
Hujan turun dengan derasnya, petir terdengar nyata membelah bumi, ada dua insan yang saling memeluk dan saling menghangatkan. Reva mulai mengernyipkan matanya, ingin melihat siapa yang membuatnya nyaman dalam tidurnya. Pandangan matanya tertaut dengan mata hitam yang saat ini sedang menatapnya. Reva tidak bisa bersuara dan membiarkan tubuhnya masih dipeluk berhadapan.
" Kamu sudah bangun, sayang . " Bisik dokter Pram pelan.
" Aku bukan kesayanganmu, stop jangan memanggilku seperti itu. " Kata Reva sembari ingin melepaskan dekapan dokter Pram yang erat.
" Kamu ingin dipanggil apa, musuh ? " dokter Pram mengeratkan pelukkannya. Hingga hidung mereka bersentuhan.
" Kau ingin membunuhku, sesak tahu. " Reva meronta-ronta ingin lepas. Dokter Pram tersenyum.
" Jangan terus bergerak, nanti ada yang bangun. " Seketika Reva berhenti bergerak. Dokter Pram tersenyum.
" Kamu sudah menikah, aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Hargai perasaan nyonya Gisella, aku akan bersedih jika jadi dia. "
" Itu pilihannya, aku sudah mengabulkan permintaannya untuk menikah, aku tidak berjanji untuk tidur dengannya. "
" Anda keterlaluan, tidak kah anda hargai perasaannya, dia sangat mencintaimu dokter, seharusnya anda bahagia. "
" Aku tidak gampang mencintai seseorang, aku hanya menyukaimu, bukan cinta. " Katanya datar.
" Iya, aku mengerti, dan kumohon lepaskanlah aku, agar rasa sukamu hilang. "
" Untuk saat ini, aku belum bisa melepaskanmu, aku masih menyukaimu. "
" Aku keberatan, aku bukan barang dokter, jika tidak disukai akan dibuang ke tempat sampah. "
" Takdirmu saat ini seperti ini, nikmatilah, kita tidak bisa menerka perasaan kita. Just do that and have fun. " Dengan kuat Reva mendorong tubuh dokter Pram.
" Pergi ! Aku tidak ingin bertemu denganmu. " Reva bangkit dari tidurnya.
" Jangan keras kepala , Reva. Kamu juga menyukaiku , bukan ? "
" Lebih baik kita akhiri sekarang, sebelum ada yang terluka, hubungan ini salah. " Kata Reva dingin.
" Apa kamu takut mencintaiku ? "
" Apakah orang seperti anda layak untuk dicintai ? "
" Tidak, jangan mencintaiku, aku tidak bisa mencintai seseorang. " Dokter Pram bangkit dari tidurnya.
" Pergilah dan keluarlah dari tempatmu ketika kamu masuk dari sini, sebelum papa menembak kepalamu, dokter. " Kata Reva sinis.
" Baiklah , Reva. Aku tidak akan menemuimu lagi. " Kata dokter Pram yang tiba-tiba*******bibir Reva. Reva terperanjat.
" Aku pergi ! " Kata dokter Pram dingin. Reva terpaku diam dan membiarkan dokter pergi lewat pintu jendela kamarnya. Reva berjalan kearah pintu jendela yang terbuka, dan melihat betapa lihainya dokter Pram menuruni balkon rumahnya.
" Dasar lelaki sialan itu. " Kata Reva dengan bibir bergetar. Dokter Pram tidak lagi menoleh kearahnya lagi, dan langsung memacu mobilnya dengan cepat.
Dokter Pram masih mengendarai mobilnya melaju cepat ke arah kantornya. Mobil terparkir di basement , Dia keluar dari mobil, berjalan menuju jalur khusus, langkah kakinya tenang , menuju lift khusus. Pintu lift terbuka , Dia masuk dan memencet tombol 3, lift bergerak menuju lantai 3, Pintu lift terbuka , Dia berjalan kearah ruangan pribadinya. Dihempaskan tubuhnya di atas sofa berukuran besar, tubuh jangkungnya telah memenuhi sofa itu. Tidak beberapa lama Dirga datang.
" Ada meeting sebentar lagi dengan klien dari Jepang, Tuan ! " Dirga mengingatkan.
" Atur saja Dirga, ambilkan air jeruk hangat , roti panggang isi beef. " Perintah Dokter Pram.
" Baik tuan, saya akan memanggil office boy untuk menyediakannya. "
" Bagaimana kondisi maria saat ini, apakah masih mengalami morning sickness ? " Tanya dokter Pram.
__ADS_1
" Aku tidak tega melihatnya, semua yang dia makan selalu keluar begitu saja, terpaksa saya menyediakan perawat dan dokter pribadi untuk menjaganya. " Terang Dirga.
" Apakah kamu bahagia , karena sebentar lagi kamu akan memiliki seorang anak ? "
" Tentu dokter, aku akan memiliki keturunan , dari hasil cinta kasih kami berdua, aku mulai mencintai Maria. " Jujur Dirga. Dokter tersenyum hambar.
" Dokter semalam tidur dimana ? " Tanya Dirga.
" Dengan wanita keras kepala itu . "
" Sepertinya anda sedang tidak senang. "
" Biasa saja Dirga, aku sudah terbiasa seperti ini, hidup tanpa cinta. "
" Apakah anda telah memutuskan hubungan anda dengannya ? "
" Wanita itu yang menginginkannya, baru kali ini ada yang menolakku. " Dokter Pram tersenyum sinis.
