
...🌹🌹🌹🌹🌹...
⏳Beberapa bulan pun berlalu⏳
Key sudah melahirkan seorang putra yang begitu ganteng, putranya itu diberi nama Kelvin Arben Wijaya.
Perdamaian antara keluarga Arga dan Benvrant berbuah manis. perusahaan mereka meningkat akan kerja sama yang bagus. Rasti meninggal menjelang beberapa bulan Key melahirkan. diaknosa rumah sakit menyatakan gula darah yang diidapnya beberapa tahun belakangan meningkat pesat. Kehilangan Rasti membuat Rendra mengasingkan diri ke villa keluarga Arga yang berada diperdesaan terpencil. Ia menyerahkan tanggung jawabnya kepada Devan. Sekarang perusahaan keluarga Arga hanya dikelolah oleh Devan. Arga dan Valisya memutuskan pindah negara untuk menikmati masa-masa senja mereka.
Key dan Devan sekarang tinggal di rumah Benvrant. awalnya Dev berniat untuk membeli rumah mereka sendiri. namun Ben meminta mereka agar tinggal dirumahnya saja. mengingat Rafa dan Rafi sudah kembali ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan mereka, jadi Weni dan Ben hanya tinggal berdua di rumah.
Sedangkan Ranti dan Angga sudah menghilang begitu saja. Tanpa kabar dan tanpa seorang pun mengetahui lokasi mereka. Key sedikit sedih saat mendapati kenyataan bahwa Ranti yang meracuninya, sampai membunuh salah satu bayi nya. Namun Key sadar, Ranti hanya cemburu buta terhadapnya.
Sedangkan Cesi sekarang sudah menjadi pemimpin di perusahaan Berlant. menjadi wanita karier adalah pilihannya setelah rasa sakit yang diberikan Panji padanya. Kesibukkan Cesi membuatnya tidak lagi berniat untuk memikirkan percintaan termasuk kepada Frans.
Saat ini Cesi datang untuk melihat putra Key yang baru berumur 6 bulan.
"Aah... gembul nya putramu Key, gemas aku lihatnya!!" tutur Cesi mengelus wajah mulus putra Key.
"Iya dong, anak siapa dulu!" Devan datang memasuki kamar, membuat Cesi menatap malas kehadiran Devan.
"Gimana rasanya jadi ibu Key?!" tanya Cesi tanpa mengacuhkan Devan.
"Hahaha... ngak bisa di ungkapin bahagia nya Ces, tambah lagi ada suami yang selalu siaga disisi aku!!" rangkul Key pada lengan Devan. Melihat kebahagiaan Key membuat Cesi hanya tersenyum masam.
"Oh ya kamu bagaimana dengan Frans, Ces?!" tanya Devan. Mengingat nama Frans membuat Cesi tersenyum kecut dan menggeleng seolah tidak tahu. Frans menghilang begitu saja, tidak tau ntah kemana semenjak acara ulang tahun Key.
"Yang sabar ya Ces, mungkin nanti bakalan ada orang yang serius datang ke kamu!!" ujar Key.
__ADS_1
"Kemaren aku mencoba telpon dan cari tau alamat Ranti. namun nihil, 2 minggu pula aku di Singapura tida bisa menemukan mereka." tutur Cesi lesu. Key sudah menceritakan semuanya pada Cesi, awalnya Cesi sangat emosi dan langsung ingin melabrak Ranti, seketika Key menenangkan Cesi, mengatakan bahwa Key sudah memaafkan Ranti.
"Kemana ya Ranti dan Angga? masa iya ngilang gitu?! pas aku tanya Kiki juga ngak tau katanya!" Devan pun ikut bingung dengan pertanyaan Key
"Mungkin kita ngak bakalan bisa cari keberadaan mereka, kalian tau sendiri Angga bisa ngubah lokasi dimana Ia berada!!" Cesi dan Key mengangguk lesu atas pernyataan itu.
Setelah makan siang bersama, Cesi memutuskan untuk pamit kepada Key. Mengatakan bahwa dirinya ada meeting hari ini.
"Kalau gitu aku balik kantor dulu ya Key." ujar Cesi saat beranjak dari duduknya.
"Okey Ces, hati-hati ya." Cesi mengangguk senang pada sahabatnya ini.
"Aku bakalan sering mampir kok, kamu semangat jadi ibu muda ya! kalau perlu bantuan telpon saja!" Key yang mengangguk pun melepas kepergian Cesi dengan mobil pribadinya.
