
" Reva...oh my God, rupanya kamu ada disini. " Pandangan mata kami sesaat terputus ketika ada suara kak Dio yang datang mengusik. Ada rona merah di wajahku sedangkan Paijo masih tidak berkedip menatapku.
" Kenapa kakak ikut kesini ? " Tanyaku pelan.
" Seperti katamu tadi jika seminarnya tidak menarik. " Kata kak Dio sembari duduk di sebelahku.
" Oh.." mulutku monyong seketika.
" Ada yang menarik disini rupanya. " Sindir kak Dio sambil melirik Paijo yang masih dengan cueknya melihatku.
" Dio..minggir gih ! Ganggu gue ama yank Reva ajah. " Usir Paijo dengan santainya. Aku sedikit terkejut dengan keberanian si Paijo.
" Reva sendiri tidak merasa keberatan dengan kehadiranku, tetapi mengapa kamu yang terusik." Balas kak Dio sewot. Duh jadi geer nih, diperebutin cowok ganteng.
" Kalau Aku yang keberatan gimana ? " Paijo ga mau ngalah.
" Stop..jangan bikin gaduh, oke. Ini tempat umum, tidak ada yang mengusir dan terusir. " Aku mencoba menengahi.
" Reva, mending kita cabut yuk, kita shoping ! " Kata kak Dio memecah kebekuan.
" Aku sejam lagi ada quiz kak, sorry ! " Balasku pelan
" Yah...jam berapa selesai ? Kakak tunggu di perpus. oke ! " Kak Dio berdiri dari duduknya.
" Kakak mau kemana ? " Tanyaku penasaran.
" Ada urusan sedikit, Pengajuan judul skripsi ke dokter Diaz, see u . " Kak Dio beranjak meninggalkan kami berdua.
" Hati- hati, dia sering modus sama cewek. Sering bikin baper cewek lalu di ghosting. " Timpal Paijo pelan.
" Bodo amat, kamu ngomong gitu iri atau syirik sih. Ga suka banget sama kak Dio. " Balasku tidak suka.
" Aku tahu dia sebelum kamu, playboy kampus, sok keren sok populer, aslinya mah nihil." Paijo mencoba memberitahuku.
" Memang kenyataannya dia keren dan populer kok, kenapa kamu yang ga suka banget ? Paijo..Paijo...sadar diri dong, kamu dan kak Dio itu beda level. " Aku membela keberadaan kak Dio.
" Tetapi level mencintaiku diatas dia , yank. Dia ga pantas buat kamu cintai, mending Aku, seribu rius mencintaimu." Sambarnya memotong pembicaraanku.
" Paijo...listen to me,oke ! Kamu hanya terobsesi terhadapku, beda dengan cinta. " Aku mencoba mengingatkan.
" Cinta tidak perlu ungkapan, cinta dirasa dan disadari, hanya hatimu yang bisa menilainya. " Kata Paijo tegas
" Maaf, jangan biarkan aku terus menyakitimu dengan kata-kataku, jangan terobsebsi dan mencintaiku, Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, mengertilah ! Sikapmu selama ini membuatku tidak nyaman. " Aku mencoba memberi pengertian, sebenarnya Aku tidak tahan dengan ucapan kasar, tetapi harus kulakukan, sebelum perasaan cintanya semakin dalam.
" Apa karena aku hanya seorang tukang parkir ? " Tanyanya lesu.
__ADS_1
" Boleh aku berkata jujur ? " Dia hanya mengangguk lemah.
" Aku menginginkan pria yang lebih pintar dariku, berwawasan luas, dan bisa membuatku lebih baik. " Terangku penuh hati-hati.
" Dan kamu menganggapku , Aku lebih bodoh darimu. Aku mengerti yank, Aku memang lelaki bodoh, berpikiran sempit dan tidak bisa membimbingmu lebih baik. Tetapi kamu tidak butuh lelaki pinter , berwawasan luas, kamu cukup butuh lelaki sepertiku, lelaki yang tidak pintar berpura-pura dengan perasaannya. " Kok kata-katanya sebijak itu sih. Aku tidak bisa membalasnya, Paijo beranjak dari duduknya, berjalan gontai meninggalkanku, yang masih mencerna kata-katanya.
