
Suasana pagi kian cerah, Eva menggandeng tangan Hietlar dan berjalan bersamanya menyusuri jalan setapak di pinggiran kebun anggur, tentunya ditemani Blondi. Sepanjang jalan keduanya saling bercengkrama sembari menikmati udara segar yang berhembus menyapa tubuh.
"Kamu mau punya anak berapa, sayang?" Celetuk Hietlar.
"Hmm ntahlah, kalau kamu?"
"Aku terserah kamu saja, karena kan ini badan kamu."
"Hmm....kalau aku minta 10?" Gurau Eva.
"Wah sangat banyak sayang, bukan nya kita harus segera bergegas mencicilnya dari sekarang?" Goda Hietlar.
Lelaki jangkung itu mulai menyudutkan Eva kepinggir jalan, tepat dimana sebuah pohon besar menjulang. Matanya meliar, mengungkung Eva dalam kendalinya. Jelas Eva tahu apa yang diinginkan Hietlar, namun gadis itu malah mengangkat satu jari dan mengarahkannya ke bibir lelaki yang tak sabar melahapnya tersebut.
"Jangan disini, nanti saja di rumah." Tukas Eva dengan senyum nakal yang khas.
"Tapi aku ingin sekarang."
Hietlar mulai menggerayangi tubuh Eva. Namun Eva dengan lihai melepaskan diri dari kungkungan Hietlar dan berlari menerobos kebun anggur sembari tertawa lepas, begitu juga Hietlar, ia mengejar Eva hingga ikut masuk kedalam kebun anggur yang tertata rapi.
Keduanya berlarian kesana kemari, bagaikan sepasang angsa yang tengah saling menggoda. Harmonis dan romantis adalah kata kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan keduanya yang semakin hari semakin akrab. Perasaan Eva dan Hietlar setiap hari nya juga terus bertambah berkali-kali lipat.
Sampai tak lama, langkah kaki Eva terhenti sebab ia tersandung sebuah batu kecil di tengah jalan. Hietlar yang berada cukup jauh darinya melihat Eva tersungkur bergegas menghampiri nya. Lain dari pada itu, Eva merasakan sesuatu yang cukup janggal dengan gundukan tanah yang ia timpa. Pasalnya terasa cukup lunak seolah di dalamnya ada rongga serta tercium bau busuk yang menyengat.
"Sayang, kamu gakpapa kan?"
Hietlar memapah Eva agar berdiri dan membersihkan dress nya yang kotor. Sementara tatapan Eva masih menyusuri lingkungan sekitar tempat ia berdiri. bukan hanya aneh, tapi di tengah tengah kebun anggur seperti ini ada sebuah lahan luas yang seperti baru digali dan tanahnya masih basah.
Apakah ini kuburan setumpuk mayat? hsss Kenapa aku bisa berpikir kesana! Tapi bau ini..
__ADS_1
"Sayang? Sayang kamu gakpapa kan?" Hietlar terus melambaikan tangannya membangunkan Eva dari monolog monolog yang tengah berlalu lalang dibenaknya.
"E-eh, nggak aku gakpapa. Cuma ada yang aneh aja sama tempat ini. Rasa hawa nya sedikit beda."
Hietlar terdiam sejenak sembari memutar bola matanya menyusuri tempat mereka berdiri. "Mungkin hanya perasaan kamu saja, sayang. Ayo pulang ini udah siang aku harus berangkat ke kantor."
"Hmm mungkin ini hanya perasaan aku saja."
Eva, Hietlar dan Blondi pun memutuskan untuk pulang. Disamping itu, rasa penasaran Eva belum hilang. Dengan berbagai kejanggalan yang ia rasakan selama beberapa hari ini tinggal di rumah Hietlar, Eva semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dan ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.
Jauh di dalam pikiran Eva sebenarnya ia sudah melanglang buana menebak berbagai kemungkinan yang ditutupi, termasuk kuburan setumpuk mayat tersebut. Eva mungkin bodoh dalam hal pelajaran, tapi ia punya insting yang kuat. Sebab itu ia memilih berpura pura tidak tahu, karena jika bertanya pun ia yakin Hietlar tidak akan menjawab dengan jujur.
