
Terlihat Reva terbaring lemah diranjangnya, wajahnya sedikit pucat, ada Dio yang sedang menemaninya , memberikan kompres air hangat di keningnya. Pengompresan pada pasien demam sebaiknya memakai air hangat, karena ada kondisi pasien tertentu yang tidak tahan dengan air dingin, air dingin terkadang bisa menyebabkan pasien lebih menggigil. Sesekali Dio mengukur suhu tubuh Reva yang masih 38 derajat celcius.
" Kakak kuliah saja, bukankah hari ini kakak ingin bertemu dengan dosen pembibing kakak, susah loh ngatur pertemuan dengan dokter Hans. Dokter itu sedang melakukan riset ke luar negri katanya. " Kata Reva pelan.
" Sssst...kamu yang lebih penting, kamu yang perlu dirawat, lagipula kakak senang kok melakukannya. " Kata Dio pelan.
" Reva jadi ga enak, ngrepotin kakak."
" Jangan bilang seperti itu , ini minum lagi jus jambu merahnya ! " Dio menyodorkan jus jambu , Reva duduk di kasurnya. Reva meminum jus jambu itu setengah gelas.
" Benar kata Reva, temui saja dokter Hans, biar aku yang jagain yank Reva. " Paijo sudah muncul diantara mereka berdua. Reva dan Dio otomatis menoleh pada seseorang yang baru datang.
" Kenapa kamu yang sok ngatur, kamu pacar bukan suami apalagi. " Balas Dio sewot.
" Aku calon suaminya loh, kalau ga percaya tanya sama tante Hanny. " Reva terkejut Paijo tahu nama mamanya.
" Baru calon belum pasti, calon belum tentu kejadian. " Balas Dio. Tak beberapa telpon berbunyi. Dio mengangkat ponselnya. Sepertinya ada pembicaraan serius.
" Reva, kakak ada urusan urgent, mommy kena serangan jantung dan sekarang ada di rumah sakit, kamu cepat sembuh yah, usir dia, kamu akan lebih sakit parah jika ada si tukang parkir. Dia ga ngerti masalah orang sakit tahunya masalah mobil. " Saran Dio sebelum pergi.
" Yah profokator, doa yang baik-baik, mommy lagi sekarat juga." Kata paijo kesal.
" Salam untuk tante kakak, nanti jika Reva sudah sembuh, Reva sempatin jenguk tante, yang sabar ya kakak. " Ujar Reva pelan. Dio mengangguk kemudian melangkah pergi . Paijo duduk di kursi yang tadi ditempati Dio.
" Kita ke rumah sakit yuk yank, kamu biar cepat sembuh. " Kata Paijo kemudian
" Ga perlu, cuma demam biasa, kecapean saja, nanti juga sembuh. " Ujar Reva
" Wajahmu pucat loh, jadi apa yang musti paijo kerjakan ! " kata Paijo
" Pulang ajah . " Kata Reva datar
" Loh kok gitu sih yank . "
" Habisnya memang ga ada yang harus kamu kerjakan disini. " Balas Reva datar.
" Paling ga nemanimu ngobrol, sambil bantuin kamu ngompres. "
" Tahu aku sakit darimana ? " Tanya Reva pelan
" Selly yang ngasih tahu, Paijo minta nomer ponselmu dong yank, biar Paijo tahu kondisimu. "
" Buat apa Paijo, aku ga mau ngasih harapan loh ke kamu. Nanti kamu yang akan sakit hati. "
" Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meskipun kamu tak cinta...Paijo menyanyi. Reva tersenyum.
" Narsis kamu, gombal. " Timpal Reva.
" Bukan gombal , tapi kain pel...wkwk." Paijo tertawa renyah.
" Gimana kabar melisa ? " Tanya Reva iseng.
" Melisa siapa, yank ? " Paijo balik bertanya.
" Pengagum beratmu, jangan pura-pura hilang ingatan dech. "
" Melisa...melisa oh yang itu. ga tahu gimana kabarnya . " Jawab Paijo santai.
__ADS_1
" Gimana dengan jelita anak bu ijah ? " Pancing Reva.
" Yang tahu ga , kamu itu kok sekarang jadi wartawan majalah gosib sih. " Kata Paijo kurang suka.
" Kok gitu sih , aku nanya berdasarkan fakta, bukan gosib. "
" Yah ..pertanyaanmu itu loh yang bingung aku jawabnya. "
" Kok bingung, tinggal jawab aja. "
" Mereka tidak ada dalam urutan orang yang harus dipikirkan, jadi aku tidak tahu dengan mereka. "
" Sombong bener nih tukang parkir. " Reva tertawa.
" Bukan sombong tapi angkuh...wkwk
" Kok niru kata-kata gue sih. " Reva cemberut.
" Ga tahu nih...semua perkataan yank Reva selalu tertanam dalam kaldu ayamku. " Tawa Paijo
" Ngomongin ayam jadi pingin bubur ayam. " Kata Reva melemah.
" Oke tunggu yah, lima menit bubur ayam special akan sampai. " Kata Paijo
" Memang dah ada buburnya ? "
" Ada dibawah , sama tante hanny. " Paijo nyengir.
