Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
06. Feminim


__ADS_3

Eva merebahkan tubuhnya diatas kasur, memandangi langit langit kamar yang polos. sebatas kayu jati kokoh berlumur cat coklat. Lampu yang tergantung tepat diatas kepalanya pun mulai remang remang. Suasana mendukung dirinya terjun kedalam khayalan.


Aku ingin malam ini segera berakhir, mentari esok hari adalah hal yang paling kunanti saat ini. Sial! apakah ini yang dinamakan rindu?


Eva hanya bisa tersipu dengan monolognya sendiri. Gadis itu tersenyum tipis dan mulai berguling tanpa arah. Perasaan senang bercampur malu terus seliweran tak karuan di relung dada nya.


Hanya dengan mengingat wajah Hietlar, segala kekesalan terhadap orang tuanya seketika memudar.


----------------


"Eva bangun! lihat ini sudah jam berapa!"


Franziska sudah hampir 5 kali pulang pergi menggedor pintu kamar Eva. Ia sudah geram karena anaknya tersebut tak kunjung bangun juga.


Eva sebenarnya bukan belum bangun, justru ia sudah bangun bahkan sebelum kedua orangtuanya. Namun ia tengah fokus merias diri di depan cermin sejak pagi buta, ditambah ia malas menyahut teriakan sang ibu.


"Eva! kalau kamu tidak bangun, mama dobrak pintu tipis ini!" Seloroh Franziska.


"Udah bangun mah, ini lagi ganti baju." Sahut Eva yang mulai risih mendengar kegaduhan ibu nya tersebut.


"Kalau 5 menit belum juga turun untuk sarapan, mama robohkan kamar kamu."


Eva hanya bisa terkekeh, Ia tahu bahwa Franziska sangat suka bercanda dengan kalimat seperti itu bila putri putri nya susah untuk dibangunkan.


Gadis itu memilih tak menghiraukannya dan lebih fokus memoles wajah dengan bedak, lipstik, pensil alis dan kawan kawannya. Diatas kasur juga banyak pakaian berserakan dimana dimana seolah baru saja diacak acak oleh maling.


Kekacauan kamarnya ini terjadi karena Eva sedari pagi sibuk memilih pakaian yang cocok untuk di kenakan saat bertemu dengan Hietlar, sang pujaan hati.


Pilihan nya jatuh pada sebuah dress polos lengan pendek yang menggembung, motif renda dan bunga pink persik sangat cocok dengan warna kulitnya.


Setelah selesai melenggok dan memastikan diri tampil rapi, Eva meraih handbag kecil dan pergi meninggalkan kamar.


Eva berjalan perlahan menuruni anak tangga dengan anggun. mengingat High heels yang ia kenakan adalah hadiah ulang tahun dari Ilse pastinya selain mahal tetapi juga berharga hingga ia harus menggunakan nya dengan hati-hati.


Lain daripada itu, Friedrich, Franziska, Ilse dan Gerlt terpukau melihat penampilan Eva yang sangat menawan.


Roti di dalam mulut Gerlt sampai keluar karena terlalu lama menganga, sementara Ilse yang tengah menuang air dari teko tak sadar airnya sudah melebihi gelas. Begitu juga kedua orang tuanya, hanya bisa diam mematung dan termangu.

__ADS_1


"A-aduh sial tumpah." Gerutu Ilse menyadarkan yang lainnya dari lamunan.


"Pagi semuanya." Sapa Eva.


Eva sedikit termenung saat melihat pandangan mata keluarganya tersebut menatap dirinya dengan tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tentu saja mereka kaget mendapati Eva yang jarang berdandan saat keluar dan acuh tak acuh terhadap penampilan tiba tiba berubah menjadi gadis feminim seperti ini.


Jelas pasti ada sesuatu yang terjadi pada Eva.


"Kamu mau kemana pagi pagi begini sudah rapi?" Franziska menyipitkan mata.


"Ada janji sama Tuan Hietlar, mah. Eva buru buru." Sahut Eva seraya mengambil sepotong roti dan menaruhnya di mulut. Kedua tangan gadis itu sibuk memasangkan jam tangan.


"Janji apa? Dimana? hanya berdua?" Seloroh Ilse.


"Sepertinya mau membicarakan masalah pekerjaan, kak."


"Apa perlu berdandan seperti itu?" ketus Friedrich.


