
Disisi lain Eva sedikit tersentuh saat melihat salah satu pelayan yang berdiri dengan gemetar seraya air mata yang mulai bercucuran. Ia merasa terlalu kejam, jika memang mereka tidak bisa bicara maka berarti ada sesuatu yang menahan mereka. Eva tidak bisa memaksa lagi.
"Huh....sabar Eva. Baiklah kalian boleh pergi."
Para pelayan itu langsung meninggalkan kamar dengan tergesa-gesa.
Sementara itu Eva menghela nafas panjang dan memilih melanjutkan aktifitasnya mengisi perut yang sudah menggonggong kelaparan. Untuk sesaat, makanan berhasil mengalihkan pikiran Eva yang kacau dengan ribuan pertanyaan mengenai misteri dan kejanggalan-kejanggalan yang terus ia rasakan selama di rumah ini.
"Eh sayang, kamu makan disini? aku dibawah loh kenapa kamu nggak turun?"
Hietlar tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu kamar seraya berjalan menghampiri Eva yang tengah sibuk menyantap hidangan yang sudah tinggal setengah.
"Aku malas turun, nih mau gak? Aaakk....."
"Mau mau...."
"Hehe gimana rasanya?"
"Enaknya ribuan kali lipat kalau pakai sendok bekas kamu."
Eva terkekeh dengan rayuan Hietlar. Bukan tanpa sebab tetapi memang Hietlar ini tahu saja celotehan celotehan kecil untuk merayu gadis gadis seumuran Eva di usia Hietlar yang sangat jauh dari usia sebayanya ini. Misteri dan kejanggalan di rumah yang membuat Eva merasa tak nyaman pun semuanya sirna, karena adanya Hietlar.
Sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara tersebut saling menyuapi satu sama lain hingga makanan habis. Romantis dan harmonis adalah kata kata yang cocok untuk menggambarkan kisah mereka berdua.
"Bagaimana luka kamu, sayang?" Hietlar mulai mengamati punggung Eva.
"Sudah lebih baik, hanya masih sedikit sakit saja."
"Hmm, syukurlah. Tadinya aku mau mengajak kamu jalan jalan keliling rumah bersama blondi."
"Ayo kenapa tidak?"
"Tapi luka kamu?-"
"Gak masalah, kan hanya jalan jalan. Apalagi ada kamu aku pasti aman." Celetuk Eva.
Cup
Sebuah kecupan kecil tiba tiba diluncurkan Hietlar, mendarat tepat di pipi chubby perempuan tersebut yang langsung berubah menjadi tomat. Hietlar tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri.
"Kalau senyum gitu selalu bikin gemes jadi gak tahan, hehe."
__ADS_1
"You too, Mr.Hietlar."
Sahutan Eva tersebut berhasil mengundang gelak tawa Hietlar. Ia tidak menyangka Eva sudah mulai mempelajari bahasa bahasa dewasa seperti itu.
Setelah cukup bersenda gurau, Eva dan Hietlar berjalan turun bergandengan tangan hendak menghampiri anjing kesayangan Hietlar, Blondi. Namun langkah mereka malah terhenti saat melihat Angela dan Geli duduk di sofa dengan wajah kusut.
"Pagi kak Angela, Geli." Sapa Eva sopan.
"Eva, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Jangan dimasukkan kedalam hati." Celetuk Angela.
"Iya bibi, Geli juga sudah bersikap tidak sopan, maafkan Geli."
Ibu dan anak tersebut langsung beranjak menghampiri Eva dan bersimpuh di kaki nya seraya berderai air mata. Benar benar mirip seperti yang diucapkan Hietlar kemarin yang berjanji akan membuat mereka bersimpuh memohon maaf.
Apa apaan ini, hari kedua ku di rumah calon suami sudah berhasil membuat calon adik ipar dan keponakan ipar bersimpuh memohon maaf? Apa yang harus aku lakukan?
"T-tolong bangun Kak Angela, Geli. J-jangan menyentuh kaki aku seperti ini, kita adalah keluarga."
"Tidak, kami tidak akan melepaskan kaki kamu sebelum kamu memaafkan kami." Sahut Angela
"Iya iya kakak, aku- Arhhh"
Bruk
"Minta maaf yang benar!" Hietlar menendang bahu Geli dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Hietlar! Apa yang kamu lakukan dia ini keponakan kamu!"
"Geli bangun sayang, geli!"
