
Ganesa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, apa maksud Nicho? Sangat tidak jelas. Tapi kenapa dia bahagia? Sama tidak jelasnya bukan?
Segera Ganesa menata rambutnya, menatap wajahnya di dalam kaca, dia juga memoles wajahnya dengan make up yang selalu ada dalam tasnya. Wanita cantik itu juga menyiapkan beberapa lembar pakaian di atas ranjang. Entah, hatinya sangat bahagia.
Ganesa mengambil ponselnya dan menaruhnya dalam saku. Setelah selesai rutinitas di dalam kamar itu, wanita cantik itu pun keluar dari kamar dan segera menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuk Nicho.
Tak berapa lama kemudian, Nicho telah selesai mandi. Dia melihat sudah ada beberapa lipatan baju di atas ranjang. Nicho menautkan alisnya saat melihat potongan kemeja dan juga celana kerja disana. Dia juga melihat kaos dan celana santai. Mungkin Ganesa sengaja menyiapkan kedua baju itu, karna dia tak tau jadwal Nicho.
Segera lelaki tampan itu memakai kemeja warna biru cerah dan juga celana berwarna Navy yang disiapkan oleh Ganesa. Memang siang ini dia ada meeting bertemu dengan klien untuk membicarakan kerjasama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ganesa mendudukan dirinya di kursi, dia sudah selesai menyiapkan makanan. Hanya beberapa potong roti saja, karna di toko depan sana hanya itu makanan yang siap saji.
Ganesa mengambil ponselnya dan menyalakan ponselnya. Banyak pesan yang dia terima, bahkan beberapa nomor ponsel yang tak bernama beberapa kali menelponnya.
Nomor akhir jelas sekali teringat di otaknya.
"Rian," lirihnya. Dia memang tak mempunyai banyak kontak karna Nicho telah membuat ponselnya menjadi setelan pabrik.
Belum sempat dia membuka pesan, satu panggilan dari Nala dia dapat. Segera wanita cantik itu mengangkat panggilan dari Nala.
"Halo Nala, asalamualaikum," ucap Ganesa.
"Waalaikumsalam Nes," terdengar Nala tampak panik di sana.
"Ada apa Nal?" tanya Ganesa. Ganesa berdiri dan tampak Gelisah juga.
"Nes, kau dimana? Kanapa baru aktif ? Kau tau, Rian ke rumah praktek aku, dia nggak mau pergi sampai kamu datang. Padahal jadwal pasien aku banyak banget, dan aku nggak bisa keluar, aku tidak mau bikin keributan disini. Kamu bisa bantu aku Nes?" tanya Nala di sebrang sana.
__ADS_1
"Apa yang Rian inginkan?" tanya Ganesa.
"Dia ingin bertemu denganmu Nes, aku nggak bisa melakukan apapun. Karna mengusirnyapun aku tidak tega," ucap Nalam
Ganesa menghela napas panjang dia tampak gelisah. Sepertinya dia harus segera ke tempat Nala.
"Oke, aku usahakan segera ke sana Nala," ucap Ganesa.
"Oke, aku tunggu Nes," ucap Nala kemudian menutup ponselnya.
Ganesa memejamkan matanya, Dia harus bertemu dengan Rian. Ganesa memutar langkahnya, disaat yang bersamaan Nicho ada di belakangnya. Keduanya saling bertubrukan, Ganesa terkejut dan
menatap ke arah Nicho.
Nicho memandang Ganesa yang tampak panik itu.
"Ada apa?" tanya Nicho. Dia menatap Ganesa yang memegang ponselnya.
"Nala, terjadi sesuatu di klinik Nala. Dia memintaku untuk ke sana, apa boleh?" tanya Ganesa. Dia berharap Nicho tak banyak bertanya.
"Oke, aku akan mengantarmu," ucap Nicho. Ganesa menghela napas lega. Setidaknya dia bisa sampai sana, entah bagaimana caranya dia harus cepat sampai dan sebisa mungkin dia harus memastikan Nicho tidak bertemu dengan Rian.
"Apa kau mau berangkat kerja?" tanya Ganesa yang mengamati Nicho yang memakai baju kerja. Sebenarnya dia pun tak tau dimana alamat kantor Nicho, profesi Nicho. Dia hanya berharap Nicho bekerja dan membawanya pergi dari kampung ini.
Nicho hanya diam tak menjawab.
"Sebaiknya segera sarapan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, ini sudah siang," ucap Ganesa. Nicho menganggukan kepalanya.
Mereka segera duduk dan menikmati makan pagi ini. Nicho menatap Ganesa yang begitu gelisah, apa yang terjadi?
__ADS_1
Selesai sarapan, mereka segera berjalan ke arah mobil. Keduanya hanya diam, Nicho tak memulai percakapan. Ganesa juga tak memulainya. Nicho mengepalkan tangannya. Kenapa dia kesal saat Ganesa tak memperdulikannya? Tapi untuk sekedar membuka percakapan dia enggan.
Nicho melajukan mobilnya dan melewati jalanan nan sepi. Ganesa hanya memandang ke luar, dalam hati berdoa agar mereka segera sampai tujuan dengan selamat.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di klinik milik Nala. Ganesa keluar dari mobil, Nicho juga sama. Nicho mengamati ruang pendaftaran, sangat antri. Ada apa sebenarnya?
"Hooney, aku masuk ya, terimakasih sudah mengantar. Aku rasa ini sudah terlalu siang, kau bisa terlambat nanti," ucap Ganesa.
"Ya sudah, aku berangkat. Jaga dirimu," ucap Nicho yang merasa jika Ganesa ingin dia segera pergi.
Ganesa berjalan ke arah Nicho dan meraih tangan Nicho, mencium punggung telapak tangan Nicho dengan tenang. Desiran halus merayap di hati keduanya, Ganesa kembali berdiri dan menatap Nicho dengan senyuman indahnya.
"Hati-hati Hooney," ucapnya.
Nicho mendekat dan mencium puncak kepala Ganesa, diacaknya rambut rapi Ganesa setelah dia menciumnya. Ganesa memejamkan matanya. Sebenarnya ini drama atau ketulusan? Bagaimana bisa Nicho semanis ini?
"Jaga dirimu Darling," ucapan Nicho yang keluar.
Sebenarnya Nicho ingin mengatakan jaga hatimu, tapi perkataan itu hanya terpikirkan dan tak terungkapkan.
"Pasti," sahut Ganesa.
Nicho tersenyum kemudian melenggang pergi. Ganesa juga segera masuk ke klinik.
Di dalam mobil, Nicho mengamati Ganesa yang menghilang dari pandangannya. Nicho membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rangga.
Dia penasaran, kenapa Ganesa begitu gelisah? Kenapa Nicho tak terima jika wanita cantik itu gelisah dan bukan dirinya yang membuat gelisah?
Rangga, kirimkan satu orang ke klinik Nala. Cari tau apa saja yang dilakukan Ganesa nantinya. Sekarang juga. Kirim.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...