
Reva menatap sekeliling kamar yang bernuansa hangat, sebuah kamar berukuran besar dengan warna cat krem di dinding kamar, tergantung lukisan skestsa wajah dirinya yang tampak hidup, dia berdiam diri, merutuki kesendiriannya di kamar bagai terpenjara. Bunyi detik-detik jam dinding terus terdengar mengusik ketenangan hati, rasa bosan mulai merasuki , Sudah hampir 11 jam dr. Pram meninggalkannya karena pekerjaan yang mendadak.
" Aku mau pulang, aku bosan disini, aku ingin berkumpul dengan teman-temanku dan menyelesaikan skripsiku secepatnya ! " Kata Reva setelah dr. Pram mengangkat ponselnya.
" Lima menit aku akan sampai, bersabarlah ! " Jawab dr. Pram dingin dan langsung menutup ponselnya.
" Dirga, siapkan jet pribadiku sekarang juga. Aku ingin ke jakarta. " Perintah dr. Pram datar.
" Anda membatalkan ke Irlandia ? " Dirga mengingatkan.
" Reva ingin pulang, aku ingin dia merasa tenang . Aku kangen dengan mommyku juga. Mengenai Gisella , berikan credit card saja, dia akan sibuk dengan kartu itu. " Perintah dr.Pram
" Syukurlah, saya lega,itu berarti saya akan menemui maria lebih cepat, terima kasih Tuan, anda sungguh sangat pengertian . " Ujar Dirga disertai senyuman. Pembicaraan mereka terhenti ketika mobil berhenti di depan rumah mewah dr. Pram. Dr. Pram dengan cepat keluar dari dalam mobil, dia tidak menghiraukan Gisella yang berada di ruang tamu dan tengah menyambutnya. Tanpa membalas sapaan Gisella, dia langsung pergi ke kamar dan mengunci pintu kamarnya secara otomatis. Dilihatnya Reva yang tampak sedikit pucat. Dikecupnya kening Reva .
" Lima belas menit lagi kita akan ke Jakarta. Kamu bisa tenang sekarang. " Kata dr. Pram dan langsung mengendong Reva dan membawanya ke kamar mandi.
" Tidak mungkin mandi bergiliran, cepatlah mandi ! " Perintah dr.Pram datar.
" Dasar mesum . " Dengus Reva sementara dr. Pram terkekeh sembari melepas semua pakaiannya, dan tidak menghiraukan Reva yang memalingkan wajahnya. Mereka mandi bersama tanpa bersuara, hanya sepuluh menit mereka mandi . Dr. Pram memakai baju casual berjins panjang warna hitam, sementara Reva memakai gaun warna pink sepanjang lutut. dr.Pram mengajak Reva keluar lewat pintu khusus yang diciptakan disamping kamar pribadinya, di sudut jalan Dirga menunggu dengan mobilnya. Reva dan dr.Pram masuk ke dalam mobil disertai Dirga yang duduk di belakang kemudi. Mobil melesat cepat menuju bandara. Jet pribadi telah siap, dr. Pram ,Reva dan Dirga menaiki tangga pesawat. Ruangan yang serba luxs, semua fasilitas tersedia, Reva merebahkan tubuhnya diatas ranjang berukuran sedang. Dr. Pram dan Dirga duduk di kursi dekat jendela pesawat. Mata Reva langsung terpejam, rasa kantuk tiba-tiba menyerang, jam menunjukkan pukul 23.00 pm . Hampir 14 jam mereka terbang di udara. dr. Pram tidak tertidur karena sibuk dengan pekerjaannya, sementara Dirga menikmati mimpinya diatas kursi pesawat yang terasa nyaman. Pesawat landing dengan selamat. Reva terbangun sebelum pesawat mendarat. Mereka bertiga menuruni tangga pesawat. Terik mentari membakar kulit mereka. Sebuah mobil metalic telah menyambut mereka bertiga.
" Antarkan aku ke rumah, dokter ! " Pinta Reva setelah duduk di dalam mobil bersama dr. Pram.
" Kita akan beristirahat di vila puncak. Aku masih merindukanmu, aku janji tidak akan menganggumu, aku ingin tidur seharian. " Kata dr. Pram datar.
__ADS_1
" Aku bukan baby sistermu, Tuan arrogant, kau bisa tidur sendirian disana. Ada hal lain yang harus kukerjakan. " Reva mengatakan keinginannya.
" Kau bisa memijatku dan membantuku tidur lebih cepat dengan olah raga ringan. " Timpal dr Pram santai. Mata Reva melebar.
" Tidak, kau tidak akan puas, aku sangat kelelahan . " Protes Reva, Reva kembali mengingat di London, selama beberapa jam dr. Pram mengurungnya dan melampiaskan nafsunya berulang dan tidak ada rasa puas. Dr. Pram terkekeh melihat Reva yang berubah muram wajahnya. Sopir membawa mereka meninggalkan bandara. Dr. Pram tidur di bahu Reva sambil menggenggam tangan erat. Reva membiarkan kepala dr. Pram bersandar dibahunya, jika tertidur seperti ini, kau ibaratkan seorang bayi yang butuh perlindungan dan kehangatan, wajahnya yang terlihat sedikit pucat karena kelelahan batin Reva. Mobil menuju jalan tol kearah puncak. Suasana puncak sejuk karena diguyur hujan yang lumayan deras. Mobil memasuki parkir di salah satu vila mewah. Dr. Pram terbangun saat mobil berhenti. Seseorang menyiapkan payung ketika dr. Pram dan Reva membuka pintu mobil. Mereka berdua memakai payung berukuran besar, diapitnya tubuh ramping Reva ke badan dr. Pram untuk menghindari percikan bulir bening hujan yang semakin deras.
