Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
part 6


__ADS_3

Kulangkahkan kakiku menuju gerbang kampus, biasanya ada yang menyambutku, meskipun terkadang ngeselin tetapi kenapa tiba-tiba aku merindukan sosok Paijo. Aku berjalan tanpa melihat kearah depan, karena sibuk merapikan buku tebal yang berada dalam rengkuhan tanganku. Aku menabrak seseorang di depanku.


" Maaf..! " kataku masih fokus dengan buku bawaanku tanpa melihat seseorang dihadapanku.


" Aku merindukanmu. " Ucap seseorang yang baru saja kutabrak. Aku sedikit terkejut, aku seperti mengenal suaranya, kulihat kearahnya, astaga, kututup mulutku, Paijo telah berdiri dengan tegapnya di depanku. Penampilannya seperti biasa, penampilan seorang tukang parkir.


" Kamu, darimana saja selama ini ? " Tanyaku spontan masih mode terkejut.


" Kangen yah ? " Kata Paijo sambil memasang senyum ngeselin.


" Aku...kangen ? ga kebalik . " Timpalku masih cuek sembari membenahi bukuku yang hampir terjatuh.


" Iya dech, Paijo yang kangen. Habis kuliah kita jalan yuk, yank. Di warung pinggir jalan langganan Paijo. " Katanya ramah seperti biasa.


" Sudah bosen makanan hotel bintang lima ? " Balasku ketus.


" Hooh, enak di warung mak markonah, sambil milih menu rakyat jelata. " Katanya santai, hari ini Paijo memakai baju casual warna hitam plus celana panjang navy warna coklat, lebih ganteng sih.


" Cewek yang kemarin, apakah sudah kamu campakkan ? " Selidikku.


" Cemburu yah, oh yang itu, itu adikku yank. Kalo ga percaya , mo dikenalin ga ? " Jawabnya santai tanpa dosa.


" Adik ketemu gede maksud kamu, perasaan kemarin mesra banget , masa sama adik sendiri begitu. " Timpalku sambil memperhatikan senyumnya yang memperlihatkan gigi-gigi gingsulnya.


" Aseek, ada yang cemburu, berarti ada kemajuan, sinyalnya mulai nyambung. " Balasnya masih dengan srnyum menawannya.


" Cemburu? Aku ? perasaanku tetep sama, meski kamu sekarang sudah jadi sultan sekalipun. " Bantahku masih memperhatikan tingkahnya yang bersedekap sok kegantengan, memang ganteng sih, sialan batinku.


" Perasaan mencintaikah ? jujurmu membuatku hepy, yank. " Godanya kepadaku yang membuat rona merah di wajahku.


" Kepedean asli, males aku sama cowok munafik, buat apa coba kamu sampai menyamar ? " Aku tidak terima .


" Siapa juga yang nyamar , yank. Aku memang suka melakukan semua pekerjaan ,itung-itung olah raga, Yank, bahkan terkadang Paijo manggul beras di pasar. Bosen , yank kerja di kantor. " Jawabnya membuatku sedikit terperanggah.


" Aneh.." Kataku singkat.


" Aneh yah nemu cowok sekeren Paijo, tidak sombong dan baik hati. Bisa hidup susah, meski aslinya terbiasa hidup seneng. " Balasnya enteng.


" Sekarang aku sudah tahu bahwa selama ini kamu hanya berpura-pura menyukaiku , kan ? Kamu sengaja bikin aku baper yah, setelah itu kamu akan tinggalin aku. " Pikirku kemudian


" Oh.. yang jutek itu,ternyata lagi baper yah . " Ngomong sama Paijo ga pernah menang, asli ngeselin.


" Minggir...gue ada urusan lain. " Aku lebih baik meninggalkannya. Mulai sekarang aku harus menghindarinya , Aku takut baper beneran dan sakit saat sudah sayang , eh ga tahunya di ghosting.

