
Jika cinta membuatku memilih, aku tidak akan membiarkan hatiku terus memilih dia untukku, tidak akan kubiarkan hatiku terperatai besi seperti ini, Tuhan , kirimkan kebencian dihatiku untuknya, biar bagaimanapun , tumbuhnya rasa cinta ini adalah suatu kesalahan yang besar, aku berada diantara dua hati yang lain , aku mencintainya, dengan cinta ini melukai hati yang lain, aku tidak bisa membencinya, bahkan semakin hari cinta ini semakin tumbuh subur tanpa pupuk penyubur, kulihat wajahnya yang damai saat tangan kekarnya melinggkar erat dipinggangku , kurasakan hangatnya nafasnya yang teratur, ada bulir kelelahan disana, tiba-tiba ada rasa sesak yang menyelimuti relung jantungku, terasa berat detak jantungku, rasanya seperti terhimpit dua anak bukit gunung.
" Tidurlah, tidak perlu memandangiku seperti ini, aku terlalu tampan untuk dipandang, bukan ? Semakin kau melihatku, semakin kau sulit melupakanku. " Katanya masih dengan mata yang terpejam. Aku terperanjat, ada rona merah diwajahku, tetapi dia masih dalam buaian, ternyata dia hanya mengigau, dasar sialan,kukira dia terbangun, dalam tidurpun, dia tahu aku memikirkannya.
" Seharusnya, aku tidak mencintai wanita sepertimu, Reva. Wanita dingin, wanita yang pandai mempermainkan perasaanku, wanita yang hanya mengganggapku sebagai orang asing , dan menginginkan perpisahan konyol ini, kau tahu Reva, kau telah menyiksaku dengan perpisahan yang kau inginkan. Kau hampir membuatku gila, jadi pantaskah aku mencintai seseorang sepertimu, Reva. " Ada bulir bening meleleh dipipinya , Dia masih dalam tidurnya, hatiku semakin sakit, jujurnya membuatku semakin membuatku terluka.
" Apakah kau tahu Reva bahwa hari ini , lewat mimpi ini ,aku sangat bahagia, aku bisa memelukmu seperti ini, aku enggan ingin bangun, dan pada akhirnya aku harus kehilangan kamu, saat mata ini terbuka . " Dia semakin memelukku erat, hingga hidung kami bersentuhan, bibir kami bersatu, saling menempel, satu ******* kuberikan, aku sudah tidak bisa mengendalikan nafsuku, dua bulan ini, aku juga tersiksa. Ada balasan ******* darinya yang lebih menuntut, matanya masih terpejam, aku tidak peduli dengan halusinasinya, menganggap aku sebuah mimpi. Hingga pada akhirnya, kami melewati malam panas ini dengan saling menuntut.
" Bisakah, kita mengulangi kembali ? " Tawar dr. Pram dengan senyuman. Mata Reva melebar, karena sisa-sisa percintaan belum lama hilang.
" Are you crazy ? " Reva sewot.
" I am going to be crazy cause you, baby. " Jujurnya.
" This is only dreaming, okey. "
" I think, but it was sure , baby. " Dr. Pram langsung menyerangnya tiba-tiba, Reva hanya sedikit kelabakan, meladeni sikap brutal dr. Pram.
" No...oh no..." Teriak Reva, tetapi dr. Pram tidak menghentikan aksinya.
" Diamlah, nikmatilah, biarkan aku yang bekerja ! " Bisiknya, sementara Reva hanya bisa mengimbanginya.
Moskow
Paijo duduk di kursi kerjanya, memperhatikan grafik trading gold di laptopnya, Selain bisnis senjata , Paijo menyukai bisnis trading . Kesibukkan bekerjalah yang sedikit mengalihkan perhatiannya pada Reva. Reva adalah cinta pertamanya, Dia mengenal Reva ketika tanpa sengaja berjumpa gadis itu di sebuah pusat perbelanjaan miliknya di kawasan jakarta. Mereka tidak bertemu secara langsung, Paijo tanpa sadar memperhatikan seorang gadis sederhana , berkuncir kuda sedang sibuk memilih baju kaos oblong, saat membayar di kasir, gadis berkuncir kuda itu lupa membawa dompetnya, sang kasir tidak mempercayai kejujuran Reva, terjadi pertikaian dan itu membuat paijo memperhatikan pertikaian itu. Paijo yang saat itu menyamar sebagai security mendekati mereka berdua.
