
Mendengar suara yang tidak asing ditelinga menyapa mereka, tentu saja dalam sekejap Friedrich, Ilse dan Gerlt menoleh. Ketiganya terdiam sesaat sebelum dengan cepat beranjak menghampiri Eva dan Hietlar yang masih berdiri di depan ruang keluarga.
"Kakak!" Gerlt berlari langsung ke pelukan sang kakak.
"Wahh Eva, Hietlar. Bagaimana kabar kalian?" Friedrich beranjak silih ganti memeluk mereka, begitu juga Ilse.
"Baik Tuan."
"Loh kenapa masih panggil tuan, kita kan sudah jadi keluarga, hehe." Sahut Friedrich dengan senyum lebar nya yang khas.
Hietlar tersipu, ia ragu untuk memanggil Friedrich dengan sebagaimana mestinya, bahkan lelaki jangkung ini malah tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri sembari menggaruk punduk. "B-baik...pah..."
"Haha rasanya kurang enak dipanggil papah sama orang yang seumuran adik sendiri."
"Hahaha." Semua orang tertawa dengan celotehan Friedrich.
"Ayo-ayo duduk dulu kalian pasti lelah menempuh perjalanan yang jauh." Seloroh Franziska.
Ruang keluarga yang kurang dengan kehadiran Eva kini kembali menjadi komplit ditambah Hietlar sebagai anggota baru. Sesempit apapun ruangan tersebut bila diisi dengan orang-orang yang saling mengenal maka akan terasa hangat dan nyaman. Begitu juga keluarga Braun saat ini, semakin harmonis dengan adanya calon menantu mereka.
Disisi lain Ilse sedari tadi beradu tatap dengan lelaki di belakang Hietlar yang tak lain adalah Hema. Lelaki jangkung tersebut juga sepertinya seolah diam-diam mencuri pandang dengan perempuan berbadan spek manhwa yang tengah duduk di kursi itu. Eva yang menyadari hal ini merasa ada sedikit heran, ia menatap Hietlar dan mengedikkan mata kearah Hema.
"Oh... Pah, mah, Ini Hema. Dia asisten pribadi sekaligus sahabat yang sudah menemani saya dari awal karir." Ujar Hietlar.
"Hallo Tuan, Nyonya Braun. Saya Herman Hoffman, bisa panggil saya sesuai yang dikatakan tuan."
Friedrich, Franziska, dan Ilse tersenyum sembari mengangguk kecil menanggapi salam sapa perkenalan dari lelaki bertampang dingin dan sangar tersebut.
"Sebenarnya kalau di perbolehkan aku ingin meminta izin agar Hema bisa menginap di rumah ini." Celetuk Hietlar.
"Tentu saja ***-"
"Boleh!! Nanti Hema tidur di kamar kakak aja." Ilse memotong ucapan Friedrich.
"T-terimakasih, nona."
__ADS_1
Apa ini? baru pertama kali aku melihat laki-laki kaku seperti Hema tersipu.. kenapa dengannya.
Disamping monolog Eva, suasana ruang tamu kian ramai. apalagi setelah Hietlar memerintahkan Hema untuk memanggil para penjaga yang di bawanya agar masuk menaruh koper-koper mahar ke dalam rumah.
Keluarga Braun seketika menampilkan raut wajah yang sama, mata membulat sempurna dan terlihat keheranan dengan isi dari koper-koper berat dan padat tersebut yang setelah dihitung seksama berjumlah 12.
Ajipp...suami aku tajir melintir
"Hietlar apa semua ini? kamu terlalu berlebihan..." Celetuk Friedrich.
"I-iya, dimana kami akan menampung semua barang yang kamu berikan ini?" Timpal Franziska.
"Tidak usah sungkan Pah Mah, ini isinya bisa dibagikan ke tetangga juga. Dan yang ini khusus untuk menampung sisa barang yang tidak memiliki tempat." Ucap Hietlar seraya menunjuk koper hitam yang cukup besar.
"Apa itu? lemari?"
"Haha, bukan....€150.000 (2 miliar+ dalam rupiah) untuk menambah dan memperbaiki rumah." Hietlar berucap dengan santai sembari membuka koper yang padat dengan tumpukan uang.
Sementara semua anggota keluarga Braun menganga dengan mata yang kian membulat sempurna nyaris keluar dari tempatnya. begitu juga Eva, ia tidak menyangka Hietlar akan memberikan uang sebanyak itu kepada keluarganya.
