Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Part 15


__ADS_3

Dokter Pram duduk di kursi kerjanya, wajahnya masih sibuk mengawasi layar monitor laptopnya, ada berkas-berkas yang harus segera ditanda tangini secepatnya. Dirga memasuki ruangan dokter Pram.


" Ada nona gisella di luar ,Tuan, dia memaksa ingin bertemu dengan anda. " Kata Dirga membuka pembicaraan. Dokter Pram melirik Dirga.


" Hari ini fitting baju pengantin, mommy menyuruhnya datang kesini, bawa dia masuk ! " Kata dokter Pram dingin.


" Sudah berapa kali anda menemuinya, Tuan ? " Tanya Dirga memancing.


" Kau pikir dia orang penting yang harus kutemui, aku hampir sepuluh tahun tidak bertemu dengannya, terakhir bertemu dengannya ketika papi meninggal dan keluarganya datang kerumah untuk bela sungkawa. " Jawab dokter Pram.


" Waktu sepuluh tahun waktu yang cukup untuk merubah fisik seseorang, Dia terlihat sexy dan ingin diajak ke ranjang. " Dirga tertawa, dokter Pram hanya tersenyum sinis.


" Apakah kamu belum melakukan misimu, Dirga ? " Tanya dokter Pram sesaat.


" Maaf dokter, Maria sudah membuatku kepayahan tiap hari, aku tidak sanggup meladeni banyak wanita." Kata Dirga jujur.


" Apakah wanita itu hamil ? " Tanya dokter Pram kemudian.


" Kami belum mengeceknya, masih terlalu dini dokter, nunggu satu bulan saja. "


" Padahal ada alat pengecek kehamilan yang bagus, alat itu mampu mendeteksi dengan cepat setelah seminggu kalian melakukan hubungan itu. " Terang dokter Pram.


" Apapun hasilnya tidak masalah dokter, aku akan bertanggung jawab. "


" Rupanya kamu sudah tergila-gila dengan wanita itu, Dirga. " Nilai dokter Pram


" Mungkin dokter, aku ingin selalu dekat dengannya , menanyakan keadaannya. " Dokter Pram hanya geleng-geleng kepala.


" Bawa masuk wanita itu ! " perintah dokter Pram. Dirga menunduk hormat kemudian keluar meninggalkan ruangannya. Tidak lama kemudian Dirga membawa nona gisella yang mulai menebar senyum ketika melihat dokter Pram yang sangat tampan.


" Kak Pram, kenapa tidak pernah menghubungi gisella ? " Tanya gisella dengan senyumnya yang masih terkembang.


" Aku terlalu sibuk, jadi mulai sekarang kamu harus bersiap-siap untuk itu, aku tidak suka wanita manja yang setiap hari harus diperdulikan." Kata dokter Pram dingin.


" Aku tahu kakak, paling tidak kakak memberitahuku dimana keberadaan kakak. "


" Aku akan menghubungimu, saat menemaniku di ranjang saja. " Jawab dokter Pram datar, membuat rona merah di wajah nona gisella.


" Kakak terlalu frontal, well but i will give u the best serve. " Kata gisella sumringah.


" Aku butuh tukang pijat, dengan adanya dirimu , aku tidak akan mendatangkan tukang pijat profesional. " Kata Pram santai.


" What ' s ? " Gisella terkejut.


" Kamu keberatan kah ? Baiklah aku akan mencari orang lain yang bersedia untuk mengurut otot-ototku yang tegang. "


" Setelah pijat memijat, apa yang akan kita lakukan selanjutnya ? " Tanya gisella penasaran.


" Tergantung pijitanmu, jika memuaskan , aku akan memberimu kepuasan juga. " Jawab dokter Pram santai.


" Oke, i understand, i will do that. "


" Hari ini fitting baju, Dirga yang akan menemanimu, aku sudah lebih dulu mengukur tubuhku untuk baju yang akan dipakai di butik mommy, tinggal kamu yang belum melakukannya, mengenai pilihanmu, semua bagus. " Kata dokter Pram to the point.

__ADS_1


" Kak Pram , kok gitu sih, temanin aku dong. " Rayu gisella.


