
"Jangan menatapku seperti itu,"
Suara itu membuat Ganesa semakin terkejut. Ganesa mencoba melepaskan pelukan Nicho, tapi justru Nicho mengangkat tubuh Ganesa ke atasnya, keduanya bertatapan. Sungguh Ganesa merasakan dag, dig, dug tak karuan.
"Bisa lepaskan aku? Sudah siang," ucap Ganesa.
"Apa tidak bisa diam? Kita nikmati pagi ini seperti ini, suasana masih dingin. Bukan salah pagi kan, jika aku masih menginginkan kehangantan bersamamu," ucap Nicho dengan suara serak yang menggema di telinga.
Ganesa diam, seperti ini memang nyaman, tapi sepertinya tidak nyaman untuk kesehatan jantungnya. Segera Ganesa melepas lilitan lengan Nicho dan duduk, dia mengamati tubuhnya yang masih dengan baju yang lengkap.
"Kenapa kau dan aku disini?" tanya Ganesa sambil mengamati Nicho yang masih terbaring. Nicho bangun, duduk, kemudian menatap Ganesa dengan sorot mata tenangnya.
"Ini kamarku tentu saja juga kamarmu," ucapnya.
Ganesa menghela napas panjang wanita cantik itu memutar pandangannya dan mengamati kamar besar nan indah ini.
"Kau mengangkatku semalam?" tanya Ganesa yang ingat betul dia ada di depan TV.
"Hem, kau pikir aku akan membiarkanmu disana? Kau istriku, sudah selayaknya tidur di sampingku Nona Ganesa," sahut Nicho.
Ganesa kembali menatap ke arah Nicho. Dia ingat jika dirinya sekarang telah menjadi istri sah dari manusia di depannya. Tapi kenapa hatinya sakit saat nama yang disebut Nicho tadi adalah nama orang lain?
"Sebaiknya kamu segera membersihkan diri, kita segera pulang, aku tidak punya baju ganti," ucap Ganesa.
Nicho turun dari ranjang dan menuju ke arah almari, diambilnya paper bag dan menyerahkan paper bag pada Ganesa.
"Pakai itu," ucapnya.
Ganesa menatap paper bag itu dan melihatnya. Baju itu ukuranya sama dengan ukuran tubuhnya? Sebenarnya milik siapa baju, sandal, yang sudah tersedia di villa, bahkan rumah Nicho? Kenapa semua pas dengan ukurannya? Apa milik wanita yang disebut Nicho tadi?
__ADS_1
"Aku tidak mau," ucap Ganesa.
Nicho menautkan alisnya, ditatapnya Ganesa yang tetap cantik walau bangun tidur itu.
"Kenapa?" tanya Nicho.
"Aku tidak mau hidup dalam bayangan wanita yang kau cintai Nicho. Baju yang aku pakai, sandal, dan baju ini, semua milik wanita yang kau sebut tadi kan? Bahkan, kau semanis ini, sebaik ini padaku, kurasa karna kau merindukanya. Siapa tadi, Mi...." Ganesa tampak mengingat.
Nicho membelalakan matanya, dia menyebut nama wanita? Benarkah itu? Apa dia mengigau? Mi? Micel kah? Nicho tampak mengusap kasar wajahnya, bahkan dia mulai bisa melupakan Micel, lalu bagaimana bisa dia menyebut namanya?
"Cepat bersihkan dirimu dan siapa sarapan untukku, pakai dulu saja baju itu, itu baru" lanjut Nicho.
"Aku bilang tidak, artinya tidak," ucap Ganesa.
Nicho membuat satu gerakan hingga kini Ganesa berada dalam pangkuannya. Ganesa terkejut dan melingkarkan tangannya di pinggang Nicho, keduanya saling menatap.
"Jangan pura-pura, aku yakin kau sadar tadi dan sengaja mengucapkannyakan? Buktinya kau terbangun," ucap Ganesa.
Nicho tersenyum tipis, bahkah nyaris tak terlihat.
"Aku tak sadar. Aku terbangun karna sentuhan tanganmu yang mencoba untuk lepas dari pelukanku, bergerak gerak di bawah sana. Membangunkan makhluk hidup di sana," ucap Nicho.
Ganesa yang tak paham membelalakan matanya.
"Makhluk hidup?" tanya Ganesa.
"Ya, cobra berbisa. Tapi bisanya menghidupkan, bukan mematikan," ucap Nicho dengan percaya dirinya.
Ganesa membelalakan matanya, wajahnya merah merona. Astaga.
__ADS_1
"Ini tidak lucu, sekarang turunkan aku," ucap Ganesa.
Nicho tersenyum, dan melepaskan Ganesa. Segera wanita cantik itu beranjak. Tapi Nicho menarik tangan Ganesa sehingga Ganesa kembali terduduk di pangkuan Nicho.
"Kau cemburu, Nona?" tanya Nicho sambil menatap Ganesa dengan tatapan yang mematikan.
Ganesa tak sanggup menyahut, dia mendorong tubuh Nicho dan berlari menjauh.
"Jangan bergurau Hooney," ucap Ganesa saat dia sudah menghilang di balik pintu sambil membawa paper bag yang tadi diberikan Nicho.
Nicho berjalan ke arah dekat jendela. Paper bag tadi adalah baju setelan yang dia beli terakhir untuk Micela dua bulan lalu, saat dia memutuskan membuka hati pada Maura. Memang setiap bulannya Nicho selalu memberikan kado tanpa nama untuk Micela dan memberikan baju untuk anak Micela setelah memutuskan untuk berhubungan dengan Maura.
Nicho mengusap kasar wajahnya. Berharap banyangan Micel segera hilang dari hatinya. Tak berapa lama, ponselnya berbunyi, segera dia mengangkat panggilan dari Rangga.
...****************...
Beberapa menit berlalu, Ganesa telah selesai mandi. Ia menggunakan setelan cantik yang tadi di berikan oleh Nicho. Rambutnya yang basah di gulung tinggi hingga menampakkan leher jenjangnya.
Saat membuat pintu, tubuh Ganesa terpaku saat netranya beradu dengan tatapan mata Nicho yang memandangnya sambil memegang ponsel dan bicara dengan orang di sebrang sana.
Keduanya tampak terkejut, Ganesa segera merapikan rambutnya dan menyisirnya.
Nicho tampak memandang setiap gerak Ganesa, bibirnya tersenyum tipis dia mendekat ke arah Ganesa.
"Tolong kondisikan kecantikanmu Nona, aku bisa benar-benar jatuh cinta padamu jika kau seperti ini," ucap Nicho dan melenggang pergi.
Ganesa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, apa maksud Nicho? Sangat tidak jelas. Tapi kenapa dia bahagia? Sama tidak jelasnya bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1