
Dokter Pramudya telah meninggalkan ruang belajar kami, kurapikan diktat tebal dalam tas panggulku, Selly masih menunggu janjiku. Sesuai kesepakatan dengan kak Dio, kita akan bertemu di ruang perpustakaan kampus.
" Gimana, Rev ? Kapan aku dikenalkan dengan kak Dio ? " Tanya Selly berharap.
" Ini baru mo nego, doakan semoga sukses. Aku saja baru deket dengannya tadi pagi, Aku ga tahu berhasil atau tidak , jangan terlalu terobsebsi dengan satu orang, kamu tuh cantik, pinter, masih banyak yang suka. Aku cabut dulu yah, oke ! " Aku beranjak dari tempat dudukku.
" Aku mo dengar kabar baik yah, aku percaya padamu. " Harap Selly, Selly mengagumi kak Dio sejak kami tingkat pertama kuliah, Dia suka pada pandangan pertama, saat kami sedang ada pengenalan dan orientasi Mahasiswa Mahasiswi baru. Kak Dio adalah ketua senat Mahasiswa. Aku mengangguk , kemudian aku keluar kelas. Asli aku kaget, ada yang menarik tanganku dengan kuat, otomatis aku ikut terseret orang itu. Kulirik sekilas orang yang menarik tanganku, penampilannya santai, kaos hitam, celana jin biru, kaca mata gelap serta memakai topi. Setelah kuperhatikan, oh my God, dokter Pramudya rupanya.
" Hari ini aku ingin menculikmu, dari tadi aku sudah menunggu saat yang tepat. Kamu ingin tahu bukan siapa yang sedang kamu cintai. " Dokter Pramudya membuka pembicaraan, Dia masih memegang tanganku dengan kuat.
" Eh...ga bisa begitu dong, Aku ada janji dengan seseorang. " Aku berusaha melepaskan pegangan tangannya.
" Kamu jangan sombong, sudah beruntung aku memilihmu. Banyak yang mengantri untuk naik di ranjangku. Hari ini kita akan bersenang-senang. " Astaga Aku berurusan dengan psikopat, Dia tersenyum smirk, aku berusaha tenang.
" Jangan kurang ajar dokter, aku bisa menendangmu dengan mudah. " Balasku kesal
" Sudah kuduga kamu gadis yang liar, kita lihat saja siapa yang menang. " Kami tanpa sadar sudah memasuki area parkir, aku berharap Paijo ada , tetapi nihil, Paijo tidak ada. Aku pasrah didorong masuk mobil sport milik dokter Pramudya. Sekali gas, mobil meluncur meninggalkan area kampus, tidak ada pembicaraan diantara kami. Mobil memasuki pintu gerbang rumah mewah di bilangan pondok indah. Dokter Pramudya tidak membukakan pintu mobilnya untukku. Dia hanya turun sendiri dari mobil.
" Cepat Reva turun ! " Perintahnya tegas. Aku masih cemberut kesal, terpaksa keluar dari mobilnya. Tanpa mengajakku, Dia berjalan memasuki rumah yang sangat mewah. Aku mengikutinya dari belakang.
" Anggap seperti rumahmu sendiri, tunggu sebentar, kamu mau minum apa ? " Tanyanya sedikit melunak. Aku duduk di sebuah sofa yang terkesan nyaman.
" By the way, untung dia tampan, mayanlah, dijadikan daftar dating. " Aku tersenyum lega.
" Minumlah, ini minuman penambah gairah, sedikit perangsang, bergizi tinggi, jus mangga kesukaanmu. " Hah, Dia tahu aku menyukai jus mangga.
" Kaget yah, Aku tahu seleramu, sudah kubilang, aku lebih dulu menyukaimu sebelum kamu meminta ijin tadi. " Dengan santai dia duduk di kursi ruang tamu, Dia sudah berganti kostum, celana pendek santai.
" Sekarang gimana ini, dok. Langsung aja atau aku perlu siap-siap , atau aku harus mandi dulu biar seger. " Tantangku , Dia melirikku sekilas.
" Kamar mandi ada di sebelah sana, peralatan mandi lengkap, ada bathrobe, lebih baik pake bathrobe biar gampang bukanya. " Hadeh, gimana ini, ko jadi beneran. Paijo tolong Reva dong, katanya kamu cinta banget denganku, kok kamu ga tau sekarang ini , aku dalam siaga satu ini. Aku senyum yang terpaksa.
