Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Part 20


__ADS_3

Jesica dengan cepat memasuki rumah tante Heidy yang tengah sibuk merangkai bunga sedap malam yang akan diletakkan disudut kamar pengatin. Ada Gisella yang sejak tadi bolak balik menata dekorasi kamar pengantin, impiannya menikah dengan dokter Pram sebentar lagi akan digelar di sebuah gedung pernikahan dalam hotel bintang lima di bilangan jakarta pusat.


" Ada yang Ica bantu tante ? " Tanya Ica pelan, tante Heidy menengok kearah Ica.


" Kupikir kamu dateng dengan mamamu. Kamu kok belum ganti seragam sekolah, darimana kamu Ica ? " Tanya tante Heidy.


" Main ketempat pacar..he..he. " Ica nyengir.


" Kamu masih kecil pacaran mulu, sekolah yang bener Ica, lihat kak Pram mu , mana pernah dia punya pacar sewaktu sekolah dan kuliah dulu, sekarang nikah juga. " Pesan tante Heidy.


" Yeah tante, beda orang beda selera dong, dimana kak Pram tante ? " Tanya ica .


" Dia masih berada di moskow, ada pengembangan bisnis disana, mungkin dua hari lagi pulang. "


" Aku boleh ngundang temen kan tante, aku baru ketemu dia tadi pas naik bus way, ternyata dia kakak dari temenku SMP dulu. "


" Terserah Ica, yang penting orangnya sopan. Cewek atau cowok sih ? "


" Cewek manis tante, tenang saja, tante pasti suka lihatnya. "


" Tumben temenmu cewek, biasanya cowok semua yang kamu pernah ajak kerumah tante. "


" Ga dong, temenku cowok cuma satu, mas tukang parkir.." Ica cekikikan.


" Kamu ada-ada aja Ica, suka kok sama tukang parkir. " Tante Heidy tarik nafas .


" Biarin tante, yang penting dia lelaki yang baik, dia pernah nolongin Ica disaat sedang dibutuhkan. " Tante Heidy hanya geleng kepala.


" Hei, Ica, bagus ga gaun pengantinku ? " Pamer Gisella yang sedang memakai baju pengantin putih indah.


" Jelek ah, kalau Ica yang make baru terlihat cantik. " Timpal Ica ingin mengerjai Gisella yang cemberut.


" Canda kak..he..he..cantik banget kok, pasti kak Pram terpana lihatnya. " Ica tersenyum. Gisella baru tersipu malu.


" Ma kasih Ica, kamu nanti yg jadi bridemaid yah ? " Tawar Gisella.


" Ica ga mau ribet pakai konde kak, Ica pingin tampil biasa saja, pusing bau hairsprey, udah gitu susah ngilangin baunya. "


" Kok gitu sih Ica, sekali-kali kamu tuh perlu dandan cantik, biar ada cowok yang melirikmu, jika kamu sekucel ini siapa yang suka, Ica. " Saran Gisella.


" Wow...kakak ga tau aja, Ica itu banyak yang suka tetapi Ica kan harus selektif milih pacar. " Balas Ica santai.

__ADS_1


" Si tukang parkir , maksudmu ? " Gisella merendahkan.


" Tentu saja, palingan kakak jingkrak-jingkrak kalo lihat betapa ganteng dan manisnya dia. "


" Ck...ck...mana ada laki-laki yang ngalahin kakakmu Ica, semua lelaki lewat, kak Pram terlalu sempurna. " Bela Gisella.


" Em...iya sih, tetapi gimana yah, menurut Ica sih, masih gantengan si tukang parkir, kak Pram sih cakep tapi wajahnya itu kaku menakutkan, ga ada senyum, beda dengan si tukang parkir. orangnya super ramah. "


" Eh..Ica, kak Pram itu diam karena jaga wibawa, lah si tukang parkir kalau ga ramah yah di maki orang. " Gisella tersenyum sinis.


" Bagiku dia paling istimewa, aku ga peduli pekerjaannya, yang penting aku suka, titik. " Jawab Ica ketus. Gisella hanya geleng kepala.


" Ica, bantu tante , nak ! Tolong ambil bunga yang berada di kamar ruang tengah ! " Perintah tante Heidy kemudian.


" Oke, tante sayang . " Kata Ica sembari berlalu meninggalkan Gisella yang masih berdiri mematung dengan baju pengantinnya.


" Kamu terlihat cantik , sayang. Sebaiknya kamu istirahat saja, tidak perlu ikut menata dekorasi kamar pengantin, nanti kamu kecapekan pas hari H . " Kata Tante Heidy lembut. Gisella tersenyum.


" Nomer ponsel kak Pram selalu tidak aktif, te. Apakah dia ganti nomer ponsel ? " Tanya Gisella penasaran.