" Nasi goreng dan jus mangga . " Kata bu Ijah penjual kantin , membuyarkankan obrolan kami berdua.
" Paijo lelaki baik, neng. Jika dia mau sudah kujodohkan dengan anak gadis ibuk, jelita. " Kata bu Ijah.
" Jelita ? " Aku sedikit terkejut.
" Iyah..dokter Jelita yang baru wisuda tahun kemarin. " Terang Bu Ijah membuatku terkejut. ingatanku kembali dengan sosok gadis angun, cantik, pinter, ramah dan ternyata anak bu Ijah.
" Jelita menyukai Paijo, Paijo orangnya tulus neng, suka membantu ibu disini, mengantar bahan makanan mentah, mengantar ibu ke pasar. " Cerita bu Ijah.
" Kenapa Paijo menolaknya , bu ? " Aku semakin penasaran.
" Katanya sudah ada yang mengisi hatinya, dan rupanya neng Reva. " Wajahku memerah ketika mendengar pengakuan bu Ijah.
" Memang Paijo cerita apa ? " Kok aku jadi peduli gini sih.
" Ga banyak cerita sih, cuman gitu, udah ada yang dia tunggu katanya. " Timpal Bu Ijah
" Kok ibu menjodohkan anak ibu dengan Paijo yah, dia kan hanya.." Kataku sempat terputus.
" Em...bukan begitu maksudnya bu." Kena skack max aku.
" Dia sebenarnya bukan murni tukang parkir, profesinya banyak neng, ibu juga ga tahu secara detail sih, kalo pagi dan menjelang anak-anak kampus pulang dia baru datang. Udah itu dia ngilang ntah pergi kemana." Aku sedikit terkejut mendengar penuturan bu Ijah. Sebenarnya apa yang dilakukan Paijo dan apa pekerjaan sampingannya.
" Sekarang Jelita kerja dimana , Bu ? " Kualihkan pembicaraan tentang Paijo.
" Di Rumah sakit di Tangerang,neng. Tinggal dengan bibinya disana. "
" Tetapi masih sering terlihat disini, minggu kemarin, ternyata dia adalah anak ibu, saya tidak menyangka. " Ujar Reva pelan.
" Dia anak nomer dua, anak sulung ibu ada di Australia, kuliah S2 ambil jurusan HI, dapat bea siswa neng, alhandullillah, umurnya 27 tahun, masih bujang, ganteng, pinter, baik dan ramah seperti Jelita. Neng mo dikenalin ? " Hadeh, si ibu promosi pisan. Aku cuma nyengir kuda.
" Anak ibu yang ga mau nantinya. " Aku tersenyum malu.
" Ini kartu namanya, ibu masih nyimpen." Bu Ijah mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya. Kuterima kartu itu. Bagas Dewantara, exc manager of bussines poperty Sidney. wow , memiliki pekerjaan yang lumayan .
" Hubungi saja neng, bilang ibu yang mo ngenalin. Dia orangnya nurut sama ibu kok, soal jodoh ibu yang nentuin. " Ada yah, jaman sekarang masih mau dijodoh jodohin.
" Ibu kok memilih saya, ibu belum kenal saya loh. Saya ga sebaik yang ibu kira. "
__ADS_1
" Orang baik memang selalu tidak mengakui. Jika Paijo saja memilihmu, berarti kamu adalah gadis yang spesial." Terang bu ijah tanpa basa basi.
" Paijo nya aja bu, bucin akut. " Aku tertawa lepas.
" Paijo ga mudah suka sama cewek loh, cuma sama kamu , dia sukanya. " Terang bu Ijah bikin hati terbang.
