Ganesa terswnyum dia mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Aku ngantuk berat, gara gara habisin waktu di proyek seharian. Kamar Nala 106, tapi karna aku ngantuk, aku bacanya 108," ucap Ganesa sambil mengingat hari yang naas baginya itu.


"Lalu, bagaimana bisa kau memesan wanita bayaran? Kau Casanova seperti Kak Marvel?" tanya Ganesa.


Nicho mendekat ke arah Ganesa direngkuhnya pinggang Ganesa yang langsing itu.


"Apa aku punya tampang seperti itu?" tanya Nicho sambil memegang dagu Ganesa. Nicho mendekatkan bibirnya ke arah bibir merah muda itu. Netranya menatap tajam ke arah Ganesa. Seakan ingin memangsanya.


Ganesa reflek mengalungkan tangannya di leher Nicho. Keduanya saling berpandangan, perlahan memejamkan matanya saat bibir dan hidung mereka bersentuhan.


Grobyak, grobyak, grobyak


Akan tetapi saat ini mereka terkejut, saat tutup panci terangkat angkat menimbulkan suara saat air sudah mendidih dan tumpah tumpah.


Tanpa pikir panjang Ganesa mendorong tubuh Nicho dan berlari ke arah kompor.


Ganesa mengecilkan kompor dan segera memasukan sayuran dan mie. Perasaanya campur aduk tak karuan. Bagaimana bisa dia terlena? Wajah Ganesa memerah, dia terus menunduk.


Nicho mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa dia tergoda. Lalu kenapa tidak tuntas dan terganggu panci? Apa harus dia menghukum panci dengan membuangnya?🤭🤭🤭


"Shi*t. Panci durjana," umpat Nicho.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang butuh panci bilang Nicho ya, emak emak😂😂😂.

__ADS_1


__ADS_2