
Mendengar bisikan Gerlt, Eva mengerutkan keningnya. perlahan ia merundukkan kepalanya lebih dekat pada Gerlt agar bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
"Apa maksudmu, Gerlt." bisiknya.
"Perempuan itu ber-"
"Maaf sayang, kamu pasti sudah lapar ya. Aku ada sedikit perbincangan dengan Hietlar tadi." Ucap Henrich yang tiba tiba sudah berada diambang pintu bersama Hietlar.
Ia bergegas lari menghampiri Erna seraya duduk disampingnya. Raut wajah Henrich nampak kusut sebab khawatir sang istri kelaparan karena menunggunya. Dari sini sudah dapat dipastikan bahwa lelaki tersebut sangat mencintai istrinya.
"Sudahlah, nanti lanjutkan di rumah saja." Bisik Eva saat melihat dua lelaki yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya tiba juga.
Meskipun begitu, Eva tetap tak bisa menghilangkan rasa penasaran dibenaknya. Ntah mengapa tapi Eva merasa tiga orang dihadapannya tersebut bukan orang biasa, insting Eva bisa merasakan bahwa mereka memiliki kepribadian yang sangat sulit untuk di tebak.
"Maaf Nyonya Hoffman, Eva, Gerlt. Kalian jadi menunggu lama." Ujar Hietlar.
Hietlar berucap seraya berjalan menghampiri kursi kosong di samping Henrich.
"Tidak masalah, Tuan. Mari mari duduk..... pelayan tolong sajikan makanan." Seloroh Erna. Begitu juga Eva dan Gerlt hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Hietlar.
Selagi pelayan menyajikan hidangan, tatapan Eva lagi lagi tak sengaja menangkap pandangan Hietlar yang tengah menatapnya dari ujung sana. Namun dengan cepat Eva mengalihkan pandanganya kearah lain dengan kesal.
Bukan tanpa sebab, Eva hanya merasa tidak nyaman saja. Apalagi baru pertama kali bertemu Hietlar sudah berbohong tentang identitas nya sendiri pada Eva.
Saat ini tak banyak perbincangan yang di bahas oleh mereka berenam, selain hanya suara dentuman sendok dan piring, yang terdengar adalah riuh perbincangan antara Henrich dan Hietlar yang membahas masa lalu mereka selama di camp tentara.
Dari sini Eva bisa sedikit menangkap informasi, bahwa Hietlar seumuran dengan Henrich dan pernah bekerja sebagai tentara pada masa perang dunia I yang harus aja berakhir, diceritakan bahwa Henrich yang merupakan seorang juru foto tengah meliput perang dan tak sengaja bertemu dengan Hietlar.
Untuk menjadi juru foto pasukan suatu negara atau kerajaan, tentunya mereka juga harus melakukan latihan yang sama layaknya tentara sungguhan. Hanya saja saat di lapangan, yang mereka pegang bukanlah senjata, tetapi kamera.
Begitulah kira kira awal pertemanan Henrich dan Hietlar.
Di mata Eva saat ini, Hietlar adalah sosok lelaki yang mudah berbaur, ramah dan asik diajak bercerita. Selain terlihat mandiri dan bertanggung jawab, ia juga terlihat sangat lembut terhadap perempuan.
...----------------...
"Terimakasih untuk traktiran nya Bung, Niatnya hari ini aku yang akan membayar makan siangmu karena sudah jauh jauh datang ke Munchen. Namun, aku tetap kalah kalau urusan keras kepala saat melawan kamu." Henrich berdecak kesal.
__ADS_1
"Tidak usah, Hein. Lain kali saja." Sahut Hietlar yang masih terkekeh.
Sudah hampir sepuluh menit Henrich dan Hietlar berdebat memperebutkan bill makanan. Henrich hanya bisa mengalah saat menyadari Hietlar yang sebelumnya turun berkata ingin ke toilet rupanya malah menghampiri kasir dan membayar semua tagihan.
Kedua lelaki tajir melintir ini hanya bisa membuat Eva dan Gerlt termangu. Apalagi setelah mendengar total tagihan mencapai €500, tentu saja keduanya hanya bisa menganga. Bisa bisanya setelah mendengar jumlah sebanyak itu mereka malah saling berebut untuk membayar tagihan.
Kapan aku bisa memiliki banyak uang dan mampu berebut bill dengan teman. Argh God
"Hmm, yasudah sampai jumpa lagi, Bung!" Ucap Henrich seraya berpelukan dengan Hietlar.
Raut wajah Henrich nampak masih kesal, senyum yang ia ukir pun seolah terpaksa demi melepas kepergian Hietlar yang akan pergi jauh lagi.