"Kenapa yah? tidak cocok ya hmm..."


"T-tidak sayang, sangat cocok dan juga sangat cantik. Ayah hanya kaget saja kamu tiba tiba dandan rapi seperti ini." Tukas Friedrich saat melihat Eva yang malah murung.


Ucapan Friedrich tersebut mendapat respon anggukan yang sama dari Franziska, Ilse dan Gerlt.


"Kakak mau pergi sekarang ya, tadinya Gerlt mau menceritakan tentang perempuan bibir doer yang kemarin." Timpal Gerlt.


"Huss....Jangan bicara seperti itu, Gerlt, dia istrinya Pak Henrich!" Tukas Eva.


"Nanti saja pulang kakak kerja." Sambungnya.


Jawaban Eva hanya ditanggapi oleh anggukan oleh Gerlt. Gadis itu sih iya iya saja mau diceritakan atau tidak toh itu bukan urusannya.


Sementara itu tatapan Friedrich Franziska dan Ilse masih mengikuti gerak gerik Eva yang kini sudah diambang pintu. Gadis itu terlihat sangat bersemangat berangkat kerja hari ini, apalagi ini hari Senin dan Gerlt berangkat sekolah.


Tentunya Eva semakin senang karena adik benalu nya tidak ikut di hari yang penting ini.

__ADS_1


"Eva berangkat dulu ya."


"Hati hati dan jangan pulang terlalu larut!" Sahut Friedrich.


Orang dalam rumah pun akhirnya mengalihkan pandangan dan kembali melanjutkan makan yang tertunda saat melihat tubuh Eva sudah tak ada dalam jangkauan pandangan mereka lagi.


Disisi lain Eva berjalan seraya melenggok dan menebar senyum kegembiraan di sepanjang jalan. Rasa malu nya seakan sudah putus, ia bahkan menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.


Benar benar hari yang cerah dan penuh semangat, sampai sampai dengan cepat Eva sudah berada di samping jalan raya tepatnya di depan Hotel Kriese.


Tatapan Mata Eva menyipit, saat melihat seorang lelaki bersetelan jas biru tua dan topi yang tak asing tengah berdiri di tepi jalan seraya tersenyum melambaikan tangan.


"Tuan Hietlar? Sudah berapa lama menunggu disini?" Ucap Eva yang dengan cepat menghampiri Hietlar.


Rupanya lelaki tersebut sudah lebih dahulu menunggu Eva sejak pagi. Tentu saja hal ini menambah kebahagiaan dalam hati Eva. Bahkan semenjak tadi gadis itu tak bisa menghapus senyum lebar di wajahnya.


"Pagi Eva, aku baru sampai." Sahut Hietlar seraya mengelus lembut rambut Eva yang tergulung rapi.


"Mari masuk." imbuhnya seraya membuka pintu.


Eva masuk seraya menanggapi ucapan Hietlar dengan senyuman manis.


Mereka tidak pernah menduga bahwa pertemuan pertama yang baru saja terjadi kemarin akan sampai sedekat ini keesokan harinya. Mungkin karena Eva dan Hietlar langsung merasakan perasaan yang sama hingga tak mau menyembunyikan dan memilih menunjukkan nya secara terang-terangan.


sementara itu, setelah menggunakan setting belt dengan rapi, Eva mengedarkan pandangannya ke kursi belakang seraya mengeriyatkan dahi. "Itu apa?"


"Sesuatu untukmu, akan ku berikan jika kita sudah sampai park." Sahut Hietlar diiringi senyum tipis penuh arti.


Eva lagi lagi tersipu, ia berusaha menebak kira kira apa isi didalam benda kotak yang terbungkus rapi tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Eva tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang merah merona.


Hietlar ingat persis gerak gerik Eva, disaat gadis itu mengepal tangan seraya beradu jari itu menandakan Eva tengah gugup atau tersipu. Dan hal itu tengah Eva lakukan sekarang, membuat Hietlar juga ikut tersenyum seraya memalingkan wajahnya.


"Hari ini aku akan memperkenalkan seseorang, dia adalah orang yang sangat penting dalam hidupku." Ucap Hietlar.


Eva langsung mendelik, ucapan Hietlar tanpa sadar memudarkan senyum di wajah gadis tersebut.


................

__ADS_1


__ADS_2