
Kak Dio menatapku tajam, wajahku pucat pasi setelah membaca pesan dari dokter Pramudya.
" Something happened, apakah itu pesan dari dia ? " Kak Dio mulai menyimpulkan, aku mengangguk lemah. Kak Dio langsung merebut ponselku , kemudian membaca pesan yang tertera. Kak Dio memijat pelipisnya, berusaha untuk mencari solusi.
" Bagaimana ini kak , aku takut ? " Kataku diiringi kecemasan yang tinggi
" Kita akan turun bersama, aku ada disampingmu oke. " Kak Dio berusaha menguatkanku. Aku dan kak Dio keluar dari ruang kerjanya, kami menaiki lift khusus. Beberapa menit kami telah sampai di lantai dasar. Pintu lift terbuka, kami keluar dari lift, kulihat dokter Pramudya bersedekap dengan pandangan mata membunuh.
" Apa perlu aku merubuhkan gedung ini secepatnya ? Berani sekali kamu menganiaya sekrestarisku. " Kata dokter Pramudya penuh emosi. Kak Dio hanya tersenyum sinis.
" Kau membawa wanitaku dokter, itu kesalahan terbesarmu. " Balas kak Dio
" Ck...ck...Kau lelaki pembual. Reva wanita bebas, tidak sedang terikat dengan siapapun. " Dokter Pramudya menimpali santai.
" Maaf, ini sudah terlalu malam. Sebaiknya saya pulang, saya takut orang tua saya sedang mencari saya. " Aku memberanikan diri bersuara.
" Pikiranku berubah, Aku akan membawamu pergi dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang. " Dokter Pramudya membalasnya.
" Aku akan mengantar Reva pulang ! " Kak Dio berkata spontan. Dokter Pramudya tersenyum sinis.
" Apa kamu tidak sayang dengan nyawamu, bocah. Hari ini aku sedang tidak ingin mengotori tanganku dengan darah, pergilah ! kali ini aku membiarkanmu pergi. Ada urusan yang lebih penting yang harus kukerjakan. " Dokter Pramudya mendekati kami, tanpa basa basi menarik tanganku, sementara kak Dio tidak bisa berbuat banyak dan membiarkanku pergi.
" Aku bisa jalan sendiri dokter,lepaskan tanganku, banyak orang yang melihatnya, aku seperti wanita yang tertangkap basah karena selingkuh. " Cerocosku tetapi dokter Pramudya tidak menghiraukannya. Kami keluar dari gedung kantor kak Dio menuju mobil sport dokter Pramudya. Tentang perasaanku , aku tidak tahu, jujur aku suka karena banyak lelaki tampan yang menginginkanku, tetapi yang pasti kedepannya, aku mungkin tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku masuk kedalam mobil dokter Pramudya, duduk disamping kemudi. Dokter Pramudya fokus kedepan, mobil bergerak cepat meninggalkan parkiran Perusahaan kak Dio. Tidak ada pembicaraan , kami sama-sama dalam pikiran masing-masing, Sekitar setangah jam mobil memasuki halaman hotel mewah dibilangan jakarta pusat. Aku semakin gelisah, kenapa dokter Pramudya membawaku ke hotel, pikiran negatif berkecambuk di dalam pikiranku. Kami memasuki lobby hotel, pandangan mataku tidak sengaja melihat sosok yang aku kenal, tetapi itu tidak mungkin Paijo, masa Paijo sekeren itu, memakai jas hitam mahal. Ada gadis cantik yang tengah bergelayut manja di lengan yang mirip Paijo, kok aku merasa tidak enak melihatnya. Tanpa sengaja pandangan mata kami tertaut, secepat kilat pandangan yang mirip Paijo beralih ketempat lain.
" Hem...kamu sedang memperhatikan tukang parkir itu ? " Bisik dokter Pramudya. Aku sedikit terkejut.