" Sepertinya anda tidak terima dengan keputusan itu. Anda terlihat sangat kacau. "
" Aku tidak ingin memaksanya, seiring perjalanan waktu, aku akan melupakannya. "
" Anda tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya, Tuan. "
" Entahlah, siapkan perbekalanku , Aku ingin pergi ke London, untuk waktu yang tidak ditentukan. Ini salah satunya untuk melupakannya. "
" Baik Tuan, saya akan selalu mendukung keputusan anda. "
" Bilang pada Gisella, aku ada keperluan mendesak dan tidak bisa ditunda lagi. " Kata dokter Pram datar.
" Apakah Tuan tidak ingin menemuinya. Aku sangat kesulitan membawanya pergi kemarin. " Terang Dirga.
" Anda tidur di rumah nona Revakah ? "
" Semalaman aku memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya, entah mengapa itu semacam menjadi canduku. " Jujur dokter Pram.
" Anda sudah menyukainya, kenapa anda tidak mengatakannya ? " Dirga menyarankan.
" Aku sudah mengatakannya, Tetapi dia keberatan untuk menjalin hubungan denganku. Dia tidak ingin menjadi pelakor. " Dirga tertawa renyah.
" Nona Reva perempuan punya harga diri. Tentu saja Dia tidak ingin merusak rumah tangga orang . "
" Tolong siapkan dokumen yang harus ditanda tangani hari ini, meeting kamu yang handle. " Kata dokter Pram mengalihkan pembicaraan.
" Aku akan menyiapkan pesanan anda, anda harus sarapan , hari ini anda terlihat kacau, Tuan. "
" Kamu benar Dirga, Aku sangat kacau hari ini. Rasanya aku ingin tidur sepanjang hari. " Katanya datar.
" Apakah anda yakin ingin tinggal di london ? "
" Apakah kamu meragukanku, Dirga?"
" Maaf, baiklah Tuan, saya permisi. " Kata Dirga pelan dan berlalu dari hadapan dokter Pram. Sementara dokter Pram beranjak dari sofa, duduk di kursinya. Dia sedang mengecek berkas-berkas penting yang harus memerlukan tanda tangannya.
Reva hari ini berangkat ke kampus lebih awal. Di ruang kuliah telah ada Selly dan Sri yang datang lebih awal.
" Reva, hari ini kamu banyak diam, adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu ? " Tanya Sri Pelan. Reva hanya tersenyum.
__ADS_1
" Makalahku belum disetujui dokter Pram, Apakah makalah kalian sudah disetujui ? " Tanya Reva pelan. Dia sampai lupa jika makalah yang dibuatnya belum mendapatkan persetujuan dari dokter Pram dan Dia memutuskan tidak ingin bertemu dengan dokter Pram lagi.
" Bagaimana bisa, Reva. Kita mengerjakannya bersama, setelah kubaca, punyamu berkualitas, Aku dan Selly sudah ada penilaian . " Kata Sri merasa heran.
" Aku serius, Sri dan aku rasa , Dia tidak akan memberiku nilai. " Kata Reva sedih.
Sementara di tempat lain, dokter Pram menemukan makalah Reva yang berada diantara tumpukkan berkas pentingnya. Dibacanya makalah Reva yang belum sempat dinilai. Dia tersenyum simpul.
" Ini alasan yang tepat, aku akan sedikit bermain denganmu, demi ini. " Katanya bersemangat. Dokter Pram mengetik sesuatu di ponselnya untuk Reva.
Reva menerima pesan singkat dari dokter Pram. Jantungnya berdegup kencang, saat membaca pesan singkat dari dokter Pram.
" Ada apa Reva ? Ada sesuatu yang terjadi ? " Tanya Sri bingung.
" Aku harus pergi sekarang, ini mengenai makalahku yang harus kuambil hari ini, dokter Pram sedang sibuk dan tidak mengajar hari ini, aku akan ke kantornya. " Reva beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruang kuliah. Reva berjalan kearah mobil sport yang terparkir di tempat parkir. Dirga keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Reva. Setelah Reva masuk mobil, Dirga berbalik menuju pintu kemudi. Dirga membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.
" Dokter Pram besok akan pergi ke london dan mungkin akan lama tinggal disana. " Kata Dirga mulai dengan pembicaraan.
" Hemm...." Balas Reva. Dirga melihat wajah Reva yang sedikit pucat.
" Apakah anda sakit nona ? Wajah anda sedikit pucat. "
" Aku akan berjumpa dengan seseorang yang menakutkan, bagaimana aku tidak cemas . " Kata Reva jujur. Dirga tertawa lepas.
" Apakah semalam perlakuan dokter Pram menakutkan ? " Reva terkejut dan melihat Dirga yang sedang menjalankan mobilnya.
" Dasar tidak bisa menyimpan rahasia, apa saja yang sudah dia ceritakan denganmu ? " Reva ingin tahu.
" Everything, kami terbuka antara satu sama yang lainnya. Berbagai hal, dan tak luput dari persoalan wanita kami. "
" Aku akan membunuhnya. " Kata Reva kesal.
" Wow, baru kali ini ada wanita yang seprontal anda. " Dirga kembali tertawa.
" Kamu meragukan kemampuanku, Apakah kamu ingin kakimu patah tulang ? " Geram Reva semakin kesal.
" Oke, aku kalah nona. Kami selalu lemah dengan kelembutan wanita, hangat dan memabukkan. "
__ADS_1
" Kamu sama dengan Tuanmu, otak mesum. " Dirga terpingkal-pingkal mendengar penilaian Reva.