
"Tolong lepaskan aku," ucap Ganesa saat orang di depannya mendekapnya dengan erat. Dia menahan gejolak rasa dibalik kesedihan yang mendera. Mengerjab sekali saja, dan tetap saja wajah itu wajah Nicho. Air matanya mengalir.
Nicho tetap diam, tak bergerak sama sekali. Netranya menatap wanita di depannya dengan intens. Dia telah mendapatkan Ganesa, dia tidak mau lagi untuk melepasnya.
Namun, saat ini dia merasa Ganesa sangat jauh. Seperti orang asing yang tak mengenalnya, hanya karna Ganesa berpikir jika otaknya sedang kacau. Nicho merasakan sakit yang sama, dia ingin menuntaskan semuanya. Dia tidak mau lagi melepaskan Ganesa sebelum semua jelas.
"Tolong lepaskan aku? Atau mau aku menggunakan kekerasan?" sentak Ganesa lagi dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
Bukan melepas, justru Nicho malah mengangkat tubuh Ganesa. Reflek Ganesa merangkul leher orang itu. Rasa sakit benar-benar menyiksa dirinya saat orang itu melakukan ini.
"Berhenti, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" sentaknya. Benteng pertahanannya seakan terkoyak. Air matanya luruh tanpa diminta.
Nicho menatap wajah sembab istrinya itu. Ada rasa sesak mendera melihat pemandangan ini. Tak rela, wanita ini menangis. Tapi dia tak mau mengatakan apapun, baginya memeluk Ganesa seperti ini adalah awal yang membahagiakan. Tak mau wanita ini lari dan menjauhinya lagi jika saat ini dia mengatakan bahwa dirinya adalah Nicho.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nona Ganesa Nova Wijaya," ucap Nicho sambil berjalan ke pinggir. Nicho duduk dan mendekap erat Ganesa dalam pangkuannya.
Jantung Ganesa berdetak hebat. Air matanya tidak bisa dibendung. Berontak? Bahkan tubuhnya seakan lunglai. Kenapa dia merasakan keberadaan Nicho. Pelukan hangat Nicho yang selalu membuatnya nyaman.
Ganesa menangis dalam rengkuhan orang itu, dia merasakan hangat pelukan yang sejujurnya sangat dia rindukan. Tapi, dia tidak bisa seperti ini, karna ini semakin menyakiti dirinya. Siapa lelaki ini sesungguhnyapun dia tak tau. Mana ada wajah seserupa itu? Kembar? Mana ada Nicho punya kembaran? Atau memang otaknya yang benar-benar tidak beres.
Nicho memejamkan matanya, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dirinya. Dia sangat nyaman memeluk Ganesa seperti ini. Hawa dingin disungai seakan memintanya lebih, hais bagaiamana bisa dia berpikir ini?😂
"Lepaskan aku Tuan," ucap Ganesa dengan suara seraknya. Mengisaratkan sebuah kebencian. Dia mulai berontak. Dia tidak mau terus seperti ini.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nona Ganesa. Aku hampir gila karna kehilanganmu, kemudian kamu minta aku melepasmu setelah aku bersusah payah mendapatkanmu? Tidak akan pernah aku lakukan!" ucapnya dengan dingin.
Deg
Jantung Ganesa semakin berdetak hebat, ditatapnya lelaki didepannya. Apa dia Nicho? Apa benar-benar Nicho? Sesak mendera saat dia memang melihat wajah itu sangat nyata. Air matanya mengalir. Diulurkanya tangan di pipi Nicho. Dilepanya penutup kepala Nicho, Nicho mempunyai luka dipelipisnya.
Dan benar saja, Ganesa menemukan itu. Bagaimana bisa? Dia Nicho? Suaminya?
__ADS_1
Ganesa mendorong tubuh Nicho hingga Nicho berhasil menjauh darinya. Ganesa berdiri. Air mata mengalir deras, dia tak bisa membendungnya.