"Aku dan Erna akan mampir dulu ke swalayan untuk membeli sesuatu, bisakah kamu mengantar Eva dan Gerlt pulang, Bung?" ucap Henrich.
Henrich membantu Hietlar agar mendapatkan celah untuk mengenal Eva lebih jauh lagi. Benar benar sahabat yang pengertian.
"Tidak usah pak, saya dan Gerlt pulang jalan kaki saja seperti biasanya." Sangkal Eva.
"Loh kenapa Eva, Kamu tidak suka dekat dekat dengan saya?" Celetuk Hietlar.
Sialan, Lelaki berwajah sangar ini rupanya bisa playing victim.
"Ikut saja dengan Tuan Hietlar, Eva. kasian adik kamu, tidak baik bagi kalian jalan hanya berdua malam malam begini." Timpal Erna.
"Iya kak, ikut Tuan Hietlar aja. Gerlt cape jalan kaki terus." Rengek Gerlt.
Adik tidak tahu diri!
Tak punya pilihan lain, Eva hanya mengangguk menanggapi saran dari Erna dan bersedia pulang diantar oleh Hietlar.
Saat ini Eva dan Gerlt membuntuti Hietlar. Lelaki bertubuh tegap itu lagi lagi merogoh sebatang rokok dari saku nya dan menyalakan korek api selagi berjalan. Bisa dibilang bahwa Hietlar sangat menyukai benda kecil tersebut.
Tak lama, Ketiganya sampai di depan mobil Hietlar. Langkah kaki Eva menggiring adiknya masuk kedalam mobil duduk di bagian belakang.
"Eva, duduk didepan. Kamu harus mengarahkan jalan." Ucap Hietlar menghentikan langkah Eva.
Eva mendengus kasar menanggapi ucapan Hietlar.
__ADS_1
Setelah memastikan adiknya duduk dengan baik di belakang, Eva segera berjalan ke depan dan duduk di kursinya. Kali ini ia buru buru mengenakan setting belt agar hal sebelumnya tak terulang kembali.
Hietlar sempat menoleh dan tersenyum kecil saat melihat tingkah Eva sebelum menjalankan mobil.
Perjalanan kali ini tidak terlalu mendebarkan, beruntung ada Gerlt yang satu mobil dengan mereka saat ini. Setidaknya Eva bisa sedikit bernafas lega.
"Dimana rumah kamu?" Ucap Hietlar memecah keheningan.
"Distrik Helle, Tak jauh dari penginapan Kriese. Turunkan saja kami disana." Ujar Eve.
"Baiklah."
Selama beberapa menit baik Eva ataupun Hietlar tak ada yang berbincang. Keduanya sama sama diam. Hingga Eva menyadari bahwa Hietlar membawa mobil nya mengitari jalan paling jauh dari distrik Helle.
"Tuan, Harusnya tadi kita belok kiri." Seloroh Eva
Gadis itu sampai terperanjat dan mengamati jalan yang harusnya mereka lalui malah di lewati begitu saja.
"Iyakah? yasudah tidak masalah, di depan masih ada jalan lain."
Aku yakin dia sengaja berpura pura tidak tahu, ntah apa lagi niat Tuan Hietlar selanjutnya.
"Hmm, terserah Tuan saja." Eva pasrah.
"Besok pagi ada waktu tidak?"
Eva memalingkan wajahnya dan menatap Hietlar dengan lekat. Lelaki ini sangat sat set dan tidak suka basa basi, selalu to the poin dan langsung pada intinya, begitulah kesan Hietlar di benak Eva saat ini.
"Ada perlu apa, Tuan?"
"Besok siang aku ada urusan dan akan pergi ke Berlin untuk beberapa hari. Jika kamu bersedia, aku akan menunggu kamu di English Park Besok pagi." Ujar Hietlar.
"Kenapa tiba tiba sekali pergi ke Berlin, tuan?" Eva mengerutkan dahi seraya menatap ke arah Gerlt.
Ia takut Adiknya itu akan mengadukan perkataan Hietlar barusan para ayah mereka. Karena sejauh yang Eva tahu, Ayahnya sengaja menyuruh Gerlt untuk selalu mengikuti Eva kemanapun agar menjadi mata mata bagi sang ayah.
Beruntungnya gadis itu tengah tertidur lelap karena kekenyangan di belakang sana. Eva bisa menarik nafas dengan lega.
__ADS_1
"Aku akan menceritakannya besok." Ucap Hietlar diiringi senyum tipis yang hangat.
......................