" Eh..hari ini aku sedang datang bulan dokter, makanya mo pinjam kamar mandi. " Asli alasan yang tragis.
" Belum pernah ngrasain making love kalo sedang haid yah, sensasi loh. " Balasnya santai.
" Anda sedang bercanda kan dokter , jika tidak ada hal yang lebih penting, sebaiknya saya pulang. " Dokter Pramudya menatapku tajam, kemudian dia mengambil remote control, dia memencetnya, tiba-tiba ruang berubah, kami berada dalam sebuah kamar yang sangat luas. Jantungku semakin berdegup kencang, saat dia menghampiriku, mengelus pipiku, satu tamparan melayang diwajahnya, dia tersenyum kecut, dia meraba bekas tamparanku.
" Aku tidak akan segan-segan membuat dokter lumpuh. Aku pemegang sabuk hitam karate. " Kataku penuh amarah. Secepat kilat dia menarik pinggangku dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Nafasku mulai tidak beraturan, degup jantungku semakin terdengar, pandangan mata kami saling bertautan lama.
" Lepaskan aku , jika kau menyukaiku, jangan seperti ini. " Kataku sedikit gemetar.
__ADS_1
" Apakah seperti ini...cup dia secepat kilat mencium bibirku.
" Dokter, stop ! Aku berusaha melepaskan diri dari pelukkannya yang semakin erat.
" Diamlah dan nikmatilah, apakah ini pengalamanmu pertama kali ? " Tanyanya masih mengintimidasiku.
" Bukan urusan dokter untuk mengetahuinya. " Dia mendorong tubuhku jatuh diatas ranjang, menghimpitku semakin erat. Aku berusaha berontak tetapi tenagaku sebagai seorang perempuan tidak bisa melawannya. Aku semakin memberontak, dia semakin mencengkeram, Aku berteriak dan menangis.
" Aku membenci orang yang menangis, diamlah ! " Bentaknya. Dia melepaskanku kemudian memencet remote control, kami kembali di ruang tengah. Sekali lagi dokter Pramudya memencet remote controlnya, pintu terbuka .
" Pulanglah, permainannya telah berakhir. Sopirku akan mengantarmu pulang. " Katanya dingin, dia beranjak dari duduknya kemudian dia melangkah pergi meninggalkanku. Tidak beberapa lama datanglah seorang pemuda tampan menghampiriku.
" Saya akan mengantarkan anda pulang nona ! " Katanya datar, Dia berjalan keluar dari dalam rumah dan aku mengikutinya keluar menuju mobil sport warna metalic. Aku masuk kedalam mobil mewah ini.
" Apakah tuanmu, sering membawa wanita kerumahnya ?" Tanyaku memecah kebisuan.
" Saya tidak berhak memberitahu anda, itu privasi Tuan Pram. Anda bisa menanyakannya sendiri. " Jawabnya membuatku tidak bisa mengorek lebih dalam tentang dokter Pram.
" Apa kamu dibayar untuk tutup mulut ? " Kataku kesal. Sang sopir diam seribu bahasa.
" Kalian orang-orang yang menyebalkan, turunkan aku disini ! " Paksaku kemudian.
" Heh...Aku tidak pernah bertemu sebelumnya dengan tuanmu, bagaimana dia tahu alamat rumahku. Jangan berbicara sembarangan. " Balasku kesal
" Jalan delima no lima, rt 05/05, komplek G.." Sebut sang sopir.
" Tidak masuk akal, menyebalkan." Potongku kesal.
" Data anda sudah kami lacak, 4 jam yang lalu nona. " Kata Sang sopir tenang. 4 jam yang lalu, itu artinya, pada saat aku meninggalkan seminar dokter Pramudya. Astaga, sekaya apa sih dia, dengan cepat bisa melacak data pribadiku dengan cepat. Tiba-tiba sang sopir menginjak rem mobil, aku kaget.
" Ada masalah sedikit nona, sebaiknya anda tetap di dalam mobil. " Kata sang sopir , dia keluar dari mobil dan tidak lama kemudian terlibat perkelahian. Hadeh ,kok tambah runyam saja nasibku. Aku sedikit cemas ketika ada seseorang yang membuka pintu mobil.
" Sebaiknya anda keluar nona Reva ! " Perintah seorang lelaki bertopeng.
" Eh...kamu siapa ? " Tanyaku bingung.
" Sebaiknya nona ikut dengan kami, ini perintah mas Dio. " Katanya membuatku terkejut.
" Sebentar, ini mas Dio , mahasiswa kedokteran bukan ? " Tanyaku memastikan.
