
Mentari pagi mulai beranjak dari peraduaannya, sinar lembutnya mulai menembus pori-pori kulitku, tetapi hawa dingin di pagi ini lebih berasa menusuk kulitku yang tidak mengenakan pelindung. Ku masih duduk di haltle bus trans jakarta jurusan bekasi jakarta pusat. Kulirik jam di pergelangan tanganku, sudah jam 06.30 wib, masih terlalu pagi untuk menghadiri seminar perdana dr. Pramudya Spog . Menurut rumor yang beredar , dr . Pramudya itu adalah lulusan terbaik di kampus ternama di German, aku lupa apa namanya, bodo amat juga sih , dia kuliah dimana . Menurut berita dari ciwi - ciwi alias mahasiswi yang sok ribut dan cari perhatian, Itu dokter ganteng banget, cool, berkaca mata, rapi dan sedikit senyum, memang sih , kalo cowok ganteng itu suka jaim gitu, sok cool mirip kulkas 12 pintu, gue jadi penasaran juga sih . Tiba- tiba jiwa jahilku ter bangun kembali, gue pingin jahilin tuh dokter yang sok populer. Kumasih termenung, tiba-tiba , ada sosok yang terlintas dipikirku, si tukang parkir kampus, buset deh kenapa tiba-tiba makhluk hitam legam itu terlintas di otakku, gegara hampir tiap pagi dia selalu menegurku , mengusikku , sebenarnya ga ada kamus dalam hidupku , aku harus berdekatan dengan si tukang parkir, tetapi kenapa dia banyak pengemarnya gitu, kok bisa sih, si tukang parkir digandrungi mahasiswi disini, memang dah pada gesrek otak mereka, ngejar kok tukang parkir, tapi sebenarnya dia tuh ganteng sih, ih apaan coba kok aku muji dia, posturnya tinggi,kira-kira bodynya atletis, punya gigi gingsul yang kalo tersenyum, manis banget gila, bibirnya pink, kok bisa yah, kulit hitam, bibirnya pink harusnya kan hitam, ups, gue jadi bayangin bibir tipisnya yang menawan, gimana yah kalo diciumnya...gila gila, ada apa dengan otakku, kenapa aku jadi mikirin si tukang parkir sih...Reva ingat kamu disekolihin di fakultas kedokteran ini, harapan orang tuamu kamu mendapatkan jodoh yang sepadan, minimal dapat dokter juga, lah ini si tukang parkir, yang masa depannya masih ghoib. Lamunanku terhenti ketika bus way berhenti tepat di haltle. Dengan cepat ku beranjak dari dudukku , berjalan menuju bus yang lumayan padat penumpang. Aku tidak beruntung pagi ini, aku harus puas ikut bergelantungan , sesekali tubuhku berhimpitan dengan penunpang yang lainnya, bau keringat penumpang mulai tercium , bukan aroma bau ketek sih, aroma farhum dari yang mahal sampai dengan yang murah campur aduk bikin kepala gue keliyengan. Setengah jam kemudian bus berhenti di perempatan jalan, Aku turun dari bus, Aku berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke kampus Fakultas kedokteran UI, baru kuinjakkan kakiku di depan pintu gerbang, ada yang menyambutku dengan senyum khasnya, sengaja dilihatinnya gigi gingsulnya, dasar memang , menguji kesabaran iman ajah, siapa lagi si tukang parkir menyambutku, Aku melirik sekilas , ada yang berubah darinya, gaya rambutnya model berdiri, semakin terlihat ganteng banget, sialan memang, darimana coba kalo gue suka rambut yang model kek beginian.
" Selamat pagi, calon masa depan aku. Semoga kejadian ya Alloh, dia jodohku ! " Gaya nya sambil menengadahkan kedua telapak tangannya. ih apaan coba, sampai berdoa kayak gitu.
" Ya, Alloh semoga Engkau kali ini tidak mendengarkan doanya, amin. " Timpalku ketus
" Yang Reva mah selalu matahin hati Paijo, ini tulus loh yank...demi Tuhan...sweer. " Posenya dengan dua jari di acungkan.
" Bodo amat, minggir, ga penting banget, kamu tuh cocoknya ama anak yang jaga kantin. Jauh jauh dari hidup gue, ingat ! " Balasku ga punya perasaan, sepedes cabe india.
" Percaya mitos ga, suatu saat benci itu jadi cinta. " Jawabnya sok dramatis
" Gue Percayanya kalo benci itu bakalan jadi musuhan seumur hidup, minggir gih. " Balasku kejam sambil cemberut, muka masem. Dia seperti biasa hanya tersenyum.
