Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
part 25


__ADS_3

Acara pernikahan antara dokter Pram dan Gisella telah berakhir, para tamu undangan telah meninggalkan hotel mewah tempat berlangsungnya pernikahan itu. Dokter Pram melangkah dengan cepat meninggalkan kursi pelaminan, Gisella mengikutinya dari belakang dengan sedikit berlari.


" Kak Pram tunggu ! " Rengek Gisella yang mencoba mengejar Dokter Pram. Dokter Pram tetap melaju tanpa mengabaikan Gisella. Mereka menuju ke lantai atas, lantai yang memang dibangun khusus untuk kediamannya.


" Berhenti disitu ! Kamu tidak boleh masuk ke kamarku. Dirga akan mengantarmu di tempat lain. Tunggu disini ! " Kata dokter Pram menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Gisella.


" Apa maksudmu, kak ? " Gisella terkejut dan menghentikan langkahnya.


" Aku lelah, ingin istirahat. Kamu tunggu disini, Dirga akan datang sebentar lagi. " Kata dokter Pram dingin.


" Kita sudah menikah kakak, seharusnya kita tinggal di kamar yang sama. " Gisella ngotot.


" Adakah perjanjian jika menikah harus tidur bersama ? Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menikah, tugasku sudah selesai. "


" Kakak mempermainkan sebuah pernikahan, kakak mempermainkan kehendak Tuhan. " Kata Gisella antusias.


" Tuhan tahu aku menikahimu karena terpaksa, berhentilah berkicau, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Diamlah ! " Kata dokter Pram dingin.


" Kakak , kamu jahat, aku tidak menyangka kakak akan memperlakukanku dengan seperti ini. " Gisella mulai terisak.


" Berhentilah menangis, aku benci orang menangis. " Kata dokter Pram langsung membuka pintu kamarnya, dia masuk dan tanpa memperdulikan Gisella yang semakin terisak. Dokter Pram menghempaskan dirinya diatas ranjang berukuran big size. Matanya menatap langit-langit kamar, dadanya mulai sedikit sesak karena menahan emosi dihatinya, Dia masih menginggat Reva dan Zacky bergandengan tangan saat di pesta pernikahannya.


" Ah...sial..." Gerutunya kasar.


" Dirga, bawa wanita itu ke apartementku di setia budi, jika dia tidak mau, paksa saja ! " Perintah dokter Pram lewat ponselnya. Dengan cepat dokter Pram mengganti baju pengantinnnya, dia menuju kamar mandi dan berendam dalam bathup sambil memejamkan matanya untuk mengurangi kepenatannya.


Sementara di tempat lain, Mobil Paijo berhasil berhenti di depan pintu gerbang rumahnya yang terlihat megah. Dengan tenang dia turun dari mobilnya, Dia sedikit terperanggah melihat kehadiran gadis belia cantik yang sudah mematung di depannnya dengan diam.Paijo mengusap wajahnya perlahan, Dia tidak menyangka Ica telah berdiri didepannya.


" Apakah abang bekerja disini ? " Tanya Ica polos.


" Bagaimana kamu tahu tempat ini, Ica ? " Tanya Paijo heran.


" Aku sengaja mengikuti abang dan kak Reva hingga sampai disini. " Kata Ica pelan.


" Reva, kamu tahu dia darimana ? "


" Aku tidak sengaja bertemu dengannya di dalam bus way, kami ngobrol dan ternyata dia adalah kakak dari temanku Ganjar. " Terang Ica.

__ADS_1


" Kebetulan yang tidak terduga. "


" Apakah abang pacar dari kak Reva?"


" Bagaimana menurutmu saja, aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam, tidak baik anak gadis berkeliaran di malam hari. " Kata Paijo pelan.


" Baiklah . " Kata Ica pelan. Ica memasuki mobil Paijo, kemudian Paijo duduk dibelakang stir mobil. Mobil berjalan pelan menuju jalan utama. Disepanjang perjalanan mereka tidak saling berbicara. Mobil telah sampai di parkiran apartement Ica. Mereka turun dari mobil.


" Hati-hati Ica, abang langsung pulang yah ! " Kata Paijo kemudian.


" Mampirlah sebentar bang, daritadi aku menunggumu bang. " Ica memohon.


" Tetapi ini sudah malam Ica. "


" Tidak akan lama bang, Ica janji. " Dengan terpaksa Paijo mengikuti kemauan Ica. Mereka berjalan menuju lantai tiga apartement. Apartement Ica lumayan luas dan nyaman. Mereka masuk ke dalam apartment. Paijo duduk di sofa sementara Ica masuk ke dalam untuk mengambil minum mineral.


" Apakah abang akan menikah dengan kak Reva ? " Pertanyaan Ica.


" Menunggu dia siap, dia masih ingin menyelesaikan kuliahnya. " Kata Paijo tenang.


" Iya, kak Reva wanita yang cantik dan baik, abang tidak salah memilihnya. " Kata Ica penuh kegetiran.


" Aku sudah menemukannya, tetapi dia menyukai wanita lain. " Kata Ica sedih.


" Ica, jangan bersedih , kamu masih muda dan masih banyak waktumu untuk mencari pasangan. Sekarang fokuslah dengan sekolahmu dulu. " Pesan Paijo.


