
Hietlar tak bergeming menanggapi ucapan Philip. Ia termangu sejenak sebab beberapa pertanyaan mulai berlalu lalang dibenak pria berusia 40 tahun tersebut. Secara Hietlar bukan orang awam dalam dunia bisnis, ia paham betul jika menyangkut urusan jaringan ekonomi raksasa seperti ini tidak boleh asal meminta atau memberikan bantuan, apalagi dari orang yang tidak berkecimpung langsung di bidangnya. Jelas hal ini menimbulkan kecurigaan tersendiri bagi Hietlar.
"Bagaimana, Tuan?" Philip membangunkan Hietlar dari lamunan.
"Hmm, Sampai jumpa besok." Sahut Hietlar seraya melengos masuk kedalam rumah.
Philip tersenyum miring menanggapi jawaban Hietlar.
"Huh? Aku dengar pimpinan jermanisme sangat cerdas, ternyata hanya gosip. Bisa-bisanya dia langsung setuju. Cih!" Gumam Philip pelan sebelum ikut masuk kedalam rumah.
Disisi lain Hema, Ilse, Friedrich dan Franziska masih duduk disofa menunggu Philip dan Hietlar yang sedang mengobrol diluar. Suasana didalam ruang tamu terasa canggung dan sangat hening hingga suara detak jantung dapat terdengar dengan jelas.
Ilse menggunakan sikut nya menggemingkan Hema agar memulai pembicaraan.
"T-tuan, Nyonya.....Saya sudah bawa mahar didalam mobil, nanti kalau Tuan Hietlar datang saya akan ambil." Celetuk Hema memecah keheningan.
"Oh? Ya sudah Hema, itu memang sudah kewajiban kamu untuk bertanggungjawab. Saya cuma mau tanya satu hal sama kamu sebelum menyerahkan Ilse sepenuhnya." Sahut Friedrich.
"Silahkan Tuan."
"Apa kamu tulus mencintai Ilse?"
Hema tertegun mendengar pertanyaan tersebut, ia memutar bola matanya menatap Ilse yang sedari tadi berbinar tersenyum menunggu jawabannya dilontarkan. Begitu juga Franziska yang meskipun masih kesal tapi tetap penasaran. Hema benar-benar tidak rela berbohong, namun bagaimanapun ini demi kelancaran tujuan tuannya jadi Hema hanya bisa menghela nafas panjang dan berlapang dada.
"Iya, aku tulus mencintai Ilse, Tuan."
Jawaban Hema tersebut langsung mendapat respon senyuman lebar dari Ilse dan Friedrich.
"Baiklah, kalau kamu sudah yakin mulai sekarang jangan panggil aku Tuan. Panggil saja Papa mertua."
"B-baik.....Papa mertua." Hema tersipu.
Sebenarnya melihat keluarga Braun yang menerimanya dengan suka rela, Hema merasa sedikit bersalah. Mungkin hanya dengan memperlakukan Ilse dengan baik ia bisa menebus rasa bersalah nya tersebut. Tak lama setelah itu, Hema beranjak dari duduknya dan berlutut dengan satu kaki menghadap Ilse. Ia merogoh sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku jas kemudian membukanya tepat dihadapan Ilse.
"I-ilse, m-maukah kamu menikah dengan aku?" Ucap Hema terbata-bata.
__ADS_1
Ilse sangat terpaku dengan yang dilakukan pria dingin tersebut dihadapannya. melihat Hema berlutut sembari menyodorkan sebuah cincin berlian yang berkilau indah membuat gadis tersebut tersipu dan tak henti-henti tersenyum lebar. Begitu juga Friedrich dan Franziska yang menyaksikan adegan demi adegan tersebut dengan penuh rasa kasih dan bahagia.
"Iya, aku mau." Sahut Ilse.
Hema berusaha tersenyum tulus dan memakaikan cincin berlian tersebut dijari manis Ilse. Gadis itu benar-benar kegirangan dengan mata berkaca-kaca silih ganti memeluk Friedrich dan Franziska. Yah meskipun Franziska masih acuh tak acuh, namun ia juga tidak bisa egois menolak jalan yang dipilih putrinya tersebut.
"Pah, mah, Aku ijin ke toilet dulu sebentar." Tukas Hema diangguki oleh Friedrich.
Hema beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menghadapi rasa malunya sendiri. Dalam politik, Hema memang sangat licik dan berhati batu, namun ini adalah kali pertama Hema merasa luluh dengan keharmonisan sebuah keluarga.
POV: Hema
Aku berjalan memasuki kamar mandi yang dingin, menatap pantulan diri di depan cermin. Aku menyalakan keran air dan mulai membasuh muka dengan kasar. Dinginnya air ditengah musim salju terasa sangat menusuk kulit, namun aku sengaja. Sengaja membuat diriku sendiri merasakan sakit fisik supaya sakit dalam hati teralihkan.
