
Hujan turun dengan derasnya, disertai kilat petir yang menyambar membelah bumi, angin berhembus mempermainkan isi bumi, ini adalah hujan terbesar yang telah terjadi di Ibu kota, lampu padam sudah sejam lebih, banyak pohon tumbang yang menghadang jalan raya, hujan hanya berlangsung lima belas menit, tetapi dampak dari ****** beliung yang dibawanya mampu melumpuhkan ibu kota. Aku masih terpaku melihat kondisi ibu kota yang carut marut akhibat tornado kecil, Meskipun hujan telah usai dan sinar mentari mulai terlihat, tetapi kondisi jalan raya masih sepi oleh kendaraan. Petugas kebersihan mulai bekerja , memotong bagian-bagian pohon yang melintang, deru mesin pemotong kayu masih terdengar dengan jelasnya. Ada seseorang yang menarik tanganku, dan membawaku menuju mobil sport yang terparkir tidak jauh dari halte bus. Jantungku serasa mau copot, setelah aku mengetahui siapa yang sedang menarikku. Tanpa banyak bicara, dokter Pram mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia masuk lewat pintu sebelah kanan mobilnya. Sekali gas mobil meluncur cepat meninggalkan hatle bus. Seperti biasa dia berwajah dingin dan fokus dalam menyetir mobilnya. Sudah hampir sepekan aku tidak melihatnya, dan tiba-tiba datang mengejutkanku. Mobil memasuki halaman rumahnya yang luas, aku sudah pernah dibawanya ketempat ini , tepatnya dua bulan yang lalu. Dokter Pram menghentikan mobilnya. Dia keluar dari dalam mobilnya , berjalan kearah pintu samping untuk membukakan pintu untukku. Aku keluar dari dalam mobilnya. Kami berjalan menuju rumahnya , pintu rumah terbuka dengan remote control. Kami berdua masuk kedalam rumah, suasana rumah sepi seperti waktu dulu. Aku duduk di sofa, sementara dokter Pram masuk ke dalam. Ada seorang pelayan yang mendatangiku dengan menunduk hormat.
" Maaf nona, anda ingin makan apa ? " Tanya pelayan itu sopan.
" Bibi ga perlu repot-repot, saya tidak lapar bik. " Kata Reva sopan.
" Maaf nona, sebut saja keinginan anda, ini perintah Tuan. "
" Saya benar-benar tidak ingin apa-apa bibi, bilang sama Tuan anda seperti itu. "
" Maaf nona jangan mempersulit saya, jika anda tidak ingin makan sesuatu, saya akan kena hukuman. "
" Benarkah demikian ? oh my God." Ujar Reva terkejut.
" Iya nona. Sekarang anda ingin makan apa ? "
" Baiklah, bawakan saya roti panggang bik, dengan jus mangga. " Reva akhirnya menyerah.
" Saya akan membawakan pesanan anda, permisi. " Kata pelayan itu undur diri. Aku masih menunggu di ruang tamu sambil membuka notice pesan yang masuk.
" Ehem.. Suara seseorang yang datang menegurku. Kulihat dokter Pram yang memakai baju santai.
" Untuk apa dokter membawaku kemari, nanti akan terjadi kesalah fahaman dengan calon istri anda. " Kataku membuka pembicaraan. Dokter Pram tersenyum sinis.
" Apakah kamu takut dengan calon istriku ? " Tanyanya santai
" Aku tidak pernah takut dengan siapapun, tetapi aku tidak ingin membuat keributan karena kesalah fahaman. " Terang Reva.
" Dia tidak akan tahu, aku membawamu kesini, tidak ada yang akan bisa menembus tembok rumahku." Kata dokter Pram menyakinkanku.
" Aku yang keberatan karena dokter membawaku kesini. "
" Kenapa, apakah kamu takut kepadaku ? " Tanya dokter Pram.
" Iya, saya takut dengan anda. " Reva mulai sedikit gugup, dokter Pram menatapnya tajam. Dokter Pram memencet remote, dan mereka berdua berada di sebuah kamar yang luas. Reva semakin cemas, detak jantungnya mulai tidak beraturan. Perlahan dokter Pram mendekati Reva. Mereka sangat dekat, sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Mata mereka saling bertautan.
" Aku merindukanmu orang asing, aku hampir gila karena selalu memikirkanmu. " Kata dokter Pram setengah berbisik.
" Aku...belum sempat Reva berkata, dokter Pram telah ******* bibir Reva dengan rakus, Reva hanya mendelikkan matanya tanda keterkejutan. Ciuman itu berlangsung cukup lama dan terhenti ketika Reva terengah -rengah kehabisan nafas.
" Stop dokter , kamu bisa membunuhku. " Reva berkata dengan nafas yang terengah-rengah. Dokter Pram tersenyum.
