
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Mengapa lelaki b*njingan ini bisa berada di hotel klienku?" dengan gerak cepat Cesi berdiri dan menghindari lelaki itu.
"Ces, kenapa kamu bisa tau saya berada disini? aku merindukan mu Ces, maafkan aku." ucap lelaki itu.
Lelaki bertubuh kekar itu sangat senang, tampak ia menahan rindu begitu besar akan Cesi. namun yang ditanya pun tidak kunjung menjawab pertanyaan dari nya, Cesi sungguh emosi saat mendengar setiap kata keluar dari mulut lelaki ini.
Karena hal itu mampu membuat ia mengulang kembali memory yang sudah beberapa bulan coba ia lupakan. Lelaki yang dimaksud adalah Panji, lelaki yang memberikan guncangan cukup besar dalam hidupnya. Untung saja Cesi bisa move on dan beralih hati ke Frans yang kini juga sama-sama ikut menghilang tanpa kabar. lost kontak dengan Frans beberapa bulan ini membuat Cesi sedikit frustasi, pikiran negatif memenuhi kepalanya. Bahkan Cesi berfikir jika semua lelaki itu sama brens*k nya.
"Lo... ngapain disini?" dengan terbata dan sedikit mengrinsut. Panji malah semakin melangkah maju mendekat, berharap Cesi bisa memaafkan semua kesalahan nya. semenjak kejadian itu Panji betul-betul sadar jika dirinya memang benar mencintainya Cesi, bahkan itupun sampai sekarang. Dengan rasa takut yang bercampur emosi, Cesi pun menahan tangisnya. Ingin sekali berlari namun kaki nya seakan diikat besi seberat puluhan ton.
Panji sadar jika dirinya membuat Cesi ketakutan, sehingga itu membuat ia berhenti melangkah. namun, Cesi malah merasakan mual begitu dahsyat.
Ntah apa yang membuatnya dirinya seperti itu, sudah beberapa hari ini dirinya selalu muntah-muntah di pagi hari. nafsu untuk makan pun hilang. saat seperti ini pun kepala nya seolah mau pecah, berdiri pun kakinya sudah tidak mau menopang.
__ADS_1
Hueeekkkk... Panji yang melihat Cesi akan jatuh pun seketika menyambutnya kembali. saat itu Cesi sudah tidak sadarkan diri alias pingsan. Panji yang panik pun segera membopong Cesi keatas tempat tidur nya. setelah menelfon dokter pribadi nya, Panji pun memakai baju. Sadar jika dirinya hanya terlilit handuk saat ini.
⏳3 Jam berlalu⏳
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, Cesi pun mencoba membuka perlahan matanya. seolah cahaya matahari begitu memberatkan matanya untuk terbuka. Suasana kamar yang berbeda membuat Cesi sadar jika ini bukan kamarnya. mencoba untuk duduk namun tubuhnya seperti habis maraton ratusan kilo meter, sehingga Cesi hanya bisa mengeluh dan menahan rasa sakit di kepalanya.
Langit yang begitu jelas tampak dari jendela kamar itu. Cesi mencoba menerawang sampai menembus langit. mengingat kembali kenapa dirinya bisa tertidur dikamar ini dengan tubuh yang begitu lemas. Tak beberapa lama, suara pintu membuyarkan lamunannya yang juga masih menahan sakit. Cesi beralih menatap kearah pintu dan kembali kaget mendapati keberadaan Panji dengan beberapa kresek di kedua tangannya.
"Kamu sudah siuman?" sapa Panji dengan tersenyum hangat. Cesi hanya diam mengingat kembali apa yang terjadi. ia hanya takut jika Panji sudah melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Saya ngak bakalan tinggalin kamu dalam keadaan seperti ini! lagian ini juga kamar hotel saya!" tegas Panji menatap Cesi serius dari jarak dekat. Cesi yang emosi pun seketika duduk meski dengan sekuat tenaganya.
"Ya udah gue yang pergi!!" sarkas nya. baru saja berdiri, sakit di kepalanya kembali datang dan tidak tertahankan. mual diperutnya semakin terasa membuat tubuh Cesi kembali terduduk.
Cesi yang menunduk menahan sakit pun seketika kaget mendapati pelukan dari Panji. Rasa mual yang membuat tubuhnya lemah, sehingga tidak bisa melawan apa yang dilakukan Panji pada dirinya.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan anak dikandungan mu!" tegas Panji sembari berbisik pada Cesi. Cesi pun hanya melongo bingung atas pernyataan itu.
"Hahaha.. lelucon mu itu sungguh keterlaluan Panji!" Tawa Cesi pecah saat ia sadar jika Panji adalah seorang pembohong. Cesi juga berfikir bagaimana ia bisa hamil sedangkan ia masih belum menikah. Wajah Panji berubah bingung saat mendapati reaksi tidak percaya dari Cesi. Dengan mengerutkan dahinya. Panji pun kembali menjelaskan semuanya dengan rinci.
"Aku tidak bercanda Ces, ini semua benar. kamu tengah berbadan dua. barusan dokter pribadi saya memeriksa mu!" Cesi yang tidak mau lagi percaya pada Panji pun mengacuhkan setiap penjelasan yang keluar dari mulut Panji.
Cesi pun bangkit dari kasur dan bersiap untuk keluar dari kamar hotel milik Panji.
"Lo mau ngomong apapun gue ngak percaya. sekali pembohong tetap aja pembohong!" ucapan Cesi sungguh membuat Panji merasa bersalah. Membuat ia merenungi semua kelakuannya dimasa lalu, membuat Panji sadar betul mungkin pintu maaf dari Cesi tidak akan benar-benar ada untuk dirinya. bunyi pintu tertutup membuyarkan lamunannya.
"Cesi, kamu ngapain keluar ha? tubuh kamu itu butuh istirahat!" teriak Panji dari dalam kamar yang bergerak cepat untuk mengejar Cesi. Alhasil mereka berdua pun main kucing-kucingan. Panji yang sudah lelah mengejar Cesi pun menyerah akhirnya dan kembali ke kamar hotel. sedangkan Cesi malah tersenyum kemenangan saat Panji tidak dapat menemukannya yang bersembunyi disudut-sudut lobi hotel.
Seperkian detik kemudian Cesi merasa tubuhnya kembali merasakan kejolak yang aneh. rasa mual yang ia rasakan seolah tidak tertahankan, dengan lesu Cesi menahan rasa itu dan berjalan sekuat tenaga kearah toilet. Setelah mencuci wajahnya dengan tisu, Cesi pun menatap dirinya di cermin.
"Apa benar aku hamil? tidak mungkin aku hamil jika belum menikah? apa jangan-jangan..." dengan menutup mulutnya sendiri. Cesi kembali teringat kejadian beberapa bulan lalu. "Jika itu benar, apa yang akan aku lakukan? haruskah aku meminta pertanggungjawaban lelaki itu? oh ya ampun, hal ini membuatku sangat kesal. andai saja aku tidak seceroboh itu, mungkin hal ini benar-benar tidak akan pernah terjadi!" dengan langkah gontai Cesi melangkah keluar hotel untuk mengambil mobilnya dan kembali ke rumah. semua aktivitas kerja dibatalkan nya demi hanya ingin tidur di kasur kesayangan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....