" Oh...setahu tante , masih nomer yang lama, Dia masih sering hubungi tante kok, anak itu masih seperti anak kecil, manja dengan tante. " Kata Tante Heidy membuat Gisella sedikit terkejut.


" Gitu yah tante, mungkin Dia sangat sibuk pas aku hubungi , yang penting dia baik-baik saja kan , tante ? " Gisella sedikit khawatir.


Reva dengan gontai memasuki rumah sederhananya, di ruang tamu telah duduk mama dan papanya yang baru pulang dari dinas keluar kota.


" Papa, surprise, kapan pulangnya.? " Kata Reva yang terkejut melihat papanya yang tersenyum ramah kepadanya.


" Baru empat jam yang lalu, tadi papa mampir dulu ke magelang lihat adikmu disana. " Kata Papa Reva yang sebenarnya seorang anggota TNI, yang bertugas selama dua tahun di timika papua. Pangkat papa Reva hanya seorang letnan kolonel, perwira menengah, seorang dokter bedah umum yang ditugaskan sebagai tim kesehatan. Mama Reva tidak menyukai tinggal di kompleks TNI dan memilih tinggal di perumahan peninggalan almarhum kedua orang tuanya.


" Papa, Reva sangat kangen. " Reva langsung memeluk orang tuanya itu , papanya membalas pelukan Reva dan membelai rambut putrinya yang sudah terlepas dari ikatan rambutnya.


" Reva, mandi dulu, badanmu kotor dan banyak virus yang menempel ! " Kata mama Reva pelan.


" Eh..iyah mah, bentar ajah, Reva kangen papa. " Reva nyengir. Mama Reva tersenyum


" Ga pernah berubah, masih manja sama papamu. " Kata mama Reva



" Ga pa pa yah papa, jarang nemu moment seperti ini. " Reva masih memeluk erat papanya.

__ADS_1



" Ada yang mau papa kenalin ke kamu Reva, anaknya baik, Dia seorang perwira penerbang, umurnya 25 tahun, dia anak teman papa. " Kata Papa Reva membuat Reva terperanjat dan meepaskan dekapannya.


" Reva , ga mau cepat menikah, papa. Reva mau berkarier dulu, sekarang lagi sibuk mo buka caffee. " Reva sedikit keberatan.


" Yah, siapa yang mo cepat-cepat nikahin kamu, Reva. Ini hanya kenalan, kalo kamu cocok dengan dia, ya jalan jika tidak papa memaksa. " Tawa papanya meledak.



" Ih..papa, masih saja pola lama, maksain anaknya dijodohin, tenang papa, Reva banyak penggemarnya kok. Jadi jangan khawatir masalah jodoh Reva. " Kata Reva enteng.


" Banyak penggemarnya mana, Reva. Katamu cuma teman saja yang pernah datang ke rumah. " Timpal mamanya.


" Itu mereka termasuk, ma. Tetapi Reva memang ga mau pacaran saja, Reva mo fokus kuliah dulu. "


" Terima kasih, kamu memegang amanat papa, Reva. Papa bangga padamu, nak. " Kata-kata Papa Reva membuat Reva lunglai dan merasa bersalah, Reva ga yang sebaik papa kira batin Reva sedih.


" Loh ..kok sedih, ada apa nak , sedih karena papa mo jodohin yah ? " Papa Reva jadi penasaran.


" Reva mo mandi, pa. Nanti obrolannya disambung lagi. " Reva beranjak pergi .


" Ada apa dengan anak kita , ma. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan. " Papa Reva selalu peka dengan kondisi psikologis putrinya.


" Mama belum nanya sih, pa. Sejak kepulangannya dari puncak sebulan yang lalu, Reva sedikit murung pa. "


" Ke puncak, ma , dengan siapa ?" Papanya terkejut.


" Bersama beberapa temannya, mengerjakan project bersama dosen pembimbing mereka sekalian libur selama dua hari. " Kata mamanya pelan.


" Oh...mungkin ada seseorang yang disukai putrimu, itu sih tebakkan papa, ma. "



" Maybe, yah selama dia masih bersikap wajar, mama ga terlalu khawatir, hanya dia terlihat sedikit murung saja, melamun, itu yang membuat mama penasaran. "



" Nanti papa yang bicara dengan Reva, siapa tahu, dia mau cerita yang sebenarnya. " Kata papa Reva menyakinkan.


" Maafkan mama , pa. Mungkin mama kurang baik mendidik Reva, mama kurang perhatian dengan anak-anak. "

__ADS_1


" Eh..kok jadi mama yang melo, mama adalah istri yang terbaik buat papa, mama tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika papa dinas keluar kota. Terima kasih, ma. " Mereka berpelukkan erat.


__ADS_2