Terjerat Cinta Abnormal

Terjerat Cinta Abnormal
Part 18


__ADS_3

Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan yang resmi , budaya barat ini sudah mulai menjamur di negeri yang sedang berkembang ini, Di negara barat membiarkan anak-anak mereka yang usianya lebih dari 17 tahun terlepas dari asuhannya, mereka biasanya memilih tinggal berjauhan dengan orang tuanya, masa penjajakan diri , mencari pasangan lawan jenis kemudian hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Tetapi tidak semua remaja di sana melakukan seperti itu , tergantung seberapa dekat orang tua terhadap anak-anaknya. Dirga , sekertaris dokter Pram sekaligus pemegang saham di beberapa perusahaan besar lainnya, memilih hidup bersama tanpa ada pernikahan. Menempati sebuah apartement mewah di kawasan elite jakarta pusat , bersama seorang wanita baya bernama Maria defera, wanita yang dibawanya dari sulawesi selatan, Bonaken.


" Dirga, mulai besok aku bekerja di Surya mart, ada lowongan pekerjaan untukku sebagai kasir. " Kata Maria saat menemui Dirga yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca notice wa di hpnya. Dirga menghentikan membacanya dan melihat Maria yang sudah berdiri di depannya.


" Apakah kamu bosan di sini ? " Tanya Dirga singkat.


" Iya, tidak ada yang harus kulakukan, aku kesepian saat kamu seharian penuh meninggalkanku, aku mencoba membuat surat lamaran di Suryamart dan diterima. "Terang Maria.


" Kamu tahu , bagaimana sibuknya seorang kasir, belum lagi jika ada kehilangan barang disana akibat tangan-tangan jahil pembelinya, kamu harus mengganti harga dari barang yang hilang, dan..ck...ck..dengan wajahmu yang sangat rupawan ini, akan banyak lelaki belang yang ingin membookingmu, apakah kamu sengaja melakukan itu? lari dariku pergi ke lelaki yang lain. " Panjang lebar Dirga menjelaskan.


" Kenapa dipikiranmu selalu muncul hal-hal yang rumit, bukankah kamu tidak menyukai hal-hal yang rumit ? " Jawab Maria tenang.


" Kamu yang membuat rumit, kenapa mesti bekerja jika yang kamu butuhkan uang, kamu tinggal bilang berapa banyak uang yang kamu butuhkan, jika perlu aku akan memberimu black card. " Kata Dirga sedikit emosi.


" Aku bosen, mengertilah, aku manusia dan manusia butuh interaksi dengan manusia yang lainnya. "


" Kita akan membuat banyak anak dan kamu akan mempunyai kesibukan mengasuh mereka. Oh yah bulan ini kamu sudah menstruasikah ? " Dirga mengalihkan topik. Maria sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan itu dan bulan ini dia memang tidak mendapatkan haid bulannnya.


" Aku sudah biasa telat haid, ada perlu apa kamu menanyakannya ? " Jawab Maria tanpa curiga. Dirga mengeluarkan alat pengecek kehamilan dalam kantong sakunya dan memberinya pada Maria. Dirga memberitahu cara untuk memakainya, Maria hanya menurut dan pergi ke kamar mandi untuk mengecek air seninya. Jantung Maria berdetak kencang saat mengetahui hasil dalam tespeck itu, dua garis merah yang jelas, dan artinya dia akan memiliki anak dari hubungan gelap. Wajahnya pucat pasi, dengan gontai dia melangkah ke ruang tamu untuk memberikan hasil testpeck. Dirga menerimanya dan melihat hasilnya dengan ekspresi datar.


" Fiks, kamu tidak perlu bekerja, lebih baik kamu sibuk menjaga bagaimana menjadi ibu yang baik. " Saran Dirga tenang.


" Kamu tidak kawatir sama sekali ? " Tanya Maria masih cemas. Dirga mengerutkan alisnya.


" Kawatir soal apa ? "

__ADS_1


" Aku hamil dan kamu bersikap tenang-tenang saja tanpa panik. " Maria semakin bingung.


" Apakah kamu berpikir aku sama dengan lelaki lain di luaran sana , setelah mengetahui pacarnya hamil akhibat ulahnya, panik dan memaksa untuk menggugurkan kandungannya? " Dirga tersenyum hambar.


" Maaf..." lirih Maria.


" Panikku sudah berlalu, kamu benar, aku awalnya berpikiran seperti kebanyakkan lelaki diluaran sana, kamu harus berterimakasih dengan dokter Pram, dokter Pram membenci lelaki pengecut. Dia menyuruhku bertanggung jawab jika kamu hamil." Kata Dirga pelan.