" Dia lelaki munafik, menyamar jadi tukang parkir...ck..ck..." Kata dokter Pramudya membuatku terperangah, jadi itu beneran si Paijo.
" Bagaimana dokter tahu dia adalah si Paijo ? " Tanyaku penasaran.
" Kamu meragukan kemampuanku ? Pertama kali aku jumpa dia di tempat parkiran kampus, Aku sempat terkejut kenapa dia menyamar sebagai tukang parkir di kampus. " Terang dokter Pramudya.
" Sebenarnya dia siapa dokter ? " Tanyaku penasaran.
" Namanya zacky pamungkas, pemilik hotel ini. Selain itu dia memperjual belikan senjata di berbagai negara. Ketua mafia Rangger. " Aku sangat shock mendengar penuturan dokter Pramudya tentang Paijo.
" Dokter, anda sedang tidak membuat berita hoax, kan. " Dokter Pramudya menoyor kepalaku.
" Sudah tidak usah memperdulikan dia, lebih baik kita ke lantai paling atas, aku ada saham disini. " Kata dokter Pramudya yang masih menggandeng tanganku menuju lift khusus.
Sementara disisi lain ada sebuah percakapan.
" Sejak kapan Reva berhubungan dengan Pramudya ? Kalian bekerja tidak becus. " Satu tendangan melayang di perut anak buah nya. Mata Zacky memerah menahan amarah.
__ADS_1
" Maaf Tuan, dokter Pramudya, tidak mudah untuk dilumpuhkan, dia memiliki racun yang mematikan dengan hanya melalui usapan. Kami sangat takut Tuan, jika saya merebut paksa nona Reva, saya kawatir dokter Pramudya akan menyakiti nona Reva. " Terang anak buah Tuan Zacky.
" Hah...kurang ajar dia , akan aku hancurkan markasnya. Kelvin, kamu siapkan bom terbaik. " Perintah Tuan Zacky.
" Bagaimana dengan nona Reva , Tuan ? " Tuan Zacky mengacak acak rambutnya sebagai rasa kesal yang berlebihan.
" Kamu awasi mereka, meskipun kita sulit menembus ruangannya. Dia terlalu genius dan cerdik. " Perintah Tuan Zacky dengan kecemasan yang tinggi.
Dokter dan Reva telah sampai di lantai paling atas hotel . Ruangan yang sangat lux, dengan dekorasi eropa. Reva sesaat tertegun, melihat pemandangan yang serba mewah.
" Apakah kau menyukainya ? " Tanya dokter Pramudya. Aku mengangguk menandakan setuju.
" Jika aku sedang tidak ada pekerjaan, akan kuhabiskan waktuku disini. " Kata dokter Pramudya sembari duduk di atas kursi tamu.
" Apakah dokter tidak pernah memiliki seorang kekasih ? " Tanyaku dengan hati-hati. Dia hanya tersenyum hambar.
" Aku tidak menyukai keterikatan dengan atas nama cinta. Cinta membuat orang terlihat bodoh dan lemah. " Katanya datar sambil duduk di atas sofa.
" Tidak adakah seseorang yang menyukaimu , dokter ? maaf . " Kuberusaha mengorek keterangan darinya.
" Kamu pikir,orang setampan saya ini tidak ada yang menyukai ? "Dia balik bertanya.
" Aku yang menyakiti mereka, wanita tidak ada artinya. Aku membutuhkannya saat aku ingin memenuhi nafsu biologisku. Aku belum pernah berhubungan dengan wanita. Aku pemilih, yang jelas mereka harus bersih, sehat dan belum pernah ditiduri oleh lelaki lain. " Dokter Pramudya menatapku tajam dan itu membuatku tidak nyaman.
" Dan itu artinya dokter tidak akan menikah ? " Pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulutku.
" Dan anda menyukai dengan kesendirian ini ? " Tanya Reva dengan penuh kehati-hatian.
