
Manusia hanya bisa memohon dan meminta tetapi Tuhan yang memegang segala restu. Semua kenangan memang sulit terhapus dalam ingatan, tetapi yang namanya kenangan itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Semua bagai sebuah mimpi, seseorang yang dulu sangat berarti tiba-tiba pergi, pergi meninggalkan luka yang semakin mengeras hinga meninggalkan parut. Pertemuan di puncak bogor itu adalah akhir dari semua. Kamu pergi bagai menyelinap di balik awan , tanpa pesan tanpa kerinduan yang sekarang ini melanda jiwaku. Tidak tahukah dirimu, bahwa aku dan hatiku telah tertaut mati denganmu, aku sudah tidak bisa mencintai lagi, bagai simponi tanpa ada ada melodi, sunyi bersama guyuran hujan ini. Kutahu kamu menyukai hujan sama sepertiku, tetapi ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama. Reva masih terdiam, duduk di kedai kopi, Sejak kepergian dokter Pram secara misterius, Reva lebih banyak menyendiri dan mendatangi kedai kopi.
" Bolehkah , saya duduk untuk menemani anda ? " Tanya seseorang yang baru saja datang. Reva melihat seseorang itu, berpenampilan santai dengan tas ransel di punggungnya. Lelaki itu tersenyum ramah dan dengan canggung Reva membalas senyumnya.
" Ini tempat umum, siapa saja boleh duduk dimanapun mereka suka." Ujar Reva.
" Namaku Bagas Dewantara, aku baru saja sampai di sini, sudah hampir empat tahun lamanya aku tidak pulang ke indonesia. " Kata Bagas yang sudah duduk berhadapan dengan Reva.
" O...dan anda ingin pulang kemana ? " Tanya Reva pelan.
" Orang tuaku tinggal di daerah tebet jakarta selatan. " Kata Bagas pelan.
" Dan anda mampir di kedai ini dulu, apakah anda menyukai kopi ?" Tanya Reva.
" Aku kebenaran lewat di daerah ini, sambil mengenang nostalgia, dan salah satu di kedai kopi ini. Bagaimana denganmu, nona siapa ? " Tanya Bagas.
" Aku Reva Nadia, Mahasiswi kedokteran semester enam, sedang mengadakan project. Aku meneliti bahwa tidak sedikit orang yang menyukai kopi, aku tidak menyukai kopi pada dasarnya, aku ingin buka caffee di daerah bekasi. " Papar Reva pelan.
" Luar biasa, nona. Berarti kamu mengenal bu Ijah dong ? " Tanya Bagas.
" Oh...my God. Apakah kamu Bagas Dewantara anak bu Ijah, yang..." Reva menutup mulutnya dengan telapak tangan, tidak menyangka Reva menemui anak bu Ijah di tempat ini, tanpa Reva menghubunginya.
" Loh..loh...anda tahu namaku ? Pasti anda sangat dekat dengan bundaku. " Tebak Bagas, Reva tersenyum malu.
" Bu Ijah ingin mengenalkan anda pada saya, tetapi karena kesibukan kuliah aku lupa untuk menghubungimu, maaf. " Sesal Reva. Bagas tersenyum.
" Bunda memiliki feeling yang sangat kuat, bahkan tahu seperti apa wanita yang kusukai. " Kata Bagas
" Begitu yah, berarti anda sangat dekat dengan bunda anda ? " Reva masih belum sadar dengan kata-kata Bagas.
" Sangat dekat, bahkan saya selalu menurut dan menerima, wanita yang dipilihkan bundaku padaku. "
" Hah..." Reva terkejut.
__ADS_1
" Kenapa anda begitu terkejut ? " Selidik Bagas. Reva tersenyum hambar.
" Ti..tidak , saya terkejut saja, masih ada anak yang menyetujui perjodohan. "
" Restu orang tua samahalnya restu dari Tuhan, kita akan bahagia jika mendapat dua restu itu. " Kata Bagas
" Anda ingin menetap disini atau akan kembali ke Australia ? " Reva berusaha mengalihkan topik.
" Bunda menyuruhku pulang dan mengelola bisnis restauran rumah makan di berbagai cabang disini. Beliau sudah tua , ingin menikmati masa tua, bunda ingin pulang ke jogya dan berkumpul dengan bude ku di sana. " Terang Bagas.