" Terima kasih atas semuanya. " Kata Maria yang sudah tidak bisa menahan bulir bening di pelupuk matanya mulai mengalir di pipinya. Dirga berdiri dan memeluk Maria.


" Aku sudah dua minggu yang lalu mengurus surat-surat untuk menikah di pencatatan sipil. Sabtu depan kita menikah dalam prosesi agama islam. Masalah keyakinan aku tidak memaksamu. " Kata Dirga membuat Maria semakin menangis terisak.


" Hey..sudahlah, aku merasa seperti menyiksamu, berhentilah menangis, aku tidak mau calon anakku nanti cengeng. " Dirga berusaha menenangkan Maria.


" Terima kasih karena kamu telah hadir, semoga kehadiranmu dan anak-anak membuat hidupku semakin sempurna. "


" Kamu lelaki sempurna yang dikirim Tuhan sebagai penyelamatku, aku sangat mencintaimu, Dirga. "


" Me...too. " lirih Dirga masih memeluk erat Maria.


David dengan kecepatan tinggi melajukan mobil Selly, memasuki tol jogorawi yang terlihat sepi, hanya beberapa gelintir mobil yang melintas, David sengaja memilih waktu di malam hari untuk mencapai kantornya di bilangan kuningan jakarta selatan. Setelah sampai didepan gedung bertingkat itu, mobil berhenti dan terparkir di basement kantor.


" Aku akan pulang ke rumah, Sudah hampir seminggu aku membuat cemas orang tuaku akhibat perbuatan anda. " Kata Selly yang masih berada dalam mobil.


" Terima kasih dan maaf karena telah melibatkan dirimu dalam konflik ku. Jika ada waktu mampirlah kemari, jika aku mulai bekerja tidak ada waktuku lagi untuk sekedar menghubungi ponselmu." Kata David masih berdiri di depan mobil Selly yang pintu kemudinya terbuka.

__ADS_1


" Aku juga demikian kak , aku sibuk dengan kuliahku, anggap pertemuan kemarin sambil lewat saja. Oke kak, Aku harus pergi . " Selly berganti duduk di belakang kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobil. David hanya diam ketika Selly dengan pelan mulai mengendarai mobilnya meninggalkan basement. Seperti ada yang hilang, ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Selly menyelusuri jalan yang mulai ramai, hari ini dia tidak ingin kuliah, Dia ingin pulang menemui mamanya yang sangat mengkhawatirkannya. Mobil mulai memasuki gapura komplek perumahan di kawasan jakarta timur. Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Selly, Selly keluar dari dalam mobil untuk membuka gerbang pintu rumahnya. Mobil melaju pelan memasuki halaman rumah Selly. Selly memarkirkan mobilnya kemudian dia keluar dari dalam mobil. Rasa rindu dan lelah bercampur menjadi satu.


" Mama, Selly pulang !" Panggil Selly ketika memasuki rumahnya, ada wanita setengah tua keluar dan melihat siapa yang keluar.


" Syukurlah kamu dah pulang, nak. Papamu selalu menanyakan kabarmu , kerjanya jadi tidak tenang karena mencemaskan dirimu. " Kata mama Selly.


" Kapan papa pulang, ma ? " Tanya Selly.


" Sebulan lagi mungkin, tergantung selesai proyek pembangunan perumahannya selesai. " Papa Selly seorang arsitektur dan bekerja sebagai konsultan pembangunan perumahan real estate. Dan sekarang ada kontrak dengan pt. Global yang berada di kupang , NTT.


" Reva selalu mencarimu, Sell, Dia telpon mama terus nanya kabarmu. "


" Astaga, aku sampai lupa menghubungi Reva, ma. Ada materi kuliah yang sedang kami bahas bersama. " Kata Selly mencoba membuka hp yang berada dalam tasnya. Ada banyak notice wa dari Reva, Selly hanya tersenyum.


Selly


*Reva, pa kabar ? maaf baru bisa balas pesanmu, nanti kita ketemuan aja di kampus. Hari ini aku tidak masuk materi kuliah dari dokter Pram , absenin aku ya, thanks Reva.


Reva


Hai...kamu membuatku cemas , akhirnya kamu pulang juga, aku baik-baik saja Selly, sebenarnya apa yang terjadi Selly, coba kamu cerita.


Selly


Ceritanya panjang, nanti aja kuceritakan secara langsung, ya udah ya, aku mo mandi..hehe.

__ADS_1


__ADS_2