
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Ranti terbangun di atas brankarnya. merasakan perutnya begitu berat seakan ada beban yang menghimpitnya. Ranti mengalihkan pandangan ke perutnya itu. mendapati tangan yang tergeletak nyaman diatasnya.
Angga dengan wajah lelahnya tertidur sangat pulas.
'Kenapa dia begitu peduli sama aku ?? apakah hanya karena bayi ini ??'
Ranti merasa tenggorokannya begitu kering. sangat haus sehingga ia mencoba untuk mengambil gelas berisi air di nakas. Merasakan pergerakkan Ranti. Angga akhirnya terbangun dan seketika panik.
"Lo mau ngapain??"
"Sorry gw bangunin lo, gw cuman haus!!" Angga membantu Ranti untuk minum.
"Gak apa-apa!" jutek Angga. Angga menghilangkan rasa takutnya saat membayangkan janinnya akan digugurkan hari ini.
"Ternyata udah jam 6, gw cuci muka dulu!" Angga berlalu kearah kamar mandi.
⏳5 menit kemudian⏳
Kleekkkk
Suara pintu itu tidak berasal dari kamar mandi. tapi pintu ruangan inap yang mendapati kehadiran suster dan Dokter wanita berusia paruh baya.
"Selamat pagi buk Ranti." ramah dokter menyapa Ranti. (Dalam bahasa nasional Singapura)
"Pagi Suster, pagi Dokter." Ranti membalas senyum ramah dokter. (Dalam bahasa nasional Singapura)
"Kita cek keadaan buk Ranti sama Dedek bayinya dulu ya!" Ranti hanya mengangguk dengan senyum mekar. (Dalam bahasa nasional Singapura)
'Ntah mengapa aku sangat bahagia saat dokter mengatakan dedek bayi!'
Suster pun mulai mengecek. sebuah benda berbentuk gel diletakkan pada perut Ranti dan Dokter mulai mengarahkan Ranti agar menatap layar disebelahnya.
Tampaklah sebuah bintik kecil sebesar kacang ijo.
"Itu isi perut saya dok?" tanyanya bingung. Dokter pun mengangguk. (Dalam bahasa nasional Singapura)
"Kok dalam perut saya ada biji kacang ijo??" Angga yang keluar dari kamar mandi pun terkesima melihat layar di atas nakas. (Dalam bahasa nasional Singapura)
'Apakah itu?? kenapa rasanya aku ingin muntah melihatnya?' Dokter pun tertawa melihat reaksi Ranti yang mengatakan bayinya itu biji kacang ijo.
"Itu bayi buk Ranti. Bukan biji kacang ijo!" baru saja dokter berucap. Angga langsung lari kembali ke kamar mandi.(Dalam bahasa nasional Singapura)
__ADS_1
Hoeeeekkkk~
Hoeeeekkkk~
Hoeeeekkkk~
Hoeeeekkkk~
Angga memuntahkan isi perutnya. bahkan semuanya terkuras habis. Suster pun terlihat panik mendapati Angga yang sudah terlihat pucat keluar dari kamar mandi. Baru beberapa langkah. dirinya sudah kembali merasakan mual. kembali lagi melangkah masuk dan memuntahkan semua nya.
"Suster, tolong beri pak Angga obat. tampaknya dia yang mengalami morning sickness!" Ranti tidak mengerti yang dimaksudkan dokter. hanya diam saja, dirinya khawatir melihat Angga yang sudah terkulai lemas di atas sofa. (Dalam bahasa nasional Singapura)
Selesai sudah pemeriksaan, dan Angga sudah tidak lagi merasakan mual semenjak meminum obat yang diberikan dokter.
"Begini pak Angga. menurut saya janin kalian sangat tau perasaan kedua orang tuanya. Ia bertahan sangat kuat untuk tetap hidup. Ini kabar yang sangat baik. Dan kita tidak perlu menggugurkan bayi kalian Karena tidak akan mempengaruhi keselamatan buk Ranti!" Ranti dan Angga kaget. Antara senang dan sedih Angga takut Ranti lah yang tidak akan menerima kenyataan ini. (Dalam bahasa nasional Singapura)
'Bayiku hebat, dia masih bisa kuat setelah aku membenci nya tadi. Bahkan aku sangat jahat saat ingin membunuh darah daging ku ini!!' Angga menatap Ranti yang sudah menunduk.
'Mungkin Ranti kecewa. Aku tidak bisa membuat masa depannya hancur lagi dengan keegoisanku.' batin nya.
"Maaf dok, kami telah memutuskan untuk mengugurkan bayi kami!!" ucapan Angga membuat hati Ranti bergetar. (Dalam bahasa nasional Singapura)
'Apakah Ia mengorbankan ini demi kebahagiaan ku?! tapi aku begitu naif. yang salah bukan hanya Angga tetapi adalah kami berdua. sedangkan bayiku ini harus menanggung semuanya. aku disini yang egois!!' Dokter pun hanya pasrah jika pasiennya bersikukuh untuk menggugurkan janin nya.
