
Reva berhadapan dengan cermin di kamar mandi, Reva merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan, melihat bekas kecupan yang betebaran di area dadanya, dokter Pram masuk bertelanjang dada, berdiri disamping Reva yang secepatnya menutup aset berharganya, Dokter Pram hanya tersenyum, dan melihat bekas stempel yang betebaran di dadanya. Reva merona menahan malu.
" Hasil karyamu, luar biasa, sayang. " Kata dokter Pram sambil berbisik.
" Mesum...udah sana mandi ! " Hardik Reva.
" Mandi bareng yuk, saling gosok ! " Ajak Dokter Pram.
" Modus, dasar.." Kata Reva cemberut.
" Kesempatan , jangan disia-siakan. "
" Papa ingin menjodohkanku dengan anak temannya, menurut dokter gimana ? " Dokter Pram melihat Reva sekilas.
" Kamu yang punya keputusan , sayang. Lakukanlah yang kamu anggap benar dan kamu suka. "
" Baiklah, aku akan menikah dengannya dokter, hubungan ini salah, kita harus mengakhirinya. "
" Fine, kita akan saling melupakan, mungkin ini adalah nafsu bukan cinta. Keinginan manusia dewasa. " Kata dokter Pram membuat jantung Reva seperti tertikam. Ternyata memang tidak ada cinta dihatimu, dokter. Baiklah aku mundur. Batin Reva.
" Iyah.." Jawab Reva teriris. Reva segera meninggalkan kamar mandi dan menghapus buliran bening yang sudah membasahi pipinya. Reva menangis dan dadanya mulai sesak. Dokter Pram memeluknya dari belakang, menenangkan Reva yang sesunggukan.
" Menikahlah, aku tidak pantas kamu tunggu, Aku tidak membutuhkan cinta untuk bercinta, benar seperti yang kamu bilang. " Kata dokter Pram.
" Lepaskan aku dokter, jangan pernah menemuiku lagi, jika di jalan tidak sengaja bertemu, anggaplah kita tidak saling mengenal, kita akan menjadi orang asing. " Kata Reva mulai bersikap tenang. Reva melepaskan dekapan dokter Pram. Dokter Pram semakin memeluknya erat. Mencium tengkuk leher Reva.
" Stop dokter...ah." Reva merinding bulu kuduknya. Dokter Pram menganggkat tubuh ramping Reva masuk ke dalam sebuah kamar. Dengan perlahan Dia meletakkan tubuh Reva di atas ranjang big size. Tanpa ada pembicaraan, mereka saling berguling dan saling menindih.
" Sepertinya aku tidak pulang malam ini, dan dokter bersiaplah menerima amukan papa. " Kata Reva lemah dan tertidur terlentang disamping dokter Pram .
" Aku siap menerimanya, ha ha ha. " Dokter Pram tertawa.
" Aku mau pulangggg...." Teriak Reva.
" Tempatmu disini, kemana lagi ? "
" Disini panas , aku tidak betah dokter. "
" Kita mandi, aku akan mengantarmu pulang, aku ingin bertemu dengan papamu ? "
" Tidak perlu, aku akan pulang sendiri naik bus. " Tolak Reva.
" Apakah kamu ingin hubungan ini benar-benar berakhir ? " Tanya dokter Pram.
" Iya, aku tidak ingin mengganggu pernikahanmu, dokter. Aku tidak ingin mendapatkan karma . "
__ADS_1
" Baiklah nona sombong, aku akan kabulkan permintaanmu. " Kata dokter Pram dingin. Reva beranjak dari tidurnya, memakai bra dan bajunya yang tergeletak di samping ranjang.
" Aku tidak bisa hidup dengan lelaki yang tidak mencintaiku, selamat tinggal dokter !" Reva berdiri dan mulai melangkah pergi meninggalkan dokter Pram yang masih terbaring di balik selimut. Reva berjalan gontai menuju ruang tamu. Dia tidak mengejarku, dia benar-benar tidak mencintaiku.Batin Reva. Reva membuka pintu apartment namun usahanya sia-sia, pintu terkunci.
" Oh ..my God aku seperti orang bodoh gerutunya kesal. Reva terpaksa masuk kembali ke dalam kamar, dilihatnya dokter Pram memejamkan matanya.Dia malah enak-enakan tidur.Reva semakin kesal.
" Dokter, mana kunci pintunya, aku ingin pulang. " Teriak Reva di telinga dokter Pram. Dokter Pram tidak berespon.
" Dokter, jangan pura-pura tidak dengar, ini sudah malam, aku harus pulang, aku tidak ingin membuat papaku marah dan curiga. " Reva memegang badan dokter Pram dan Reva sedikit terkejut, Suhu tubuh dokter Pram sangat panas. Reva meraba keningnya dan benar , Dokter Pram demam. Reva sangat panik, dengan cepat dia keluar kamar, mengambil air panas dalam dispenser dan mencampurnya dengan sedikit air dingin untuk mengompres. Dengan cepat Reva masuk kedalam kamar dan mulai mengompres dokter Pram.
