Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Episode 29


__ADS_3

Reva duduk termangu di samping jendela kamarnya, pandangan matanya jauh menembus di kegelapan malam. Tepat dua bulan , Dia hidup dalam sepinya, hidup dalam kebimbangan, dirabanya perutnya yang masih rata. Ada denyut kehidupan didalamnya, seorang janin mungil yang sedang berkembang bahagia didalamnya, Aku memang tidak pernah mendapatkan cintamu tetapi lewat cinta yang sesaat itu , ada hal yang tercipta, tidak peduli itu hasil dosa, tidak peduli itu hasil zina, aku melakukannya karena sadar bahwa tidak ada cinta yang berbalut dengan dosa.


" Mama sudah memutuskan untuk mendukung pilihanmu, kamu sudah dewasa, mungkin semua orang akan mengucilkanmu, tetapi mama akan membantumu membesarkan cucu mama. " Kata mama Reva yang tiba-tiba memeluk Reva dari belakang.


" Bagaimana dengan papa ? Apakah papa juga akan berhenti untuk mencarinya ? " Tanya Reva pelan.


" Semoga mereka tidak berjumpa, papa telah mengirimkan beberapa intelijen untuk mencarinya hingga ke luar negri, tetapi belum ada tanda-tandanya dia ditemukan, Dia bukan pengusaha sembarangan. Dia salah satu pimpinan mafia yang berpengaruh karena itu banyak mafia yang melindunginya. " Kata mama Reva menjelaskan.


" Mama, kumohon hentikan pencariannya, dia tidak sepenuhnya bersalah, Dia sudah menikah dan tidak mungkin lagi kami bersama. " Reva memohon.


" Apakah kamu berfikir mama akan menerimanya ? Sampai kapanpun mama tidak akan menerima menantu seperti dia. " Jawab mama Reva masih dalam ketegangannya. Reva hanya menghela nafas , kemudian jari tangannya meremas lembut tangan mamanya.


" Maaf, karena membuat kalian berdua mencemaskan aku, maaf karena menjadi anak yang tidak berbakti . " Ada penyesalan yang mendalam di hatinya.


" Tidak perlu merasa bersalah, semua sudah menjadi takdir, yang terpenting sekarang pikirkan jalan kedepannya, menata hidupmu dan memberi kasih sayang pada buah hatimu, jangan pernah membenci kehadirannya, dia hadir tidak meminta tetapi karena keadaan yang memaksanya dia hadir. " Reva hanya mengangguk lemah.


" Sudah malam, ma. Mama perlu istirahat. Hanya mama yang bisa membujuk papa untuk menghentikan pencariannya. Reva mohon, ma ! "


" Sepertinya kamu tidak ingin dia terluka, ada rasa cinta yang besar dalam hatimu untuk dia, lupakan dia Reva, dia terlalu jahat untuk kamu cintai. " Ujar sang Mama.


" Biarkan dia hidup , mama. Meski kita tidak bersama, tetapi anakku kelak akan mencarinya, setidaknya berikan kesempatan pada anak ini untuk mengenal wujud papanya. "


" Baiklah Reva, jika ini keinginanmu, yang sabar , mama akan selalu ada disampingmu. " Mereka saling berpelukan sebelum berpisah di kamar masing-masing.


London


Gisella masih tertidur di atas sofa karena kelelahan menunggu dr. Pram . Dr. Pram memasuki ruang tamu dan menjumpai Gisella yang masih tertidur dalam posisi terduduk. Dr.Pram mendekati Gisella dan berdiri tegak di dekat sofa.


" Bangunlah ! apakah kamu akan melanjutkan tidurmu di soda ini ! " Suara dr Pram sedikit ditinggikan untuk membangunkan Gisella. Gisella terkejut karena mendengar sedikit bentakkan. Dia mengerjapkan matanya dan melihat sang suami pujaan datang.


" Kak Pram, benarkah ini kamu ? ini bukan mimpikan ? " Gisella seperti tidak percaya.

__ADS_1


" Hemmm..." Balas dr.Pram. Gisella hendak memeluk tetapi dr. Pram memberi isayarat untuk tidak menyentuhnya.


" Kakak, aku hanya ingin memelukmu, aku ini istrimu, kakak. " Gisella cemberut.


" Sudah malam, masuklah ke kamarmu, tubuhku mengandung racun, aku harus membersihkannya dulu. "


" Aku akan menunggu kakak untuk membersihkan racun di tubuh kakak, tidak akan lama kan ? " Tanya Gisella.


" Akan lama, aku akan masuk ke kamarku dan aku akan langsung tidur, tidak perlu menungguku. " Kata dr. Pram dingin.


" Kakak, bagaimana kita bisa memiliki keturunan yang diidamkan mama, jika kita tidak saling bersentuhan ? "


" Kapan terakhir kali kamu haid ? " Tanya dr Pram tiba-tiba.


" Kakak akan melakukannya pada saat masa subur, ya ? " Gisella sumringah.


" Tanggal berapa ? " Tanyanya Dingin.


" Selamat malam . " Ucap dr. Pram dan langsung berlalu.