Eva dan Angela beranjak menghampiri tubuh geli yang tak bergerak. mereka berusaha menggoyahkan tubuh gadis itu agar bangun namun ia masih juga tak kunjung sadarkan diri. Hingga tanpa sengaja Eva melihat memar memar bertebaran di perut Geli yang pakaiannya sedikit tersingkap.
Eva mematung, berusaha ingin menelaah apa yang ia lihat itu beneran memar atau bukan. Tangannya mengambang di udara hendak menyingkap pakaian Geli agar terbuka lebih jelas. Namun Angela menghentikan tangan Eva dan memegangnya erat seraya menampilkan tatapan penuh kebencian.
Tatapan yang membekas selamanya dalam hidup Eva.
"Pelayan, bawa Geli ke kamarnya!"
Perintah Hietlar membuat pelayan kalang kabut membopong tubuh Geli menuju kamarnya di lantai dua. Disini Eva merasakan kejanggalan yang sama seperti tadi pagi, cara jalan para pelayan seolah tertatih dan menyembunyikan rasa sakit.
"Kenapa tidak dibawa ke dokter saja? Aku rasa tubuh Geli sedikit panas tadi."
__ADS_1
"Tidak usah sayang, Para pelayan disini memiliki ilmu pengobatan. Mereka bisa mengatasi geli."
"T-tapi bagaimana jika parah?!"
"Sudahlah biarkan saja mereka bekerja, lagipula aku membayar mereka dengan mahal untuk melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Ayo..."
Hietlar meraih tangan Eva dan membawanya keluar dari rumah. Sementara Eva sendiri masih tak menyangka bahwa Hietlar, lelaki yang selama ini ia kenal lemah lembut akan bersikap kasar pada keponakannya sendiri.
Saat ini Eva hanya mengikuti langkah kaki Hietlar yang membawanya menuju ke halaman samping, tempat sebuah rumah kecil yang cukup mewah terbuat dari marmer putih berdiri. Didalamnya terdapat seekor anjing berjenis gembala Jerman dengan warna kulit hitam coklat tengah berbaring santai.
Hietlar menggerakkan tangannya memanggil anjing tersebut yang ia panggil sebagai Blondi. Dengan cekatan dan seolah terlatih Blondi langsung berjalan menghampiri Hietlar.
"Sayang lihatlah ini anjing kesayangan aku, namanya Blondi."
"Oh iya." Ketus Eva.
"Kamu kenapa murung seperti itu? Tidak suka dengan Blondi?"
"Bukan dengan nya, tapi dengan sikap kamu. Kenapa harus mendorong geli dengan kasar barusan. Dia itu seumuran dengan aku, bagaimana jika terjadi sesuatu pada tubuhnya."
"Maaf sayang aku kelepasan. Lagipula aku tidak suka bila ada yang menyakiti kamu."
Hietlar dengan seribu rayuan mautnya kali ini merangkul pinggang ramping Eva dan menghilangkan jarak diantara mereka. Sementara Eva berusaha untuk tetap cool dan tidak luluh dengan perlakuan Hietlar.
"I-iya aku suka kamu sangat memperdulikan aku, tapi aku juga tidak suka jika kamu TERLALU memperdulikan aku sampai tidak memperdulikan orang lain." Ketus Eva.
"Hmm ya sudah aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Hietlar mendekap Eva dengan erat.
Kali ini Eva mulai luluh, Bagaimanapun perlakuan Hietlar selalu berhasil mengembalikannya mood baik nya dalam sekejap.
"Bagaimana kalau kamu besok ikut bersama aku ke Munchen selain untuk urusan partai tetapi bisa untuk berlibur juga, ya sekalian menyapa keluarga kamu." Bisik Hietlar.
"Mau! Aku mau ikut! Aku sangat merindukan mereka."
"Of course, honey!"
Eva tersenyum lebar mendengar ajakan Hietlar. Ia lantas mendekap Hietlar semakin erat. Untuk sejenak tubuh Hietlar selalu menjadi penenang yang ampuh untuk pikiran pikiran kotor yang menjamah Eva.
Namun disisi lain, Hietlar tersenyum kecut sembari memeluk Eva. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak biasa seolah tengah memikirkan sesuatu. Jelas ekspresi itu sangat licik dan manipulatif, tidak seperti Hietlar yang penurut dan perhatian di hadapan Eva. Apa yang sebenarnya Hietlar pikiran.
................
__ADS_1