" Paijo, paijo, kamu mau yah, ntar malam nemenin aku ke ultah temanku, plis yah...yah. " Tiba-tiba datang , si centil melisa yang langsung bergelandotan di lengan Paijo. Paijo sedikit terkejut dan berusaha melepaskan tangan Melisa.
" Em...Aku kayaknya...." Paijo berusaha melepas tangan melisa yang sudah bergelayut manja di lengan kekarya
" Oke ku tunggu jam 18.00 , no no tidak ada penolakkan. " Potong Melisa, males denger debatan dua manusia ga penting ini. Aku menerobos jalan ,sementara Paijo hanya garuk garuk kepala. Kulangkahkan kakiku menuju aula kampus, baru ada segelintir manusia yang datang, Aku mengambil tempat di paling pojok, aku sengaja menyendiri. Ku buka notice wa dari temanku Sri. Hari ini dia tidak hadir, ada tunangannya datang, seorang perwira angkatan udara , Sri cukup beruntung sih, dapat tunangan ganteng, baik, perhatian dan punya pekerjaan yang lumayan keren. Karena asyik balas membalas chat, Aku tidak memperhatikan ada yang datang mendekatiku.
" Kamu Reva kan, anak semester enam. Boleh aku duduk disampingmu ! " Aku terperanggah, menengadah melihat siapa yang datang, oh my God, kak Dio, kakak kelas semester akhir, most wanted di kampus ini.
" Heh, kok bengong , boleh yah aku duduk disini ! " Dia tersenyum, aku membalas senyumnya dengan rona wajah memerah. Tanpa persetujuanku, kak Dio sudah duduk di sampingku. Btw, darimana kak Dio tahu namaku, Aku kan tidak famous di kampus ini.
" Bagaimana kakak tahu namaku Reva ? Perasaan kita ga pernah kenalan deh. Dan aku bukan seseorang yang terkenal di kampus ini. " Tanyaku penasaran, kak Dio melihatku sekilas.
" Aku tahu namamu dari Paijo, Aku tanpa sengaja sering memperhatikan kalian berdua, lucu dan gemes. " Tawa kak Dio meledak, aku sedikit sewot, tuh kan si Paijo, bikin pamorku jadi anjlok, awas saja dia, pulang dari kampus tak unyel-unyel sampek lecet.
" Ga ada yang lucu. " Jawabku ketus
" Kenapa ga suka Paijo ? karena dia tukang parkirkah ? " Pertanyaan kak Dio ngena banget. Aku melihat kak Dio yang juga melihatku.
" Bagaimana jika aku menyukai kakak ? " Balasku santai, kak Dio tersenyum.
" Kamu adalah orang yang kesekian kalinya mengucapkan itu padaku, tetapi yang kamu ucapkan mengandung kebencian. " Aku semakin melotot kesal, sementara kak Dio terpingkal pingkal melihatku lucu.
__ADS_1
" Ngeselin, rupanya duduk disini buat ngomongin hal yang ga penting. " Balasku masih mode marah.
" Kamu sebenarnya cantik, manis dan yah ..yah cuma Paijo yang sadar, dan satu lagi , kamu ga pernah peduli denganku, Aku heran saja. " Terang kak Dio mengenaiku.
" Memang kakak siapanya aku, kenapa aku harus peduli gitu, memang kakak korban bencana alam. " Kali ini aku yang ga nahan tawa. Dia menatapku tajam seperti tidak suka.
" Sekarang kamu harus peduli denganku, hari ini aku yang memintanya, bagaimana ? " Katanya serius. Kulirik sekilas.
" Imbalannya apa ? Aku ga mau sukarela, aku ga mau rugi. " Kataku tenang
" Kamu mau imbalan yang seperti apa? " Tanya kak Dio
" Bilang sama Paijo , jangan ganggu aku terus. Aku terganggu kak. " Pintaku memelas.
" Nanti kamu kangen loh, dengan rayuan Paijo. " Ledek Kak Dio sambil menaik turunkan alis matanya.
" Ih kakak apaan sih, ga banget. "
" Deal, mulai sekarang kita jadi teman dekat. " Kak Dio mengulurkan tangan kanannya, aku membalas menjabat tangannya.
" Bukan pacar nih. " Gue cekikikan , kak Dio hanya tersenyum.
" Yah ..yah..cuma disuruh peduli, peduli yang gimana juga ga jelas. "
" Tugasmu gampang kok, nemenin aku jika ada waktu luang, nonton, makan dan jalan-jalan. " Jawab kak Dio santai
" Seribu siap kalo gitu mah." Obrolan kami terhenti ketika dokter Dewi datang bersama cowok keren sejagad, berkaca mata, wajah indo , penampilan supernova, perfect today. Aku saja terhipnotis melihatnya, sampai kak Dio menyikutku, kulirik dia yang roman wajahnya ga suka.