Keluarganya pun dengan kompak mengangguk.
"Terima, atau aku tambah 2× lipat."
"T-tidak, ini sudah sangat sangat sangat cukup, Hietlar." Seloroh Franziska sembari menepuk bahu Hietlar.
"Sebenarnya apa pekerjaan kamu sampai dengan mudah memberikan kami uang sebanyak ini begitu saja." Celetuk Ilse.
"Aku bekerja sebagai anggota partai kemudian memiliki bisnis anggur yang sudah melakukan ekspor ke beberapa negara. Jadi tidak usah ragu menggunakan uangku ini. Lagipula aku tidak memberikan nya begitu saja karena aku mendapatkan Eva sebagai gantinya, bahkan aku rasa semua barang-barang yang aku berikan masih kurang jika harus dibandingkan dengan calon istriku ini." Hietlar berucap seraya memegang tempurung tangan Eva yang duduk tepat disampingnya.
Apapun, siapapun dan bagaimana kamu, Aku janji akan terus setia sama kamu, Hietlar.
Terharu, bahagia, terpesona. Tiga perasaan yang bercampur rata sukses membuat Eva tersenyum dengan mata berkaca-kaca seraya menatap Hietlar dengan lekat. Ia tidak pernah menyangka dalam hidupnya akan bertemu lelaki yang kelilingi segudang kesempurnaan sepertinya.
"Kamu sangat tulus Hietlar, Eva juga beruntung memiliki kamu."
__ADS_1
Bukan hanya Eva yang terkesima dengan ucapan Hietlar, tetapi Friedrich juga. Lelaki paruh baya sepertinya sudah pernah bertemu banyak spesies laki-laki, dan kali ini ia mengakui Hietlar sebagai lelaki yang baik untuk putrinya.
"Eva, kamu sangat beruntung, kakak jadi iri." Celetuk Ilse.
"Kamu hanya tahu bekerja saja, kapan mau cari pasangan untuk menikah?!" ucap Franziska.
"Hsss, aku malas menikah. Semua laki-laki tidak berbeda, hanya bermanfaat di bagian batang nya saja." Celetuk Ilse.
"Huss, kalau ngomong di jaga, itu adik kamu masih melongo." Cibir Friedrich.
"Haha nona memang benar! aku rasa perempuan juga begitu, hanya bermanfaat di malam hari saja." Timpal Hema.
Tumben sekali lelaki dingin dan pendiam tersebut ikut bercampur kata dalam perbincangan keluarga majikannya. Bahkan penekanan kata nya sudah tidak datar lagi, seperti memiliki nada baru di dalam nya.
"Eheee, hehe, hehe (ketawa kecut) biasalah dia ini memang kurang belajar bersosialisasi." Cibir Hietlar.
"Hahaha." Lagi-lagi semua orang hanya terkekeh dengan celotehan Hietlar, kecuali Hema Tentunya. Ia malah menatap Ilse dengan tajam kemudian memutar bola matanya dengan kesal.
...----------------...
Siang berganti malam, waktu kembali terasa cepat bila dihabiskan bersama orang terkasih.
Kali ini Eva dan Hietlar tengah terbaring tidur diatas ranjang sembari berpelukan erat terjun kedalam mimpi indah masing-masing. Namun, angin yang menggebu menerpa jendela kamar Eva, meniup gorden dengan kencang dan mempersilahkan cahaya rembulan masuk, menyapa wajah Eva.
Eva terbangun sebab angin dingin menghembus kaki nya, ia beranjak hendak menutup jendela yang sudah menganga lebar. Perlahan tapi pasti, berusaha melepaskan pelukan erat dari Hietlar. Setelah berhasil, ia berjalan mengendap menuju jendela sebab lantai kayu yang berbunyi bila diinjak kuat.
"Malam ini sangat berangin, sepertinya besok sudah mulai turun salju." Gumam Eva.
Tepat sebelum Eva ingin kembali tidur, ia merasa sedikit haus sementara air dalam teko sudah habis. Dengan terpaksa ia keluar kamar untuk turun ke dapur untuk mengambil air daripada tidur dengan kerongkongan yang kering.
Untuk sesaat, Eva terhenti di depan kamar Ilse yang lampunya mati namun terdengar suara kretekan ranjang yang cukup jelas. Eva seperti tidak asing dengan suara tersebut.
Ia perlahan berjalan hendak menyingkap pintu kamar dan mengintip sedikit untuk melihat apa yang sedang dilakukan Hema.
......................
__ADS_1