Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Part 23


__ADS_3

Paijo bersedekap memperhatikan Reva yang sedang berjalan menyelusuri trotoar, kerinduan dihatinya memuncak, tetapi keinginan itu hanya terpendam, Dia tahu, hati Reva terpaud pada hati yang lain, Melihat derai mata Reva, hatinya ikut teriris, ingin rasanya memeluk gadis itu, membawanya pergi, membuatnya tertawa, meskipun itu sulit baginya. Hujan masih menyisakan gerimis, Reva berjalan menelusuri jalan trotoar, dadanya masih sesak, bulir matanya masih mengalir, Reva akhirnya menghentikan langkahnya, di sebuah bangku di taman. Dia menumpahkan tangisnya disana, Dia ingin ini adalah tangis untuk yang terakhir kalinya.


" Crying to be stronger...not weak, stronger girl. " Kata Paijo yang menghampiri Reva. Reva melihat Paijo yang bersedekap berdiri di sampingnya.


" Apakah kamu ingin mentertawakanku, tertawalah, sehingga aku sadar diri karena menjadi orang bodoh. " Balas Reva pelan.


" Aku tidak pernah menyukai seseorang karena kebodohannya, kenapa dirimu merasa bodoh, yank. " Tanya Paijo dengan hati-hati.


" Berhentilah menyukaiku, karena aku orang bodoh. " Jawab Reva pelan.


" Mencintai seseorang itu bukan suatu kebodohan, meskipun cinta itu terkadang tidak bersambut pada awal mulanya, kita harus menunggu , sabar hingga cinta itu datang kepada orang yang tepat. " Paijo duduk disamping Reva.


" Tetapi aku terlihat bodoh, berantakan dan memalukan. "


" Reva, bukankah sudah kukatakan, hanya aku yang dari awal mencintaimu dengan tulus, tetapi apa daya aku tidak bisa memaksamu , hatimu sudah tertaut pada yang lain. "


" A..aku , bagaimana kamu tahu ? " Reva penasaran.


" Aku selalu mengikutimu, aku tahu kemana kamu pergi, dan yang kutakutkan terjadi, kamu terluka karena si brengsek itu, kenapa kamu menyukai lelaki demam itu ? " Reva terperanggah.


" Apa maksudmu ? "


" Dia akan demam jika menyentuh wanita, tubuhnya beracun, setiap orang yang bersentuhan dengannya akan terkena racunnya, kemudian orang itu akan lemah dan mati secara perlahan. " Terang Paijo membuat mata Reva terbelalak.


" Benarkah yang kamu bilang ? "


" Dan apakah dia demam saat kamu tinggalkan ? " Paijo balik bertanya. Reva menutup mulutnya dengan telapak tanganya.


" Reva, kamu...." Kata Paijo hopeless.


" A...aku tidak tahu dengan hal itu. Apakah dia akan mati, Paijo. " Tanya Reva penasaran.


" Terakhir dia demam sudah lama dan berarti dia akan baik-baik saja, meskipun dia akan merasakan sakit yang luar biasa. Apakah tubuhmu merasakan lemah ? " Tanya Paijo penuh kekhawatiran. Reva menggeleng lemah.


" Aku akan membunuhnya jika terjadi sesuatu padamu, jangan bertemu dia lagi, kamu harus menghindarinya. Dia lelaki yang sangat berbahaya. " Reva mengangguk lemah.


" Lagipula dia akan menikah. "


" Dan kamu menangis karena itu ? "


" Haruskah aku menjawabnya ? "


" Tidak perlu, lupakan dia, kita bisa memulai dari awal, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis. Aku akan menjemputmu untuk datang ke pernikahan gilanya. "


" Maksudmu ? "


" Menikah sebagai formalitas bisnis, kujamin dia tidak akan menyentuh pengantin wanitanya...ha..ha. " Paijo tertawa lepas.


" Seyakin itukah ? "

__ADS_1


" Dia tidak bisa mencintai wanita, wanita yang dicintainya adalah mamanya, Dia hanya mengikuti keinginan mamanya. "


" Semua yang kamu katakan benar adanya, dan aku salah telah mencintainya. " Reva jujur. Paijo memandang Reva sekilas.


" Dia lelaki beruntung, tetapi dia lelaki yang bodoh, karena sudah mengabaikan gadis secantik kamu. Reva, semua akan baik-baik saja, seiring berjalannya waktu, kamu akan bisa melupakan dia, melupakan lelaki yang tidak pernah mencintaimu. " Paijo memberi semangat.


" Terima kasih, kamu adalah teman terbaikku. " Reva tersenyum.


" Aku bahagia melihatmu tersenyum, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. " Reva mengangguk.


" Sudah malam, aku mau pulang, maaf tidak mengundangmu kerumahku, mungkin dilain hari , disaat hatiku mulai membaik, aku akan memanggilmu minum kopi di cafee baruku. " Kata Reva kemudian.


