
"Jangan beritahukan identitasku yang sebenarnya, aku menunggu kamu besok pagi di Kafetaria Frishcut." Bisik Henrich dengan cepat sebelum Hietlar sampai.
"Apa yang sedang kalian bicarakan, sepertinya sangat serius?!" Seloroh Hietlar.
Henrich dan Eva langsung mengalihkan pandangan saat Hietlar dan para penjaga sudah berdiri dihadapan mereka.
"Aku ingin bicara dengan kamu." Eva meraih tangan Hietlar lalu membawanya menjauh dari Henrich dan para penjaga. Ia mengusap kasar pipinya yang basah sembari terus melangkahkan kaki dengan cepat, sementara Hietlar sendiri hanya bisa berjalan dengan heran mengikuti tuntunan gadis tersebut.
Setelah dirasa sudah cukup jauh, Eva berhenti dan melepaskan tangan Hietlar. Tanpa menatap atau berbalik sama sekali Eva berkata "Kenapa kamu menyembunyikan kebenaran tentang identitas kamu yang sebenarnya?!"
"Maaf, aku hanya takut kamu akan menolak tanpa memberikan kesempatan untuk aku berjuang."
"Tapi pada akhirnya sama saja, aku akan tahu semuanya!" Tegas Eva.
"Kali ini berbeda. Aku secara terang-terangan mengungkapkan identitas yang sebenarnya karena aku sudah yakin kamu mencintaiku dengan tulus dan kamu pasti akan menerima kebenaran ini." Ujar Hietlar.
"Cih! Kamu egois!"
Suara Eva terdengar semakin sayu diiringi isakan. Hietlar meraih bahu Eva dan memutar badannya agar bisa beradu tatap dengan jelas. Lelaki itu menatap Eva dengan iba seraya menyeka air mata yang membuat hidung dan mata Eva menjadi sembab.
"Bukan itu maksud aku, maaf kalau aku sudah menyakiti perasaan kamu, hmm." Hietlar melembut.
Namun kali ini Eva sudah memegang teguh prinsipnya untuk tidak mudah luluh lagi pada perlakuan Hietlar, ia langsung menepis tangan Hietlar dan berjalan sedikit menjauh darinya.
Bersamaan dengan itu, salju pertama di musim dingin turun. Mengguyur dua kekasih yang tengah berada diujung tanduk ikatan asmara tersebut. Hietlar mendongak seraya mengulurkan tangan, merasakan dinginnya butiran salju menyentuh telapak tangan.
"Aku mohon maafkan aku. Jika kamu bersedia, aku tidak akan berbohong dan menyembunyikan apapun lagi." lirihnya.
__ADS_1
"Kamu pikir setelah semua penipuan ini aku masih percaya dengan semua perkataan manis itu?"
"Oke oke kalau kamu tidak percaya dengan ucapan aku, tapi setidaknya jelaskan kenapa kamu tidak menyukai posisi aku sebagai ketua partai? Aku berjuang demi negara kita, demi ras dan budaya kita! Kenapa hmm? Apa kamu suka melihat negara kita diambil-"
"CUKUP! CUKUP! CUKUP!! Pidato manis kamu itu tidak akan mempan padaku, lebih baik kamu gunakan pada orang-orang yang berdiri didepan panggung saja." Eva memotong ucapan Hietlar dengan nada tinggi.
"Lagipula aku paham bahwa kamu melakukan semua ini demi memperjuangkan negara kita yang telah gagal dalam perang, namun semuanya sudah berakhir! Kita sudah memilih berdamai dengan lawan! jika kamu terus melakukan tindakan seperti ini sama saja kamu ingin memulai kembali perang. Aku mohon hentikan, keegoisan kamu itu bisa menyebabkan jutaan jiwa melayang sia-sia." Imbuhnya.
"Tidak bisa! Aku sudah berjanji pada ayahku untuk mewujudkan keinginan kami berdua." Tukas Hietlar.
"Kalau begitu kamu lebih memilih kehilangan aku? Baik. Terimakasih atas semua yang kamu lakukan untukku. Setidaknya dalam hidup ini kamu PERNAH mendapatkan satu citra baik dari pandangan seorang rakyat biasa sepertiku."
Eva berbalik dan hendak berjalan menjauh meninggalkan Hietlar. Sementara itu mata Hietlar membulat sempurna mendengar pernyataan tersebut, ia benar-benar dibuat terkejut saat itu.