" Semoga lebih berhasil yah . " Reva memberi semangat.
" Keberhasilan akan lebih cepat tercapai ketika dikelola berdua. "
" Eh..iyah bisa begitu. "
" Marilah kita saling mengenal Reva, bunda pernah menceritakan tentang dirimu padaku, dan sepertinya aku mulai menyukaimu. " Jujur Bagas.
" Secepat itukah kamu menyukaiku, bercanda kamu, Tuan. " Reva tertawa.
" Well... itu adalah hak anda untuk menyukai seseorang. Untuk saat ini, aku tidak ingin membina hubungan yang serius, maaf. " Kata Reva hambar.
" Sepertinya anda sedang terluka, nona ? "
" Tidak juga, aku hanya ingin fokus menyelesaikan kuliah dan sibuk merintis bisnis caffee ku. " Reva sedikit berbohong.
" Tetapi bolehkankita berteman ? " Tawar Bagas.
" Oke, tetapi aku teman yang kurang baik, aku mungkin akan sulit kamu temui, kamu akan bosen nantinya. "
" Never mind girl, as you want. "
" Okey, mr. aku mo pulang dulu, hati sudah hampir gelap, rumahku masih jauh dari sini. " Reva beranjak dari tempatnya duduk. Bagas mengangguk dan mengijinkan Reva untuk berlalu. Bagas memandang tubuh ramping Reva keluar dari kedai kopi yang mulai ramai dikunjungi. Bagas meneguk kopi hitam tanpa gula itu. Reva, gadis yang sangat menarik guman Bagas yang masih meresapi betapa pahitnya kopi yang sedang disesapnya.
__ADS_1
Reva terus berjalan meninggalkan kedai kopi itu, menuju hatle bus way. Setelah sampai di hatle , dia duduk di salah satu bangku kosong. Tidak beberapa lama berhentilah bus itu di depan hatle, Reva berdiri dan melangkah menuju bus, kaki-kaki lemahnya menaiki tangga bis. Reva duduk di dekat jendela bus. Tidak lama datang gadis cantik berseragam abu-abu telah menemaninya.
" Kakak mo pulang ke bekasi mana ? " Tanya ramah gadis itu, Reva melirik sekilas.
" Bekasi Timur dik, deket pintu tol timur. " Kata Reva pelan.
" Aku punya teman di daerah bekasi timur, tetapi sudah lama aku tidak kerumahnya. Namanya Ganjar. " terang gadis SMA.
" Ganjar pribumikah ? " Reva menegaskan.
" Wuih, kok bener, setenar itukah Ganjar di bekasi . " Reva tersenyum.
" Dulu sekolah di SMP 36 jakarta timur, Dia adik kakak satu-satunya, sekarang dia ada di magelang, sekolah taruna disana dah hampir lulus . " Terang Reva.
" Pantes ga ada kabar, dia tega ga ngasih tahu mantan...he..he.." aku Gadis cantik itu.
" Serius kamu dulu pacar Ganjar ? " Reva penasaran.
" He..he..enggak kakak, cuma naksir dikit . Lagipula Ganjar mana suka gadis tomboy seperti saya. " Gadis itu tersenyum.
" Oh..namamu siapa, kakak namanya Reva. " Reva mengulurkan telapak tangannya.
" Jesica , panggil aja ica. " Jesica menyambut uluran tangan Reva.
" Sekarang kamu mo kemana ? "
" Kerumah tante , ke pondok indah. Bantuin tante, kakak sepupu mo nikah, minggu depan. "
" Kamu kok belum ganti seragamnya, udah mo sore gini. "
" He..he...habis dari rumah pacar. Kakak aku mengundangmu yah, catet no ponsel ica yah. " Gadis itu menyebutkan nomer ponselnya kemudian Reva mencatat dan menyimpan di kontak ponsel.
" Udah kakak ping yah." Kata Reva.
__ADS_1
" Jangan lupa nanti datang yah kakak, Ica turun dulu, dah sampai, da, kakak. " Jesica bangkit dari tempat duduknya, Reva mengangguk dan melihat Ica turun dari bus yang ditumpanginya. Bus melaju meninggalkan halte jakarta timur.