TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
BERDAMAI


__ADS_3

...🌹🌹🌹🌹🌹...


Cesi tidak mengerti dengan apa yang tengah dilakukan oleh Panji dihadapan mereka berdua.


"Kak Panji, apa yang kamu lakukan?" tanya Cesi dengan bingung. Meski begitu dahsyat rasa sakit yang Panji berikan pada Cesi, tetap saja ia masih memanggil Panji dengan sopan.


"Lo ngapain sih? nggak malu di lihatin orang?" sarkas Frans pada Panji yang berlutut dengan tubuh gemetar.


"Cesi dan Frans, aku minta maaf sudah berbuat salah dan menzolimi kalian berdua selama ini. aku betul-betul ingin meminta maaf, aku sudah sadar akan kesalahan ku pada kalian. Untuk mu Cesi, maafkan aku sudah menghancurkan kepercayaan mu yang begitu tulus itu. Sekarang aku telah menerima hukuman yang pantas atas apa yang telah aku perbuat selama ini, aku di diagnosa mengalami penyakit Fatty Liver." ujar Panji dengan air mata yang mengalir serta tubuh yang begitu gemetar.


Cesi dan Frans yang mendapati kenyataan itu langsung sangat syok, meski Panji adalah salah satu orang yang telah menghancurkan kehidupan mereka, namun rasa dendam untuk membalas kan semuanya itu tidak pernah tersirat dalam hati mereka. Cesi dan Frans sudah berdamai dengan kondisi mereka kini, dan juga telah lama memaafkan perbuatan Panji, Cysa serta Fasya. Bahkan jauh dari lubuk hati mereka berdua telah menganggap Panji sebagai saudara mereka, bagaimana pun itu memanglah kenyataan.


"Berdiri lah kak, kamu tidak perlu berlutut seperti ini dihadapan kami! Kami berdua sudah lama memaafkan mu!" ucap Cesi yang sudah ikut berlinang air mata, sedangkan Frans hanya menjadi penonton dengan hati dan pikiran yang tengah berkecamuk saat kini.


"Aku pantas melakukan ini Ces, aku juga pantas untuk mendapatkan penyakit ini. Aku sudah terkena batu nya." ucap Panji yang masih tidak mau berdiri dan hanya menunduk sambil berlutut. Cesi berusaha membuat Panji berdiri dengan memegang kedua bahunya, namun Lelaki itu bersikukuh untuk masih berlutut.


Frans yang melihat usaha Cesi terlihat sia-sia pun akhirnya buka suara. "Lo jika mau mati pun kami tidak peduli! Sudah di kasih maaf masih saja memuji iman. Bagus jika Lo mati seluruh aset bokap akan jadi milik gue sendiri!" ujar Frans menatap Panji dengan tersenyum devil. itu hanya omong kosong nya, karena Frans bukanlah tipe orang yang suka memanfaatkan kesempatan orang lain untuk ia memiliki banyak uang. Bahkan ia tidak mau bergantung pada pada orang tuanya.


"Ia hanya mengkhawatirkan kak Panji, karena kakak satu-satunya saudara yang ia miliki. Jangan dengarkan omong kosongnya kak, ia memang tidak enak dalam berucap, namun tetap saja hatinya begitu lembut. ayuk berdiri!" ujar Cesi membantu Panji berdiri. Mendengar ucapan Cesi itu membuat Panji merasa memiliki secercah harapan untuk hidup, ia selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang apalagi itu dari keluarga nya sendiri. Sehingga membuat Panji memiliki keyakinan untuk bertahan hidup, ia masih ingin merasakan hidup di lingkungan yang penuh rasa hangatnya keluarga.

__ADS_1


Seketika Panji berdiri dan langsung memeluk satu-satunya adik lelaki yang ia miliki, meski mereka berbeda ibu tetap saja Frans dan Panji dalam satu darah karena memiliki satu ayah yang sama. Frans yang syok pun akhirnya merasa kebingungan atas perlakuan Panji padanya.


"Makasih sudah maafin gue Frans, lo adik lelaki yang baik!" ujar Panji kemudian melepaskan pelukan itu. Frans pun mengerutkan dahinya pertanda tidak mengerti.


