
Asa tak asa, Riuh pikuk alun alun kota Munchen di hadapan bangunan Marientplatz bergayakan baroque asal Eropa kuno yang luar biasa megah perlahan mereda, tatkala langit mulai menggelap dan hujan mulai turun mengguyur.
Lanskap nyaris sempurna. Bagaikan karya Tuhan yang disalurkan melalui tangan manusia, sayang rasanya bila hanya dinikmati oleh netra semata.
Ckrek
Eva, sedari tadi berdiri dipinggiran Marientplatz. tepatnya di depan studio foto tempat ia bekerja. Akhirnya ia mendapatkan sisi yang tepat untuk mengabadikan keindahan bangunan tersebut dalam tangkapan lensa kamera.
"Berdiri disana, Gerlt!"
Gadis itu menginterupsi adiknya agar berdiri tepat di tempat yang ditunjukkan. Matanya terpejam satu, memfokuskan pandangan pada sisi mata yang menatap celah lensa kamera.
"Disini, kak?" Gerlt berjalan dengan lesu seraya mengenakan jas hujan nya.
Remaja berusia 10 tahun itu hanya bisa pasrah. karena memang sedari awal niatnya sendiri yang ingin ikut kerja bersama sang kakak yang merupakan fotografer pribadi sebuah partai politik.
Kala itu memang tengah masa renggang setelah berakhirnya Perang Dunia I. Riuh kota Munchen yang menjadi salah satu kota terpadat di Jerman membawa Eva Braun pada pekerjaan yang sekarang ia lakoni.
"Sedikit ke kiri."
"Eh sedikit ke kanan."
"Ck. mundur sedikit, Gerlt."
Eva terus menerus menginterupsi Gerlt agar berdiri di posisi yang tepat. Lain hal dengan sang adik, raut wajahnya sudah kusut, mengulum bibir seraya memutar bola matanya dengan kesal.
Bagaimana Gerlt tidak kesal, ia sudah lebih dari 50 kali berpindah tempat mengitari bangunan Marientplatz hanya demi satu foto yang belum juga bisa dihasilkan oleh Eva.
"Senyum Gerlt. wajahmu seperti kurcaci bila murung seperti itu!" Celetuk Eva.
"Aku cape Kak, kapan foto nya selesai!"
Gerlt berdecak kesal. Seraya Mendengus kasar gadis itu duduk bersilang tangan diatas kursi panjang yang berjejer dipinggiran jalan.
"Siapa suruh kamu ikut kerja." Cibir Eva.
"Kapan Pak Henrich datang? katanya janji bertemu saat tengah hari. Ini sudah lewat tengah hari tapi masih belum juga datang." Keluh Gerlt.
Eva tak menghiraukan keluhan sang adik, ia lebih memilih fokus mengarahkan lensa nya mengitari bangunan Marientplatz, mencari spot yang unik untuk di tangkap.
__ADS_1
"Pak Henrich itu sibuk, tidak seperti kamu."
"Hmm..."
Gerlt hanya mampu bergumam, padahal jauh di dalam lubuk hatinya ia tengah memaki pria bernama Heinrich Hoffman-Bos yang merekrut Eva sebagai fotografer di bawah yayasannya yang baru baru ini berdiri.
Bagaimana tidak, ini bukan kali pertama Henrich datang terlambat setiap kali ada janji untuk bertemu dan melatih Eva secara pribadi.
Eva sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko, hingga akhirnya bertemu dengan Henrich. Karena kemurahan hati pria berusia 41 tahun itu ia menawarkan Eva untuk bekerja sebagai fotografer.
Saat itu ekonomi keluarga Braun juga sedang memburuk. Eva pun bersedia menjadi fotografer meskipun ia tak memiliki skill yang memadai saat itu.
Lagi lagi karena kemurahan hati Henrich, ia rela memberi pelajaran pribadi mengenai seni fotografi kepada Eva. Hal inilah yang membuat Eva sangat menghormati Henrich.
Sementara itu, lensa kamera masih Eva putarkan menyusuri sudut sudut kota.
Ck.
Lensa kamera nya terkunci, berfokus pada sosok lelaki berambut pirang, badan tegap gagah tertutup jas hujan yang berwarna kuning. Senyum tipis lelaki berkumis pendek itu mengalihkan seluruh fokus Eva. Badannya sampai kaku, gundah untuk beralih.
Perlahan lelaki itu mendekat, hingga wajahnya memenuhi lensa kamera. Degup jantung Eva mulai meningkat sejak detik itu.
"Eva, Maaf menunggu lama. Aku bertemu dengan seorang kawan lama di jalan." Ujar Henrich yang sedari tadi berjalan di samping lelaki berkumis pendek tersebut.