"Aku yakin otakku sedang tidak waras," ucap Ganesa kemudian melangkah dengan tergesa. Dia tak mau terluka lebih dalam lagi.
"Hentikan langkahmu Nona Ganesa," Sentak Nicho dengan suara lantangnya.
Ganesa tak kuasa lagi melangkah, wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Nicho berjalan mendekati Ganesa dan berdiri di depan wanita cantik yang sangat dia rindukan itu.
"Apa yang kamu inginkan? Kita tidak punya urusan!" sentak Ganesa di sela isak tangisnya.
"Mau kemana kamu? Kita harus bicara banyak hal," ucap Nicho.
"Kau salah orang Tuan, kita tidak punya urusan dan tak ada yang perlu dibicarakan!" ucap Ganesa dengan suara seraknya. Dia masih dalam ego yang sama, menganggap dia hanya sedang dalam angan yang jauh memikirkan Nicho.
"Apa benar begitu Nona?" tanya Nicho.
Ganesa terdiam dan mengalihkan pandangannya, tak sanggup jika harus seperti ini. Dipandang Nicho semakin membuatnya merasa sesak. Dia masih ingin menyangkal, tapi hatinya tak bisa. Didepannya adalah Nicho. Suaminya selamat? Suaminya sudah sadar? Bagaimana bisa? Bukankah saat dia tinggal Nicho tak sadaekan diri? Lalu bagaimana bisa ada disini?
Nicho mendekat, tangannya terulur mengusap air mata Ganesa. Ganesa tampak diam, mau berlari sejauh mungkin dia tak bisa, Nicho tak akan membiarkannya.
Ganesa mengalihkan pandangannya, tak bisa menatap sorot mata Nicho yang memandang dirinya penuh kasih.
"Masihkah kau tidak mengenali aku? Aku Nicho Suamimu. Jangan menghindar lagi, tempatmu ada bersamaku," ucap Nicho sambil membawa tatapan mata Ganesa ke arahnya. Sorot matanya teduh memandang ke arah Ganesa. Dia menarik Ganesa dalam rengkuhannya.
Ganesa menghela napas panjang, bagaimana bisa Nicho berkata seperti itu? Sangat menyayat hatinya.
"Biarkan aku pergi, aku berhak bahagia dengan hidupku, pernikahan kita tidak ada artinya kan? Hanya sebuah status, kamu mencintainya, dan aku tidak bisa hidup dalam bayanganya," ucap Ganesa sambil mengusap air matanya.
Deg,
Nicho merasakan sakitnya diduakan, Ganesa marah? Sudah sewajarnya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tempatmu di sampingku," ucap Nicho tegas.
"Aku tidak bisa! Lepaskan aku!"
"Tidak akan Nes," tegas Nicho.
"Lepas!" ucap Ganesa lagi dan semakin yakin.
"Tidak akan," sentak Nicho.
Ganesa tampak geram, dia melayangkan satu dorongan dengan kekuatannya. Nicho terlepas, dia terhuyung dan jatuh ke sungai. Sempat hawatir, tapi rasanya kesabarannya sudah habis.
Nicho berdiri dari jatuhnya Jika ini membuat Ganesa bahagia, dia rela.
"Anggap saja kita selesai Nicho!" sentaknya saat dia sudah tak bisa menyangkal.
"Kau istriku Nes," ucap Nicho dengan sedikit menyentak juga.
Ganesa tersenyum getir? Istri? Istri Yang bagaimana? Egois sekali lelaki yang ada di depannya ini.
"Hanya Istri status, istri yang tak pernah kau cintai kan?" ucap Ganesa dengan tatapan yang nanar.
Deg,
Jantung Nicho bagaikan terhantam batu besar. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar semua ini? Itu kenyataan yang berulang kali dia katakan pada Ganesa dulu. Lalu, saat Ganesa mengatakan malah membuatnya seakan terluka?
"Jangan halangi langkahku," sentak Ganesa dan hampir melangkah lagi.
"Aku mencintaimu Nes,"
"Aku mencintaimu, istriku,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...