__ADS_1


" Hari ini aku free yank, kutunggu yah di sini ! " Teriaknya , sementara aku terus melaju meninggalkannya. Saking fokusnya berjalan, aku tidak menghiraukan kak Dio yang menegurku.


Aku terlambat lima menit gara-gara menanggapi obrolan si Paijo. Kuketuk pintu ruang kuliah.


" Masuk.. ! " Sahut Dosen di dalam ruang kelas. Suaranya kok tidak asing, deg ..itu kan suara dokter Pram. Aku membuka pintu, pandangan kami berpadu, tatapannya masih dingin.


" Terlambat lima menit tiga puluh sembilan detik. Temui saya di laboratorium kimia habis kuliah. " Katanya tegas..deg...jantungku mo copot seketika. Aku mengangguk, kemudian duduk disamping Marsel. Selama mengikuti materi kuliah, aku jadi tidak konsentrasi. Waktu terus berjalan dan tanpa terasa dua jam telah berlalu. Dokter Pramudya telah meninggalkan ruang kuliah kami.


" Tumben kamu terlambat ? " Bisik Selly yang duduk di bangkunya.


" Gara-gara ketemu si Paijo. " Balasku singkat sambil duduk di bangku dekat Selly.


" Memang Paijo sudah kembali ?" Tanya Selly bingung.


" Lah, memang kamu lewat mana? Ada kok ditempat parkir. " Kataku memastikan.


" Tadi aku parkir mobil seperti biasa, kok, tetapi bukan Paijo tukang parkirnya, makanya aku aneh kamu bilang jika ada Paijo. " Tutur Selly masih bingung.


" Hemm...Dilarang membicarakan hal yang tidak penting di ruang ini. Saya akan memulai materi kuliah hari ini. Diharap tenang !" Kata dr. Pram tegas dan dingin. Seperti biasa , aoura dinginnya begitu menakutkan. Suasana hening tanpa ada yang saling berbisik. Satu jam tiga puluh menit tepat dr. Pram mengakhiri materi kuliahnya. Tanpa permisi dengan angkuhnya meninggalkan ruang kuliah. Jantungku tiba-tiba mulai berdetak tidak karuan, perasaan cemas dan sedikit ketakutan menggelayuti hatiku saat ini, tenang Reva, dalam menghadapi monster ganteng itu harus tenang batinku sambil menarik nafas beberapa kali untuk menetralkan perasaanku.


" Aku pergi dulu Sell, takut ada yang ngamuk karena menungguku lama. " Aku bergegas memasukkan semua bukuku dalam tas punggung. Langkah kakiku sedikit terburu-buru, sesuai kesepakatan, Aku menemui dokter Pramudya di lab kimia pribadinya. Dengan sedikit keraguan , aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu lab kimia dr.Pramudya, yang berada terpencil diantara ruang yang lainnnya.


" Silahkan masuk ! " Perintahnya dari dalam ruangannya, Kubuka pintunya perlahan, aku masuk dengan canggung, dia tidak melihat kedatangaku, jari-jarinya tengah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, tanpa melihatku. Aku duduk di atas sofa, tanpa meminta ijinnya, sengaja akuemilih tempat agar berjauhan darinya, jantungku semakin bergemuruh kencang. Kulihat dokter Pram melepas kaca matanya, melepas jasnya, Dia memakai kaos casual warna hitam, otot-otot lengannya terpampang jelas, ya Tuhan, Dia semakin menarik. Beberapa menit suasana hening, Dia meletakkan ponsel pipihnya di meja kerja, Dia sesaat memandangku dengan tatapan dingin, Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya, perlahan kaki-kaki jenjangnya mulai bergerak mendekatiku, dan tanpa bersuara dengan santainya duduk disampingku, merapat tanpa jarak.


" Aku tidur 8 jam sehari, makan tidak ada masalah, aku selalu menghabiskan waktu dengan belajar, so i am fine." Jawabku berusaha tidak gugup. Dia masih menatapku tajam.


" Dan melupakanku ? " Tanyanya penuh selidik.


