
Dokter Pram turun dari tangga pesawat pribadinya bersama Dirga. Mobil sport metalic telah terparkir indah di halaman pacu pesawat. Dokter Pramudya memakai baju casual hitam berlengan pendek, memakai kaca mata hitam, memakai sepatu boot dari kulit sapi berkualitas tinggi, langkah kakinya tenang, mendekati mobil sport yang terparkir.
" Aku sendiri saja, kamu langsung saja ke kantor, aku hanya ingin berjalan-jalan mencari udara segar . " Kata dokter Pram pada Dirga sebelum masuk ke dalam mobil. Dirga mengangguk hormat. Dokter Pram masuk ke dalam mobil, dan secepat kilat dia meninggalkan halaman pacu pesawat pribadinya. Sudah hampir sebulan Dia meninggalkan kota Jakarta. Dokter Pram menghentikan mobilnya di sebuah kedai coffee dengan bangunan tradisional. Langkah kakinya berhenti pada sebuah kursi yang terletak di balik jendela. Dia duduk disana dan memesan kopi hitam tanpa gula, roti panggang isi daging rusa. Tidak lama pelayan menyiapkan menu kesukaannya. Dihirupnya wangi aroma kopi hitam kemudian disesapnya perlahan.
" Permisi , Tuan anda menempati tempat duduk saya . " Sapa seseorang dari belakang dokter Pram . Dokter Pram menoleh kebelakang, dan pandangan mereka bertemu, ada keterkejutan diantara mereka. Reva menutup mulutnya dengan telapak tangan, jantungnya mulai berdetak kencang. Reva mundur dan secepat kilat berlari keluar coffee , Reva tidak melihat lagi orang di depannya, tubrukkan terjadi, tubuh Reva oleng karena menabrak seseorang, tetapi untungnya seseorang itu dengan sigap menangkap tubuh Reva.
" Anda tidak apa-apa nona Reva. " Kata seseorang yang tersenyum pada Reva.
" Kak Bagas.." Lirih Reva yang masih berada dalam rengkuhan pria kekar itu. Pemandangan itu disaksikan dokter Pram yang berhenti mengejar Reva dan berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdua.
" Maaf kak Bagas. " Reva bangun dari rengkuhan Bagas.
" Apa yang terjadi denganmu, Reva ? "
" Ti..tidak terjadi sesuatu, oke. Aku hanya teringat ada yang harus kuurus , makanya aku berlarian . " Reva masih terengah-engah.
" Oke, sekarang gimana, kamu mau kemana, biar kakak antar ! " Tawar Bagas kemudian.
" Tidak perlu kak, aku bisa naik bus. Aku ingin mampir ke tempat Selly temanku dulu, udah dulu ya kak. " Reva bergegas secepatnya, Bagas hanya memandang kepergian Reva tanpa bisa mencegahnya. Bagas berjalan kearah mobilnya dan melajukan mobil itu ke arah jalan raya.
" Aku bukan hantu, tidakkah kamu merindukanku ? " Bisik seseorang yang sudah memegang pinggang Reva dengan sebelah tangannya. Mata Reva terbelalak kaget setelah mengetahui siapa yang sudah menarik pinggangnya dengan erat. Dokter Pram menatapnya dingin.
" Lepaskan ! Biarkan aku pergi, bukankah sebentar lagi kamu akan menikah ? " Reva meronta ingin lepas.
" Kau tidak bisa melarangku, karena takdir menemukan kita berdua, kau pikir aku datang kesini karena sengaja untuk berjumpa denganmu, aku memilih tempat ini karena aku berpikir tidak mungkin aku berjumpa denganmu, tetapi apa kenyataannya, kamu seperti terus mengiringi langkahku. " Kata dokter Pram tegas.
" Aku akan pergi, dokter, biarkan aku menjalani hidupku tanpa ada bayangan darimu lagi, kita memiliki kehidupan masing-masing, anda akan menikah dan anda harus menjadi suami yang baik buat istri anda. "
" Sudah pidatonya, semakin hari semakin pinter berbicara, cepat masuk ke dalam mobil ! " Kata dokter Pram sambil membuka pintu mobil untuk Reva. Reva terpaksa menurut dan masik ke dalam mobil.
" Pasang seat beltmu, aku akan mengendarai mobil dalam kecepatan yang tinggi ! " Perintah dokter Pram.
__ADS_1
" Pemaksa . " Kata Reva cemberut.Dokter Pram tidak menghiraukan perkataan Reva, Dokter Pram hanya fokus dengan mengendarai mobil, mobil melesat cepat meninggalkan parkiran kedai coffee. Mobil memasuki altar apartment di bilangan jakarta selatan. Mereka berdua keluar dari dalam mobil, memasuki apartment dengan ruangan yang luas.