" Kalau tidak punya uang cukup jangan belanja di sini, ngaku dompet ketinggalan segala. " Semprot kasir pada Reva pada saat itu.
" Jaga mulutmu ya, aku sudah berbicara baik-baik dari tadi, pelayan sepertimu harusnya dipecat, bicara mu kasar. " Reva emosi
" Pak satpam, tolong usir gembel ini, pak ! " Teriak kasir itu pada paijo.
" Tidak perlu berteriak untuk mengusirku dari tempat ini, aku akan pergi tanpa kamu usir. Dan satu hal, aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di pusat perbelanjaan yang memiliki pelayan yang arrogant. " Reva terlihat semakin marah dan berlalu begitu saja meninggalkan tempat perbelanjaan itu.
" Awasi gadis itu, cari tahu siapa dia ! " Perintah Paijo pada anak buahnya. Dua anak buah Paijo mengikuti Reva hingga menaiki bus way.
Flash on
Paijo dikagetkan seseorang yang baru saja datang menemuinya, lamunan tentang masa lalunya dengan Reva terhenti.
" Sudah kamu siapkan semua berkas yang kubutuhkan , itu. Aku mau semua sempurna . Besok kita bisa pulang ke indonesia dengan penerbangan pagi. " Kata Paijo pelan, asisten pribadinya segera memberikan semua berkas yang dibutuhkan dan diletakkan di depan meja kerja Paijo.
" Berapa lama Reva akan berada di London ? " Tanya Paijo tenang.
__ADS_1
" Tiga hari, Tuan . " Jawab asisten pribadinya pelan.
" Seminggu kedepan aku sibuk, terus pantau keberadaan Reva. Kita akan bergerak jika Reva dalam keadaan darurat. " Perintah Paijo.
" Baik Tuan ! " Balasnya singkat.
" Kamu boleh pergi ! " Asisten pribadinya undur diri. Paijo alias zacky terlihat membenarkan kaca matanya yang turun sedikit di matanya, dia memijat pelipisnya yang sedikit nyeri, seharian duduk di layar digital dan memantau turun naiknya grafik membuat sedikit kelelahannya, dia senang menganalisa sendiri grafik itu, seperti hobbynya memainkan game online. Hidup adalah ibarat permainan, kadang merasakan kekalahan kadang merasakan susahnya mencapai kemenangan, perlu keuletan untuk menuju kemenangan, harus berjuang menghalangi rintangan rintangan yang tidak sedikit, banyak cacian, banyak hinaan dan sepertilah kehidupan laksana permainan.
Jakarta
Paijo beserta rombongan menginjakkan kakiknya di landasan pacu pesawat jet pribadinya. Kaki-kaki panjangnya melangkah ke arah mobil sport metalic yang terparkir cantik di landasan bandara.
" Kelvin, aku akan menyetir sendiri, aku ingin berkeliling kota terlebih dahulu, sudah lama aku tidak menikmati kota ini. " Kata Paijo yang telah duduk di belakang setir mobil. Asistennya mulai mengangguk dan membungkuk. Dengan kecepatan sedang, Paijo melesatkan mobilnya keluar dari bandara, sekarang mobil sport itu sudah membelah jalan utama, memasuki tol, ramai padat kendaraan mulai terlihat ketika mobil Paijo keluar dari jalur tol, Paijo menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah. Mobil itu terparkir cantik di rumah makan tradisional. Suasana sedikit temaram, ada tembang jawa yang mengalun menenangkan. Paijo menyukai rumah makan sederhana ini , duduk di lesehan dan memesan makanan khas jawa. Dibukanya beberapa pesan singkat dalam ponselnya, karena terlalu fokus dengan ponselnya, tiba-tiba ada yang tidak disangkanya jatuh duduk diatas pangkuannya. Pajio terkejut dan sedikut terperanjat ketika telah mendapati seorang gadis muda yang sama terperanjatnya .
" Ma..maaf..." Ucap gadis itu, suasana temaram sehingga Paijo kesusahan untuk melihat wajah gadis yang sedang duduk di pangkuannya.
" Hemm..." Balas Paijo. Gadis muda itu mulai beranjak dari pangkuan Paijo.
" Untuk mengganti ketidaknyamanan anda, saya akan mentraktir anda. " Katanya penuh keramahan.