" Malam ini aku tidak ingin sendiri, aku sengaja membawamu kesini, untuk menemaniku. Jika kamu suka dengan ketampanku, badanku , kita bisa melakukan apa yang kamu inginkan. Biasanya mereka yang menginginkan di hangatkan di ranjang, bukan aku. " Katanya terus terang membuat rona merah di wajahku.
" Tetapi sepertinya kamu tidak tertarik denganku , kamu menamparku ketika kucium. Jujur aku tidak pernah mencium duluan, biasanya mereka yang antusias untuk menciumku tetapi mereka tidak mendapatkan ciuman itu. " dr. Pram mulai memainkan jari-jari tangannya untuk peregangan.
" Dan apakah anda marah ketika kutampar dokter ? " Tanyaku kemudian.
" Seharusnya aku mematahkan tanganmu, tetapi aku urungkan niatku karena mengingatmu adalah wanita baik-baik, jika kamu sering mendapatkan ciuman dari lelaki lain, aku sudah membuatmu buntung. " dr. Pram berdiri dari duduknya dan melangkah menuju jendela, pandangan mata sang dokter menembus lalu lalang kendaraan beroda dua atau roda empat, berjejer berbaris saling beriringan di malam yang kelam.
" Bagaimana anda mengetahuinya, dokter ? " Aku sedikit terperanggah.
" Aku mempunyai banyak mata, telinga, dan termasuk siapa saja yang mencintaimu. Aku mengetahuinya semuanya. " Balasnya masih dengan pandangannya diluar sana.
" Bagaimana dengan anda, dokter? Apakah anda menyukai saya atau anda sengaja ingin balas dendam ? " Reva berusaha menyelidik.
" Aku tidak tahu, hanya saja aku butuh teman ngobrol malam ini. " dr. Pram berbalik dan mulai melangkah mendekatiku.
__ADS_1
" Aku akan menghubungi orang tuaku terlebih dulu,aku takut mama akan mengkhawatirkanku. . " Aku mencoba membuka tasku untuk mengambil ponsel pipihku.
" Orang suruhanku telah datang kerumahmu, dan orang tuamu mengijinkanmu untuk pergi bersamaku. Semua sudah diatur, tenang saja." Kata dokter Pramudya membuatku sedikit tenang, lalu aku mengurungkan niatku untuk mengambil ponselku.
" Sepertinya anda terlihat tidak bahagia, anda seperti kesepian, meskipun anda dilimpahi harta , hidup anda sangat hampa. " Aku berbicara dengan hati-hati.
" Sok tahu kamu, Aku menikmati hidup, aku bisa berbuat apa saja, membeli apa saja yang kuinginkan. " Dan dia sudah berada di depanku, selangkah lagi kami saling berdekatan.
" Tetapi anda tidak memiliki cinta, memiliki seseorang yang akan mewarnai hari-hari anda, dokter. " Intrupsiku tenang.
" Sudah kukatakan aku tidak memerlukan cinta, mereka yang datang mencintaiku, menangis dan mengemis cinta dariku. Mereka yang butuh, tetapi aku tidak." Katanya dingin.
" Baiklah, jika itu yang menjadi keputusan dokter,lakukan jika dokter senang ? " Reva berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai tidak beraturan, Reva mengakui bahwa dr. Pram sangatlah sempurna, memiliki warna bola mata hitam, bibir tipis, kulit putih bersih.
" Benarkah kamu akan melakukan sesuatu padaku untuk membuatku senang ? " Tawarnya membuatku bertanya-tanya.
" Apa maksud, anda dokter ?" Debaran jantungku terdengar kencang, dr Pram tersenyum lembut.
" Jantungmu tidak pandai berbohong, dalam detaknya terdengar sangat kuat, jantung itu menginginkan sesuatu yang menyenangkan dan menegangkan,marilah ! " Jari tangan dr. Pram mencoba menjangkau wajahku, mengusap pipi kiriku yang mulai merona.