" Kau tampak kedinginan , bibirmu sedikit berkerut dan jari-jarimu terasa sedingin air es. " Dr. Pram memperhatikan Reva yang tampak kedinginan.
" Tidak perlu khawatir, aku bisa mentoleransi dingin ini. " Reva berusaha kuat menahan dingin yang semakin menyerang. Dr. Pram tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Reva dan bergerak menuju kamar. Direbahkan tubuh Reva diatas kasur dan menutupi tubuh itu dengan bed cover tebal.
" Tunggulah sebentar, aku akan membawakanmu beberapa menu makanan. " Dr. Pram berlalu meninggalkan Reva yang terbaring nyaman. Reva memejamkan matanya, menarik nafasnya untuk mengatur mengembangnya paru-parunya. Tidak sampai sepuluh menit, dr.Pram membawa troli yang diatasnya banyak menu makanan. Reva mengedarkan pandangannya, menelisik siapa yang datang, dilihatnya lelaki tampan yang sedang dengan ramah menampilkan senyum tulusnya.
" Silahkan tuan putri, makanan telah siap. " Ucap Dr. Pram sambil mendorong troly mendekati ranjang kingsize. Reva bangun dari tidurnya, dr Pram mengambil nampan yang diatasnya berisi sup ayam kampung yang mengunggah selera. Reva tidak sabar mengambil nampan itu tetapi dr.Pram tidak memberikannya.
" Hubungan ini tidak seharusnya terjadi, sadarlah dokter, hubungan ini akan menyakiti hati wanita lain. " Reva berkata penuh kehati-hatian.
" Tidak usah kau fikirkan wanita itu, dengan menerima pernikahan itu, wanita itu telah mengukir lukanya sendiri. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan itu, dia yang menginginkannya. " Kata dr Pram santai sambil terus menyuapi sup ayam kampung kepada Reva.
" Tetapi dokter..." dr. Pram memberi kode untuk tidak berbicara saat makan.
" Aku akan menikahimu , maaf karena dua bulan ini , aku meninggalkanmu, seharusnya aku tidak berpikir bodoh. " Reva hampir tersedak mendengar permohonan dr. Pram.
" Maaf jika aku memaksamu, mungkin saat ini kita belum saling mencintai, tetapi aku berjanji, aku akan mencintaimu dengan cepat. " Reva melihat dr. Pram sesaat, ada sedikit sesak setelah mendengar kejujuran dr. Pram.
__ADS_1
" Lupakan tentang pernikahan, aku tidak ingin menikah denganmu, dokter. Aku hanya akan menikah dengan seseorang yang mencintaiku. " Balas Reva getir.
" Masih saja keras kepala, kita membutuhkan satu sama lain, kebutuhan lelaki dan wanita dewasa. Untuk saat ini aku membutuhkan itu , aku tidak mudah berhubungan dengan wanita, dengan dirimu saja tubuhku merasa cocok. " Kata dr. Pram menahan emosi.
" Setelah anda bosan , apakah anda akan meninggalkan saya ? " Tanya Reva pilu.
" Jika aku meninggalkanmu suatu hari nanti, tenang saja aku akan memberimu banyak kompensasi, hidupmu akan berkecukupan bahkan berlebih tanpa harus susah payah bekerja. " Satu tamparan melayang di pipi dr. Pram. Dr. Pram tidak bisa menghindar karena tidak menyangka akan mendapat tamparan dari Reva.
" Beraninya dirimu...ah..." Dr. Pram menaruh nampannya dan berusaha menahan emosinya.
" Aku mampu menghidupi diriku dengan layak, aku tidak butuh hartamu dokter. Sekarang juga aku akan pergi ! " Reva bangkit dari duduknya, amarahnya mulai memuncak.
" Kubilang aku masih membutuhkanmu saat ini, jadilah gadis yang penurut , Reva. " Suara dr. Pram mulai melemah. Reva mulai berkaca-kaca, dia gemetar dan tidak bisa menahan tangisnya.
" Beri waktu aku untuk mencintaimu, Reva. Saat ini aku tidak tahu dengan perasaanku, aku tidak pernah jatuh cinta , aku tidak pernah menginginkan wanita seperti aku menginginkanmu. " Dr. Pram memeluk Reva erat. Reva menangis sesunggukkan, dr. Pram mengelus punggung Reva perlahan dengan lembut.
" Ini untuk yang terakhir kalinya , dokter. Jangan pernah menculikku lagi, aku butuh kebebasan sendiri , percayalah kepadaku, dengan seiring berjalannya waktu, kau pasti bisa melupakanku. " Reva berusaha mengatur emosinya.
" Aku akan berusaha mengikuti saranmu, ini akan menjadi yang terakhir. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman. " Dr. Pram mempererat pelukkannya, dihirupnya wangi rambut Reva.
__ADS_1
" Habiskanlah sisa sup ayamnya, setelah itu kau akan diantar sopir pulang kerumahmu. " Kata dr. Pram sembari melepaskan pelukkannya. dr. Pram kembali mengambil mangkok berisi sup ayam dan kembali menyuapi Reva. Sup sudah habis tanpa tersisa. Sesuai kesepakatan dr. Pram melepas kepergian Reva dengan menyesakkan dada. Hujan semakin deras, jemari tangan dr. Pram terkepal kuat. Direbahkan tubuh lelahnya diatas pembaringan dan dengan bersusah payah memaksakan untuk memejamkan kedua matanya.