" Tidak perlu nona, silahkan anda memesan menu sendiri . " Kata Paijo kaku. Tanpa diduga gadis itu menyalakan lampu ponselnya dan diarahkan ke wajah Paijo yang gelagapan karena tersorot senter ponsel. Mata Paijo melotot tidak percaya, sementara ada sosok yang dikenalnya sedang terkekeh riang. Paijo menarik nafas dalam-dalam, kenapa banyak rumah makan yang ada, dia harus bertemu gadis itu kembali.
" Astaga, Ica. Bagaimana bisa kamu berada disini ? " Pertanyaan konyol Paijo terlontar. Jesica masih mengulas senyum bahagia.
" Bukan takdir, ini adalah kebetulan saja, kebetulan kita memiliki kesamaan tujuan, dan kita bertemu disini. " Paijo mengoreksi Jesica.
" Kemana saja, bang ? Aku tidak bisa menghubungi nomer ponselmu , apakah abang sengaja mengganti nomer abang supaya aku tidak bisa menghubungi abang kembali . " Tanya Ica pelan. Paijo dengan kejam mengangguk. Mata Jesica melebar.
" Kenapa abang ingin menghindariku ? Cecar Jesica.
" Karena kamu cukup menggangguku, aku banyak kesibukkan dan tidak mau kamu ganggu dengan kepentinganmu yang tidak penting bagiku. " Kata Paijo sedikit tak berperasaan. Paijo ingin gadis didepannya itu membunuh perasaannya. Dengan berkata pedas dan tidak bersahabat itu akan menjadi obat pait bagi Jesica agar tidak terus mengusiknya. Jesica terlihat sendu.
" Iya aku mengerti , bang. Maaf jika sikapku selama ini membuat abang terganggu. Dan aku permisi , silahkan anda makan. " Jesica mulai beranjak dari duduknya, hatinya terasa teriris, cinta pertamanya kandas menyakitkan.
" Tunggu ! Makanlah dahulu, bukankah kamu datang kesini karena ingin makan ! " Cegah Paijo.
" Saya akan mencari tempat lain . " Jesica tersenyum dipaksakan.
" Tidak mudah menemukan rumah makan sesuai seleramu, ini jam makan siang dan kurasa kamu sangat lapar. " Bujuk Paijo
" Aku masih bisa menahan laparku, bang. Tidak perlu mengkhawatirkanku, karena aku bukanlah orang yang penting bagimu, bukan ? " Jawaban Jesica menohok hati Paijo. Paijo menghela nafas.
" Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya memberimu saran, jika kamu lapar saat ini, kenapa harus mencari rumah makan lagi, disini kamu tinggal pesan. Tetapi terserah padamu, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal. " Kata Paijo penuh kehati-hatian. Jesica tidak membalas perkataan Paijo, dia langsung pergi. Setelah kepergian Jesica, ada rasa bersalah dalam hati Paijo, apakah perkataannya sungguh keterlaluan sehingga Jesica benar- benar meninggalkannya. Selera makannya menjadi berkurang. Paijo memutuskan pergi meninggalkan rumah makan ini dengan segera. Paijo menaiki mobilnya dan menjalankan dengan pelan meninggalkan parkiran rumah makan tradisional itu. Pandangan matanya tertuju pada sosok gadis mungil yang tengah berdiri di haltle bus trans Jakarta. Kenapa gadis itu mengantri menunggu bus, apakah orang tuanya sudah bangkrut, sehingga dia mulai terbiasa menggunakan bus umum itu. Mobilnya menepi kearah Jesica.
__ADS_1
" Masuklah , aku akan mengantarmu untuk mencari rumah makan ! " Tawar Paijo sembari membuka pintu depan mobil. Jesica sedikit ragu tetapi Paijo memaksanya. Jesica akhirnya duduk disebelah kemudi. Jesica menutup pintu mobil dan duduk dengan tenang sambil memasang sabuk pengamannya.
" Kenapa sopir tidak mengantarmu pergi ? " Paijo membuka percakapan.
" Aku ingin merasakan berbaur dengan sesama, ternyata naik bus sambil berdesak-desakan itu sangat menyenangkan. " Ulasnya senang. Paijo tersenyum masam.
" Dan orang tuamu mengijinkan itu ? " Tanya Paijo, Jesica sedikit memucat.
" Em..mereka tidak tahu, aku menyuruh sopir untuk mengatakan bahwa aku ikut mobil temanku, karena ada tugas sekolah. " Jujur Jesica.
" Kenapa harus berbohong , Ica. Itu tidak baik , itu akan menjadi kebiasaanmu, dan akan membentuk pribadimu seperti itu. Semua orang tidak suka dibohongi, atau kamu lebih suka dibohongi ? " Paijo menerangkan.