" Oke bu, saya mau ke kelas dulu, ada quiz, nasi gorengnya hari ini top banget, ada bonus nya , dikenalin anak ibu. Calon mantu permisih. " Aku berdiri dari dudukku, bu Ijah tersenyum sambil geleng kepala. Kulangkahkan kakiku menuju ruang kelas, sudah ada beberapa teman yang datang. Tepat pukul 10.00 wib, harusnya dokter Hans sudah datang, sambil menunggu dosen datang, ku mainkan hp ku, kulihat chat beberapa grup teman chat, teman dari SD sampai SMA, ramai banget, aku paling malas berkomentar, hanya read ajah.
" Morning, maaf telat lima menit lima puluh detik. " Aku terperangah kaget, buru-buru kumatikan ponselku. kumasukkan ponselku dalam tas, Aku tidak menyadari kehadiran dokter Hans, tetapi kok suaranya berbeda yah, dan ketika kulihat seseorang yang berdiri di depan kelas, deg jantungku berlomba cepat. Dokter Pramudya, oh kenapa dia yang mengajar hari ini. Sekilas dia melihatku yang masih shock.
" Hari ini ada quiz, saya sekarang yang akan menggantikan dokter Hans mengajar Sistem Neuropsikatri. Tetapi karena saya dokter kandungan, saya ingin mereview pelajaran reproduksi semester IV. Jika tadi kalian mengikuti seminar dengan baik, pasti kalian akan dengan mudah mengerjakan. " Mampus gue, inikah yang dinamakan balas dendam tak terlihat.
" Selly...pliss tolong gue yah !" Bisikku pelan, Selly hanya tersenyum.
" Siapa suruh tadi kabur, kebiasaan kabur. " Balas Selly.
" Mo mojok dengan kak Dio ga, ntar gue bantu dech. " Rayuku , Selly berbinar-binar.
" Cius loh, Rev..." Mata Selly berbinar senang.
" Jika ada pertanyaan, silahkan tanyakan yah, tidak perlu bisik-bisik. " Tegur dokter Pramudya, aku hanya lihat-lihatan dengan Selly. Dokter Pramudya membagikan kertas Quiz, soalnya sih lima biji, tetapi penjabarannya bikin pegel tangan. Dengan susah payah kukerjakan soal quiz. Terakhir kuselipkan kata-kata.
JANGAN BERMAIN-MAIN Dengan Reva, kalo dah kenal, pasti pingin ngajak main mulu. Hubungin Reva 08xxcccxxcx
Kukumpulin hasil kerja kerasku, untung yah otak Reva, Genius, padahal jawabannya hasil karangan semua, Selly sibuk dengan jawabannya, belum kelar juga dia.
" Pak, boleh saya minta ijin ? " Aku interupsi, menganggkat telapak tangan. Dokter Pramudya melihatku
" Kuliah belum selesai. " Jawabnya singkat.
" Minta ijin untuk mencintaimu . " Kataku diikuti tawa teman sekelas, Rona wajah dokter Pramudya memerah.
" Reva..loh..bener-bener, dia dosen tau, jangan main-main ! " Hardik Selly
" Bapak, bagaimana , boleh ga ? Aku tidak memperdulikan ocehan Selly.
" Lebih baik tidak perlu minta ijin, karena kata maaf yang paling tepat. " Balas dokter Pramudya berusaha tenang.
" Hah...gimana-gimana..aku jadi bingung.
" Maaf karena aku sudah mencintaimu sebelum kamu minta ijin untuk mencintaiku. " Asli gue jadi mingkem, senjata makan tuan, darr. Kelas jadi semakin riuh , sementara aku yang ternyata jadi korban hanya menahan malu.
" Jawabannya ada di wa yah..Kata pamungkas dokter Pramudya. Asli malu banget teman, bantal-bantal mana. Buru-buru kubuka notice wa, ada pesan dari nomer yang tidak dikenal.
Babak permulaan telah dimulai, sepertinya permainan ini, seperti menaiki arum jeram, menabrak batu cadas, bukan terluka perih tetapi akan terukir indah lukanya.
__ADS_1
Bunyi pesan singkat dokter Pramudya.