Pria yang pernah berjalan diatas tumpukan mayat dan telah melakukan banyak pembunuhan sepertiku tidak pantas merasakan keharmonisan rumah tangga, aku harus berhati batu demi tujuan Tuan. Perasaan hanya beban yang akan membuatku terbelenggu dan memiliki kelemahan.
Cklek
(Suara pintu kamar mandi terbuka)
Tak lama Ilse muncul dari balik pintu dan masuk begitu saja mengunci pintu dari dalam. Aku tertegun melihat tatapannya yang menyeramkan seolah hendak menerkam aku hidup hidup.
"Ada perlu apa Ilse? aku sedang mencuci muka."
"Hema! udara diluar sangat dingin seperti ini kenapa kamu malah mencuci muka?! Lihat tangan kamu sampai merah seperti itu!" Celetuk gadis itu seraya berjalan mendekat.
"Apa perlu aku hangatkan, hmm?" Ilse tersenyum menggoda.
Tangan hangat nya mengatupkan kedua tanganku dalam genggamannya. Meniup lembut jari jemariku yang sedikit kaku, memberikan kesan hangat yang belum pernah aku rasakan dari bara api manapun.
Ntah apa yang tengah aku pikirkan saat ini, malah menatap lekat wajah Ilse dari dekat. Sangat cantik dan menggoda, begitu yang terlintas dalam benakku.
Sial sial sial!! Gadis ini malah mendongak balik menatapku. Jelas saja jantungku berdebar tak karuan, apalagi senyum simpulnya membuatku menelan saliva dengan keras hingga wajah merona.
Ilse perlahan mulai mengikis jarak, mendekatkan wajahnya padaku. Dan dalam hitungan detik, aku langsung mengenyam bibir ranumnya dengan ganas. Jangan salahkan aku bila terlalu liar, kamu yang terlalu menggoda.
__ADS_1
Lembutnya kulit merah muda yang kujamah terasa melekat diranum, hangatnya deruan nafas berganti panas menggeser udara dingin dari salju di balik dinding. Aku mengangkat nya keatas wastafel dan memperdalam perhelatan dengan sentuhan liar kedalam sela-sela pakaian nya yang sedikit terbuka. Lembut dan wangi, seperti inikah rasanya kulit perempuan?
Suara indah yang mulai keluar dari mulut gadis yang terpaksa aku jadikan pendamping hidup itu mulai lolos beberapa kali saat aku berpindah ke leher jenjangnya, hampir membuatku lepas kendali. Beruntung suara Tuan Hietlar dan Tuan Philip terdengar nyaring dari ruang tamu.
Aku sontak menghentikan aktivitas yang hampir membangunkan hasrat terpendam selama 40 tahun ini belum pernah menyentuh perempuan. sama sekali.
"Lanjutkan saja, Hema. Mereka tidak akan menggangu kita." Ucap Ilse seraya menarik wajahku mendekat.
"Tidak, urusan tuan lebih penting."
Aku menepis tangan Ilse dan berlalu meninggalkannya di kamar mandi seorang diri.
Kembali ke situasi ruang tamu.
Saat ini Philip dan Hietlar sudah duduk diatas kursi tengah mengobrol santai dengan Friedrich dan Franziska. Tak lama Hema datang dengan canggung menyalip pembicaraan dan ikut duduk di sofa. Tak lama juga setelah Hema datang, Ilse datang dan duduk disamping Hema. Hal ini menjadi perhatian bagi Hietlar.
"Yoo? Kakak ipar, sepertinya cincin dijari manismu itu adalah pertanda baik." Celetuk Hietlar.
"Hehe iya, baru saja Hema melamar Ilse." Sahut Friedrich.
"Wah selamat, mulai sekarang aku akan memperlakukan kamu lebih baik, kakak ipar Hema. haha." Celoteh Hietlar.
"A-apa yang tuan bicarakan..." Hema memutar bola matanya dengan canggung seraya tersipu.
Sebuah kehangatan keluarga yang terasa sangat harmonis saat itu. Namun bayang bayang Eva yang terlintas dibenak Hietlar membuat nya terpaku, Kebahagiaan ini rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran gadis tersebut yang ntah berada dimana saat ini.
Sementara dibalik semua kejadian itu, Philip tak bergeming sama sekali. Jangankan mengucapkan selamat, ia bahkan nggan menatap Hema dan Hietlar sedikitpun.
"Saya pamit pulang ya semuanya. Ini sudah larut malam." Tukas Philip.
Tanpa mendengar jawaban yang lainnya, Philip berlalu begitu saja dengan tatapan kesal dan tangan mengepal.
Menjijikan! hanya iblis yang menggunakan keluarga sebagai batu loncatan!
......................
__ADS_1