Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Part 8


__ADS_3

Kududuk di bangku dekat jendela , kupandangi hilir mudik lalu lalang kendaran roda dua dan kendaraan roda empat, saling berkejar-kejaran tanpa lelah. Kuliah masih dua jam lagi, kuhabiskan waktuku duduk di kantin kampus. Kunikmati secangkir kopi susu hangat dan kue lumpia isi ayam. Sambil sesekali membalas chat wa dari teman-temanku.


" Hai Reva, boleh aku duduk disini ? " Sapa seorang gadis cantik, putih, tinggi dan kelihatannya berkelas.


" Anda siapa yah ? " Aku masih tertegun dan bingung.


" Perkenalkan namaku gisella, calon istri dokter Pramudya. " Aku terkejut , sementara gisella tetap tenang.


" Terkejut yah, aku mengenalmu. Aku hanya ingin tahu , siapa gadis terakhir yang deket dengan dokter Pram. " Katanya masih tenang, sambil seselali melihat penampilanku.


" Tidak terlalu menarik, sekarang aku sedikit lega , kamu sepertinya tidak berbahaya. " Katanya mulai sinis.


" Ada hal lain yang perlu disampaikan , nona yang terhormat ?" Balasku sinis


" Jangan coba-coba menghubungi calon suami saya. Jika aku sampai mengetahuinya, tamat riwayatmu. " Aku tersenyum sinis. Dan bertepuk tangan.


" Kalian berdua pasangan yang sangat serasi, bermuka antagonis. "


" Jaga bicara mu nona , aku bisa saja membuatmu hancur saat ini. " Katanya geram.


" Oh...takut...jangan pernah mengancamku, nona. Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Dan camkan baik- baik , aku dan dokter Pram tidak ada hubungan yang spesial. " Balasku kesal.


" Randy, kita pergi sekarang !" Kata gisella kepada asisten pribadinya. Dengan gaya anggunnya dia meninggalkan kantin kampus. Dasar cewek sialan gerutuku.


" Belum jadi bini, dah serem tuh yank, bisa kena cakar harimau...aum aum. " Kelakar si Paijo yang tiba-tiba muncul dan dengan santai duduk di depanku. Aku masih cemberut.


" Ga lucu. " Balasku sewot.


" Pram nemu darimana tuh cewek uget uget. Kece badai, sok ngatur. " Tawa Paijo ngakak.


" Maksud loh apa, cewek uget-uget.? "


" Pinter berkelit, pinter bikin drama, pinter ngancam tapi aslinya berani omong doang. " Timpal Paijo.


" Bukankah penampilannya keren banget, gue aja kalah. " Kataku jujur.


" Cantik hasil olahan skin care mahal yank, aslinya mah menyeramkan. "


" Kamu kalo ngomong suka ga kolerasi deh, asli cantik loh dia. "


" Bosen lihat yang cantik-cantik, di blue film berhamburan. " Paijo ngakak


" Jadi kamu sering nonton film yang gituan ? " Selidikku serem.


" He..he...sometimes, tapi ga sampai selesai yank, ga suka lihatnya. Cuma penasaran ama filmnya, swear ,cuma sepuluh kali....haha ha...


" Itu bukan cuman, tapi hoby dodol."Jawab aku kesel.


" Mending lihat yank Reva, ga bosen-bosen masa. Semakin dilihat semakin pingin ngarungin, trus di bawa kepelaminan. " Paijo menaik turunkan alis matanya.


" Apaan sih ga jelas banget. " Wajahku bersemu merah, asli malu banget.


" Hari ini kita jalan lagi yuk, ke puncak mau ? " Tawar Paijo.


" Ngapain ke Puncak ?"


" Kita kawin kontrak yuk ! " Asli pingin nimpuk nih orang. Aku melotot serem.


" Iyah, jangan marah dong mah, ntar dibikin enak, tapi sabar, masih siang inih. " Dia ngakak


" Paijo...awas ya luh. " Gue gebukin ajah badan bonsornya.


" Ampun mah, papah khilaf poligami, papah ga perlu minta ijin, lebih baik minta maaf, kan . " Tawanya masih terkembang, semua orang yang berada di kantin melihat kami berdua. Aku baru tersadar, kuhentikan pukulanku.


" Cie..cie...Reva, sekarang deket ama Paijo. " Kata Sri yang tiba-tiba muncul, aku spechlass, aku berdiri dan langsung memeluk Sri.


" Sri...aku kangen tahu. " Kataku kaku. Paijo hanya diam memperhatikan kami berpelukkan.


" Sri...sri..gantian dong jadi kamu. " Kelakar Paijo. Kami berdua menoleh, Sri hanya senyum sementara aku melotot.


" Asli kalian cocok. " Kata Sri mendukung.


" Sri...kok gitu sih. " Kataku lemes.


