
"Kak, di rumah ini ada satu ruangan yang tidak boleh kakak singgahi." Celetuk Powll.
"Yang mana?" Eva mengeriyatkan dahi, ia menaruh sendok nya dan mulai memperhatikan ucapan Powll dengan serius.
"Ruangan di ujung lorong lantai satu."
Powll berucap seraya menunjuk ruangan yang sejajar dari tempat ruang makan. Ruangan tersebut memang terlihat sangat di ujung dan cukup gelap, bisa dibilang Sepertinya disana memang sengaja tidak dipasang lampu.
"Di ruangan itu banyak berkas berkas penting sayang, jadi aku tidak membiarkan siapapun masuk kecuali aku dan orang orang tertentu." Sambung Hietlar.
"Jadi sebenarnya pekerjaan kamu apa?"
"Aku adalah ketua partai politik sayang, sudah cukup lama sebenarnya. Jadi kamu tidak usah heran jika melihat penjagaan rumah yang ketat." Ujar Hietlar.
Eva mengangguk saja meskipun ia tidak mengerti calon suaminya tersebut bekerja di bidang apa. karena yang namanya organisasi partai politik pasti khusus bergerak di suatu bidang.
Setelah selesai makan malam, Hietlar membawa Eva naik ke kamar mereka. Kini kamar itu telah di tata sedemikian rupa hingga tidak terlihat kosong seperti sebelumnya sebab telah diisi dengan barang barang baru yang Hietlar pesan beberapa jam sebelumnya.
Lemari juga sudah penuh dengan baju lama Eva dan tentunya baju baru yang telah dipersiapkan oleh Hietlar. Bahkan handuk, sikat gigi, kursi dan lain sebagainya adalah benda benda pasangan.
Hietlar selalu tahu cara untuk meluluhkan hati seorang perempuan.
"Terimakasih untuk hari ini." Eva langsung mendekap erat tubuh kekar calon suaminya tersebut.
Begitu juga Hietlar, ia membalas dekapan Eva dengan erat hingga tubuh Eva terangkat. "Everything for you, honey."
Eva mulai merasakan kecupan hangat menjalar di lehernya. semakin lama semakin kasar dan liar menggerayangi tubuhnya.
Sasaran selanjut adalah bibir mungil gadis tersebut dengan ganas.
Brakk
Hietlar mendorong tubuh Eva keatas kasur, dengan gesit ia melucuti semua pakaian yang menempel padanya dan pada Eva.
"T-tunggu tuan, kita belum menikah." Eva menghentikan aktivitas Hietlar seraya menutupi sebagian tubuhnya yang telah terekspos.
"Pernikahan itu hanyalah status, kamu sudah tinggal di rumah ini dan menjadi nyonya saja sudah berarti bahwa kamu adalah istriku, sayang."
Suara berat Hietlar membuyarkan pikiran Eva.
Bahkan setelah itu Hietlar tak menunggu jawaban Eva, ia kembali menjamah tubuh gadis dihadapannya tersebut seperti memakan buah segar. lahap dan nikmat.
Malam yang panas ini mereka lalui dengan penuh gairah.
----------------
Sinar mentari pagi menembus celah gorden, menyapa wajah mulus Eva dengan kehangatan. Gadis itu menggeliat seraya tersenyum tipis mengingat pertempuran panas yang baru saja ia lakoni semalam.
__ADS_1
Eva membalikkan badan hendak memeluk tubuh Hietlar dibelakang nya. Namun tangannya tak merasakan keberadaan apapun.
Benar saja saat Eva mengucek matanya ia tak melihat keberadaan Hietlar sama sekali. Matanya membulat sempurna saat melihat jam di nakas menunjukkan masih pukul 09.15, sial sekali ia kesiangan dihari pertama pindah ke rumah Hietlar.
Tanpa pikir panjang gadis itupun beranjak bangun dari tempat tidur dengan sedikit tertatih karena sedikit nyeri. Ia berjalan telanjang menuju bathub dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, gadis itu turun dengan rapi ke lantai satu untuk sarapan.
Sorot matanya langsung tertuju pada dua perempuan asing yang tengah duduk menikmati hidangan di meja makan. Mereka nampak menatap Eva dengan tajam.
"Pelayan baru disini sejak kapan diperbolehkan langsung bekerja di lantai 2?" Cibir Angela.
"Nyonya, beliau ada nona Eva, perempuan yang dibawa pulang oleh Tuan Hietlar kemarin." Sahut salah satu pelayan.
Uhuk uhuk...
"APA? PEREMPUAN YANG DIBAWA PAMAN?!" Geli tersedak minuman.