" Tetapi terkadang bohong membuatku bahagia dan bisa membuat orang lain ikut bahagia . " Tutur Jesica. Paijo mengerutkan alisnya.
" Maksudmu membuat bahagia seperti apa ? " Tanya Paijo heran. Jesica tersenyum.
" Untuk menyenangkan seseorang, aku biasa berbohong menutupi kondisiku sendiri agar orang itu tidak terlalu sedih ketika mengetahui kondisiku sebenarnya, dan aku akan cukup bahagia jika abang berbohong untuk mencintaiku, yang sebenarnya cinta itu tidak akan pernah hadir . " Kata Jesica pilu. Paijo menarik nafas tanpa melihat expresi sedih di wajah Jesica.
" Apapun alasannya , aku tidak bisa mentoleransi suatu kebohongan, bohong itu bentuk pengkhianatan secara tidak langsung. " Kata Paijo tegas.
" Ya, aku memang tidak layak untuk dicintai siapapun, karena hidupku penuh dengan kebohongan . " Jesica terlihat semakin pilu.
" Kamu masih kecil, Ica. Lebih baik fokuskan dirimu untuk belajar, akan ada saatnya nanti seseorang yang mencintaimu, jalanmu masih panjang. "Nasehat Paijo . Mobil terus melaju dengan cepat, beberapa menit kemudian mobil sudah terparkir di area apartement mewah milik Ica.
" Abang, bisakah abang mampir sebentar , kita bisa makan siang bersama, karena kuyakin abang belum sempat menikmati makan siang, aku sudah memesan makanan lewat online dan sebentar lagi akan tiba. " Pinta Jesica Memelas. Terpaksa Paijo menyetujui karena perutnya belum terisi apapun sejak datang dari Moskow. Mereka menaiki lift menuju lantai paling atas. Dibukanya pintu apartment nyaman itu dan mereka berdua masuk. Paijo mengambil tempat duduk di sofa berukuran besar nan empuk. Jesica masuk ke kamarnya dan mengganti baju santai, kaos oblong dan memakai celana pendek diatas lutut.
" Terima kasih karena sudah bersedia mampir, silahkan minum air mineralnya ! " Kata Jesica bertutur sedikit formal
" Kamu tampak lebih dewasa , aku seperti tidak mengenalimu. " Jesica tersenyum.
" Terima kasih , bang atas penilaiannya. " Kata Jesica tulus.
" Setelah ini, kamu ingin melanjutkan kuliah dimana ? " Tanya Paijo
" Aku ingin menikah, untuk apa aku kuliah, bang. Mereka mengejar sekolah tinggi demi mendapatkan pekerjaan yang layak, aku tidak membutuhkan itu, bang. Aku tidak perlu kuliah, jika aku ingin bekerja, aku tinggal memilih dimana perusahaan papi yang ada. " Jawab Ica.
" Bagaimana kamu bisa meneruskan usaha papimu jika kamu tidak menguasai management perusahaan. Kamu perlu belajar lebih banyak lagi, sehingga perusahaanmu lebih maju dari sekarang. " Papar Paijo.
" Aku akan menikahi abang. Kurasa abang orang yang sangat kompetent untuk mengelola perusahaan ini, bukan . " Rona wajah Paijo bersemu merah.
" Sepertinya jiwa narsismu masih melekat, Ica. " Timpal Paijo. Ica terkekeh riang.
" Aku bukan anak kecil lagi, abang. Lihatlah tubuhku , semua sudah berisi dan siap menghasilkan banyak keturunan. " Paijo bersemu merah di wajahnya, kevulgaran Jesica mampu mengulitinya. Dan ketika dengan tiba-tiba Jesica menjatuhkan tubuh berisinya ke pangkuan Paijo, Paijo tidak bisa menghindar dan disaat kelengahannya, Jesica dengan cepat ******* bibir Paijo yang sedikit tebal yang sangat menawan. Paijo seperti terkena aliran magnet, hasratnya mulai menggebu, tanpa sadar Paijo mulai mengikuti irama Jesica yang tampak lebih ahli darinya. ******* mulai terdengar , pertukaran saliva itu membuat keduanya terbakar nafsu yang semakin memuncak. Diraihnya tengkuk Jesica untuk memudahkan Paijo mengeksplore setiap rongga mulut jesica yang terasa manis dan candu bagi Paijo. Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Sebelum melewati batas, Paijo menghentikan pagutanya.
__ADS_1