
Ganesa berjalan mengikuti ayahnya yang pergi menuju ke tempat itu. Penasaranya semakin menjadi, seperti apa lelaki itu?
Ayanya melangkah ke atas sana, memang keberadaan padepokan yang berada di pegunungan membuat tempat itu tak jauh dari hutan. Dan dihutanlah tempat dimana permainan itu dijalankan.
"Yah masih lama?" tanya Ganesa.
"Sedikit lagi," sahut ayahnya.
Ganesa menghela napas panjang, berharap permainan ini akan membawa dirinya lupa pada sosok Nicho yang selalu ada diingatannya. Rindu? Rasa itu bergelayut dalam benaknya, tapi rasa sesak seakan memintanya pergi dari lelaki yang ditinggalkanya dalam keadaan tak sadarkan diri itu. Keterlaluan? Biarlah, semakin benci Nicho padanya, semakin cepat juga Ganesa melupakannya. Cinta? Apa tak ada cinta untuknya? Ganesa memejamkan matanya, dia rasa cinta itu sudah tumbuh dalam hatinya. Tapi dia ingin rasa itu segera pergi sebelum tertanam rapi.
Aku harap kamu segera sembuh, sadar, dan bisa menemukan cinta lain selain cinta Micela. Kupikir Micela sangat mencintai Kak Vino. Aku tau kamu tersiksa, aku dan Micela tidak bisa jauh hanya karna ini. Jika cintamu bukan untukku, maka bertemulah dengan wanita yang lebih baik dariku. Batin Ganesa.
Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di arena yang dimaksut. Anak-anak terlihat sangat antusias dan bahagia dengan permainan flying fox yang dibuat. Melucur dari ketinggian tebing 50 m menuju ke dasar. Sangat menengangkan bagi Ganesa yang belum pernah memainkannya.
Ganesa tersenyum dia yang takut ketinggian seakan ingin mencoba. Ingin dia berteriak kencang untuk melampiaskan semua beban yang dia rasakan. Ganesa menghela napas dalam-dalam.
"Ayah aku boleh berteriak nanti?" tanya Ganesa.
"Berteriaklah sesukamu, yang penting kau tidak lagi bersedih," ucap ayahnya.
Ganesa mengangguk, dan tersenyum.
"Aku kesana ya Yah," ucap Ganesa sambil menatap ke arah tebing tinggi, tempat dimana start permainan.
"Kakak mau main?" tanya lelaki yang kemungkinan berusia dua puluh tahun itu. Ganesa menganggukan kepalanya.
"Mari saya bantu bersiap Kak," ucapnya dengan lembut. Karna dia tau, bahwa wanita ini adalah tamu dari gurunya.
Ganesa mendekat, dipasangkan beberapa alat pengaman pada tubuh Ganesa.
__ADS_1
"Ini helmnya kak," ucap lelaki itu.
"Ada masker?" tanya Ganesa yang tak ingin wajahnya dilihat banyak orang.
Lelaki dewasa itu mengangguk dan menyerahkan masker berwarna merahmuda pada Ganesa.
"Teeimakasih," ucap Ganesa.
"Sama-sama, siap ya kak," ucapnya. Ganesa mengangguk setelah memastikan semua alat sudah menempel. Lelaki itu segera meluncurkan Ganesa.
Dibawah sana, seorang pria tampan tampak melamun. Nicho, ya lelaki itu adalah Nicho yang putus asa karna tak menemukan Ganesa. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menenangkan dirinya di padepokan tempatnya menimba ilmu. Padepokan yang baginya adalah rumah kedua.
Rasa sakit yang dia rasakan paska kecelakaan sudah tak lagi berarti, pasalnya koma dalam beberapa hari membuat lukanya membaik. Akan tetapi kehilangan Ganesa membuat hatinya terasa hampa, bertahan dua jam dalam rumah sakit setelah sadar tadi baginya sangat lama, dia yakin Ganesa menghindarinya.
Nicho tolong pergi dari pikiranku!
Nicho yang memang berjaga di bawah menggantikan penjaga yang sedang ada keperluan, kini ganti berjaga untuk membantu melepas alat orang yang selesai bermain, dia berdiri dan mengedarkan pandangannya.
