
Nicho berhenti dan mengetik sesuatu, tapi dia menghentikan aksinya saat Ganesa menatap dirinya dengan tatapan yang tak biasa.
"Kau mau pergi?" tanya Ganesa.
Nicho tersenyum dan menatap Ganesa dengan lembut.
"Ya, tapi kau dilarang ikut," sahutnya.
Ganesa mendekat dan mendongak, dia merasa tak mau melepaskan Nicho saat ini.
"Kalau begitu kau dilarang pergi," sahut Ganesa.
"Nes ini tanggung jawabku," sahut Nicho sambil mengusap pipi lembut Ganesa. Dia memutar langkah dan mengambil baju kemeja hitam dari almarinya.
"Kau harus istirahat, semalam kau kelelahan menjagaku. Siang tadi kau bekerja, tidak bisakah malam ini kau dirumah saja. Bukankah ada Rangga yang bisa untuk melakukan misi kali ini?" tanya Ganesa, dia mengikuti langkah Nicho.
Nicho diam, sebenarnya ingin menemani Ganesa. Akan tetapi tidak untuk malam ini.
"Memang ada Rangga, tapi aku lebih bertanggung jawab," sahut Nicho. Dia memakai bajunya.
Ganesa dengan sigap membantu mengancingkan baju milik suaminya. Entah, dia gelisah saat mendengar Nicho akan pergi.
__ADS_1
"Kau hawatir padaku? Kau ingin aku menemanimu?" tanya Nicho. Dia berharap Ganesa akan mengatakan iya. Dengan begitu dia bisa mempertimbangkan keinginan Ganesa. Karna Nicho bertekat melupakan Micela, bahkan dia juga akan memberhentikan kegiatan mengirim baju bayi pada putri Micela. Dia ingin membuka hati untuk Wanita cantik yang kini berstatus sebagai istrinya, walau terkadang bayangan Micela selalu hadir, dengan susah payah Nicho mengusirnya.
Ganesa diam, bahkan untuk menjawab dia tak sanggup. Dia tak tau bagaimana menerjemahkan perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Aku," Ganesa mendongak. Matanya berkaca, dia tak bisa untuk berkata kata.
Nicho menundukan kepalanya, dia tersenyum.
"Doakan aku, aku akan baik-baik saja," ucap Nicho kemudian mencium puncak kepala Ganesa dan melenggang pergi.
Ganesa mengalirkan air mata, benci pada dirinya sendiri. Kenapa dia seperti ini? Kenapa tak menginginkan Nicho pergi, tapi dia tak juga mampu menjawab pertanyaan Nicho? Sesak menggerogoti hatinya.
"Nicho, tunggu," ucapnya.
Ganesa hanya bisa menatap kepergian Nicho yang semakin menghilang dari pandangan matanya. Perasaanya berkecamuk, keman Nicho pergi?
"Tuhan, kenapa sesakit ini," ucap Ganesa.
Satu panggilan telepon terdengar di ponsel Ganesa, segera Ganesa mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
"Micela?" ucap Ganesa. Segera wanita cantik itu mengusap air matanya dan menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Malam onty, Asalamjalaikum," sapa Micel yang kini berbicara seperti anak kecil.
"Hai cantik, keponakan Onty," ucap Ganesa.
"Onty aku punya paket. Mau onty menenami aku membuka," tanya Micela di sebrang sana. Memang kebiasaan Ganesa dan Micel selalu membuka paket bersama. Mereka sangat senang melakukan itu saat masih satu rumah.
"Keponakan onty dapat paket dari mana Sayang?" tanya Ganesa. Dia duduk di taman depan mansion.
Micel menoleh ke arah Ganesa dan memperlihatkan paket pada Ganesa.
"Entah, aku tak tau Nes. Setiap minggu selama sebulan ini aku mendapatkan paket. Enggak aku pakekan juga sih, tapi aku buka," ucap Micela.
Ganesa menatap paket itu dengan seksama, kenapa tak asing dengan kertas pembungkusnya? Dimana dia melihatnya? Atau hanya pikirannya saja? Ganesa mencoba mengingat tapi obrolan Micela tampaknya sangat asik sehingga Ganesa melupakan dimana dia melihat paket itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nicho melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, pikiranya melayang jauh. Berusaha dia melupakan segala hal yang berkecamuk dalam dadanya, dia harus melupakan bayangan Micela.
Benar, hatinya seakan berangsur menerima, kini bayangan Ganesa menari di otaknya. Senyuman indah, perlakuan Ganesa yang lembut dan tingkah Ganesa yang selalu membuatnya nyaman. Mungkin dia telah jatuh cinta, tapi kenapa Ganesa seakan tak menyambutnya?
Brakkkk....
__ADS_1
"Ganesa," lirih suara kecil yang keluar dari mulut Nicho, saat dirinya menghindari mobil bok yang melaju kencang tak pada jalurnya. Nicho memejamkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...