" Really, kutunggu yah, yah aku selalu mendukungmu, sibukkan dirimu, kamu akan cepat melupakan semuanya, semua yang membuatmu sakit. " Reva kembali mengangguk. Paijo beranjak dari duduknya. Mereka berpisah membawa hati yang terluka.


Paijo melajukan motor maticnya menembus dinginnya malam, diiringi gerimis malam. Paijo telah sampai di rumahnya, dibukanya pintu rumah sederhananya, Sesaat dia tertegun, melihat Jesica yang sudah duduk di kursi kayu. Paijo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak menyangka Jesica bisa masuk ke dalam rumahnya.


" Oh..my...astaga, kamu manusia atau hantu sih ? " Kata Paijo dan Jesica hanya nyengir.


" Abang suka ilang ingatan ama istri sendiri . " Jesica cekikikan.


" Ini sudah malam Ica, tidak baik loh bertandang di rumah orang malam hari, nanti orang tuamu mencarimu. "


" Abang yang salah, abang pergi kemana saja, Ica sudah berjam-jam nungguin abang disini. "


" Abang sibuk Ica, abang harus bekerja, abang perlu makan, minum dan beli barang yang lain. " Kata Paijo.


" Yah, abang kan cuma tamatan SMP Ica, abang ga bisa kerja kantoran. "


" Oh kalau begitu, jadi office boy saja, bang. "


" Ga mau ah, abang ga suka pekerjaan itu. "


" Bang, Ica laper. Kita beli makanan yuk ! " Pinta Ica pelan.


" Ya ampun Ica, kenapa ga beli makanan di warung depan. Nanti kamu kena maag, loh. " Paijo sedikit panik.


" Sengaja mo makan bareng abang, makan sendiri ga enak. " Kata Ica lemah.


" Oke, tunggu sebentar, abang beli makanan di warung depan. " Kata Paijo kemudian keluar lagi dari rumah. Ica tersenyum , ternyata perhatian juga ya batin Ica senang. Tidak menunggu lama Paijo membawa nasi bungkus dan memberikan nasi itu kepada Ica.


" Abang kita makan bareng yuk ! " Tawar Ica yang sudah membuka nasi bungkus dengan lauk ayam panggang.


" Abang udah makan, kamu makan saja, habis itu abang antar pulang. "


" Baru ketemu sudah diantar pulang saja. " Ica cemberut.


" Udah malam, abang mo istirahat, capek. " Kata Paijo.


" Sini Ica pijitin, Ica bisa mijit kok. "

__ADS_1


" Tidak butuh tukang pijit, ngantuk abang. " Tolak Paijo.


" Sini temenin bobo ! " Paijo geleng kepala. Ica nyengir.


" Jangan banyak omong, cepat makan ! "


" Suapin bang ! "


" Ica...jangan manja ! "


" Bang, kamu ga pingin pindah rumah gitu, deket rumah Ica. "


" Ini ajah rumah sewa, Ica. Abang ga sanggup beli rumah di deket rumahmu."


" Abang bisa tinggal di apartement Ica deket sini. "


" Jadi kamu tinggal di apartement sendirian ? " Tanya Paijo.


" Ga sih, hanya seminggu sekali, jika pingin menyendiri ajah. "


" Ngapain menyendiri ? "


" Yah kadang nonton seharian di mini movie room. Baca buku, melukis dan berenang. "


" Kamu ga punya saudara kandung ? "


" Ga ada, ada saudara sepupu, dua hari lagi mo nikah. Eh, abang datang yah sama aku. "


" Eh..ga bisa, abang mo datang ke pernikahan teman juga. " Ica cemberut.


" Oke dech. " Jawab Ica lesu.


" Yuk, abang antar pulang ! "


" Aku mo kencing dulu, kebelet pipis. "


" Oh..kamar mandi ada di dalam, masuk ajah ! " Paijo memberi petunjuk, Ica beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah ke dalam menuju kamar mandi. Setelah selesai buang air kecil, Ica menghampiri Paijo yang sudah siap untuk mengantar.


" Gud night...cup. " Ica mengecup bibir Paijo dengan cepat, Paijo sedikit cengok karena mendapat ciuman yang tiba-tiba. Ica hanya nyengir.


" Abang ga mau ucapin selamat tinggal ? " Tanya Ica


" Eh..anu..iyah, selamat malam Ica. " Paijo grogi. Ica kembali melayangkan ciumannya, Paijo geragapan menerima ciuman yang tiba-tiba. Ciuman itu semakin menuntut, Paijo memegang tengkuk Ica, dan membalas ciuman itu. Beberapa menit mereka hanyut dalam ciuman panas.


" Maaf...lirih Paijo. " Saat menghentikan ciumannya.


" Untuk apa ? " Ica bingung.


" Sebaiknya kamu pulang sekarang, ayo ! " Kata Paijo tidak menjawab pertanyaan Ica. Ica hanya mengangguk pelan. Mereka keluar rumah, Paijo naik motor di depan kemudian Ica memeluk erat pinggang Paijo. Paijo hanya membiarkannya. Malam semakin dingin , Ica semakin erat memeluk lelaki yang sangat dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2