" Jangan manja, ingat ! kakak ga suka wanita manja. Kakak lagi sibuk, kakak ga bisa membantah omongan momny, karena itu aku mengijinkanmu datang kesini, ingat kamu harus bilang ke mommy jika kamu tidak ingin mengajak kakak karena kakak ada pekerjaan yang penting. Oke sekarang bersiaplah, Dirga akan mengantarmu ke butik mommy. Jadilah istri yang penurut nantinya agar aku tidak secepatnya menceraikanmu, oke !" Ultimatum dokter Pram, gisella hanya diam dengan kekesalannya, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak selain melakukan apa yang diperintahkan calon suaminya. Dirga membawa keluar nona gisella dari ruangan dokter Pram.


Mereka berdua memasuki mobil sport warna metalic, suasana masih beku, Dirga dengan wajah dinginnya masih fokus dengan mengemudinya.


" Dirga, apakah Tuanmu memiliki seorang pacar ? " Tanya nona gisella penasaran.


" Tuan terlalu sibuk, tidak ada waktu dengan wanita manapun. " Jawab Dirga datar


" Bagaimana dengan gadis yang bernama Reva ? "


" Sejauh mana anda mengetahui bahwa mereka ada hubungan ? " Pancing Dirga.


" Randy menceritakan bahwa dokter Pram pernah membawa gadis itu ke rumah pribadi dokter Pram ? " Terang Gisella.


" Dan dengan berita itu, anda menyimpulkan bahwa mereka ada hubungan yang special ? "


" Tentu saja , Dirga, aku saja ga pernah diajak dokter Pram ke rumah pribadinya. Coba kamu pikir apa yang mereka lakukan di rumah itu ? "


" Antara dokter Pram dan nona Reva, mereka hanya sebatas dosen dan mahasiswi, anda tidak perlu curiga yang berlebih. " Dirga berusaha menutupi kenyataan yang terjadi.


" Apakah ada mahasiswi lain yang juga diajak kerumahnya , Dirga ? " Cecar Gisella .


" Dokter Pram memberikan sedikit hukuman pada nona Reva, dokter Pram sangat marah ketika nona Reva meninggalkan seminar dokter Pram yang baru dimulai. " Terang Dirga.


" Hah...seberani itukah gadis itu ? " Nona gisella terkejut.


" Iya, dan dokter Pram memberikan hukuman di rumahnya, jika diberikan di kampus, akan banyak diketahui orang, dokter Pram tidak suka disorot media, itu sebabnya dia membawa nona Reva kerumahnya . "


" Sebaiknya nona itu tidak mudah tersulut emosi dengan berita yang belum tentu benar. Itu akan mempermalukan diri anda sendiri. "


" Iya , Dirga.Mulai sekarang aku akan menyaring semua berita dan menyelidiki kebenarannya. "


" Itu akan lebih bagus . " Saran Dirga, setelah itu tidak ada obrolan yang lainnya, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


Reva duduk termenung di dekat jendela kamarnya, bayangan dokter Pram selalu bekejar-kejaran dalam benaknya dan itu mengganggu sedikit konsentrasinya belajar. Dia tidak tahu dengan perasaannya, dia belum mampu menentukan pilihan hatinya. Pandangan matanya tertuju pada mobil yang terparkir tidak jauh dari rumahnya, kaca mobil terbuka, sontak Reva melihat sosok yang duduk di belakang kemudi itu, pandangan mata mereka beradu, ada desiran yang mulai menyerang di dadanya, bunyi detak jantung yang mulai tidak berirama. Sorot mata lelaki yang sedang menatapnya saat ini adalah milik dokter Pram. Dokter Pram memberikan kode, meminta Reva segera turun dari kamarnya. Reva menggeleng lemah, Reva tidak ingin terjebak untuk kesekian kalinya.


apakah aku harus memaksamu untuk turun kebawah ?


Pesan singkat dari dokter Pram. Reva menarik nafas, dengan gontai dia keluar dari kamarnya.


" Ma, Reva pergi sebentar ya, ada janjian dengan teman mendadak. " Kata Reva ketika menjumpai mamanya yang berada di ruang tamu.


