
Reva membuka matanya, dia masih dalam dekapan dr. Pram, dilihatnya wajah polos dr. Pram, dia semakin tampan batin Reva. Tiba-tiba dr Pram membuka matanya, sontak mereka saling pandang.
" Kenapa ? aku memang tampan , bukan ? " Tanya dr Pram sambil tersenyum.
" Iyah...kenapa kamu terlalu tampan, tetapi sayangnya kamu menyebalkan dan pemaksa . " Sunggut Reva sambil memalingkan wajahnya.
" Terkadang pemaksaan itu perlu dilakukan untuk mendisiplinkan seseorang, aku berhasil karena itu, manusia-manusia pembakang itu harus ditekan dan diberi pelajaran tanpa ampun. " Tutur dr. Pram berusaha melonggarkan dekapannya.
" Dan kau memperlakukanku seperti mereka ? apakah menurutmu aku sama dengannya, tuan flamboyan ? " dr. Pram terkekeh pelan, diusapnya rambut lembut Reva.
" Kamu lebih membangkang dari mereka, untuk itu aku lebih mengikatmu dengan erat dalam ikatan pernikahan, aku tidak mau si brengsek itu mengambil keuntungan dariku. " Kilat dingin di mata dr. Pram sangat mengerikan.
" Pernikahan itu tidak sah, tidak ada ijab qobul di dalamnya, dan aku belum menyetujuinya menikah denganmu. "
" Aku tidak peduli, yang terpenting ada bukti yang nyata bahwa kita menikah. "
" Aku akan membatalkan pernikahan itu. " Jawab Reva kesal.
" Dirga akan mengurusnya, wanita keras kepala. " dr. Pram bangkit dari tidurnya. Sinar matanya tajam penuh amarah.
" Aku tidak ingin menikah dengan seseorang karena obsesi, aku bukan barang, aku manusia, aku ingin dihargai, dan kamu datang , menginjak harga diriku. " Reva mulai berkaca-kaca, dan bulir air mata itu jatuh begitu saja, tiba-tiba dadanya sesak.
" Aku minta maaf jika perilakuku membuat harga dirimu terinjak-injak, aku lelaki kaku , aku tidak biasa membual dengan kata-kata, Kau tahu, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain dirimu secara intim seperti ini. " dr. Pram sedikit menurunkan egonya.
" Benarkah kamu menginginkanku ? " Reva memastikan perasaannya.
__ADS_1
" Untuk saat ini, iya, aku tidak percaya ada cinta , hubungan kita adalah hubungan yang saling membutuhkan sebagai manusia dewasa. " Satu tamparan melayang di pipi dr. Pram.
" Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergilah ! Aku bisa membesarkan anak ini sendiri, hubungan ini adalah kesalahan. Aku hanya akan hidup dengan orang yang mencintaiku, bukan seorang obsesion. " dr. Pram mengelus bekas tamparan di pipinya, dia terkekeh.
" Dan kamu akan menerima si bangsat itu, ingat selagi aku masih menginginkanmu, jangan berharap ada yang akan memilikimu, untuk saat ini kamu milikku, ingat itu ! " Tatapan matanya bagai iblis tetapi tidak membuat Reva bergidik ngeri.
" Kau gila, psikopat gila, bagaimana aku bisa menemukan orang sepertimu, oh my God. " Reva mengelus pelipisnya. Dia bangkit dari tidurnya. Dr. Pram dengan santai memakai baju piyamanya , dan terlihat sedang menelepon seseorang. Dia memperhatikan Reva yang memakai bathrobe nya dan tanpa bicara melangkah menuju ke kamar mandi. Beberapa menit Reva keluar dari kamar mandi dan mendapati dr. Pram yang sudah rapi dengan jas kerjanya. Reva tidak memperdulikannya, dia menuju lemari bajunya, mengambil baju setelan kaos oblong dengan celana pendek diatas lutut.
" Dirga akan mengurus perceraian kita. Menikah atau tidak , bagiku sama saja, aku akan tetap datang kesini, jika aku membutuhkanmu. " Kata dr. Pram dingin.
" Pergiii....! " Teriak Reva sampai bergetar, air mata Reva telah membanjiri wajahnya. Tanpa diduga dr. Pram memeluk erat dari belakang, menghadiahkan ciuman di tengkuk Reva yang terekspose nyata. Aroma mawar menyeruak, dan dr. Pram menyukainya, Reva memejamkan matanya , dadanya terasa sesak, dia berusaha melepaskan dekapan dr. Pram tetapi tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. Jemari jemari dr. Pram mulai menelusuri area dada Reva, Reva menegang, keluar ******* yang setengah mati ditahannya. Lelaki itu sangat piawai membangkitkan gairah Reva, dengan nafas yang memburu, dr. Pram menyikap baju atas Reva, Reva sudah lunglai dan pasrah menerima cumbuan dr. Pram. Beberapa menit kemudian mereka telah melewati pagi panas.