" Pulanglah , kunci pintu ada di kantung saku celanaku, paswordnya tanggal lahirmu, Dirga akan datang mengurusku ! Kata Dokter Pram pelan. Reva tidak menghiraukan perkataan dokter Pram.
" Aku baik-baik saja Reva, apa kamu tidak mendengarku, pulanglah ! " Nada suaranya sedikit meninggi. Reva melihat sekilas wajah dokter Pram yang dingin.
" Aku akan pulang setelah Dirga datang, ini demi kemanusiaan , aku seorang dokter, aku tidak bisa meninggalkan seseorang yang sakit di depan mataku. Tenanglah, ini hanya demi kemanusian, aku tidak memperdulikanmu. " Kata Reva yang sudah merasakan nyeri di hatinya, saat dokter Pram mengusirnya.
" Aku tidak akan mati dengan demam seperti ini, aku sudah terbiasa demam, tinggalkan aku ! " Perintah dokter Pram.
" Baiklah, aku akan pergi ! " Reva kesal , kemudian mengambil kartu di dalam saku kantong celana dokter Pram. Reva melangkah pergi meninggalkan dokter Pram yang terbaring lemah. Wanita sialan itu , menolak bertahan disisiku...ah..." Dokter Pram mengacak-acak rambutnya. Dengan perasaan hati yang hancur, Reva meninggalkan apartment dokter Pram dengan derai mata yang tidak bisa berhenti. Reva menyetop taksi yang lewat, sementara malam mulai bergulir, hujan mulai turun dengan lebat.
Dirga dengan tergopoh-gopoh, memasuki apartment dokter Pram. Dirga masuk ke dalam kamar , dengan cepat Dirga memberikan sebutir pil penghilang demam kepada dokter Pram.
" Ini kedua kalinya anda mengalami demam seperti ini, Tuan. Terakhir anda mengalaminya, ketika nona Mariene pergi meninggalkan anda. " Kata Dirga pelan dan sedang duduk di kursi.
" Anda mencintainya, pada saat itu, dokter, tetapi anda terlalu sombong untuk mengakuinya, sehingga nona mariene pergi karena frustasi dengan kedinginan anda. "
" Aku hanya menyukainya, tidak mencintainya, aku hanya tertarik dengan tubuhnya waktu itu, sebelum aku menyentuhnya, lebih baik aku mengusirnya dariku. " Terang dokter Pram .
" Berarti dokter belum pernah menyentuh nona Mariene ? " Dirga terkejut.
" Kamu pikir, aku bisa menyentuh sembarang orang, mereka akan kena racunku dan aku malas memberinya penawar racun. "
" Kenapa pada saat itu anda demam ? "
__ADS_1
" Wanita itu tidak kuduga menciumku, itulah yang membuatku marah dan mengusirnya. " Dirga tertawa.
" Kenapa kamu mentertawakanku, Dirga ? "
" Itu artinya anda dan nona Reva sedang melakukan itu . " Selidik Dirga.
" Darimana kamu tahu dia ada kesini ? "
" Kami berpapasan tetapi nona Reva tidak melihatku, kulihat dia berurai air mata. "
" Baru kali ini aku demam seperti ini, ini terasa sangat sakit, aku biasanya tidak merasakan demam ketika menyentuhnya, baru kali ini, aku juga bingung, Dirga. "
" Apakah nona Reva , mencintai anda , Tuan ? "
" Hah, Dia tidak pernah mengatakannya, aku tidak tahu dengan pasti, tetapi aku merasakan kebahagian tersendiri, saat aku menyentuhnya, diapun sepertinya menikmatinya, tetaoi dia tidak pernah mengakui untuk menyukaiku. " Terang dokter Pram.
" Sepertinya nona Reva mencintai , anda. Dia terlihat sangat sedih saat meninggalkan anda. "
" Aku mengusirnya, dia wanita sombong, dia yang menginginkan hubungan kami berakhir, dia menolakku, Dirga. "
" Itu sebabnya anda demam , dokter. Anda juga mencintai nona Reva tetapi anda mengingkarinya. "
" Aku tidak tahu Dirga, aku tidak pernah jatuh cinta, aku sengaja menghindarinya, dan ternyata kami dipertemukan di kedai coffee, tempatku nongkrong saat kuliah. Aku sudah hampir sepuluh tahun tidak kesana, dan kamu tahu, Reva berada di tempat itu juga. " Dirga tertawa.
" Takdir dokter, sejauh anda menghindar , anda akan kembali dipertemukan. "
" Ya, sekarang kuukir takdirku sendiri,Aku akan menghindari wanita itu meskipun waktu menemukan kita. " Tekad dokter Pram, Dirga hanya menarik nafas panjang, melihat dokter Pram yang berfikiran naif.
__ADS_1