Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Episode 39


__ADS_3

Hari ini genap sepekan sudah hujan membasahi di sebuah kota terpencil bagian timur bumi, di bawah lereng gunung yang memiliki sebuah telaga yang asri, Reva dengan perut buncitnya berada di sebuah vila yang terpencil, dia sengaja ingin menyendiri dan meninggalkan kota besar yang hiruk pikuk itu. Reva sedang tiduran di sebuah balai bambu di teras vila sambil menikmati guyuran hujan yang semakin deras. Musik gamelan jawa mengalun sahdu untuk menemani kesendiriannya. Sudah hampir sepekan dia berada di vila itu.


" Aku akan kesitu , tunggu aku setengah jam lagi ! " Suara seseorang melalui sambungan ponsel Reva. Sebelum Reva membalasnya , sambungan ponsel itu sudah dimatikan oleh sang penelpon.


" Dia seperti hantu, selalu saja berhasil menemukan dimana aku berada, sangat menjengkelkan . " Gerutu Reva sambil meletakkan ponsel pipihnya di atas meja anyaman dari bambu.


" Apakah Ada yang saya bantu, nona ?" Kata seorang pelayan muda yang mendekati Reva.


" Tolong siapkan air hangat di bath up ku , Ren. Hari semakin sore, aku akan mandi lebih awal dari sebelumnya. " Perintah Reva kepada asisten pribadinya.


" Tuan muda Pram akan berkunjung kesini dalam waktu tiga puluh menit lagi, perlukah saya menyiapkan tempat untuk beliau ? " Tanya Rena asisten pribadinya.


" Tidak perlu, dia tidak akan lama disini, cukup hidangkan makanan kesukaannya. " Balas Reva masih tidur di balai bambunya. Sang aspri pergi meninggalkan Reva yang masih malas di tempat tidurnya. Hujan sedikit mereda, hembusan angin terasa mulai menusuk pori-pori kulitnya, beberapa menit kemudian Reva mulai beranjak dari tidurnya, dengan sedikit tertatih dia mulai berjalan menuju kamarnya, sesampai di kamar, dengan perlahan dia membuka bajunya dan menggantinya dengan bathrobe, langkah kakinya memasuki kamar mandi , kemudian kaki-kaki jenjangnya masuk ke dalam bath up, air hangat dalam bath up membuatnya rileks, untuk sesaat dia memejamkan matanya, hingga dia tidak menyadari ada sosok tubuh besar yang tengah berdiri mematung memperhatikannya dengan tajam, kaki jenjang itu sedikit mengendap mendekati bath up, dengan cepat memasuki bath up yang berukuran sedang, Reva terperanjat dan baru menyadari ada seseorang yang bersamanya.


" Seminggu lagi anak kita akan lahir, aku ingin melihatnya untuk pertama kalinya. " Ujar dr. Pram sambil mengelus perut buncit Reva.


" Jika kamu menginginkan anak ini, aku akan memberikannya padamu setelah kita bercerai. Aku tidak menginginkan anak ini . " Kata Reva dingin, ada sesak di dadanya saat mengatakan itu . Dia mengatur nafasnya untuk menahan sesak itu.


" Baiklah, aku akan membawanya nanti, dan setelah aku membawanya nanti, jangan berharap kau akan menemuinya. " Kata dr. Pram melembut sambil jemari-jemari tangannya terus mengelus perut Reva.


" Carilah tempat lain, aku ingin sendiri, aku tidak ingin berdebat, aku ingin mengkondisikan diriku untuk melahirkan dengan normal, kau tidak ingin bukan aku stress saat berada denganmu. " Reva mengingatkan , dr. Pram tersenyum sinis.


" Aku sudah memilih tempatnya, tenang saja, aku akan berada disisimu saat bayi itu akan lahir. " dr. Pram memastikan. Dia kemudian mengambil sebuah busa dan mulai menggosok tangan Reva. Reva hanya diam ketika busa lembut itu telah menyapu kulit tangannya, dada, leher dan busa itu telah menjelajahi seluruh tubuhnya, mata Reva terpejam, ada getir sakit menusuk relung hatinya yang paling dalam.Tuhan berapa lama drama romantis ini akan segera berlalu.


" Selesai, nyonya ." Bisik dr. pram lembut, dia telah meloloskan semua bajunya. Tidak ada percakapan, hanya saling pandang dan saling berbaur dalam bath up.