" Kita sama-sama menikmatinya . " Bisik dr. Pram yang tidur telentang disisi Reva yang mulai dibanjiri keringat dan kenikmatan. Reva tampak lebih kepayahan dengan perut buncitnya.
Sang surya sangat terik hari ini, hari ini Jesica sudah diperbolehkan pulang , Jesica lebih memilih tinggal di apartementnya dibandingkan tinggal di rumah mewah orang tuanya, ada dua pengasuh dan empat orang bodygard yang siap menemaninya.
" Bibi tolong tinggalkan saya sendiri . " Pinta Jesica, beberapa pelayanpun meninggalkan kamar Jesica setelah kepergian mommy Jesica. Jesica memandang keluar jendela apartementnya, dia sedikit terkejut melihat ada seseorang yang memanjat dinding kearah apartement di depannya. Seorang lelaki yang lengkap dengan pakaian polisi tengah mengendap endap balkom apartement di depan kamar Jesica. Jesica terus mengawasi lelaki yang berseragam polisi itu telah mengetuk pintu jendela kamar, pintu jendela dibuka seseorang dan polisi itu masuk melalui kamar itu. Beberapa kemudian terdengar suara pecahan kaca, seorang gadis muda dengan penuh amarah mendorong polisi itu keluar dari pintu jendelanya, Jesica tidak mendengarkan percakapan mereka, saat Jesica mengawasi mereka, mata Jesica bertemu dengan polisi yang tengah menatapnya sedikit terkejut. Jesica langsung berpaling , dia tidak ingin dicurigai sebagai penguntit.
" Hai buka jendela kamarnya ! " Jesica terperanggah ketika melihat polisi itu sudah di depan pintu jendela di kamarnya.
" Hai, apa kau gadis tuli, cepat buka pintunya ! ada yang ingin kutanyakan padamu , cepatlah aku tidak punya banyak waktu ! " Polisi itu tidak sabar. Jesica membuka pintu jendelanya dengan menggunakan remote kontrol. Pintu jendela terbuka, dan langsung saja polisi itu masuk ke dalam kamar Jesica. Jesica seperti terkena sihir, bagaimana mungkin Jesica membuka jendela itu dan membiarkan polisi yang sangat rupawan itu memasuki kamarnya.
" Lupakan yang pernah kau lihat untuk hari ini , aku adalah mantan dari gadis apartement di depan, hari ini dia memutuskan cinta kita, apakah kau mengenal gadis itu ? " Tanya polisi rupawan itu. Jesica menggeleng lemah.
" Berapa lama kau tinggal di apartement ini ? " Tanya polisi itu lagi.
__ADS_1
" Ada perlu apa,ya bapak bertanya seperti itu . " Jawab Jesica datar.
" Apakah kau melihat dia dengan lelaki lain selain aku ? " Cecar polisi itu.
" Lah, kenal aja ga pak, gimana mo tahu itu,pak . " Jawab Jesica kesal.
" Iya, iya aku tahu kamu ga kenal dia, tetapi apartement kalian kan deketan,kali aja kamu lihat dia dengan lelaki lain. " Polisi itu tetap memaksa.
" Aneh, saya tidak pernah mengurusi orang , pak. Urusan saya lebih banyak, saya pusing sendiri karena hidup saya penuh masalah. " Jesica mode ill feel.
" Nama kamu siapa ? " Tanya polisi itu tersenyum simpul.
" Ga punya nama . " Jawab Jesica ketus.
" Cantik-cantik ga boleh jutek loh, jauh jodoh nanti. " Polisi itu terkekeh.
" Bapak sudah dengan urusannya ? kalau udah, aku mo istirahat, ngantuk. " Jesica malas menanggapi polisi genit itu.
" Boong, ini masih sore, loh. " timpal pak polisi.
" Lah terserah gue, pak. mata mata gue, mo gue pejemkan apa tidak . " Jesica jengah.
" Dih, bahasa betawinya keluar, namaku Gilang pangestu bumi. Nomer teleponku 0812xxxcc. " Katanya santai.
" Sebentar, namamu siapa tadi , kayak familiar gitu. " Jesica penasaran.
__ADS_1
" Kenapa, apakah dulu kau termasuk cewek-cewek yang memujaku, memang sih aku ganteng, pinter, dan dulu pemain basket di SMA 16. " Jesica susah menelan.
" Jadi kamu , kak Gilang itu ? " Jesica menajamkan pandangannya, dan betapa bodohnya kenapa dia bisa melupakan raut wajah kakak kelasnya itu.