"Tunggu! Sayang aku mohon kita bisa-"
"Jangan sentuh aku lagi, kamu tidak berhak!" Eva menepis tangan Hietlar dan berjalan meninggalkan dirinya.
Jelas ini semua tidak seperti yang Hietlar bayangkan, ia menyembunyikan identitasnya selama ini dan memperlakukan Eva dengan penuh cinta berharap gadis tersebut semakin luluh dan akan menerima semua kenyataan ini dengan lapang dada suatu hari nanti. Namun saat hari ini tiba, sepertinya ia telah salah perhitungan. Eva tidak selugu itu.
"Baik, jika memang kamu butuh waktu maka aku akan memberikannya. Akan aku pastikan kedepannya bisa menggenggam erat tanganmu tanpa beban apapun lagi." Gumam Hietlar dengan pelan seraya memandangi punggung gadis tersebut berjalan menjauh.
Tak lama segerombolan penjaga datang dengan sigap menghampiri Hietlar yang masih termangu, salah satu dari mereka mengeluarkan payung dan menyanggah derasnya salju dari tubuh sang tuan. Seperti biasa Hietlar merogoh sepuntung rokok dan menyalakan korek. Setelah menyesapnya beberapa kali akhirnya Hietlar bergeming.
"Ikuti dia diam-diam dan awasi kemanapun dia pergi."
"Oh iya, lindungi dia seperti kalian melindungi aku." imbuhnya.
__ADS_1
Dua orang penjaga memberikan hormat dan langsung menjalankan perintah untuk mengikuti Eva kemapuan dia pergi.
Seburuk dan sekejam apapun citra Hietlar di depan khalayak umum, namun dapat terlihat dengan jelas bahwa perasaan nya tulus terhadap Eva. Ia rela melakukan apapun demi sang pujaan hati sekalipun Eva memilih tetap pergi maka Hietlar tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Disisi lain, Eva berjalan sempoyongan dibawah derasnya salju yang mengguyur tubuh. Rambut pirangnya bahkan hampir putih tertutup lapisan es. Gadis itu masih tak bergeming dengan tatapan kosong seolah hatinya yang mati telah merenggut indra perasa nya hingga tidak bisa merasakan apapun lagi. Orang-orang yang berpapasan dengannya menatap dengan iba dan heran, bisa-bisanya Eva berjalan tanpa menggunakan payung atau syal sama sekali, seperti mayat hidup.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak bisa hidup tanpa Hietlar, tapi aku juga tidak bisa hidup bersamanya dalam situasi seperti ini. Apa yang harus aku katakan pada keluargaku? apa yang-
Bruk
Seorang penjaga menekan titik syaraf Eva dan membuatnya pingsan seketika. Mereka langsung memasukkan tubuh Eva kedalam mobil dengan hati hati dan membawanya pergi meninggalkan area Marientplatz.
Ditempat lain, Hietlar duduk dengan santai didalam studio foto tempat Henrich bekerja, tentunya ditemani Henrich yang sedari tadi tengah memperhatikan raut wajah Hietlar yang nampak datar dan tak berekspresi sama sekali seraya menyesap sebatang rokok dihimpitan jarinya.
"Sejauh apa yang kamu katakan pada dia sebelumnya?" Celetuk Hietlar.
"Aku hanya menjawab seadanya, berkata bahwa kamu menyembunyikan semua ini untuk kebaikan kalian berdua."
Hietlar menghela nafas panjang dan menaruh puntung rokok yang sudah habis terhisap diatas asbak. Ia kembali meraih batangan rokok dari dalam saku
"-Cukup, kamu sudah menghabiskan 4 batang. Apa mau sampai paru-paru gosong dulu baru berhenti?!" Henrich menghentikan tangan Hietlar.
"Cih dasar, kamu masih sama seperti dulu." Hietlar berdecak kesal.
"Apa yang dia katakan? Apa dia masih bersedia tinggal bersamamu?"
Mendengar pertanyaan Henrich, Hietlar hanya memutar bola matanya menyisir derasnya salju dari balik jendela. "Dia adalah orangku. Sekali jadi milikku maka akan selamanya menjadi milikku. Penolakan hanya akan membuatnya semakin tersiksa."
__ADS_1
"Hmm...Jadi sebenarnya kamu mencintai Eva benar-benar tulus atau hanya karena dia memiliki wajah yang mirip dengan mendiang istrimu?"
......................