
Hari ini aku sudah berada di ruang persalinan, dr Pram telah berada di dekatku dengan pakaian lengkap untuk menolong persalinan normalku, hanya ada dua orang perawat perempuan yang akan membantu proses persalinanku, kontraksi di dalam perutku terjadi setiap dua menit sekali, aku sudah merasakan sakit yang luar biasa dan akhirnya pembukaan sempurna, peluh sudah membasuh seluruh tubuh, kuremas tangan kiri dr. Pram dengan sangat kuat, aku tidak peduli dengan pegangan tanganku yang bisa membuatnya sakit, sakitku jauh lebih dari itu, wajahnya begitu tegang menyaksikan diriku yang sangat menderita.
" Hitungan ke tiga , mengedanlah ! Kamu bisa , Reva. " Bisik dr. Pram sembari menciumi keningku yg berpeluh. Aku hanya mengangguk tanpa bicara , hanya menahan sakit yang luar biasa.
" Satu...dua ...tiga ...ayo Reva, kepala bayi sudah terlihat, tarik nafas dan mulai mengedan , sayang ! " dr. Pram ikutan tegang, aku mengedan perlahan dan ada yang keluar jalan lahir bayi, suara tangis bayi terdengar , sosok malaikat kecil telah lahir di bumi, kelegaan menyelimuti perasaanku, rasa sakit itu berganti dengan rasa syukur yang tidak terkira ketika kulihat seorang bayi merah berwajah sangat tampan berada dalam genggaman dr. Pram.
" Bagus Reva, anak kita seorang lelaki yang sempurna sepertiku. " Kata dr Pramkemudian disertai kelegaan yang luar biasa,wajah dr. Pram sangat terlihat bahagia dan ceria, senyum puas terlihat begitu nyata,suara tangis bayi semakin menggema, segera diambilnya sebuah selimut untuk membungkus bayi itu untuk mengurangi rasa dingin bayi itu dan benar adanya bayi itu mulai terdiam karena nyaman. Kemudian dr Pram menyerahkan bayinya kepada perawat untuk dimandikan dengan air hangat. Setelah bayi itu diserahkan kepada seorang perawat, kini dr Pram mulai konsentrasi untuk mengeluarkan plasenta dalam perutku. Setelah plasenta keluar, aku benar-benar merasa lega, tidak ada yang perlu dijahit, dengan telaten dr. Pram membersihkan tubuhku dan menyuruh perawat meninggalkan kami berdua.
" Setengah jam lagi kamu harus menyusui anak kita, minumlah susu murni ini untuk mengembalikan staminamu. " Kata dr. Pram dan memberikan segelas susu cair putih kepada Reva. Reva meminumnya tanpa ada penolakkan. Seorang perawat membawa bayi lelaki yang sangat tampan dan menyerahkan bayi merah itu pada dr. Pram.
" Namanya Langit , aku ingin dia menjadi lelaki yang selalu teratas. Lelaki yang tertinggi diantara lelaki yang lainnya. " Ujar dr. Pram bangga.
" Bumi nama yang cocok untuk dia, aku tidak ingin dia menjadi sombong sepertimu. " Balas Reva dingin.
" Aku sudah mendaftarkan akta kelahirannya Langit bumi samudra nama lengkapnya. " Posesif dr. Pram memutuskan.
" Sekarang waktunya memberinya minum, colostrum pertama tidak boleh terlewatkan ! " Dr. Pram menyodorkan bayinya ke arah Reva tetapi Reva tidak bergeming.
__ADS_1
" Bawa pergi anak itu, apakah kamu ingin setelah aku menyusuinya , aku tidak akan memberikannya padamu, anggap saja dia tidak memiliki seorang ibu, bilang padanya ibunya mati setelah melahirkan. " Kata Reva tegas, tetapi dadanya terasa sangat sesak, sekuat mungkin dia tidak menangis, dia harus bisa berlaku sejahat itu.
" Reva...apa maksudmu , anak ini butuh ASI Mu, kamu tahu betul betapa pentingnya ASI bagi seorang bayi, tidak pantas seorang ibu berkata seperti itu. " dr. Pram terlihat marah dan kecewa.
" Dia anakmu, kamu yang menginginkannya, cepat bawa dia pergi ! " Teriak Reva memenuhi ruangan.
" Aku memberimu kesempatan sekali lagi, berilah dia ASI , jangan keras kepala, Reva. " dr . Pram semakin emosi.