" Tidak ada yang spesial untuk dikenang, karena anda adalah orang asing bagiku. Anda yang menginginkannnya, bukan ? " Ada rasa ngilu dihati. Secepat kilat dokter Pram mencium bibirku tanpa kusadari, ********** dengan rakus. Aku tidak bisa menolaknya, aku menikmatinya, dan berusaha membalasnya. Beberapa menit kami tenggelam dengan ciuman panas. Hingga akhirnya ciuman kami terhenti, ketika kami sama-sama kehabisan oksigen.


" Setelah ini, tidurmu tidak akan pernah nyenyak, Reva. " Katanya sembari tangan kekarnya mengelus pipiku. Mataku mulai berkaca- kaca dan bulir bening di pelupuk mataku mengalir, rasa sesak di dada mulai terasa.


" Apakah kamu bahagia, dokter ? Bahagia melihat orang lain tersiksa. " Kataku dengan tangis.


" Jangan mencintaiku, Reva. Aku tidak bisa mencintai orang lain, Aku menciummu untuk memastikan perasaanku, ternyata tidak ada yang istimewa. Hambar , Reva." Kata dokter Pram berdusta.


" Jika tidak ada kepentingan yang lain, sebaiknya saya pergi, dokter. " Kataku dan bersiap untuk beranjak pergi. Dokter Pram menarikku, memegang daguku, kemudian kembali memagut bibirku, dia terus melumatku, sementara aku masih menangis menahan pedih. Aku pasrah ketika dia merebahkan tubuhku diatas sofa, menindihku perlahan, membuka kancing-kancing bajuku, Aku seperti terhipnotis, membiarkan dia terus menyentuh dan mencium bagian-bagian sensitif tubuhku. Aku hanya sesekali mendesah dan terus menikmati sentuhanya. Dan ketika Dia sudah ingin melakukan penetrasi, seketika, otakku tersadar.


" Stop...dokter...Kataku melemah. Dia menatapku dan menghentikannya.


" Bukankah tubuhmu menginginkannya , Reva. " Katanya pelan.


" Ini kesalahan. " Kataku sembari mendorong tubuh polosnya. Kurapikan bajuku, Aku tidak berani melihat tubuh polosnya . Aku sendiri merasa sangat malu. Setelah rapi bajuku, aku beranjak untuk pergi dari ruangannya. Kubuka pintu lab Kimia, Dan ada seseorang yang menarik tanganku. Aku baru tersadar Paijo sudah menggandeng tanganku, Dia hanya diam dan terus membawaku pergi. Kami pergi menaiki motor matic, tidak ada pembicaraan, motor matic terus melaju membelah jalan raya. Sampai pada akhirnya kami telah sampai di tempat makan lesehan. Ada gamelan jawa yang mengiringi , ada gemercik air mancur, ada suasana tenang dan nyaman.

__ADS_1


" Kamu pasti lapar kan ? Kamu bisa memesan menu kesukaanmu, yank. " Kata Paijo membuka pembicaraan. Kami duduk di lesehan berhadap- hadapan.


" Terima kasih, tapi aku tidak lapar. " Jawabku lemah. Paijo memandangku sejenak.


" Kamu membutuhkan energi untuk menangis seharian, jika tidak ada makanan yang masuk, bagaimana kamu mampu menangis. " Kata Paijo penuh perhatian.


" Aku bilang aku tidak lapar . " Kataku sedikit meninggi.


" Hanya karena bajingan itu kamu sesedih ini...ck..ck...apakah kamu benar-benar menyukainya ? " Kata Paijo kesal.


" Apa urusanmu ? menilaiku seperti itu. " Balasku sinis


" Reva, lihat aku. Hanya aku yang tulus mencintaimu. Hanya aku yang akan memperdulikanmu, bukan bajingan itu. " Paijo terlihat marah.


