
"Surprise!!!!"
Eva terperanjat kaget, saat berbalik rupanya Hietlar yang menyekap mulut dan menutup matanya. Lelaki itu berdiri membentang tangan dengan senyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri.
"Hietlar! Hampir saja aku jantungan!" Ketus Eva.
"Sorry honey, this is for you."
Hietlar melipir, memperlihatkan betapa banyaknya barang yang ia beli untuk Eva berjejer rapi dalam paperbag kelas desainer. Hal ini membuat Mata Eva membulat sempurna, kedua lengannya pun ia angkat untuk menutupi mulutnya yang menganga.
Eva berjalan perlahan dengan pandangan menyisir seluruh ruangan. "Hietlar, kapan kamu membeli semua ini?"
"Saat kamu tidur. Aku membeli apa yang sekiranya disukai perempuan saja. Hehe." Hietlar tersipu dengan ucapannya sendiri.
"Hmm terimakasih sayang..."
Eva langsung menggabruk Hietlar dengan pelukan erat. Disisi lain Hietlar sangat ingin membalas pelukan tersebut namun ia ingat bahwa luka dipunggung Eva sepertinya masih basah. Ia hanya bisa menenggelamkan kepalanya dalam leher jenjang perempuan tersebut.
"Maaf atas semua yang terjadi pagi ini. Aku berjanji saat mereka sudah menerima balasan yang setimpal, mereka akan bersimpuh memohon maaf kepada kamu dan tidak akan berani mengulangi nya lagi." Bisik Hietlar.
"Tunggu tunggu, tadi kamu bilang apa sebelumnya? Pembalasan? Pembalasan apa?"
Eva menyipitkan mata, saat melihat Hietlar malah memutar bola matanya ke sembarang arah nggan menatapnya. "Iya maksud aku pembalasan untuk mereka harus mau bersimpuh di kaki kamu."
"Tidak perlu diambil pusing, sayang. Lagipula kita adalah keluarga, kamu menasehati mereka saja sudah cukup."
"Tidak bisa! Tubuh kamu itu aset berharga milikku, mereka yang hanya batu kerikil dengan kejam menyakiti tubuh indah ini. Bagaimana aku bisa memaafkan mereka?!"
Hietlar selalu tahu bagaimana cara meluluhkan hati perempuan. Eva yang notabenya belum pernah merasakan yang namanya pacaran selama 17 tahun ini hidup ia malah langsung dipertemukan dengan sosok yang sangat sempurna seperti lelaki yang tengah ia dekap ini.
Untuk sesaat Eva merasa dirinya adalah perempuan paling beruntung di dunia. Jika ada lomba terbang ke Pluto, mungkin dirinya sudah menjadi juara utama yang sampai hanya dalam waktu satu detik.
Saat ini Eva masih tenggelam dalam dekapan hangat Hietlar, Hingga tangannya terasa menyentuh sesuatu yang cukup becek menempel pada pakaian Hietlar, tepatnya dibagian punggung.
"Darah! Sayang darah siapa ini?!"
__ADS_1
Eva terperanjat kaget dan langsung memutar tubuh Hietlar saat melihat bercak darah yang cukup banyak menempel di bagian belakang pakaian Hietlar. Ia berusaha mengamati apakah tubuh Hietlar terluka atau tidak.
Namun Rupanya Hietlar baik baik saja, darah itu hanya bercak yang menempel pada pakaiannya. Hietlar sendiri tak bergeming, ia malah membuka baju dan melemparkan nya keatas ranjang.
"Aku tadi habis memotong kuda sayang,. sepertinya terkena cipratan darahnya."
"Tapi ini bau nya seperti bukan bau darah hewan Hietlar, dan terlihat sudah cukup mengering. Bukannya tadi kmu pergi belanja?" Eva mulai mencecar Hietlar dengan pertanyaan.
Hietlar meraih tangan Eva dan mengusap darah di Tanah perempuan tersebut dengan kaos yang ia kenakan. "Sayang ini benda kotor, jangan disentuh sembarangan lagi."
"Hietlar jelasin dulu itu darah darimana! Aku selalu merasa ada yang janggal dengan rumah ini, baik kamu atau orang orang di dalam sini seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari aku." Eva akhirnya meluapkan semua unek-unek yang terpendam dibenaknya.