" Jika aku menyusuinya, anak itu akan bersamaku, dan kamu tidak kuijinkan untuk melihatnya. " Balas Reva. Geraham dr. Pram mengeras menahan amarah. Secepat kilat dia berbalik dan meninggalkan Reva di dalam kamar perawatan. Setelah dr. Pram pergi , tangis Reva meledak, dia memegangi dadanya yang semakin sakit, dipasangnya selang oksigen untuk mengurangi sesaknya. Dr. Pram hanya terpana melihat layar cctv yang terpampang jelas di depannya, dasar wanita keras kepala, batinnya sembari mengawasi Reva yang terus menangis dan susah untuk bernafas. Dr . Pram bangkit dari duduknya, melangkah meninggalkan ruang cctv itu,langkah kaki kaki panjangnya telah menelusuri lorong rumah sakit dan sekarang menuju ke kamar Reva. Langkahnya sudah memasuki kamar perawatan Reva. Perlahan tubuh tegapnya mendekati tempat tidur Reva, Reva masih menahan sesak dan air matanya masih membanjiri pipinya, dengan cepat direngkuhnya tubuh Reva dan dipeluknya dengan erat. Tidak ada pembicaraan , mereka hanyut dalam pikiran masing- masing.
" Aku menyerah Reva, aku akan pergi dari kalian. " Ujarnya dalam kesesakan , jantungnya serasa teremas. Seorang perawat telah datang ke ruangan itu dan membawa seorang bayi mungil nan tampan, perawat itu menyerahkan bayi mungil itu kepada dr Pram, dr Pram menerimanya , ada bulir bening yang keluar dari sudut kedua matanya, di usapnya pipi bayi mungil itu sebelum memberikanya kepada Reva. Reva dengan cepat menerima bayi mungil itu dan tanpa memperdulikan perasaan dr Pram yang sangat hancur, sekarang fokusnya hanya ingin menyusui bayi mungil itu, bayi itu langsung menghisap susu yang diberikan Reva, jemarinya mulai mengelus bayi mungil itu dan matanya mulai berbinar, dia tidak lagi memperdulikan rasa pedih itu ketika hisapan pertama kali menyusui bayinya. Dr Pram menyaksikan itu dengan perasaan yang sangat mengiris jantungnya, dia berusaha mengatur ritme jantungnya yang tidak teratur akhibat emosinya.
" Selamat tinggal, Reva. " Ucapnya singkat , dia memutuskan untuk segera pergi, karena jika terus-terusan berada di dekat bayi itu , akan semakin susah untuk menjauh , langkahnya gontai seperti tidak terarah.
" Dirga jemput , aku sekarang ! hari ini juga kita akan ke london. " Perintah dr Pram melalui ponselnya. Air mata sialan ini tidak mau juga berhenti, aku tidak pantas menangisi seorang perempuan, aku selalu membuat mereka menangis dan apakah ini adalah karmaku, tidak , aku menangis karena anakku, bukan karena wanita itu, aku tidak pernah mencintainya, pikiran itu mulai berkecambuk dan membuat kepalanya ingin pecah. Dirga dengan cepat telah berada di pelataran rumah sakit untuk menemui tuannya yang sudah mematung ditempat perjanjian. Pintu mobil terbuka , tanpa bicara dr Pram masuk ke dalam mobil, suasana hening, Dirga tidak berani bicara. Mobil dijalankan dengan cepat menuju bandara. Setelah mobil itu sampai di bandara, dr Pram dan Dirga turun dari mobilnya.
" Iya, maria ada apa , sayang ? " Dirga menerima telpon dari istrinya.
__ADS_1
" Jangan lupa ini hari ulang tahun Nadya , kamu akan datang jam berapa ke rumah ? " Suara maria terdengar jelas karena Dirga sengaja loudspeaker ponselnya.
" Iya sayang aku tidak lupa, aku sebentar lagi akan pulang tetapi aku masih di bandara untuk mengantar tuan Pram yang akan pergi ke London hari ini. " Kata Dirga menjanjikan.
" Baiklah sayang, jaga dirimu dengan baik, i love u, sayang . " Suara Maria terdengar lembut.
" love u much . " Kata terakhir dari Dirga dan mematikan sambungan teleponnya.
" Anak kita lahir di hari yang sama, kamu lebih beruntung dariku Dirga, kehidupan cintamu berakhir dengan manis. " Kata dr Pram datar.
" Selamat atas kelahiran putra anda, Tuan. Apakah dia baik- baik saja ? " Tanya Dirga penuh kehati hatian.
" Dia akan tumbuh menjadi lelaki yang sempurna, aku yakin Reva adalah ibu yang sangat cocok untuk menemaninya. " Suaranya tercekat di dada, menahan sesak kembali.
" Kenapa anda berubah pikiran , Tuan ? " Penuh tanda tanya di otak Dirga.
" Anakku masih bayi, dia butuh asupan gizi yang cukup, biarlah untuk sementara waktu dia diasuh ibunya, setelah kondisi fisiknya kuat, aku akan membawanya. " Keyakinan dr. Pram dalam hatinya. Hujan mulai turun dengan deras, terpaksa penerbangan ditunda untuk besok. Dirga membawa dr Pram kerumahnya. Pesta ulang tahun telah disiapkan dirumah Dirga.
__ADS_1