
Seperti menyulut api dalam tumpukan kayu bakar yang telah diberi bensin, Henrich tanpa ragu bertanya mengenai hal tabu yang selama ini tidak pernah kembali dibahas oleh Hietlar. Lantas saja lelaki itu berdiri dengan tatapan tajam seraya rahang yang menegas.
Brakk
Hietlar menggebrak meja dan menarik kerah baju Henrich dengan kasar. Keduanya saling beradu tatap dengan tajam.
"Jangan berani lagi mengungkit masalah dia! Apa kamu ingin membuat aku gila lagi hah?!"
Hietlar berucap dengan pelan namun penuh penekanan, sukses membuat Henrich bergidik ngeri.
"A-aku hanya khawatir pada kamu."
"Khawatir padaku? Seharusnya kamu lebih menghawatirkan nyawa kamu setelah bertanya hal seperti itu. Bagaimanapun dia adalah duri dalam daging, mengungkit ulang ceritanya seolah menabur garam diatas luka. Kapan kamu akan memahami aku hah?"
"Baik baik, aku minta maaf, lain kali aku tidak akan membahasa lagi."
"Kamu harus berjanji tidak akan memberitahu Eva mengenai dia, aku tidak sudi melihat air matanya turun sia-sia lagi!" Tegas Hietlar.
"Iya aku janji, tenang-tenang duduk dulu."
Henrich berusaha menenangkan Hietlar yang tengah dirundung kenangan masalalu dalam bentuk amarah. Ntah kenapa saat mengungkit masalah mendiang sang isteri Hietlar selalu bersikap agresif dan berlebihan.
Ditempat lain, Eva terbangun sembari mengerjapkan mata. Hawa dingin mulai menyeruap di sekujur tubuh yang sebelumnya nekat berjalan dibawah guyuran salju tanpa syal atau payung samasekali.
Ini di......teras rumah? Siapa yang mengantarkan aku pulang, kenapa aku tidak ingat apapun?
Eva hanya bisa bermonolog seraya menyisir lingkungan sekitar yang sepi. Lagipula ditengah hujan salju seperti ini mana ada orang yang akan berlalu lalang atau sekedar duduk mengobrol di teras rumah. Hingga tak lama tatapan Eva tertuju pada selimut tebal yang menangkis dinginnya salju di tubuhnya.
Setelah diingat-ingat lagi sebelumnya Eva tengah berjalan di tengah derasnya salju dan setelah sentuhan dingin menyapa lehernya tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
"Hmmm, ini selimutnya Hietlar. Bisa-bisanya dia masih menyuruh penjaga untuk mengikuti aku. cih!"
Sembari menggerutu, Eva melempar selimut tersebut keluar pekarangan seolah membiarkannya terbuang dan tertimbun hujan salju begitu saja. Kemudian Eva lekas masuk untuk menghangatkan diri di depan tungku api.
Didalam rumah, Eva bertemu kedua orangtuanya yang tengah asik berpelukan mesra seraya menghangatkan diri di depan tungku. Eva duduk di lantai hangat tepat di hadapan mereka sembari menjulurkan tangan dan meniupnya berulang kali.
"Sudah mama bilang pakaian kamu itu terlalu tipis, kerasa kan sekarang kalau sudah kedinginan!" Celetuk Franziska.
__ADS_1
"Ini pakai. Dimana Hietlar? apa urusannya belum selesai?" Friedrich bertanya seraya mengalungkan syal dan sebuah selimut tebal.
"Hmm."
Eva benar-benar malas untuk membahas tentang laki-laki itu sekarang. Rasanya antara benci, jijik namun tidak tega dan masih sayang, Eva sendiri dibuat bingung dengan perasaannya yang acakadut.
"Kak Ilse belum pulang kerja?" Seloroh Eva mengalihkan pembicaraan.
"S-sepertinya sebentar lagi pulang, ini sudah sore." Friedrich menjawab dengan ragu seraya menatap wajah Franziska yang berubah masam.
Sial aku keceplosan, malah nanya hal yang lagi dipermasalahkan lagi.
"O-ohh iya, kalau Gerlt dimana? Tumben biasanya jam segini baca komik di sofa?"
"Gerlt di kamarnya sedang belajar. Kamu jangan masuk dan mengganggunya, sebentar lagi dia akan ujian kenaikan kelas." Celetuk Franziska.
"hmm, iya-iya."
Ning
Bel berbunyi mengalihkan pandangan semua orang.
"Sana buka pintu, sepertinya itu kakak."