" Aku ingin menikah muda , bang. Aku tidak ingin kuliah." Kata Ica tenang.


" Terserah sih, itu pilihanmu. " Ica duduk dekat Paijo, Paijo sedikit terkejut.


" Aku mencintai abang, aku ga peduli abang mencintai kak Reva. " Kata Ica semakin mendekat. Ica sudah tidak tahan mengendalikan nafsunya, secepat kilat Ica ******* bibir Paijo yang sedikit tebal itu, mata Paijo mendelik mendapat prilaku Ica yang mendadak. Ica terus ********** dan tanpa sadar Paijo membalasnya, tangan Ica mengusap dada Paijo dengan pelan , Paijo mulai berdesir dadanya, secara reflek tangannya mulai meraba punggung Ica dengan pelan. Ciuman itu semakin panas, Paijo menindih Ica. Sepertinya dia sudah tidak mampu menahan nafsunya. Satu persatu baju mereka terlepas, saling meraba saling memberikan sentuhan.


" Ah..." Lengkuhan Paijo terdengar pelan. Ica tersenyum simpul. Dia terus menyentuh bagian inti Paijo dengan pelan.


" Hentikan Ica, aku bisa memperkosamu..ah..." suara beratnya.


" Lakukanlah abang, Ica sudah siap. " Bisik Ica ditelinga Paijo yang sudah dengan puncak nafsunya.

__ADS_1


" Ini gila...ah...stop it !" Paijo dengan berat hati mengakhiri. nafasnya terengah-engah.


" Kenapa bang ? " Tanya Ica sedih.


" Ini salah Ica, aku harus pulang, maafkan aku, jangan mencoba untuk menghubungi aku lagi, pertemanan kita berakhir. Ingat Ica aku mencintai wanita lain, dan aku tidak ingin mengkhianatinya . " Dengan cepat Paijo memakai bajunya, Dia harus segera meninggalkan tempat Ica, keputusan untuk menemani gadis itu ternyata salah. Ica hanya menangis sedih saat Paijo meninggalkannya. Hatinya bagai tersayat- sayat belati. Paijo melajukan mobilnya sangat cepat, perasaannya campur aduk, kenapa dia selalu tidak bisa menolak pesona gadis belia itu.


Angin malam semilir menembus pori-pori kulit ari Reva yang duduk termenung di samping jendela terbuka kamarnya. Perasaan sedih sedang meliputi hatinya, air matanya telah kering tak bersisa. Pandangan matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir cantik tidak jauh dari depan rumahnya. Pintu kaca mobil terbuka dan Reva mengenali siapa pemilik mobil sport putih metalic itu. Pandangan mata mereka terpaut. Dengan sedikit kepanikan Reva segera menutup pintu kamarnya. Reva tidak lagi ingin berhubungan dengan lelaki beristri itu yang tidak lain dokter Pram. Jantungnya berdetak tak berirama. Oh Tuhan, kenapa bayangan wajahnya seperti hantu, dia selalu berada dimana-mana batinnya. Reva terpaku dalam diam di atas kursinya, Reva sedang mengatur detak jantung dan nafasnya.


" Buka pintu jendelanya , Reva ! Sebelum aku membuat kerusakkan dan membobolnya. " Kata seseorang yang suaranya sangat Reva kenal. Reva terkejut dan tidak menyangka bahwa Pria itu nekat dan bisa menaiki balkon rumahnya yang lumayan tinggi. Dengan gemetar tangannya mulai membuka pintu jendela kamarnya. Dokter Pram dengan cepat masuk kedalam kamarnya. Dokter Pram menjatuhkan tubuhnya diatas tempat pembaringan Reva yang berukuran sedang. Mata lelaki itu terpejam.



" Tutuplah pintu jendelanya, udara malam sangat mengganggu ! " Perintah dokter Pram masih dengan mata terpejam.



" Hai, anda sudah gilakah , dokter ? Kenapa anda tidur disini ? Hari ini anda baru selesai menikah dan anda meninggalkan pengantin wanitanya demi menemuiku. "



" Berisik, aku mau tidur. " Ucap dokter Pram datar.



" Hey, anda tidur di ranjangku, bagaimana aku tidurnya ? "



" Ranjang ini muat untuk orang dua, tidak usah protes, aku capek Reva , aku ingin tidur, wanita itu membuatku muak. " Terang dokter Pram.



" Egois, tidak bisa seperti itu dokter. Aku keberatan anda tidur disini. " Bantah Reva. Dokter Pram tidak menjawab. Dia masih memejamkan matanya dan sekarang menarik selimut Reva untuk menutupi tubuh besarnya. Dasar keras kepala runtuk Reva kesal. Beberapa menit Reva masih duduk di kursinya , sejam waktu berlalu, Reva sudah sangat mengantuk dan tidak sadar dia tertidur di kursinya. Dokter Pram membuka matanya dan melihat Reva tertidur di kursinya.



" Dasar wanita keras kepala . " Gumannya, Dia beranjak dari tidurnya kemudian mendekati Reva yang terlelap tidur di kursi. Dengan perlahan Dia menggendong Reva yang tertidur dan dibawanya keatas ranjang.

__ADS_1



" Aku selalu merindukanmu. " Katanya sembari memeluk tubuh Reva yang bergerak tidur miring.


__ADS_2