Pertanyaan pertanyaan tersebut akan Eva cari sendiri jawaban secara diam diam.
Sesampainya di ambang pintu rumah, Hietlar langsung disambut Feglein, kaki tangannya yang paling setia. lelaki berkulit putih dan rambut pirang tersebut dengan tegap membawa jas dan berkas berkas yang diperlukan Hietlar untuk berangkat kerja.
"Huh rupanya kamu sudah menunggu aku, padahal aku masih ingin bersama istriku lebih lama lagi." Ketus Hietlar sembari menyerahkan Blondi pada pelayan.
"Sayang aku ada urusan mendesak dan sepertinya akan pulang sangat larut jadi malam ini tidak usah menunggu aku, kamu istirahat duluan saja."
"Gakpapa Hietlar, selesaikan saja dulu pekerjaan kamu."
Cup
Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir mungil Eva.
"Sampai jumpa nanti malam." Ucap Hietlar sembari mengelus lembut rambut Eva kemudian beranjak keluar dari rumah.
Eva mengantarkan kepergian Hietlar sampai ke depan pintu dengan senyuman. Setelah dirasa lelaki tersebut telah luput dari jangkauan pandangannya ia berjalan masuk dan mencari beberapa pelayan dan penjaga.
__ADS_1
"Aku ingin jalan-jalan sebentar menghirup udara segar di tepian kebun. kalau ada yang bertanya aku kemana Jawa saja seperti yang aku katakan barusan."
"Baik nyonya." Sahut mereka serempak.
Eva pun kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan. Ya kali ini tujuannya adalah tempat ia tersungkur sebelumnya, sebab rasa penasaran yang telah menguasai dirinya Eva sudah tidak tahan lagi. Jadi ia memutuskan untuk mencari tahu kebenaran sendiri.
Lain daripada itu, Eva tak sadar jika kebun anggur itu adalah wilayah kekuasaan Hietlar, setiap sudut disana pasti memiliki seorang penjaga tersembunyi. Begitu juga kali ini, penjaga tersebut diam diam mengikuti Eva. Kini Eva telah sampai di gundukan tanah basah tersebut. Ia mencari ranting untuk menoreh tipis tipis gundukan tersebut.
'Hmm busuk sekali, aku tidak kuat...uekk'
semakin dalam Eva menoreh semakin kuat bau tersebut menusuk hidungnya, Eva sampai menggunakan pakaiannya yang dilipat lipat untuk menutupi hidung dari bau tersebut.
Mata Eva membulat sempurna, saat yang ia toreh bukan lagi tanah tetapi daging yang telah membusuk dan mudah terpisah dari tulangnya, bahkan belatung belatung juga menggunung tengah menggerogoti bangkai tersebut. namun Eva masih belum yakin jika itu adalah mayat manusia.
ARGHHHH
Eva menjerit ketakutan, saat semakin memperluas torehan nya menemukan bahwa yang ia gali adalah kepala manusia. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pakaiannya, gigi dan tangannya mulai bergetar hebat. Namun rasa penasaran masih lebih kuat.
Dengan berusaha memberanikan diri Eva pindah ke sebrang lahan tempat ia menggali dan melakukan hal sama dengan cepat. Dan lagi lagi, dugaan Eva benar, ia langsung melempar ranting di tangannya dan mulai berjalan mundur perlahan.
Sembari tersungkur menutupi mulut yang menganga Eva masih berusaha menelaah hal yang ada dihadapannya tersebut. Pasalnya tempat yang ia gali tersebut rupanya juga sama, berisi mayat yang telah membusuk.
'Jadi dari ujung sana hingga ujung sini berisi mayat manusia? ada berapa ratus mereka? kenapa bisa berada disini? apa yang terjadi pada mereka?'
Monolog monolog tersebut membuat Eva hanya semakin terjerumus dalam ratusan pertanyaan dan teka-teki yang mengungkung benaknya. Perasaan takut dan gelisah membuat nya merasa lemas dan lunglai.
Sebelum Eva jatuh tak sadarkan diri, sempat terlintas sebuah kalimat dalam benaknya.
'Apakah semua ini ada hubungannya dengan Hietlar?'
__ADS_1
................