
Reva duduk termenung di dekat jendela cafe yang sudah diresmikannya. Berkat kerja kerasnya, dia mewujudkan membuat mini cafe dengan corak tradisional jawa. Cafe yang bernuansa hening, ada aliran air mancur, cafe lesehan, menyediakan menu jawa, dan diiringi gamelan jawa yang membuat tenang. Sudah sebulan lamanya , Reva menyibukkan diri dengan cafe barunya, dengan kesibukkan itu, Reva berharap bisa melupakan kenangannya dengan dokter Pram. Dokter Pram pergi ke london untuk bisnis barunya. Hubungan mereka benar-benar putus. Tidak ada lagi komunikasi diantara mereka berdua.
" Hai, Reva...apa kabar ? " Sapa seseorang yang membuyarkan lamunannya. Seorang pemuda tampan telah tersenyum manis padanya.
" Bagaimana kakak bisa mengetahui cafeku disini ? " Reva terkejut ketika melihat bagas yang masih berdiri mematung melihatnya.
" Boleh kah aku duduk , gadis cantik ? " Bagas meminta pada Reva.
" Silahkan kakak, sekarang kakak kegiatannya apah ? " Tanya Reva , Bagas duduk berhadapan dengan Reva.
" Yah..kegiatanku sekarang berusaha dekat denganmu, bolehkah ? Tawa Bagas. Reva hanya tersenyum.
" Kakak tidak pernah ke kantin, sibuk dengan restorannya ya ? " Reva mengalihkan pertanyaannya.
" Sibuk memikirkanmu loh, tetapi kamunya ga peka. " Timpal Bagas pelan. Reva tersenyum.
" Kakak, aku tidak sebaik yang kamu kira, jangan memikirkanku, aku jadi tidak enak hati. " Reva terlihat bersedih .
" Adakah sesuatu yang membuatmu risau, kamu tampak bersedih, boleh aku tahu penyebabnya ? " Tanya Bagas penasaran.
" Tidak ada kakak, aku hanya kelelahan akhir-akhir ini, sebentar kakak , aku harus ke toilet dulu . " Reva beranjak dari duduknya dan sedikit berlari menuju kamar mandi, Reva memuntahkan isi perutnya di wastafel. Di pandanginya wajahnya di cermin, wajahnya tampak pucat pasi. Dia menarik nafas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Diraba perutnya yang masih rata, Ada janin yang sekarang berada didalam rahimnya, Dia tidak akan membunuh janin itu, dia akan membesarkan janin itu sendiri dan dokter Pram tidak akan pernah mengetahuinya. Reva membersihkan bekas muntahan yang berada di wastapel , mencuci wajahnya, setelah dirasa bersih, Dia meninggalkan toilet dan kembali ke tempat dimana Bagas menantinya.
" Kamu baik-baik sajakah ? " Tanya Bagas kawatir. Reva hanya menggangukkan kepalanya.
" Wajahmu masih terlihat pucat, sebaiknya kamu istirahat , mari aku antar pulang ! " Tawar Bagas pelan
" Aku baik-baik saja, kakak tidak perlu kawatirkanku. " Reva memberi pengertian.
" Tetapi wajahmu sangat pucat, kakak takut terjadi sesuatu terhadapmu. "
" Aku tahu kondisiku , kak. Aku tahu kapan aku bertahan , kapan aku harus memerlukan pertolongan. "
" Iya, aku lupa, kamu calon dokter, kamu tahu dengan benar kondisimu sendiri. " Bagas tersenyum.
Sebulan kemudian
Dirga memasuki panthouse milik dokter Pram yang berada di london. Dokter Pram sedang berada di ruang tamu dan duduk di kursi kayu ukirnya.
" Nyonya Gisella ingin menyusul anda kesini , Tuan. Mommy anda yang mengijinkan nyonya Gisella untuk menemani anda disini. " Kata Dirga sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Pram.
" Kapan wanita itu akan menyusul kesini ? " Tanya dokter Pram dingin.
__ADS_1
" Hari ini , dia datang bersama Dicky pengawal barunya. Pesawat jet nya akan sampai sejam lagi. " Terang Dirga. Dokter Pram hanya manggut-mangut.
" Apakah anda tidak keberatan
dengan kehadirannya , dokter ? " Dirga tampak heran.
" Aku akan mencoba untuk bersama wanita itu, aku ingin mencoba bercinta dengan banyak wanita. " Dirga tersenyum.
" Ada kemajuan dalam diri anda, aku senang mendengarnya. "
" Apakah kamu sedang mengejekku, Dirga ? " Dokter Pram menatap Dirga yang masih dengan senyumnya.
" Oh..mana berani aku mengejek teman seperjuanganku. " Dirga tertawa lepas.
" Akan kubuktikan aku bisa melupakan wanita keras kepala itu. Aku tidak mencintainya, aku hanya sekedar menyukainya, dan apakah Zacky sering menengoknya ? " Tanya dokter Pram penasaran.