" Kamu kesini bawa bubur ayam ? " Paijo mengangguk.
" Sebentar yah, Paijo ngambil buburnya. " Paijo beranjak pergi, Reva hanya geleng-geleng kepala. Tidak sampai lima menit Paijo sudah membawa semangkuk bubur ayam dan jus mangga kesukaanku.
" Gimana yank, enak bukan. Itu yang buat cheaf di rumah. " Kata Paijo
" Hooh, pantesan lain dari bubur ayam yang suka keliling. "
" Nanti siang yank Reva mo makan apa ? "
" Apa yah, belum selera makan nasi, mo nya snack-snack ringan , puding susu, bubur kacang ijo. "
" Oke siap, secepatnya orderan akan dikirim."
" Paijo...maaf yah. Aku sering menyakiti perasaaanmu dengan kata-kataku waktu dulu. " Kata Reva melo.
" Lupakan yang lalu, Paijo ga pernah sakit hati kok, karena Paijo mencintai Reva dengan tulus. "
" Terima kasih atas cintanya, tetapi maaf aku belum bisa memberikannya untuk saat ini. Aku tidak ingin terikat dengan siapapun. "
" Pelan - pelan saja yank, nanti kamu juga bisa mencintaiku. "
" Seberapa besar harapanmu untuk itu , Zacky. "
" Sebesar harapan neil amstrong untuk menjajaki mars. " Paijo tertawa.
" Becanda mulu , kamu mah. "
" Hidup itu perlu candaan, biar tidak bosen. "
__ADS_1
" Iya dech, terima kasih atas hiburannya hari ini, kayaknya aku udah baikan dech. " Jawab Reva . Paijo memegang kening Reva yang sudah tidak panas lagi.
" Alhamdullillah ya Alloh, semoga cepat mencintaiku juga yah. " Kata Paijo sambil mengedipkan matanya. Reva hanya menanggapinya dengan senyuman.
" Paijo, orang tuamu ada dimana ? " Tanya Reva penasaran.
" Orang tua Paijo dah lama meninggal dunia , yank. Sewaktu Paijo masih Smp. " Kata Paijo melemah.
" Oh..so sorry tentunya selama ini kamu menjalani hidupmu dengan tidak mudah. " Reva sangat menyesal."
" Yah, awalnya Paijo berat menjalaninya, untung Paijo punya paman yang baik dan membantu Paijo bangkit dari keterpurukkan. "
" Kalau boleh tahu orang tuamu meninggal karena apa ? " Tanya Reva pelan
" Mereka kecelakaan pesawat, pesawat pribadi kami di sabotase musuh , meledak tanpa bekas. Sejak saat itu aku menjadi kejam, Aku membantai musuh orang tuaku hingga ke akarnya. Dan baru dua tahun terakhir ini aku memutuskan untuk berhenti menjadi ketua mafia Rangger. "
" Dan siapa yang mengelola bisnismu sekarang ? "
" Aku memantaunya dari jauh, ada orang-orang yang kupercayai yang menjalankan bisnisku. "
" Bagaimana jika mereka mengkhianatimu ? "
" Mereka masih saudara dekat denganku, ada dua orang adik kandungku yang mengelolanya, dan sampai saat ini tidak ada masalah. "
" Bagaimana dengan gadis cantik yang bersamamu waktu di hotel itu ? "
" Namanya Namira, dia adik bungsuku, Dia baru saja kuliah di london di oxford univercity ambil jurusan marketing. Dia menempati panthouse ku disana. " Paijo menjelaskan.
" Sepertinya kamu kakak yang baik. "
" Dan calon suami yang terbaik untuk yank Reva. " Kata Paijo membuat Reva blushing. Paijo nyengir.
" Pantes saja semua cewek mengejarmu, ternyata kamu setajir itu. "
" Buktinya ada yang ga ngejar Paijo. " Alis matanya turun naik.
" Ngejar itu capek Paijo, makanya aku jalan santai , ga perlu dikejar-kejar, kalo jodoh pasti ketemu. "
" Berarti ini kita jodoh ya, amin. " Tangan Paijo menengadah kemudian diciumnya.
" Ngarep com . "
" Memang ga boleh berharap yah ? "
" Terserah dech, sekarang bebas . "
" Bebas meminangmu yah, gimana, mumpung ada dirumah camer nih ? "
" Eh..eh..kok secepat itu, nanti mama pingsan. " Reva sedikit kaget.
" Pingsan tinggal diberi minyak angin nanti juga siuman. "
" Paijo, ini masalah serius. Jangan suka becanda. "
" Aku serius kok, nunggu ijin dari yank Reva. "
" Jangan sekarang, oke. Aku perlu menata hatiku, pernikahan itu sakral, aku perlu memikirkannya matang-matang. "
__ADS_1
" Iyah, aku ga maksa kok yank, jika Reva udah siap dipinang tinggal bilang aja yah, i am still waiting you, baby. " Reva tersenyum melihat mimik Paijo yang jenaka. Waktu terus bergulir tanpa terasa. Reva sudah mulai membaik dan sudah tidak demam lagi. Dengan telaten Paijo merawat Reva dengan memberikan menu- menu yang dipesan Reva.