" A...apa yang ingin anda lakukan ? " Aku mundur darinya, tetapi jari telunjuk itu sudah berhasil turun untuk mengusap bibirku.
" May i do ...bisiknya ditelingaku ! " Tawarnya, sementara aku tidak bisa berkuitk, terdiam terhipnotis.
" No...dokter.." Secepat kilat dokter Pramudya telah berhasil memagut bibirku dengan rakus, mataku melotot karena terkejut dan tidak bisa menghindarinya. Aku terpaku setelah beberapa menit menerima ciuman dokter Pramudya.
" Kali ini sudah cukup permainannya. Mungkin dilain waktu kamu bisa belajar membalasnya . " Katanya santai setelah melepaskan pagutannya.
" Kamu merendahkanku , dokter. Aku tidak menginginkan permainan ini diteruskan, lebih baik kita akhiri, dokter . Anggap saja kita tidak saling mengenal, aku ingin pulang. " Mataku mulai memerah, hampir saja bulir bening ini terjatuh, tetapi aku tidak ingin terlihat rapuh.
" Baiklah jika itu permintaanmu. Kita akan menjadi orang asing, dan pura-pura tidak saling mengenal. " Dengan entengnya dia menjawab.
Aku mengatur nafasku yang sejak tadi membuatku sesak. Dokter Pramudya membuka pintu kamar hotel dengan remote kontrol. Langkah kakinya yang panjang mendekati pintu, tanpa mengajakku keluar, dia sudah lebih dulu keluar kamar hotel. Aku sedikit berlari mengejar langkahnya. Kami memasuki lift khusus, tiada pembicaraan , kami sama-sama diam. Pintu lift terbuka, kami berdua keluar dari sana, seperti biasa dokter Pramudya meninggalkanku, Aku mengikutinya dari belakang, kami menuju mobil sport dokter Pramudya. Di dalam mobilpun tidak ada pembicaraan. Mobil melesat sangat kencang menuju arah tol. Kami memerlukan waktu kurang lebih satu jam untuk tepat berada di depan rumahku.
" Terima kasih dokter ." Kataku kaku setelah aku keluar dari dalam mobil dan masih mematung di luar. Dokter Pramudya hanya mengangguk, Dengan sikap dinginnya, Dia melajukan mobiknya meninggalkanku. Memang benar dia adalah manusia dengan tipe kulkas 18 pintu, batinku. Aku melangkah menuju pintu rumah yang terkunci, hari menunjukkan pukul 20.00 wib.
" Assallamuallaikum, mama. " Teriakku kencang, aku sedikit kesal karena tidak ada yang merespon ketika kubunyikan bel pintu.
" Wallaikum salam, sebentar Reva, mama habis sholat isya. " Ku dengar balasan mama dari dalam rumah. Mama membukakan pintu rumah, mama masih mengenakan mekena. Aku masuk kedalam rumah terlihat gontai.
" Reva, makan dulu nak, mama sudah menyiapkan makan malam untukmu. " Kata mama mengikutiku di belakang.
" Reva ga nafsu makan ma, Reva ingin mandi dan tidur. " Balasku malas sambil terus melangkah ke atas.
__ADS_1
" Nanti kamu sakit nak, makanlah biarpun hanya sedikit ! " Mama tetap memaksa.
" Sorry mom, i am tired today, mom, pliss ! " Aku menaiki tangga rumah menuju lantai dua. Kumasuki kamarku, kuletakkan tas punggungku. Aku ingin segera mandi. Kubuka semua bajuku, dan kubalut badanku dengan handuk . Aku menuju kamar mandi, aku berdiri di depan cermin, kuusap bibirku, masih terasa bibir dokter dingin itu menempel dan ********** dengan rakus. Dasar dokter dingin sialan umpatku dalam hati. Kucuci berulang kali bekas ciumannya. Ini telah berakhir Reva, tidak ada yang kedua atau seterusnya, semua telah berakhir.