"Ganesa?" lirihnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Nicho sangat gelisah. Apa iya itu hanya suara ilusi dari pikiranya? Pasalnya tak ada Ganesa disini. Nicho berdiri tepat disamping finish permainan itu.
Ganesa yang merentangkan tangan memejamkan matanya dan baru saja berteriak di dalam luncurannya merasa sangat bahagia. Hatinya terasa bebas, beban seakan hilang. Hingga pada saatnya kakinya bertapak di tanah, dia sudah sampai Finish. Dia bahagia, hatinya membaik. Dia tersenyum.
Nicho yang sadar ada orang yang selesai bermain segera mendekat.
"Permisi saya bantu mbak," ucap Nicho sambil mendekat dan membatu melepaskan helm kemudian meletakan di meja.
"Suara itu?" lirih Ganesa, dia menoleh. Mengamati lelaki di di depannya.
Tak sabar, Ganesa melepas sendiri. Berhasil, Ganesa berjalan akan tetapi seutas tali menghalangi langkahnya.
__ADS_1
Ganesa terhuyung, dengan sigap tangan kokoh itu menariknya hingga Ganesa berada dalam rengkuhan lelaki itu.
Ganesa yang semula memejamkan matanya membuka matanya, jantungnya berdetak sangat cepat saat melihat wajah Nicho berada di depannya. Air matanya meleleh. Baru saja dia lega, tapi kenapa bayangan Nicho malah semakin nyata? Ganesa meneteskan air mata. Mencoba untuk mengerjabkan mata, tetap saja itu wajah Nicho yang tak mungkin ada didepannya karna dia koma. Sepertinya ada yang salah dengan otaknya.
Tidak mungkin itu kamu, jika mataku yang salah, maka aku akan bermain main dulu. Sudah lama aku tak melakukan olah raga. Aku akan melawan bayangamu, Nicho.
Ganesa berdiri, dia memutar langkahnya. Kakinya menginjak kaki orang yang menolongnya sehingga orang itu melepaskan rengkuhanya.
Nicho terkejut, memang dia melakukan adegan intim. Tapi bukankah dia hanya menolong? Kenapa diserang? Tak mau kalah dia harus melawan. Ditatapnya wanita yang mengucir kuda rambutnya itu, wajahnya bermasker dan tak kelihatan. Tapi anehnya mata itu sangat familiar.
Wanita itu melambai seolah memintanya untuk meladeni, Nicho mengedarkan pandangan, banyak anak perguruan yang berdiri mendekat. Mereka pikir ini adalah salah satu trik para tamu itu untuk memperkenalkan cara melawan dan diserang.
Nicho yang notabeneya murid top tak bisa mengalah, egoisnya seakan memintanya untuk meladeni. Dia bisa saja mengurangi kekuatanya karna melawan wanita, itung itung untuk memberikan contoh nyata pada murid padepokan itu.
Nicho maju, mulai menyerang dan memukul, meski sebemarnya dia sangat lemah. Tapi
ternyata kekuatan wanita ini tidak bisa disepelekan. Anak padepokan semakin ramai datang dan menyaksikan contoh ini dengan seksama, mereka sangat suka.
Tapi bagi Nicho ini sudah sangat melampaui batas, bukan lagi latian. Tapi ini kebenaran menyerang. Dia tak mau kalah, siapa wanita ini? Kenapa menyerangnya? Dia harus bisa melepaskan masker wanita itu. Dan tau apa misinya.
Ganesa bergerak dalam emosi, wajah Nicho tak hilang, semakin membuatnya geram. Ingin dia menghabisi orang yang menjadi lawannya.
Pak Akbar yang baru saja datang tampak terkejut, ada apa sorak rame-rame. Dia datang dan membelalakan matanya saat melihat dua murit kesayangannya terlihat baku hantam, dan ini bukan lagi latihan. Pak Akbar segera mendekat dan berlari, dia menendang Ganesa dan Nicho. Memisah mereka sehingga keduanya terhuyung mundur.
"Hentikan!" sentaknya. Pak Akbar berdiri diantara Nicho dan Ganesa.
Tepuk tangan riuh terdengar dari para murid yang mereka pikir memang saatnya pak Akbar datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1