" Aku tidak ingin berdebat, aku lelah Paijo, mengertilah ! " Kataku melemah


" Kamu diam saja, biar aku yang menyuapimu, jika kamu malas untuk makan. " Paijo bersikukuh memberiku makan , Dan pada akhirnya aku menyerah, Aku makan sup iga sapi tanpa nasi. Bener kata Paijo, Aku harus makan , karena setelah aku pulang dari rumah makan ini, aku akan menangis seharian.


Di sebuah laboratorium , Dokter Pram duduk terdiam. Perasaannya campur aduk, disisi lain dia tidak ingin terikat dengan perasaan cinta, tetapi di sisi lain , ada perasaan cinta yang telah mengusiknya. Tidak pernah sedikitpun terprogram di otaknya, untuk mencintai seseorang. Sebulan penuh Dia mencoba menghindari Reva, dan ternyata dia semakin tersiksa, selalu Reva yang ada di otaknya, dia semakin tidak bisa menahan rindu.


" Dirga, jemput aku sekarang, kita akan pergi keluar kota. " Kata dokter Pram by phone. Dia memutuskan untuk berlibur di sebuah pulau terpencil, di bilangan sumatra utara. Dia ingin menghabiskan waktunya untuk menikmati pemandangan di dasar laut. Dia menyukai pantai dan terkadang berselancar disana. Sambil menunggu Dirga, Dia sibuk dengan membuat formula farhum wangi bunga lily, farhum yang selalu dipakai Reva. Hanya menghirup farhum itu, dia merasa sudah dekat dengan Reva, seperti yang dikatakannya , cinta itu membuat orang menjadi bodoh dan tidak bisa berfikiran secara logis, dan itu yang membuatnya selalu kesal. Setelah menunggu setengah jam, Dirga muncul, Dirga memberi hormat.


" Maaf Tuan, ada beberapa meeting penting yang harus Tuan hadiri , seminggu penuh, apakah anda yakin ingin membatalkannya ?" Tanya Dirga kemudian


" Atur jadwal ulang, mereka tidak akan berani membatalkan kesepakatan yang telah ada, mereka membutuhkan kita, tenang saja. " Katanya enteng sambil bersiap untuk pergi.


" Anda sangat berubah semenjak anda memutuskan mengajar disini, apakah anda menyukai nona Reva ? " Tanya Dirga memastikan. Dia melirik Dirga sekilas.


" Aku tidak tahu, Dirga. Sebaiknya kita pergi, aku butuh liburan. " Katanya tenang sambil berjalan meninggalkan ruang Lab kimia bersama dengan Dirga.


" Tadi non gisella menghubungi saya, katanya besok dia akan datang, bagaimana Tuan ? " Dirga melontarkan pertanyaannya, sambil terus berjalan mengikuti tuannya.


" shitt..kenapa mendadak sekali, sekarang hubungi dia, katakan bahwa aku ada pertemuan penting yang tidak bisa ditunda. " Kata dr. Pram sedkikit kesal.


" Mommy anda yang memaksa non gisella untuk cepat datang Tuan. " Kata Dirga membuat dokter Pram semakin pusing , dokter Pram memijat kepalanya.


" Biar aku yang bicara dengan mommy, kamu urus wanita itu. " Kata dokter Pram .


" Baik, Tuan. " Ucap Dirga dan langsung menghubungi Gisella.


" Bagaimana ? " Tanya dokter Pram memastikan.


" Nona gisella tetap ingin datang, tidak masalah jika kita tidak menjemputnya. " Kata Dirga pelan.

__ADS_1


" Sekarang kita pergi, kamu sudah membawa semua perlengkapan kita bukan ? " Kata dokter Pram sambil melepas jasnya. Dia mengambil farhum lily yang baru selesai dibuatnya, Dokter Pram memakai baju casual warna krem , celana jins warna gelap dan tidak lupa memakai topi. Setelah semuanya siap, mereka meninggalkan ruang laboratorium. Langkah kaki mereka cepat sehingga menarik perhatian bagi siapa saja yang melihat dan berpapasan dengan mereka.


__ADS_2