" Kau mau minum apa ? " Tanya Dokter Pram setelah masuk ke dalam ruang tamu.
" Aku tidak haus. " Jawab Reva singkat.
" Aku akan membuatkanmu jus jeruk. Tunggu sebentar !" Dokter Pram berlalu dan meninggalkan Reva yang duduk di sofa. Reva menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-perlahan, untuk mengurangi kegugupan.
" Minumlah , kamu terlihat sangat tegang." Dokter Pram memberikan jus jeruk dingin. Reva menerimanya dan meneguknya pelan.
" Sekarang apa yang anda inginkan, aku ingin cepat pulang, ada papa di rumah. " Dokter Pram duduk dekat Reva.
" Nanti kita ketemu papamu, aku akan melamarmu. " Bisik dokter Pram. Reva terkejut.
" Ini serius, jangan ngomong sembarangan dokter. "
" Aku tidak main-main, jika kamu ijinkan aku akan melamarmu sekarang juga, resepsi kita jadikan di hari yang sama, besok hari minggu. " Jawab Dokter Pram enteng.
" Kenapa kamu bilang seperti itu, Reva. Aku ingin mengikatmu dalam suatu pernikahan. "
" Bagaimana dengan nona Gisella ? "
" Dia sehat dan sangat bahagia karena akan menjadi istriku yang pertama. "
" Dan aku akan kamu jadikan istri yang kedua, maksudmu ? " Reva penasaran.
" Kamu istri yang akan menemaniku di ranjang, kita akan melakukannya sepanjang malam. "
" Anda benar-benar tidak waras dokter, anda mempermainkan perasaan wanita. "
" Reva, sudah kubilang, aku tertarik denganmu, entah mengapa aku ingin sekali bercinta denganmu, di dekatmu, rudalku selalu tegak berdiri, coba kamu lihat !" Dokter Pram menunjuk kearah alat vitalnya yang menonjol di balik celana panjangnya. Reva melengos kearah lain, rona wajahnya terlihat jelas.
__ADS_1
" Anda tidak sopan. " Kata Reva ketus. Dokter Pram tertawa.
" Reva, apakah kamu tidak merindukanku ? " Dokter Pram semakin mendekati Reva.
" Apakah pantas kamu dirindukan dokter ? "
" Gisella selalu mengirim pesan di wa ku, dia selalu mengatakan rindu padaku dan mencintaiku. Gadis itu seperti orang gila mengejarku. "
" Kenapa dokter tidak menyukainya, dokter tidak butuh cinta untuk bercinta,bukan ? "
" Aku tidak tertarik dengan wanita itu, aku tidak ingin wanita itu menyentuhku, tidak semua wanita kuijinkan untuk menyentuh tubuhku yang berharga ini. "Kata dokter Pram
" Kenapa anda menikahinya dokter, anda keterlaluan. "
" Aku menikah karena keinginan mommy, aku tidak ingin melihat mommy sedih, aku sangat menyayangi mommy. "
" Tetapi kamu menyakiti perasaan wanita, dokter, itu sangat menyakitkan. " Reva mulai berkaca-kaca.
" Seharusnya wanita itu menanyakan perasaanku dulu, dia hanya terobsebsi dengan hartaku, dia tidak peduli dengan perasaanku. Jadi kenapa aku harus memperdulikan perasaannya ? "
" Tetapi dia menyukai dan mencintai dokter . "
" Apakah aku harus melarangnya, kita tidak berhak melarang seseorang untuk menyukai dan mencintai kita, itu hak mereka, Reva. Itu diluar keinginan kita, itu perasaan mereka. "
" Setidaknya jika dia mencintai kita dan kita bisa menolaknya, dokter. Karena kita akan menyakiti perasaannya. "
" Aku menyukaimu , Reva. " Dokter Pram sudah tidak tahan untuk ******* bibir mungil Reva yang sejak tadi menguji imannya. Reva sedikit terkejut, tetapi Reva juga menginginkannya, Reva membalas ciuman yang semakin menuntut. Pandangan mata mereka bertemu diiringi ******* bibir yang saling menuntut dan menyesap.
" Ah...dokter...." Reva mendesah pelan saat dokter Pram memainkan bagian dada Reva yang menonjol dan mengeras, tangannya sangat terampil sehingga Reva mengeliat meresapi kenikmatan.
" Reva...kau sangat menggodaku, sayang. " Dokter Pram mulai membuka kancing-kancing bajunya , dadanya yang sedikit ditumbuhi bulu halus terekspose , Reva mengelusnya perlahan. Dokter Pram mengerang hebat saat Reva berhasil memainkan rudalnya yang sudah tanpa penutup. Mereka sama-sama memberikan kepuasan tanpa harus melakukan penetrasi.
__ADS_1