" Kakak...kakak...ih..ngeselin . " Teriak Gisella kesal sementara dr.Pram tidak menghiraukan teriakan itu. Dr. Pram masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya secara automatis. Dengan cepat dia melepas semua baju yang melekat di tubuhnya, tubuh polosnya masuk kedalam kamar mandi, tubuh polos itu masuk ke dalam bathup dan berendam di dalamnya, matanya terpejam menikmati kesegaran air hangat dengan wangi bunga lilly kesukaan Reva.


" Siaaalannn...aku sangat merindukannya. " Geramnya tertahan. Jemari tangannya meraih ponsel di dekat bathup.


" Dirga, antar dia sekarang, biarkan dia masih dalam keadaan pingsan ! " Perintah dr. Pram pada Dirga. Dr. Pram keluar dalam bathup kemudian membilas tubuh polosnya dengan shower air dingin. Dia memakai bathrobe nya dan melangkah meninggalkan kamar mandi, Dia melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di atasnya. Pandangan matanya mengarah ke jam dinding. Lima belas menit berlalu, pintu jendela kamarnya terbuka , Dirga telah membawa seseorang yang duduk diatas kursi roda dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa ada pembicaraan, Dirga undur diri. Dr. Pram mengangkat tubuh ramping Reva yang berada di kursi roda. Dibaringkannya tubuh lemah itu diatas kasur. Dirabanya perut Reva yang masih rata. Dr. Pram mulai berbaring disamping Reva yang masih dalam pengaruh obat bius. Dr. Pram memeluk tubuh Reva dengan erat. Beberapa menit kemudian matanya mulai terpejam. Sejam telah berlalu, pengaruh obat bius dalam tubuh Reva telah hilang, Reva terkejut bukan main, setelah menyadari tubuhnya dipeluk seseorang, matanya mendelik setelah mengetahui siapa yang memeluknya. Nafasnya mulai tidak berarturan.


" Tidurlah, temaniku, aku sangat lelah hari ini ! " Bisik dr.Pram yang masih memejamkan matanya, dan malas untuk membuka matanya.


" Kau membuatku gila, dokter." Dengus Reva kesal tetapi tubuhnya tidak mampu leluasa bergerak.


" Kenapa ? " Tannyanya lemah.

__ADS_1


" Mamaku saat ini pasti sudah panik mencariku, dokter. Dan jika papaku menemukanmu, nyawamu tidak akan selamat. Aku sudah membujuk mamaku untuk tidak mencarimu lagi . Tetapi apa yang anda perbuat hari ini, anda menculikku. " Kata Reva tak berarturan.


" Tidak ada yang akan menemukanku, semua intelijen papamu, mereka adalah anak buahku. Mereka akan setia kepadaku, karena tubuh mereka sudah kuberi racun , sekali mereka berkhianat, tubuh mereka akan membiru sendiri di makan racun. " Terang dr. Pram pelan , semakin memeluk tubuh Reva dan menghirup parfum white lily di ceruk leher Reva.


" Apakah aku juga akan mati ? " Reva mulai cemas.


" Ya, kamu akan mati jika aku menginginkannya. " Bisik dr. Pram sambil menggigit telinga Reva pelan.


" Bisa sedikit longgarkan pelukkannya, aku bisa cepat mati, dokter ! " Reva berusaha melonggarkan tubuhnya dari dekapan dokter Pram. Dokter Pram tersenyum sambil merenggangkan pelukkannya.


" Aku akan menculikmu setiap saat,tiga hari aku libur , kamu ingin pergi ke irlandia kah ? Disana banyak tempat yang menenangkan. Memilih kastil atau taman yang indah, seperti waterford dan kerry , dua tempat itu paling kusuka. " Ujar Dr. Pram.


" Aku mau pulang . " Timpal Reva.


" Reva, ini bagus untuk penyegaran jasmanimu, sayang. Aku ingin kamu menikmati masa penculikan ini dengan rasa bahagia. "


" Anda sudah membuat mama saya cemas, dokter. Apakah saya bisa menikmati liburan ini dengan rasa bahagia ? "


" Mama anda tidak akan merasa cemas, dokter Dewi sudah memberi pengertian pada mamamu, ada kegiatan kampus selama tiga hari di bali. Mamamu mengira kamu berada di bali. " Terang dr. Pram.


" Dokter...kau benar- benar...."


" Menyenangkan...ha...ha..." Tawa dokter Pram lepas. Reva berusaha memukul dada dokter Pram. Dan tanpa sadar tali bathrobe dokter Pram terlepas, sehingga terlihat tubuh polos dr. Pram, Reva reflek memalingkan wajahnya.


" Bukan salahku ya. " Katanya sembari membenarkan tali bathrobe yang terlepas.


" Aku mo tidur, jangan dekat-dekat ! " Perintah Reva.


" Bo mat. " Dr. Pram memeluknya erat.


" Aku hanya ingin memelukmu, aku merindukanmu, aku tidak peduli jika kamu tidak merindukanku. " Kata dr.Pram pelan. Reva terpaksa diam dalam pelukkan dokter Pram yang mulai terlelap dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2