" Masih saja sombong. " Kata dokter Pram pelan. Dokter Pram menarik pinggang Reva mendekat ketubuh dokter Pram. Reva hanya terpaku tanpa menolaknya. Detak jantungnya mulai terdengar jelas, dokter Pram tersenyum menghipnotis Reva. Dokter Pram kembali mencium Reva, sambil tangannya membelai punggung Reva. Reva mulai terpancing gairah, Tanpa sadar Dia membalas ciuman dokter Pram yang mulai disukainya. Dokter Pram semakin bergairah ketika Reva membalas ciumannnya. Reva tidak bisa menahan gairah ketika tangan nakal dokter Pram menyentuh gunung kembarnya, memainkannya dengan lihai di pucuk-pucuk gunung kembarnya yang mulai mengeras.
" Reva...kata dokter Pram sudah tidak mampu menahan gairah. Tanpa sadar mereka berdua sudah dalam keadaan polos. Dengan cepat dokter Pram menindih tubuh Reva yang polos.
__ADS_1
" Jangan lakukan dokter...pinta Reva yang sudah lemah tak berdaya.
" Aku akan menikahimu Reva. " Bisik Dokter Pram.
" Ini sudah terlalu jauh, stop dokter ! " Reva mulai tersadar.
" Apa yang kamu takutkan, hey...aku akan bertanggung jawab. " Kata dokter Pram sedikit kesal.
" Ingat dokter anda akan menikah dengan nona gisella."
" Persetan dengan dia, yang kuinginkan hanyalah kamu Reva. "
" Jangan seperti itu dokter, pikirkan perasaan nona gisella. "
" Bagaimana perasaanmu sendiri , Reva ? Bukankah kamu juga menyukaiku ? "
" Aku tidak tahu dokter, aku tidak bisa berpikir dengan jernih ketika bersamamu. " Jawab Reva bimbang.
" Ah....Kesal dokter Pram. Dia bangkit dari tubuh Reva. Kemudian dengan cepat memakai pakaiannya. Sementara Reva bangun dan mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Dokter Pram minum segelas air mineral.
" Minggu depan aku akan menikah, aku mengundangmu, kamu harus datang . " Kata dokter Pram dingin.
" Aku pasti datang dokter, dan setelah ini semoga kita benar-benar menjadi orang asing dan saling melupakan. " Kata Reva lemah.
" Iya jika itu keputusanmu. "
" Berhentilah membual, Reva. Cukup diam jika tidak tahu apa-apa. "
" Sekarang ijinkan saya pulang. " Kata Reva lemah. Dokter Pram terdiam.
" Dokter tidak perlu mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri. " Kata Reva pelan.
" Ini untuk terakhir kalinya." Dokter Pram melayangkan ciumannya yang menuntut, Reva hanya memejamkan matanya , menikmati ciuman lembut itu. Mereka melakukannya lama.
" Pulanglah Reva ! " Kata dokter Pram dingin. Reva hanya mengangguk pelan. Dengan cepat dokter Pram memencet remote untuk beralih ke ruang tamu.
" Makanlah makanan pesannanmu sebelum pergi . " Kata dokter Pram.
" Aku tidak lapar dokter. Aku ingin pulang saja. "
" Jangan keras kepala Reva, makanlah !"
" Aku minum jusnya saja." Reva langsung meneguk jus mangga itu tanpa tersisa.
" Dirga akan mengantarmu pulang, tunggulah beberapa menit, dia dalam perjalanan menuju kesini. Jadi habiskan roti panggangnya, bibi akan membuatkan minuman jus mangga kesukaanmu. "
__ADS_1
" Aku bisa pulang sendiri , dokter. "
" Makanlah, tidak ada racun didalamnya ! " Kata dokter Pram kesal. Dengan berat hati Reva terpaksa memakan roti panggang yang mulai dingin itu. Dokter Pram hanya melihatnya sekilas, kemudian fokus dengan ponselnya lagi. Reva menghabiskan roti panggang itu tanpa tersisa.
" Kurasa tenagamu mulai pulih, sambil menunggu Dirga, ayo kita lanjutkan jogging sorenya. " Kata dokter Pram membuat Reva tersedak. Dengan cepat Reva meneguk jus mangga.
" Dokter...
" Cukup beberapa menit, aku akan cepat bekerjanya. " Timpalnya santai. Wajah Reva kembali memerah.
" Kamu tidak suka jogging ? "
" Apakah perlu dijawab ? "
" Tidak perlu jawaban, yang terpenting tindakan. "
" Lakukan sendiri, dokter. "
" Kenapa harus sendiri kalau ada partner yang membantu meringankan."
" Stop...
" Kenapa, apakah takut ? "
" Mengerikan menurutku. "
" Tetapi menyenangkan . "
" Itu menurutmu , dokter . "
" Mari kita lakukan bersama, untuk menyamakan persepsi. "
" Tidak perlu karena hasilnya tetap sama, yaitu mengerikan. " Dokter Pram tertawa lepas.
" Oke , baby...see next. "
" Never, the last . "
" We will see . "
" Gud bye forever. " Kata Reva setelah Dirga hadir diantara mereka berdua. Dokter Pram hanya tertawa lepas.
" Dirga , anter dia sampai di rumah , jaga jangan sampai dia kabur atau diculik orang. " Kata dokter Pram tegas.
" Memang siapa yang ingin menculikkku ? " Reva bertanya.
__ADS_1
" Aku sendiri. " Tawa dokter Pram meledak. Reva sewot kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah mewah itu.