"Bundaaa!" teriak Devan dari kamar mereka. Key sangat kesal baru saja dirinya ingin duduk.
"Bodo amat, yang penting sekarang kamu gantiin popok Kelvin dulu. udah bau banget!!" ujar Devan berlagak menutup hidungnya.
"Ngak mau, gantiin aja sendiri kan anak kamu mas!" tutur Key acuh.
"Yaaah... jangan gitu dong Bunda, kan Ayah pengen main sama Kelvin. kalau Kelvin nya bau kan ngak asik, Kelvin kan juga anak Bunda sama Ayah." bujuk Devan sambil memainkan pipi gembul sang putra.
"Ngak mau, gantiin aja sendiri! buatnya bisa, masa rawatnya ngak bisa!" ketus Key, sebenarnya Key sangat menahan tawanya melihat tingkah Devan yang kekanak-kanakan.
"Lah itu beda pasal Bunda! masa Bunda ngak kasihan lihat Kelvin nya udah gelisah! yuk bun gantiin popok nya. Ayah ngak pandai, serius!!" bujuk Devan dengan menarik Key kedalam kamar.
"Mbull... Ayah keluar dulu, kalau udah wangi panggil Ayah ya!!" ujar Devan menciumi setiap inci wajah sang putra. Key yang melihat adegan itu sangat berbangga hati memiliki suami yang sangat menyayanginya serta buah hati mereka.
__ADS_1
"Enak aja ganti-ganti nama putraku!!" kesal Key sabil menarik Devan dari sang Putra. Devan pun hanya terkekeh melihat wajah sang anak sudah memerah karena ulahnya.
"Iya-iya deh Bunda, jangan ngomel-ngomel terus. nanti ngak cantik lagi!! muach..." ujar Devan mencium pipi Key dan berlari keluar kamar. Key pun malah tersipu malu saat kelakuan sang suami yang tidak tau malu. 'Untung Sayang.'Ujarnya dalam hati.
"Kelvin sayang, kalau udah besar jangan mesum kayak Ayah ya!" teriak Key sehingga bisa didengar oleh Devan.
"Jangan ucapkan kata itu di depan putraku Key!" teriaknya dari arah ruang tamu, Key malah tertawa lepas.
"Tapi kamu melakukan nya dihadapan putraku mas!! Hahaha..." tawa mereka pun pecah tidak kala sang bayi berumur 6 bulan itu pun juga tertawa.
🍃Disisi lain🍃
Cesi tengah mengendarai mobilnya dengan kelajuan di atas rata-rata. keterlambatan informasi yang diberikan sekretarisnya membuat Cesi harus mempertaruhkan nyawa demi investasi miliran dari perusahaan kerjasamanya.
Sesampai nya disebuah hotel berbintang 5 membuat Cesi sedikit gugup, perusahaan besar yang harus ia tangani bukan perusahaan yang main-main. dengan pengalaman yang tidak seberapa membuat Cesi tersenyum masam. Bahkan dirinya belum menyandang sarjana apapun sekarang. kuliah saja baru semester 2.
Memasuki kamar dengan no 99 itu membuat Cesi sedikit merasa aneh. kamar hotel yang seharusnya di set untuk meeting malah berubah menjadi kamar biasa saja tanpa seorang pun ada di sana. Cesi melihat jarum jam ditangannya.
"Aku merasa tidak begitu telat, lalu kemana para klien ku itu?" bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bahkan Cesi sudah menanyakan pada sang sekretaris lewat sambungan telpon. Cesi semakin bingung saat kamar hotel ini seperti sudah ditiduri, bahkan kasur dan selimutnya sudah berantakan.
"Aduhhh, kemana mereka, akankah aku harus menunggu mereka disini?" ketusnya sambil menghentakkan kaki. Cesi begitu kesal dan bercampur bingung dengan keadaannya sekarang.
⏳15 menit berlalu⏳
Cesi memutuskan untuk duduk dipinggiran kasur. betapa kaget nya ia mendapati suara pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Dengan sedikit senyum dan sambil merapihkan bajunya. Cesi melangkah kearah pintu kamar mandi. Ia mengira kliennya yang barusan keluar.
Bukan main, jantung Cesi hampir saja copot melihat siapa dihadapannya. Cesi takut dan berusaha menghindari lelaki itu. Refleks ia mundur dan hampir saja Cesi terjatuh dari tempat tidur. untung saja disambut lelaki tadi, yang keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit dipanggangnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....