"Tadi saat aku turun untuk makan semua orang baik pelayan dan penjaga menghilang ntah kemana, kemudian aku mendengar benda-benda berjatuhan dari ruangan ujung lorong lantai satu, aku naik ke atas dan duduk di balkon pun malah mendengar jeritan minta tolong dari seseorang. lalu sekarang kamu.... Ayolah Hietlar apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Hey hey sayang tenang, kenapa kamu jadi frustasi seperti ini. Mungkin hanya perasaan kamu saja tidak usah terlalu diambil pusing."
Hietlar memeluk Eva untuk menenangkannya sebab Eva nampak mulai berkaca-kaca dengan nada bicara yang tak beraturan. Namun bukan ini yang Eva mau, ia hanya ingin mendengar kebenaran yang terjadi.
"Aku curiga kamu-mmm"
Hietlar langsung ******* bibir mungil Eva dengan ganas. Tentu saja Eva terperanjat kaget, ia sedang meminta penjelasan malah di hentikan dengan cara seperti ini.
Lelaki itu semakin buas, bahkan menyudutkan Eva hingga ke dinding. Tangannya juga mulai ganas menggerayangi tubuh Eva.
"Mulai sekarang, aku akan melakukan cara ini untuk membungkam kamu bila mengucapkan kalimat yang aku tidak suka lagi."
"Tapi Ak-mm"
Begitulah cara Hietlar membungkam Eva, kasar namun romantis. Lagi, di usia Hietlar saat ini ia telah mengetahui berbagai hal tentang perempuan, termasuk cara meluluhkan mereka. Dan terbukti, Eva langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki berusia 40 tahun tersebut.
Malam ini Hietlar tidak mau terlalu ganas dengan Eva, bagaimanapun luka nya masih belum sembuh. Ia memutuskannya untuk tidur lebih awal supaya perempuan yang masih berada dalam Kungkungan nya tersebut bisa beristirahat dengan maksimal.
----------------
Malam berganti pagi, waktu bagaikan hembusan angin yang selalu tak terasa keberadaannya.
__ADS_1
Seperti biasa, Eva bangun seorang diri di kamar nya. Ia ingat bahwa Hietlar setiap pagi akan jalan jalan bersama anjing kesayangannya, Blondi. Jadi Eva memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap turun untuk sarapan.
Setelah mandi, ia duduk di depan meja rias sembari membuka beberapa paperbag desainer yang dibelikan oleh Hietlar. Ia cukup puas dengan isi didalamnya, apalagi sebuah kalung liontin berwarna biru yang terlihat sangat elegan cocok menggantung di leher jenjangnya.
Tok
Tok
Tok
"Nyonya, sarapan sudah siap!"
"Aku sedang malas turun, bisa tolong bawa dan sajikan makanan nya dikamar saja?" Sahut Eva.
"Baik nyonya."
Eva melanjutkan aktifitasnya mencoba beberapa perhiasan saat mendengar langkah kaki pelayan tersebut pergi menjauh. Tak berselang lama, sebuah ketukan pintu kembali terdengar. Beberapa pelayan masuk kedalam kamar dengan piring saji diatas meja dorong yang sudah siap untuk ditata.
"Yap mari makan.." Ujar Eva seraya membantu pelayan menaruh makanan diatas meja.
"Arghhh..."
"Eh kenapa tangan kamu, maaf aku tidak sengaja!"
"T-tidak nyonya bukan apa apa, selamat menikmati hidangannya." Pelayan itu langsung keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
Tatapan Eva bukan hanya menyipit pada tindakan aneh sang pelayan yang padahal ia hanya tak sengaja menyentuh lengannya, tetapi ia juga sedikit memperlihatkan cara jalan pelayan lain yang sepertinya tertatih.
Eva tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka karena seragam yang para pelayan kenakan itu adalah kemeja putih lengan panjang dan celana hitam yang panjang.
"Hey tunggu sebentar!" Ucapan Eva mengehentikan langkah para pelayan.
Eva berjalan menghampiri mereka seraya menatap lekat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jelas saja para pelayan itu seperti tertunduk dengan raut wajah takut dan gelisah.
"Kemana saja kalian kemarin sore? Aku memanggil berulang kali tapi tidak ada yang menjawab."
__ADS_1
Situasi masih sama, para pelayan itu nggan berkata jujur atau bahkan sekedar menjawab pertanyaan Eva. Eva sendiri mulai frustasi dengan tingkah mereka yang gelagapan hanya membuat rasa penasarannya semakin menggebu saja.
................