Sementara itu Angela masih menatap Eva dari ujung kaki sampai ujung rambut seraya tersenyum jijik.
"Pagi Kak Angela, Geli. Aku Eva." Ucap Eva sopan.
"Cih kakak? sejak kapan aku menjadi kakakmu!" desis Angela.
Eva mengingat perkataan Powll semalam bahwa adik tiri dan keponakan tiri Hietlar ini bertemperamen buruk sehingga lebih baik Eva tidak meladeni mereka.
Sebab itu Eva memilih menanggapi ucapan mereka dengan senyuman dan langsung duduk di kursi.
"Aku ingin sarapan, kak." Sahut Eva.
"Kak? sudah aku bilang jangan panggil aku seperti itu! Terdengar menjijikan bila keluar dari mulut kotormu! panggil aku nyonya!"
"Pergi dari sini, lebih baik makan di dapur saja sana!" sambung Geli.
"Cih! Batul, aku tidak sudi berbagi makanan dengan orang yang tidak tahu asal usulnya dari mana. Ntah dimana Hietlar memungut mu." Ujar Angela seraya memutar bola matanya dengan julid.
Perempuan berambut pendek hitam pekat dengan mata biru bersinar dan kulit putih itu terus mencecar Eva dengan kalimat yang menyakitkan. Ntah apa kesalahan yang Eva perbuat hingga di hari pertama mereka bertemu ia sudah diperlakukan seburuk ini.
"Aku berasal dari Munchen, nyonya. Kemarin sore tiba disini bersama Hietlar dan Powll ." Ujar Eva.
Brakk
"Hey!! BERANI SEKALI KAU MENYEBUT NAMANYA SECARA LANGSUNG! KAU HANYA WANITA BAYARAN KAKAK KU!" Angela berdiri seraya menggebrak meja.
Sontak perbuatan Angela ini menuai perhatian dari para pelayan.
Sementara itu Eva tertegun mendengar celotehan Angela. Ia tidak menyangka kalimat seperti itu akan ditujukan padanya.
__ADS_1
"Pelayan, bawakan aku cambuk!" Cetus Angela.
Seorang pelayan langsung membawakan Angela sebilah cambuk bergerigi yang terbuat dari alumunium. Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Eva. Pun anaknya, lanjut memakan roti dengan santai seraya tersenyum miring.
"Berlutut!"
Eva mulai gelisah, ia sedikit gugup karena Angela kini berdiri dihadapannya tidak dengan tangan kosong. Gadis itu masih membeku dengan raut wajah yang mulai gemetar.
"AKU BILANG BERLUTUT!"
Angela langsung mendorong tubuh Eva hingga ia tersungkur dengan keras ke lantai. "Argh, apa yang akan nyonya lakukan?!"
Plakk...Arghhhh
"Cambukan pertama ini karena kau berani memanggilku kakak!"
Plakk....Arghhhh
"Cambukan kedua ini karena kau berani memanggil langsung nama kakakku!"
Tanpa Ampun dan belas kasih Angela mencambuk Eva dengan keras tanpa menghiraukan tatapan para pelayan yang nampak meringis ketakutan dengan murka sang nyonya.
"Cambukan ini untuk-"
Plakk
"BERANI SEKALI KAU MENYAKITIKU CALON ISTERI KU!" Hietlar tiba tiba datang dari arah pintu masuk.
Ia langsung menampar adik tirinya tersebut yang dengan lancang mencambuki tubuh Eva.
Sementara Eva hanya bisa meringis kesakitan, dua cambukan itu sukses mencabik punggungnya hingga mengeluarkan darah segar di lantai.
Hietlar segera menghampiri Eva dan melihat luka lukanya yang cukup dalam.
"Kakak! kau berani menampar aku demi wanita bayaran ini?!"
"DIAM! BUKANKAH AKU SUDAH BILANG DIA CALON ISTERIKU!" Hietlar melemparkan tatapan tajam dengan suara tinggi kepada adik tirinya tersebut.
"Paman! Mama gak salah, perempuan itu yang berani melanggar aturan rumah!" Timpal geli yang dengan sigap menghampiri Angela.
"Anak kecil dilarang ikut campur urusan orang dewasa, kau juga sudah melanggar aturan rumah!" Tegas Hietlar.
"Penjaga, serta mereka ke kamar atas dan kunci dengan gembok! Tanpa seijin dari ku mereka tidak boleh keluar, jika ada yang berani mengeluarkan mereka, dia akan aku bunuh!" Sambungnya.
Penjaga segera menyeret paksa tubuh Angela dan Geli yang meronta ronta.
"Aku ini nyonya rumah, lepaskan aku!"
__ADS_1
"Lepaskan aku, paman!!"
................