" Kemana kamu perginya , nak ?" Tanya mama Reva.


" Kurang tahu juga ma, da mama. " Reva menyalami tangan mamanya kemudian dia pergi meninggalkan rumah. Reva berjalan mendekati mobil dokter Pram, pintu mobil telah terbuka. Reva masuk dan duduk di samping kemudi. Reva memasang sabuk pengaman, setelah siap mobil meluncur dengan cepat, mobil menuju ke arah puncak. Dokter Pram sengaja membawa Reva ke vila di puncak . Udara dingin menyerang, dokter Pram segera memberikan jaket untuk Reva. Mereka memasuki sebuah vila yang mewah , memiliki tiga kamar berukuran besar, dua kolam renang dan halaman taman.


" Bagaimana , apakah kamu menyukai tempat ini ? " Tanya dokter Pram yang sudah duduk di kursi kayu berukir.


" Nyaman tapi terlalu dingin. " Jawab Reva pelan.


" Apakah kamu pernah mengunjungi daerah ini sebelumnya ? "

__ADS_1


" Terakhir kali aku mengunjungi tempat ini sewaktu sekolah kami mengadakan reuni SMA , empat tahun yang lalu, kami menyewa vila, tetapi aku lupa tepatnya dimana vila itu berada. " Terang Reva pelan


" Sudah cukup lama rupanya, kita akan menginap di vila ini selama dua hari. " Kata dokter Pram mengejutkan Reva.


" Dokter, aku tidak memberitahu mama soal ini, aku takut mama mencariku nanti. "


" Dirga akan memberitahu mamamu, kamu tenang saja, menikmati weekend disini bersamaku. "


" Lah, kok dengan saya, kenapa tidak mengajak calon istri anda , dokter ?


" Dia lagi sibuk untuk mempersiapkan pernikahan kami . " Reva hanya geleng kepala.


" Kenapa anda tidak membantunya , anda keterlaluan ..ck..ck. "


" Itu pernikahan impiannya, bukan pernikahan yang aku impikan. Jadi buat apa aku membantunya. "


" Anda mempermainkan pernikahan , dokter. Otomatis anda mempermainkan kehendak Tuhan. "


" Hey, tidak usah mengguruiku, aku lebih tahu apa yang harus kulakukan. Temani aku disini, menikmati liburan, oke. "


" Aku takut dengan anda...Gumam Reva .


" Aku bukan seseorang yang harus kamu takuti. " Dokter Pram mendekat kearah Reva. Reva bergeser menjauh. Dokter Pram tersenyum sinis.


" Kau selalu saja menolakku, apakah aku kurang tampan menurutmu ? "


" Iya...Reva mulai tersenyum.


" Oke, jadi seperti siapa yang kamu sukai ? " Dokter Pram lebih mendekat, tangan kanannya merengkuh pinggang Reva.


" Kay ..exo...Reva cekikikan.


" Astaga Reva, apa bagusnya kpop itu ? " Dokter Pram menarik nafas.


" Ganteng, ramah dan pinter nyanyi. "


" Ck...ck...hanya itu saja ? "


" Iya, dokter terlalu serius, aku selalu tegang jika dekat dokter. "


" Jadi aku harus jadi seperti dia, agar kamu bisa menyukaiku ? "


" Hooh...hari ini dokter harus menjadi kay exo...


" Reva yang benar saja, aku pria, sedangkan dia laki-laki setengah wanita. "


" Dokter kok bilang gitu sih. "


" Coba kamu lihat dia baik-baik, lelaki ga ada bulu dadanya, bibirnya sering memakai lipstik, trus jago berjoget meliuk-liuk, coba apa bedanya denganmu ? "


" Tapi badannya bagus...ups..Reva menutup mulutnya. Dokter Pram dengan pelan membuka kaos casualnya, dah memperlihatkan dada bidang berotot, sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus. Reva menutup matanya.


" Coba kamu bandingkan Reva, lihatlah, buka tanganmu dari matamu. "

__ADS_1


" Tidak dokter, takut khilaf...lirih Reva. Dengan cepat dokter Pram menarik tangan Reva untuk memegang dadanya.


__ADS_2