"Silahkan tanda tangani ini pak. Hari ini akan kita lakukan aborsi!" ujar suster. (Dalam bahasa nasional Singapura) Angga meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Belum sempat Ia menanda tangani.
"Stop!!" teriak Ranti pada Angga. Angga hanya bingung. kenapa Ranti memberhentikan niatnya. sedangkan itu adalah keinginan Ranti dari awal.
"Gw mau pertahankan bayi ini!!" ucapan Ranti membuat Angga tersenyum kemenangan. Angga membuang kertas itu dan berlari memeluk Ranti.
"Makasih Ran. makasih banyak. gw janji ngak bakalan nyakitin lo sama anak kita lagi!! maafin gw Ran. Gw sayang sama lo!!" ucapan Angga membuat Ranti menangis sejadi-jadinya.
Dokter dan suster pun pergi keluar kamar karena ingin memberikan waktu pada Angga dan Ranti.
'Sayang?? apa dia serius sayang sama gw? tapi di malam panjang yang dilewatinya sama gw dia selalu nyebut nama Key!!' Angga terus menangis dipelukkan Ranti. Tangis haru nya menggebu. Ia tak menyangka jika Ranti mau mempertahankan anak mereka yang tidak bersalah.
'Aku ngak bakalan lepasin kamu dan anak kita!! aku bakalan bahagiain kamu dan anak kita Ran!!'
"Angga!" Angga terdiam saat Ranti untuk pertama kalinya memanggil namanya.
"Apa Ran?!" ujar Angga menyeka air mata Ranti.
"Tapi Ranti pengen sekolah. pengen kuliah sama kerja!!" ujarnya menunduk. Angga bisa merasakan apa yang dirasakan Ranti. Ia sungguh merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafin aku Ran, ini semua salah aku yang udah ngerusak masa depan mu!" menatap mata Ranti dengan penuh arti. Ranti hanya diam.
"Kamu jangan khawatir, kan masih bisa homeschooling. aku bakalan nafkahi keluarga kecil kita. tapi.." Ranti yang telah senang kembali dibuat bertanya atas kata terakhir Angga.
"Will you marry me, Ranti?" Angga meraih tangan Ranti.
"Ngak!" Ranti menghempaskan tangan Angga. Angga hanya bisa menahan pahit kenyataan.
"Ngak mungkin nolak. orang aku dah bunting!!" ujarnya membuat Angga gemas.
"Dasar ya bumil. bikin orang serangan jantung tau!!" Ranti tertawa begitupun dengan Angga.
"Ya udah kamu istirahat dulu. aku mau keluar dulu!" Angga bergegas keluar kamar. Namun,Ranti menggapai tangan Angga.
"Jangan lama-lama!!" ujar Ranti menunjukkan pupil eyes nya.
"Ngak kok. Dedek jaga bunda ya. Ayah keluar sebentar!!" Angga mengusap perut rata Ranti. Dan tersenyum manis sekali.
"Kamu, kayak dia bisa jawab aja!" jealous nya.
"Ya udah, tidur ya!" merapikan selimut yang dipakai Ranti. Angga pun berlalu keluar Kamar.
'Apakah Angga benar-benar sayang padaku?
Apakah itu semua hanya karena kasihan padaku? Apakah aku sudah yakin untuk menikah dengan Angga??! Apakah ini benar adanya??! bagaimana caraku melewati semua ini??!' Ranti terus saja berfikir sampai akhirnya Ia lelah dan tertidur. Sedangkan Angga menghubungi Devan agar bisa ikut ke Singapura menghadiri pernikahan nya dengan Ranti.
"Dev gw mau nikah!" ujar Angga.
"Nikah?? lo nikah sama siapa ogeb??" Devan kaget.
"Iya gw nikah. sama Ranti!!" membuat Devan semakin berfikir.
"Ranti? gw ngak pernah dengar nama pacar lo Ranti?? lo bunting in anak orang ya??" kalimat itu sontak membuat Angga sedih.
"Iya Dev. Ranti hamil. gw harus tanggung jawab. dan cuman lo yang gw percaya. lo harus temenin gw saat pernikahan ya. gw nikah minggu besok!" Devan sungguh kaget. Sahabatnya ini adalah sahabat yang tidak pernah mengungkit tentang cewek. Dan sekarang kenyataan nya Ia malah menghamili Cewek.
"Lo g*la ya Ngga. gw bakalan kesana kok!!" ujar Devan membuat Angga bahagia.
"Iya makasih ya. gw emang g*la. sesampainya lo disini gw bakalan cerita semuanya!! gw kembali ke kamar dulu ya!!"
"Okey!!" Devan mengakhiri telfon nya. Angga merasa lega setelah menceritakan masalahnya pada Devan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1