" Jujur aja yank, kalo sayang. " Kata Paijo santai.

__ADS_1


" Apaan sih, Eh...gimana kabarmu Sri ? Kapan kamu meritnya ? " Tanyaku mengalihkan pembicaraan Paijo.


" Enam bulan lagi, nunggu mas Raka mutasi ke sini. " Kata Sri semangat.


" Syukurlah Sri, akhirnya kamu menemukan yang cocok. " Aku mengajak Sri duduk di sampingku. Sementara Paijo lagi tebar pesona sama mahasiswi yang lewat. Asli ngeselin.


" Bagaimana denganmu ? cepet cari pasangan, keburu ga nafsu loh, karena sibuk kuliah. "


" Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku , Sri . Baru setelah itu aku pikirkan pekerjaan. " Aku tertawa.


" Kamu mah, tinggal pilih Reva. Paijo semakin keren loh. " Bisik Sri.


" Apaan sih Sri, aku cuma nganggep dia temen. " Bisikku.


" Yah, dicuekin deh. Pasti ngomongin Paijo keren, kan ? " Tebak Paijo


bikin Sri tersenyum.


" Punya indra keenam dia . " Sri terbahak-bahak. Sementara aku hanya diam dan Paijo senyum- senyum ga jelas.


" Kata Selly, ada dosen baru yah ? Gimana ngajarnya? Enak ga ? " Tanya Sri pelan. Paijo melirikku.


" Secara keilmuan sih, bagus. Yah, mengenai enak dan tidaknya, aku ga bisa komen, kamu sendiri yang bisa nilainya. " Aku mencoba menerangkan.


" Ganteng juga yah ? " Ucap Sri sambil nyengir. Aku melirik Sri sesaat.


" Heh...sudah ada mas Raka juga, genit ama yang lain. " Balasku gregetan


" Dih..kok kamu yang sensi, tinggal jawab aja apa susahnya sih. " Sri mulai cemberut.


" Ga tau." Jawabku singkat.


" Cuma Paijo yang ganteng, yang lain lewat. " Celetuk Paijo membuat kami melihatnya yang sedang nyengir.


" Ngaku, yang bilang ganteng itu orang lain, kalo diri sendiri mah, kepedaan . " Protesku.


" Banyak kok yang bilang kalau Paijo ganteng, cuma Reva aja yang belum sadar . " Ucapnya santai.


" Udah kok jadi ribut sih ." Sri menengahi kami.


" Siapa yang ribut ? " Kata kami berdua kompak. Dan di detik kemudian Sri tertawa lepas.


" Kami pergi dulu yah, selamat bersenang-senang. " Kataku sembari beranjak dari tempat duduk, kuseret tangan Sri untuk meninggalkan kantin.


" Aku ada urusan mendadak. " Kata Paijo datar dan mulai mengikutiku pergi.


" Paijo...kok pergi sih . " Teriak Melisa keras.


Kami berdua menuju ruang kuliah, masih ada waktu setengah jam an lagi. Selly mendekati kami berdua.


" Sri, apa kabar jeng ? " Sapa Selly kemudian.


" Seperti yang kamu lihat, tidak ada kekurangan satupun dari diriku. " Jawab Sri dengan senyum ramah.


" Aku iri padamu, Sri. Kamu memiliki pasangan yang menyayangimu, tidak seperti ku. " Kata Selly melo.


" Eh..kok jadi sedih sih. Kamu belum nemu aja, sabar dong. Ada saatnya kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang menyayangimu. " Kata Sri menyemangati Selly.


" Aku menyukai seseorang, tetapi dia tidak menyukaiku. Itu yang bikin hatiku sakit , Sri. " Selly semakin melo.


" Berhenti menyukainya, masih banyak pria yang baik, jangan terfokus dengan satu pria. Banyak wanita yang tidak seberuntung kamu, Selly. Cobalah turunkan grade kamu, carilah pria yang sederhana, baik dan tidak perlu terlalu gud looking. " Saran Sri


" Iyah, aku akan mencobanya. Terima kasih Sri, kamu teman yang menyenangkan. " Kata Selly sedikit terhibur.


" Aku enggak nih ? " Tanyaku kemudian. Selly tersenyum.


" Kalo kamu mah is the best my friend. " Kata Selly sambil tersenyum. Kami bertiga tersenyum bersama . Pembicaraan kami terhenti ketika dosen memasuki ruangan. Hampir dua jam kami mengikuti materi kuliah. Setelah dosen keluar dari ruangan, kami bertiga sengaja menuju perpus, Kami ingin mencari literatur bahan makalah kami. Di dalam perpus kami bertemu kak Dio yang sibuk mencari buku. Aku sengaja tidak menegurnya, kelihatannya dia sangat fokus mencari buku.


" Sombong ..Bisik seseorang di telingaku. kulihat siapa yang menegurku, kak Dio sudah berdiri disampingku dengan senyum khasnya.