"Maksud lo apa? gue nggak pernah mau jadi adik lo!" sarkas Frans, sebenarnya ia tidak marah. Hanya saja, ia merasa malu mengakui Panji sebagai kakaknya, bagaimanapun jauh dari lubuk hatinya Frans tidak ingin kehilangan orang-orang yang ia sayangi lagi. Bagi Frans cukuplah hanya Mamanya saja yang pergi meninggalkannya, tidak untuk keluarga lainnya termasuk Panji.


"Yang penting saat ini gue udah mau berobat demi lo, sekarang gue pengen mencoba rasanya hidup bersama keluarga gue." ucap Panji yang sudah senyum, tidak lagi sendu dan bersedih.


"Mau lo bicara apapun gue nggak peduli!" ketus Frans menatap ke lain tempat, tidak mau menampakkan rasa sedih dalam hatinya. Sebenarnya ia merasa iba dengan Panji yang selama ini kurang kasih sayang dari keluarga.


"Sudahlah, mari kita keluar dulu dari rumah sakit ini. Apa kalian tidak malu berdebat di hadapan orang yang berlalu lalang begini?" ucap Cesi yang mendapat anggukan oleh Frans dan Panji.


"Kak Panji sama Frans kenapa sih? kok diam-diam gini, Cesi bosan tau!" tanya Cesi bingung.


"Nggak kenapa-kenapa kok bumil ku sayang, jangan bosan dong. Nanti dedek nya juga bisa ngerasain loh!" ucap Frans sambil menyetir, Panji hanya bisa menjadi pendengar dan penonton yang baik saat ini.


"Biarin! biarin dedek nya ngerasain, biar nanti pas udah brojol dian ngambek kan ke kamu!" ketus Cesi dengan tatapan sinis.


"Lah kok gitu?" bingung Frans.

__ADS_1


"Kan kamu bapaknya! seharusnya bisa ngehibur gitu, bukannya malah bikin bosan gini!" tutur Cesi tegas. Panji yang mendengar itu pun sangat syok dan tidak percaya.


"What? Lo bapak dari anak yang Cesi kandung?" tanya Panji yang berada di kursi sebelah kemudi.


"Iya, emang nya kenapa?" datar Frans dengan sombongnya.


"Jadi ternyata Frans ya Ces?" tanya Panji dengan lesu, padahal saat di hotel waktu itu ia sangat bersemangat saat mengetahui Cesi hamil dan berharap orang yang menghamilinya tidak ingin bertanggung jawab, sehingga Panji berniat untuk bertanggung jawab atas anak itu, serta akan menikahi Cesi.


"Iya kak, aku aja baru tau hari ini. Aku sempat mikir Mr.X itu kak Panji, soalnya waktu itu kakak dengan santai nya berkata akan bertanggung jawab atas anak ini." ujar Cesi dengan jujur, Frans yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya tidak percaya bahwa Panji telah mengetahui Cesi hamil dari beberapa waktu lalu.


"Kapan kalian bertemu? kenapa aku tidak tau?" tanya Frans sinis, mencoba menutupi rasa kecemburuan nya.


"Waktu itu saat aku di hotel..." Cesi pun menceritakan semua yang terjadi beberapa hari lalu dengan sangat jujur tanpa ada yang ia tutup-tutupi.


"Owh jadi begitu, Lo nggak usah tanggung jawab! gue bapak dari anak itu, Minggu ini kami akan menikah!" hal itu sontak membuat Panji kaget, bahkan bukan hanya Panji. Cesi pun tidak percaya sampai bola matanya seolah-olah mau copot.


"Apa-apaan sih mutusin sepihak! kita belum bahas tentang ini!" cerocos Cesi seketika, dengan suara toa nya yang khas, berhasil membuat Panji menutup kedua telinganya dengan tangan.


Frans hanya diam tersenyum, ia berucap tidak main-main dan juga tidak mau membalas ucapan Cesi. sehingga ia hanya mendengar nya saja seolah-oleh itu seperti musik di telinganya. Cesi terus mengoceh sepanjang jalan di atas mobil itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2