__ADS_1



" Aku akan menginap di vila di atas sana, untuk malam ini , aku terpaksa bersamamu, hujan membuatku malas untuk keluar rumah. " Ucap dr. Pram sembari membilas tubuh polosnya di bawah shower air hangat.



" Apakah kamu butuh bantuanku untuk membilas tubuhmu ? " Tawar dr. Pram santai, Reva melotot.



" Takut...he ...he.." Kekeh dr.Pram yang memperhatikan mimik tidak bersahabat Reva.



" Pergilah, aku tidak ingin berdebat !" Kata Reva dingin.


Suasana malam hening, ada dua manusia kaku yang tengah berhadap-hadapan di meja makan, menu nusantara terhampar di meja makan. Dr. Pram mengambil makanan untuk Reva, kemudian mengambil makanannya sendiri.


" Saat kita bercerai nanti, kamu akan sendiri, jaga dirimu baik-baik, aku akan merawat anak kita dengan baik, memberinya kasih sayang, jangan kuatir, meskipun aku tidak pernah menginginkan dia hadir di dunia ini, aku akan memberikan dia fasilitas yang terbaik sehingga semua anak-anak yang terlahir akan iri padanya. " dr. Pram kembali menyuapi Reva dengan sup ayam kampung, Reva terpaksa menerima suapan demi suapan yang diberikan dr. Pram.



" Dirga sudah mendatangi notaris kami, ada seperempat dari hartaku sudah dipindahkan kepadamu, itu bentuk terima kasihku padamu, aku selalu menyukai servis yang kamu berikan . " Kata dr.Pram tenang, dan masih fokus dengan suapannya.


__ADS_1


" Huk..huks..." Reva mulai tersedak, dengan cepat dr.Pram memberinya segelas air putih. Reva dengan cepat meminum air putih itu separuhnya.



" Jangan terkejut, ini adalah sebuah hadiah yang tidak pernah kamu bayangkan. " dr. Pram melanjutkan perkataannya, sambil mengelap air yang meleleh di dagu Reva.



" Aku tidak tahu, apakah aku bisa hidup tanpamu, tetapi aku tidak lagi memaksakanmu lagi untuk berada dalam teraliku. Kamu bebas sekarang, sayang. " dr. Pram membuang tisu yang digunakan untuk mengelap bekas tumpahan air di sekitar bibir dan dagu Reva.



" Apakah kamu ingin istirahat ? " Tawar dr. Pram.



" Bisakah kau pergi ketempat tidurmu, sekarang. Aku pusing mendengar kicauanmu itu !" Kata Reva dingin. Dr. Pram terkekeh pelan.


" Kau bisa saja menceraikanku, tetapi kau tidak akan bisa menghilangkanku dalam memorimu, aku bertaruh untuk itu, sayang. " Kata dr.Pram sembari beranjak dari duduknya.


" Aku menunggumu dikamar yang sama, kamarmu rusak, berantakkan, terpaksa kamu harus menemaniku tidur, istriku. " Dia melangkah pergi meninggalkan Reva yang dengan kesal mengumpat.


" Akan kubunuh kau pramudya . " Teriak kesal Reva sementara si pembuat onar terkekeh menang sambil melambaikan tangannya. Langkah kakinya dengan cepat menuju kamar utama, kamar yang berukuran jumbo, lengkap dengan teknologi yang canggih. Dipencetnya remote pendingin udara, tanda off, cuaca sudah sangat dingin, direbahkan tubuh besarnya diatas ranjang ukuran king size. Dipejamkannya mata pandanya, hari ini hari yang sangat melelahkan untuknya, dr. Pram langsung dari london menuju bandara kecil milik pangkalan udara AURI, diteruskan naik helikopter untuk menjangkau pengunungan lawu. Reva mengendap memasuki kamar itu, Reva sedikit lega ketika melihat dr. Pram yang sudah terlelap dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 21.30, Reva mematikan ponselnya, dimatikan lampu kamar yang terang diganti dengan yang remang-remang. Tubuh lelahnya tergolek lemah tidak jauh dari dr. Pram tertidur.


__ADS_1


" Seperti malaikat. " Gumamnya pelan saat memperhatikan wajah damai dr. Pram. Tubuh dr. Pram bergerak kearah Reva dan dengan erat memeluk tubuh Reva dan mencari kehangatan disana.


__ADS_2