" Benar nona Reva. " Kak Dio ternyata mengikutiku. Aku keluar dari dalam mobil sport metalic, kulihat sang sopir dokter Pram, babak belur mengenaskan.
__ADS_1
" Sebentar, biarkan aku menolongnya , dia hanya ingin mengantarku pulang, kenapa kalian menganiaya mereka . " Aku mendekati sopir dokter Pramudya.
" Kamu harus di bawa ke rumah sakit, lukamu cukup parah. " Kataku penuh iba.
" Aku tidak apa- apa nona, sebentar lagi akan ada yang mengurusku. " Kata sopir dokter Pramudya.
" Aku pergi dulu ya, maaf telah membuatmu seperti ini karena kesalah fahaman . " Kataku melunak, Sopir dokter Pram hanya mengangguk hormat. Kak Dio bener- bener yah, main keroyokan , tanpa ditanya terlebih dahulu. Aku pergi meninggalkan sopir dokter Pramudya, mengikuti empat orang suruhan kak Dio. Kami naik mobil pajero sport warna hitam, mobil melaju cepat menuju sebuah gedung yang tinggi menjulang. Kami naik lift khusus , memencet tombol no 4, lift mulai bergerak naik menuju lantai 4, pintu lift terbuka, kami berhenti di depan pintu kantor. Setelah pintu terbuka, kulihat kak Dio duduk santai dengan kaki diatas meja direktur.
" Kalian boleh pergi ! " Perintah kak Dio pada anak buahnya.
" Kakak kerja disini ? " Tanyaku kemudian.
" Seperti yang kamu lihat, aku baru seminggu kerja disini, papiku yang mau pensiun , papi dan mami ingin berlibur keliling eropa. " Kata kak Dio tegas sambil menelisik penampilanku.
" Kakak ga ingin jadi dokter ? " Aku mulai penasaran.
" Aku ingin mengobati keluargaku sendiri tanpa ikut campur dokter lain, ilmu kedokteran sangat membantuku untuk mengatasi masalah kesehatanku, buat apa banyak harta jika kita dalam kondisi sakit. Kita bahas yang lain . " Kak Dio ingin mengalihkan pembahasan mengenai alasannya untuk kuliah di kedokteran.
" Kak Dio tahu aku bersama dokter Pramudya ? " Tanyaku mulai menyelidik.
" Kamu sudah tahu jawabannya,bukan ? tidak perlu lagi ada penjelasan. " Kak Dio masih berada di kursinya.
" Aku minta maaf karena itu, aku tidak mungkin berteriak dan aku juga tidak bisa melepaskan tangannya yang erat menggandengku. " Terang Reva.
" Aku melihatnya, aku juga tidak ingin membuat masalah di kampus, aku diam-diam mengikuti kalian. Jika dalam waktu lebih satu jam kamu tidak keluar dari rumahnya, sudah kupastikan , aku akan menghancurkan rumahnya, meskipun aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkannya, dokter Pramudya adalah pimpinan mafia. Kamu harus hati-hati dengannya, jika kamu sudah disentuhnya, itu artinya kamu sudah terkena racun buatannya. " Terang kak Dio membuatku terperangah.
" Reva, apakah kamu...oh my God. " Kak Dio mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dia selalu memberi racun pada gadis incarannya, jika dia membutuhkan gadis itu, maka dia akan memberi pesan, dengan ancaman racun yang telah diberikan. Dan penawar racun itu hanya dia yang punya penawarnya. " Badanku seketika lunglai dan terjatuh di lantai. Kak Dio beranjak dari duduknya, dengan cepat membantuku berdiri.
" Reva, are you okey ? " Kak Dio mulai cemas.
" Itu artinya aku tidak bisa lepas darinya , kakak tolong aku ! " Suaraku melemah.
" Percaya padaku, aku akan berusaha dengan caraku. Kamu hanya cukup bersabar. " Kak Dio menyakinkanku.
" Apa yang harus kulakukan , kak ? Aku sangat takut. " Pandangan mataku kosong.
" Kita akan cari cara lain, tenanglah ! " Ucap kak Dio menenangkan. Kak Dio mengajakku duduk di sofa . Kuambil ponsel dalam tasku. Kuperiksa notice wa ku.
Reva, selamat tidur yang nyenyak malam ini. lima belas menit dari kamu membaca pesan ini. Kamu akan tertidur, aku ada di lantai bawah kantor ini. Cepat turun kebawah !
__ADS_1