" Selamat pagi semua, hari ini saya ingin memperkenalkan nara sumber pagi ini, beliau adalah dokter Pramudya Spog. Saya harap para audien mendengarkan dengan konsentrasi, karena materinya cukup berat. " Dokter Dewi membuka wacana pembicaraan.
" Pasti gue konsentrasi dong, sayang kalo di alihkan, kapan lagi lihat yang bening gini, limited edition. " Gumanku yang diikuti lirikan maut kak Dio, gue nyengir ajah.
" Dia , biasa ajah, ini yang nyata. " Bisiknya
" Ih..cemburu ya...gue cekikikan ga tahan sampai semua orang melihatku dan tidak terkecuali dokter Pramudya, mampus gue.
__ADS_1
" Ada yang lucu dengan materi yang saya bawakan ? Hadeh, gue jadi mingkem. Dokter Pramudya menatap tidak suka.
" Saya paling tidak suka, jika saya memberikan materi seminar ada yang tidak serius mendengarkan materi saya." Kata dokter Pramudya tegas, menakutkan. Aku berdiri dari dudukku kemudian berjalan kearah pintu keluar.
" Jika kamu keluar dari ruangan ini, saya pastikan kamu tidak lulus di materi maternity, ancam dokter Pramudya.
" Materi seminar ini tidak mutlak dokter, saya rasa hari ini saya lagi tidak mood mendengarkan seminar, permisi." Aku keluar ruangan, rasanya lega. Aku malas berurusan orang yang sok, meskipun dia ganteng. Lebih baik aku nongky di kantin, ku terus berjalan menuju area kantin. Kantin terlihat sepi, sebagian besar para mahasiswa dan mahasiswi sedang mengikuti seminar.
" Nasi goreng special , yang pedes, ga pake telor, daging kambing dibanyakin ya buk. Minumnya jus mangga. Cepet ga pake lama. " Cerocosku ketika sampai di kantin, bu kantin cuma geleng kepala, bu kantin paling tahu aku, pembeli yang tergolong bawel. Ku dudukkan pantatku di kursi paling ujung dekat jendela.
" Eh...yang Reva, katanya ikut seminar , kok seminar di kantin. Mending seminar tentang masa depan kita berdua yuk. " Eh buju boneng, Aku terperanjat kaget , Paijo sudah bercokol di depan aku.
" Kamu punya kembaran berapa sih, dimana mana ada kamu. Jelek-jelek semua lagih. " Jawabku ketus
" Yah jelek karena kurang skin care kok, jika sudah di skin care, pasti yayang klepek klepek. " Timpalnya.
" Skin care itu mahal, bisa jadi kamu ga makan sebulan untuk belinya. Sudah bersyukur ajah, mending duit ditabung, buat bekal kamu nanti jadi jenasah, sewa mobil ambulance, beli tanah pemakaman ga murah loh. " Paparku tanpa berperikemanusiaan yang adil dan beradab.
" Tenang itu mah Yank, babe penunggu makam casablanca, punya saham 50% tanah disana, jadi jika keluarga Reva ada yang meninggal , gratis buat urus pemakamannya. " Jawabnya enteng sambil menyeruput kopi hitamnya.
" Punya saham di lahan pemakaman saja bangga, punya saham tuh di poperty perumahan elite, ini tanah kuburan, masa depan gue lenyap , yang ada masa menuju kematian semakin cepat." Aku hanya geleng kepala. Dia tersenyum paling manis. plis jangan senyum dong bikin hati deg-degan abang.
" Jangan salah yank..bisnis kuburan itu menjanjikan loh, apalagi kawasan yang elite seperti di karawang. Berapa cost yang harus dikeluarin untuk menyewa lahan pemakaman pertahun."
" Stop stop..kok jadi omongin tanah kuburan sih. males banget." Potongku sewot.
" Bagaimana jika ngomongin masa depan kita ? Alisnya pake diturun naikin, mirip badboy , ngeselin asli.
" Gelap gulita , seperti langit tanpa bintang dan bulan di malam hari." Timpalku
" Terkadang kita membutuhkan kegelapan, agar kita mempunyai cara bagaimana menciptakan terang. " Paparnya sok ilmuwan.
" Ga nyambung banget . " Ketusku kesal.
" Ini makanya disambungin , dari tadi susah banget nerima signalnya, dah segala cara loh, kok ga ada hasil. " Ucap Paijo penuh dramatis.
__ADS_1
" Never.." Reva melambaikan tangannya untuk penolakkan.
" Never be end...Gue pelototin dia, balasannya , dia semakin melihatku sambil berpangku tangan, fokus banget, njirr.