" Tuan Zacky sedang membangun bisnis baru di canada, mungkin dia akan menetap disana dalam beberapa bulan mendatang. "
" Ada yang akhir-akhir ini dekat dengan nona Reva, Dia pengusaha restoran makanan yang cukup sukses. Ganteng, ramah dan sepertinya sangat menyukai nona Reva. " Dokter Pram tersenyum getir.
" Dia memang memiliki magnet tersendiri, tidak heran banyak lelaki yang akan mendekatinya, awasi saja Dirga , jangan sampai mengusik hidupnya. Dia sudah sangat terluka karena kepergianku. "
" Aku tidak bersemangat hidup , Dirga. Aku semakin terluka disini, aku bisa gila karenanya. "
" Anda menyiksa diri anda sendiri, anda mengingkari cinta yang ada dalam diri anda. "
" Dia terlihat sangat pucat dan tidak terurus. " Dokter Pram melihat kiriman vidio dari Dirga yang merekam Reva sedang berada di cafe barunya.
" Nona Reva, lebih sering berada di cafe barunya. Terkadang Dia menginap di cafe itu. "
" Aku mengerti kesibukkan akan sedikit menghilangkan kesedihannya. "
" Cinta yang rumit, beruntung aku tidak mengalaminya. "
" Hidupmu semakin berwarna, kamu tidak lagi sekaku dulu, wajahmu selalu bersinar. " Penilaian dokter Pram.
" Maria, semakin hari semakin membuatku bergairah, wanita hamil lebih menggoda , Dokter. " Terang Dirga berbinar-binar.
" Hamil ? " Dokter Pram seperti terperanggah.
" Ada apa dokter ? Bukankah aku sudah memberitahu jika Maria sedang hamil. " Dirga penasaran.
__ADS_1
" Reva..oh..my God, kami bercinta tanpa pengaman, Dirga. Bagaimana jika dia dalam masa subur ? " Dokter Pram memperhatikan wajah Reva dengan seksama.
" Sepertinya dia sedang hamil. Aku tidak pernah salah dalam memprediksi seorang wanita hamil, melalui wajah dan postur tubuhnya. " Dokter Pram memijat keningnya.
" Anda sangat gelisah, dokter ? "
" Aku lelaki pengecut, dan tidak berguna. "
" Apa yang harus saya lakukan untuk nona Reva, dokter ? "
" Awasi dia terus, jika dia memang benar-benar hamil, pindahkan sengah aset dari perusahaanku atas nama Dia, Aku tidak ingin anakku terlantar. "
" Baiklah, Tuan. Anda bisa menyerahkan amanat itu pada saya. Sekarang apa yang harus saya lakukan untuk nyonya Gisella ? " Tanya Dirga
" Biarlah dia tinggal di sini, dia adalah urusanku. Sekarang bersiaplah untuk menyambut dia dan bawa wanita itu kemari. "
" Baiklah , Tuan. " Dirga menunduk hormat dan pergi meninggalkan kediaman dokter Pram.
" Aku ada meeting dengan para direksi disini. Temani Gisella dan persiapkan segala keinginannya sebelum aku datang. " Kata dokter Pram, dokter Pram beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah pergi dan diikuti Dirga Di belakang. Mereka menuju mobilnya masing-masing. Dan menuju tempat yang berbeda.
Dirga menunggu kedatangan Gisella dan para pengawalnya. Tidak beberapa lama, pesawat jet pribadi itu menapaki landasan pacu bandara. Beberapa menit kemudian terlihat tangga pesawat terbuka, Gisella beserta rombongan menuruni tangga pesawat itu. Dirga mendekati mereka.
" Selamat datang, Nyonya muda. Semoga anda betah tinggal disini. " Sambut Dirga dengan datar.
" Dimana kak Pram ? " Tanya Gisella kemudian.
" Tuan ada meeting, nyonya muda. Saya akan menyiapkan keperluan nyonya nanti. "
" Baiklah Dirga, antar aku ke panthouse kak Pram. Aku akan menunggu kak Pram disana. " Kata Gisella sedikit kecewa. Dengan langkah yang cepat mereka memasuki mobil-mobil masing-masing.
Rombongan mobil memamasuki halaman panthouse. Gisella turun dari mobil yang dikendarai Dirga. Dengan gaya melenggok Gisella memasuki istana kecil itu. Dia duduk di sofa, sementara Dirga membawa koper baju Gisella ke dalam kamar utama sesuai perintah dokter Pram.
" Kenapa orang setampan kamu tidak menikah , Dirga ? Apakah kamu maho ? " Tanya Gisella saat Dirga menemuinya di ruang tamu. Dirga tersenyum ramah.
" Saya akan memiliki seorang bayi nyonya, tunggu beberapa bulan lagi istri saya melahirkan." Terang Dirga membuat Gisella terkejut.
" Kau...yang benar saja, Dirga. Tidak bohongkah ? "
" Nanti nyonya bisa melihatnya sendiri, saya akan menghubungi istri saya. "
" Yah sudahlah tidak perlu, dimana kamar kami, aku ingin tidur saja. " Kata Gisella pelan dan mulai berdiri dari duduknya. Dirga mengantarkan Gisella ke dalam kamarnya.
__ADS_1