"Kakak! Pak Henrich menyapamu!" Bisik Gerlt.
Gadis itu menarik ujung rok Eva berkali kali karena masih juga tak bergeming. Ntah apa yang tengah ia pikirkan.
"M-maaf pak....Tidak masalah, kami disini juga berlatih sembari menunggu anda datang." Eva menurunkan kameranya dengan gugup. Ia dibuat kelabakan sendiri dengan kecerobohannya.
Eva mengalihkan pandangan, menoleh Lelaki berkumis pendek yang rupanya juga tengah menatapnya sedari tadi.
Kilau manik mata coklat yang kental, bertemu menyapa tatapan Eva dengan lekat. Teduh dan hangat, begitulah kesan pandangan pertama yang di rasakan Eva.
"Ini kawan lama sekaligus klien tetap kita, panggil saja Tuan Wolf." Ujar Henrich seraya tersenyum menatap lelaki di sebelahnya itu.
"Siapa nama mu, nona?"
Suara yang tegas dan lugas tersaring lembut memasuki ruang telinga Eva yang dibuat berdecak kagum hanya dengan mendengar suaranya nya saja.
__ADS_1
Seperti inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?
"N-nama saya Eva Anna Paula Braun, Panggil saja saya Eva, Tuan. Dan ini adik saya, Margaretha Braun, Panggil saja Gerlt." Sahut Eva.
Eva hanya mampu menatap Tuan Wolf sekilas, ia tak mau wajahnya yang merona disadari, baik oleh Tuan Wolf maupun oleh Henrich.
"Baiklah karena kalian sudah berkenalan, khusus hari ini aku ingin kita libur dulu. Eva, Kau dan adikmu ikut saja bersama kami." Ujar Henrich.
"Ikut kemana Pak?" Tanya Eva seraya mengerutkan keningnya.
"Sekedar makan siang di kafetaria, sekaligus supaya kalian bisa saling mengenal. Karena nantinya kamu akan bertugas menjadi fotografer pribadi Tuan Wolf." Ujar Henrich.
Eva dan Gerlt saling bertatapan, Seolah kakak beradik itu tengah bertelepati mempertanyakan harus ikut atau tidak. Hingga Gerlt tersenyum sembari mengelus perutnya pelan. Tentu saja Eva paham dengan maksud Gerlt.
"Baiklah pak, kami ikut." Ucap Eva.
"Mari naik mobilku saja, Nona Braun." Tuan Wolf melipir seraya membentang satu lengannya.
Seolah ia tengah mempersilahkan Eva untuk ikut bersama nya dan jalan lebih dulu. Namun, Eva lagi lagi hanya diam termangu. Ia merasa tidak enak bila harus jalan mendahului Tuan Wolf.
"Silahkan tuan berjalan lebih dulu, kami akan mengikuti saja di belakang." Sahut Eva ragu.
"Hahaha ayolah kalian ini canggung sekali. Mari mari..." Henrich meraih pundak Eva dan Tuan Wolf. Menggiring mereka jalan bersama.
Gerlt yang malang, ia hanya bisa berjalan dibelakang ketiganya seraya bersilang tangan.
"Sudah dibiarkan menunggu lama, setelah datang pun malah diabaikan. Aku pulang saja kalau begini." Gumam Gerlt dengan suara pelan.
Semarah dan setidak suka apapun Gerlt terhadap Henrich, Ia tetap tidak berani memakinya secara terang terangan. Bagaimanapun Henrich adalah sumber keuangan bagi sang kakak untuk saat ini.
Tak lama, mereka berempat sampai di depan sebuah mobil Mercedes Benz 770k yang terparkir tak jauh dari Marientplatz. Mata Eva dan Gerlt sontak membulat sempurna, itu adalah Mobil yang paling canggih saat ini. Bukan hanya bagus, tetapi juga sangat susah di dapat.
Ntah keberuntungan apa yang menghampiri Eva dan Gerlt hingga rakyat jelata seperti mereka mampu melihat bahkan menaiki mobil tersebut.
"Aku membawa mobil ku sendiri, jadi tidak bisa ikut bersama kalian." Ucap Henrich
"Gerlt, ikutlah bersamaku dan ceritakan apa saja yang sudah dilakukan Eva selama latihan tadi." Imbuhnya.
Gerlt menatap lekat kakak nya dengan ragu, sebenarnya sih ia ikut ikut saja selama bisa makan gratis.
__ADS_1
"J-jadi aku hanya berdua bersama tuan wolf?" Ucap Eva dengan ragu.
......................