" Eh..kak Dio, bukan sombong tapi angkuh." Balasku sambil nyengir.


" Sadis..hari ini ada waktu kosong ga,kangen nih sama Reva. " Kak mencoba memberiku tawaran .


" Sebenarnya ga ada sih, memang mo kemana ? " Pancingku

__ADS_1


" Dah kayak ibu-ibu pejabat, sibuk tetapi ga jelas yang disibukkan..wkwk."


" Sibuk ngabisin duit suami. " Bisikku.


" Mantaf, bungkus-bungkus, aku lebih suka yang terus terang, ginih daripada munafik. " Balas kak Dio



" Kuy lah..Reva siap menghabiskan deposito kakak. Acara hari ini shoping ke mall anggrek yah. " Tantangku



" Wuih...wonderfull, kuy lah !" Tanpa berpikir panjang kak Dio menyetujui. Aku cekikikan. Sehingga yang lain pada melihat kearah kami dengan tatapan sadis. aouto aku mingkem rapet.



" Kutunggu di luar yah, kakak dah selesai cari bukunya. " Kata kak Dio sambil berlalu dan menuju kearah pintu keluar.



" Sri , Selly hari ini kita shoping yuk, ada donatur." Bisikku pada mereka berdua.



" Eh..serius nih. " Kata Sri penasaran. Aku mengangguk, Sri dan Selly tersenyum, Kami bertiga akhirnya keluar dari perpus. Kak Dio sedikit kaget melihat kedatangan kami bertiga.


" Kuy kak, kami sudah siap ! " Kak Dio terlihat bengong. Dan dengan terpaksa menyetujui keinginan Reva. Mereka berempat memasuki area parkir, Aku tidak melihat keberadaan Paijo. Kami memasuki mobil sport kak Dio, Aku duduk di depan bersama kak Dio sementara Sri dan Selly duduk di jok belakang. Tanpa ada pembicaraan kak Dio melajukan mobilnya ke jalan raya. Kak Dio melajukan mobilnya dehngan kecepatan sedang, dan sesekali pelan karena ada titik-titik kemacetan di ibu kota. Hampir satu jam kami sampai ke mall anggrek di jakarta Barat. Kami berempat keluar dari mobil.


" Asik juga punya bini tiga tapi pada akur. " Komentar kak Dio ketika melihat kami bertiga senyum sumringah.


" Ngarep...Kami bertiga kompak. Kak Dio cuma nyengir. Tanpa banyak bicara kami berempat memasuki mall anggrek. Kami berpisah dan sibuk dengan barang -barang inceran. Sementara kak Dio sengaja mengikutiku.


" Temennya kurang banyak. " Kata kak Dio datar. Sekilas kulirik dia.



" Kakak keberatan yah ? " Tanyaku pura-pura ga tahu , yang sebenarnya kak Dio lagi kesal.



" Ga.." Jawabnya jutek.



" Duit Reva ada kok, mereka yang bayarin Reva, jadi duit kakak aman. " Kataku pelan



" Kok Reva ngomong gitu sih, ga apa-apa kok , serius kakak ga keberatan. " Kata kak Dio berubah mimik wajahnya.


" Ga apa-apa kakak, yang ngajak mereka kan Reva, so yang tanggung jawab bayarin mereka Reva juga. "


" Plis deh Reva, jangan ngomong gitu. Maaf yah, jika perkataan kakak menyinggungmu. " Kata kak Dio penuh penyesalan.


" Aku yang minta maaf , karena membawa mereka tanpa ijin dulu ke kakak. "


" Udah belanja saja, kok jadi mikirin yang engak-engak. " Kata Kak Dio mengalihkan pembicaraan.


" Kakak mo belanja apa, nanti Reva pilihin. " Tawarku


" Lagi ga kepingin beli barang sih, pingin nemenin kamu belanja aja, pingin tahu barang-barang yang disukai perempuan. "


" Reva sendiri juga bingung kakak, biasanya beli lewat online. Disini harganya bikin jadi gelandangan. " Senyumku.


" Disini belum seberapa Reva, di luar negeri harganya sampai berpuluh-puluh lipat dari harga disini. " Tutur Kak Dio



" Biasa beli baju di tanah abang , masuk sini jadi ga pede. "



" Lain kali ngajak kakak yah kalo ke tanah abang. "


" Nanti kakak pusing, disana ramai dan penuh sesak , kak. "

__ADS_1


" Wuih enak dong bisa desak desakan. " Timpalnya.


" Mesum....Dia tertawa lepas. Setelah memilih beberapa baju dan sepatu, kami menuju kasir. Aku ga tahu berapa duit yang harus dikeluarkan kak Dio untuk membayar barang-barang branded ini. Kami berempat keluar dari mall dengan menenteng belanjaan kami masing-masing.


__ADS_2