Seloroh Friedrich pada Eva. Sementara Franziska dengan wajah masamnya berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar meninggalkan mereka. Sangat terlihat dengan jelas bahwa perempuan tersebut masih marah dan kesal dengan tindakan tidak senonoh Ilse semalam.
"Papa aja yang buka, Eva mau mandi air hangat dulu." Eva langsung bergegas naik ke lantai atas, takutnya yang datang malah Hietlar jadi ia tidak mau membuka pintu.
Huh dasar!
Sembari menggerutu Friedrich berjalan menghampiri ambang pintu. Bagaimanapun dihadapan istri dan putrinya Friedrich hanya bisa bertingkah sebagai penengah dan lelaki dewasa satu-satunya didalam rumah.
Disisi lain Eva langsung menutup pintu kamar dan merebahkan diri diatas kasur. Seraya menutupi sekujur tubuh dengan selimut tebal, Eva berbaring
menatap derasnya salju dari balik jendela. Dalam situasi hening seperti ini, pikirannya malah riuh membayangkan ucapan Hietlar dan permintaan Henrich yang terus melanglang buana di dalam benaknya. Hingga tanpa sadar, butiran-butiran air mata perlahan turun mengalir membasahi wajahnya yang berekspresi datar.
Kepada siapa aku harus berpihak? Aku tidak mau berkhianat pada siapapun....Arghh kenapa aku harus terjerat dalam masalah ini.
__ADS_1
Cklek (Pintu kamar terbuka)
Langkah kaki ini terdengar tidak asing di telinga Eva, ia memutar bola matanya dengan kesal dan mengusap kasar pipinya yang basah. Lelaki itu langsung naik keatas ranjang dan memeluk tubuh Eva dari belakang.
"Sayang maaf, aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi..." Bisiknya.
"Apa buktinya?" Celetuk Eva.
"Apapun yang kamu minta akan aku berikan, sayang."
"Berani sekali, bagiamana jika aku meminta nyawa kamu?"
"Jangankan nyawa aku, jika kamu meminta satu dunia pun akan aku berikan di kakimu."
Ucapan Hietlar membuat Eva teringat kejadian pembantaian para imigran di Munchen 3 tahun lalu. Ia dengan jelas melihat mereka semua ditembak mati dengan senapan laras panjang. Mereka berlarian kesana kemari seperti rusa yang tengah diburu oleh para pemburu. Bahkan suara nyaringnya tembakan dimana-mana masih terngiang jelas ditelinga Eva hingga saat ini.
"Huh, yakin aku boleh meminta apapun?!" ketus Eva.
"...Kecuali membubarkan partai. Ini adalah hasil kerja keras aku demi mewujudkan mimpi ayah. Sekalipun dia tidak pernah memberikan kasih sayang lebih kepada aku semasa hidup, tapi aku selalu menjadikannya teladan. Mimpi besarnya yang tidak terwujud sampai akhir hayat, akan aku perjuangkan dan akan aku persembahkan padanya nanti." Ujar Hietlar.
"Apa yang akan kamu persembahkan pada ayah? Jutaan jiwa imigran yang tak berdosa?"
"Tak berdosa? Mereka semua berasal dari negara-negara yang telah membunuh 1,7 juta jiwa tentara kekaisaran jerman selama perang dunia 1. Apa mereka semua tidak berdosa?" Tegas Hietlar.
"Iya aku paham maksud kamu. Tapi semua itu sudah terjadi hampir 20 tahun lalu, saat ini kita sudah berada dimasa damai. Kalau kamu terus memicu konflik dengan para imigran itu sama saja kamu ingin menciptakan perang baru dan membunuh jutaan jiwa lagi." Seloroh Eva.
"Aku melakukan semu ini demi negara kita dimasa depan-"
"Sudahlah tidak ada yang perlu diperdebatkan nanti. Aku hanya akan semakin emosi mendengar ucapan kamu! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, aku ingin tinggal sendiri selama beberapa hari."
Eva sudah benar-benar muak dengan penjelasan Hietlar, ntah lelaki ini tidak paham atau malah menolak paham dengan penjelasan Eva yang sudah sangat jelas. Eva sendiri menepis pelukan tangan Hietlar dari atas tubuhnya dengan kasar.
"Hmm baik, aku rasa kamu masih marah. Malam ini aku akan tidur di hotel bersama para penjaga." Ucap Hietlar seraya beranjak turun dari kasur.
"Besok aku akan datang dengan mahar untuk kak Ilse dan Hema, sorenya kita akan langsung pulang ke Berlin jadi kamu harus bersiap-siap hmm." imbuhnya.
......................
__ADS_1